
Acara seremonial pembukaan wisuda pun dimulai dengan nyanyian lagu Indonesia raya, diikuti dengan lagu Himne universitas.
“Selanjutnya sambutan dari Rektor universitas sekaligus membuka acara kita pada hari ini, “ ujar sang moderator.
Alvian semakin gelisah mencari keberadaan Nara, dirinya sama sekali tidak bisa menghubunginya.
Rektor mulai bangkit dari duduknya, berjalan menuju mic dan mulai menyampaikan beberapa sambutan setelah itu membuka acara wisuda yang akan berlangsung.
Tepukan tangan dari seluruh penghuni aula kampus pun mengiri rektor yang kembali ke kursinya.
“Dengan berakhirnya tepukan tangan dari para hadirin, maka sesi berikutnya penyerahan Ijazah pada mahasiswa/mahasiswi terbaik dari fakultas masing-masing, “ ujar moderator.
“Yang pertama dari fakultas ekonomi dan bisnis, Winara Atmaja dengan IPK 3, 99 predikat kelulusan cumlaude! “ ujarnya lagi membacakan nama mahasiswa yang merupakan predikat terbaik dalam fakultas.
Seluruh hadirin yang ada bertepuk tangan riuh namun, tidak ada yang berjalan menuju atas panggung.
“Dimana dia? Mana pintunya sudah di tutup lagi, “ panik Bianca yang masih berusaha menghubungi Nara.
“Bagaimana David? “ tanya Alvian yang juga menjadi panik di atas sana, saat Nara tidak kunjung muncul.
“Aaa mungkin butuh di panggil sekali lagi yah, Winara Atmaja IPK 3, 99 predikat kelulusan cumlaude fakultas ekonomi dan bisnis, “
panggilan kedua pun tak membuahkan hasil, gadis itu sama sekali tidak muncul.
Seluruh undangan yang hadir kini mulai berbisik-bisik, rektor yang juga mengisyaratkan agar di lanjutkan lagi ke mahasiswa berikutnya.
“Untuk yang terakhir kali atau ada yang ingin mewakili, di persilahkan kedepan, “ ujar sang moderator.
“Winara Atmaja dengan IPK 3, 99 predikat kelulusan cumlaude fakultas ekonomi dan bisnis! “ panggil moderator kesekian kalinya.
Dan yah tetap sama tidak ada yang bergerak, Alvian dengan insiatif bangkit dari duduknya dan hendak menggantikan posisi Nara.
Namun, tiba-tiba pintu aula terbuka memancarkan sinar lalu berjalan sosok wanita yang tidak lain adalah Nara menuju atas panggung.
Alvian menghentikan langkahnya, dengan mata membulat. Seisi aula seketika terkejut dengan kehadiran Nara, yang berjalan menuju panggung.
Dengan toga dan sepatu yang berlumuran da rah, Nara menaiki panggung mengambil Ijazahnya.
“Apa yang terjadi? “ tanya Alvian pelan.
Nara hanya tersenyum kecut, berlalu tanpa menjawab pertanyaan dari Alvian.
“Nona Winara anda di minta menyampaikan beberapa kata, “ ujar MC saat Nara sudah ingin pergi.
Nara terlihat berpikir sebentar, lalu kembali ke atas panggung menuju mic yang telah di sediakan. Alvian kembali duduk sembari mengotak-atik ponselnya mengirimkan pesan kepada David.
“Ih kok penuh da rah yah badannya, “ ucap seorang mahasiswa.
__ADS_1
“Nggak malu apa, “ tambah yang lainnya.
keriuhan pun terjadi saat Nara sudah di depan mic, Ia melihat sekeliling yang sepertinya sibuk membicarakan penampilannya.
“DIAM! “ teriaknya menghentikan kegaduhan itu dengan seketika.
“Bagaimana susah puas membicarakan penampilan saya?! “ tambah Nara dengan nada suara yang lumayan keras.
David kembali ke samping Alvian, membisikkan sesuatu membuatnya menjadi risau.
“Ada apa tuan Alvian? “ tanya rektor yang kebetulan melihat kerisauan di wajah Alvian.
“Ah tidak ada apa-apa pak, anda tenang saja, “ jawab Alvian mencoba tenang.
Namun, tetap saja Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya.
“Pagi tadi aku bangun lebih awal, saat tengah bersiap-siap ayah datang dan berkata nak, maafin ayah nggak bisa belikan kamu barang yang layak selalu saja yang kamu beli barang bekas. Haha aku selalu berkata tidak apa-apa Ayah ini hanya sebuah barang yang melekat pada tubuh. Di saat semua temanku bercerita mereka mempunyai ini dan itu, segala keinginannya di penuhi, aku akan selalu tersenyum. Sebab, ayahku tidak perlu memberikan itu semua cukup dengan senyumannya aku merasa puas. Sejak kemarin dia selalu menanti hari ini, dimana melihat putrinya memegang ijazah dengan predikat memuaskan dan berdiri di depan semua orang. kata ayah,ayah menginginkanku sukses lantas mengapa ayah tidak menemaniku saat ini? Hahahaha apa ayah tau, semua ini hanya untuk ayah, semua ini demi membayar kerja keras ayah selama ini. Huft sayangnya saat ini ayahku nggak ada, dia sedang berbaring di rumah sakit dengan mata yang terpejam menikmati luka yang tengah di jahit dokter akibat kecelakaan yang kami alami saat menuju kesini. “ ucap Nara, lalu berlari keluar aula.
Seluruh penghuni aula seketika meneteskan air mata beriringan dengan kepergian Nara.
Alvian pun bangkit dari duduknya menyusul Nara yang sepertinya sudah berada di parkiran.
“Nara! “ teriaknya.
Nara mendengar teriakkan Alvian, menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alvian yang mendekat ke arahnya.
Tanpa menunggu kata yang akan keluar dari mulut pria itu, Nara berlari masuk kedalam pelukannya menumpahkan tangisannya.
“Stt ayahmu pasti baik-baik saja hmm, “ ucap Alvian menenangkan Nara.
Nara tidak menjawab perkataan Alvian, Ia hanya bisa meneteskan air matanya dalam dada bidang pria itu.
“Ayok ke rumah sakit, “ ajak Alvian yang di angguki Nara.
Keduanya beriringan masuk kedalam mobil, yang didalamnya sudah ada David lalu meluncur ke rumah sakit.
Sementara di dalam aula, semuanya masih terdiam tak bersuara setelah pidato panjang Nara.
“Om firman, “ ujar Bianca yang tanpa di sadarinya berlian beningnya mengalir begitu saja.
Ani yang sedari tadi menyaksikan hal di depannya, tersenyum menang saat mendengar penderitaan Nara.
“Kenapa nggak langsung mati aja, biar seru, “ gumamnya pelan dengan senyuman khasnya.
...***...
Setibanya di sana, Nara dan Alvian mendekati Tina dan juga Rian. Ia melihat mata adiknya begitu sembab akibat menangis.
__ADS_1
“Ma, “ panggilannya pelan.
Tina dan Rian berbalik menatapnya, Tina tersenyum masam saat melihat putrinya memakai selempang bertuliskan cumlaude dan membawa ijazahnya di tangan.
“Ayah harus lihat kaka yah, hahahaha Aaaaa! “ teriak Rian menggema di seluruh penjuru rumah sakit.
Alvian dengan sigap menarik Rian masuk kedalam pelukannya. Mengusap kepala pria tersebut.
“Tenanglah, “ ujarnya.
Tak lama kemudian, Dokter keluar dari dalam ruangan menghampiri Tina dan Nara.
“Istrinya? “ tanya Dokter yang langsung di angguk oleh wanita itu.
“Suami anda sudah kami tangani lukanya namun, kami belum bisa memastikan kapan Ia akan sadar, “ jelas sang dokter.
“Apa maksudmu? Kau seorang dokter kenapa bisa tidak mengetahui kapan Ia sadar, “ ujar Rian lepas kendali dan hampir mencekik leher dokter. Namun, dengan sigapnya David menahannya.
“Kendalikan dirimu, “ ujar Alvian menenangkan Rian yang sudah di jauhkan dari dokter itu.
“Saya permisi. “ ujar dokter melangkah pergi.
Setelah kepergian dokter, datanglah perawat dengan membawa beberapa kertas di tangannya.
“Maaf, untuk memindahkan pasien ke ruang rawat anda harus melunasi administrasi, “ ujarnya.
Saat Nara hendak melangkah pergi, dengan cepat Alvian menahan tangannya.
“Biar David yang urus, “ ujar Alvian.
“Nak, kau seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ink, “ ujar Tina.
Alvian hanya tersenyum menanggapinya, lalu mengisyaratkan kepada David. David mengangguk lalu berjalan menuju bagian administrasi.
“Aku mau kamar VVIP, “ pintanya.
Perawat yang mendengar hal itu menatap Alvian dengan kagetnya, begitu juga dengan Nara yang seketika menatap wajah Alvian dengan mata membulat setelah kata-kata tersebut menembus telinganya.
Seolah mengerti dengan pikiran gadisnya itu, Alvian mendekat memeluk tubuh Nara tanpa beban lalu mengusap rambutnya.
“Akan kulakukan apapun demi dirimu, “ ujarnya.
.
.
.
__ADS_1
Berkomentar lah dengan bijak!!
makasih buat yang sudah mampir sejauh ini