
Hari mulai gelap, Nara mengusap kasar wajahnya berbalik menatap Alvaro di sampingnya. Pria itu sama sekali tidak menatapnya, Ia menatap keluar jendela.
“Dia sangat menyebalkan, “ kesal Nara.
Alvaro berbalik menatapnya, lalu tertawa terbahak-bahak melihat wajah gadis di sampingnya.
“Hahaha, dasar cengeng, “ ledek Alvaro.
Ketika melihat Alvaro menyodorkan tissue padanya, Nara baru sadar dan tersipu malu. Kenapa begitu? Saking asiknya Ia menangis, sampai tak sadar cairan kebahagiaan ikut keluar dari hidungnya.
“Jadi Nona, mau kemana kita?” tanya Alvaro.
Nara menatap ponselnya yang bergetar, membaca pesan yang masuk.
“Antar aku ke ujung kota.”
Alvaro sedikit bingung dengan maksud dari gadis itu namun, Ia tetap melajukan mobilnya mengikuti perkataan Nara.
Masih di kediaman Jovanka,
Alvian sudah bersiap-siap, Ia hanya mengenakan sebuah celana jeans dengan lubang di bagian lutut, kaos oblong dengan memakai sebuah topi terbalik kebelakang. Meski hanya dengan outfit yang simpel, tak mengurangi ketampanan seorang Alvian justru malah semakin menambah aura mahalnya.
Setelah selesai mengenakan sepatunya, Alvain mengusap layar ponselnya sekitar semenit barulah dirinya turun kebawah.
Dengan begitu santainya, Alvian melangkah mendekati Rani dan juga Evan mengecup singkat kening Alexa, sedangkan Alexo sedari tadi sudah terlelap dalam kamarnya.
“Semuanya sudah siap?” tanya Alvian pada Evan, tanpa mengalihkan pandangannya dari Alexa.
“Hmm sudah, David juga sudah tiba di depan.”
“Bagus.”
Alvian bangkit dari duduknya, berjalan kearah taman belakang yang sudah di tunggu oleh Roseta dan juga yang lainnya. Ketika Rani hendak mengeluarkan suaranya, Evan dengan cepat menutup mulutnya menggelengkan kepalanya.
“Oke fine, “ ujar Rani.
Ketika Alvian menginjak pintu akses ke taman, baik Roseta maupun ayahnya menganga lebar melihat pakaian yang dikenakannya.
“Sangat luar biasa, apa mama yang mendekornya?” Alvian mendekati mereka.
“Iya, tapi Alvian, apa yang kau kenakan ini?” ujar Diandra.
Alvian menatap dirinya sendiri sembari berputar didepan kaca, lalu sedikit merapikan topinya sembari mengorek belek pada matanya.
“Bagus kok, kenapa memangnya?” ujarnya santai.
“Alvian, ini pertunangan kita. Pakian apa ini?” Roseta mendekati Alvian.
Ketika tangannya hendak meraih tubuh Alvian, dengan cepat Alvian menyingkirkan tangan Roseta jauh dari tubuhnya.
“Alvian, aku tidak mengerti, apa semua ini?!” Lian meninggikan suaranya.
Evan langsung mengarahkan senjatanya tepat pada kening Lian, membuat Ridwan membulat tak percaya.
“Evan!” bentak Ridwan.
“Diam!” Alvian membalas bentakan Ridwan, membela Evan.
Suasana yang tadinya tenang dan tentram, berubah menjadi panas dalam sekejap mata. Alvian berjalan kembali keruang tamu, di ikuti Roseta yang mengejarnya lalu di susul yang lainnya.
__ADS_1
Alvian duduk di sofa pada ruangan itu, memangku salah satu kakinya tersenyum mengambil Alexa dari tangan Rani.
“David!”
Beriringan dengan teriakan lantang dari Alvian, David bersama dengan Very dan juga Novita memasuki ruangan itu, dengan membawa beberapa koper besar.
“Apa ini Alvian?” tanya Roseta.
Lian Sheng yang sudah terbakar emosi, hendak mengeluarkan senjatanya. Namun, Roseta dengan cepat menahannya.
“Jangan sekarang ayah, “ bisiknya.
Alvian bangkit dari duduknya, mengecup singkat pipi Alexa lalu beralih pada Rani memeluk erat tubuh kakanya.
“Evan, jaga dia.”
Alvian menyerahkan Alexa pada Evan, menarik koper itu melangkah keluar dari kediaman mewahnya.
“Alvian, mau kemana kau? Pertunangan ini belum di laksanakan!” teriakan Diandra, mengiringi langkah Alvian sampai ke ambang pintu.
“Kau saja yang menikahinya, “ ujar Alvian, benar-benar hilang dari sana.
Roseta menganga tak percaya, mencabut pistol dari kantong ayahnya berjalan menuju mobil Alvian.
“Kau mau keluar, atau ku habisi kau?!”
“Jalan David!”
Alvian sama sekali tidak memperdulikan ancaman Roseta, Ia memerintahkan David melajukan mobilnya.
David menginjak gas, dengan kecepatan tinggi pria itu menabrak Roseta lalu meninggalkan kediaman Jovanka.
Selepas kepergian Alvian, Rani mengirimkan pesan pada Rian. Kenapa kepada Rian? Sebab dirinya tidak mempunyai nomor telepon Nara.
“Ini tempat Dito?” Alvaro memastikan kecurigaannya.
Nara mengangguk bingung, tetap melangkah hingga tiba di ambang pintu. Masih belum ingin membuka pintu itu, Nara berbalik menatap Alvaro.
“Kalian saling kenal?”
“Nanti ku ceritakan, “ ujar Alvaro.
Nara meraih gagang pintu hendak membukanya namun, dari dalam pintu sudah di buka terlebih dahulu oleh Dito.
“Sedang apa kau di sini?!” tanya Dito sedikit marah.
Nara bingung dengan pria itu, bukannya Ia yang meminta mereka kesini? Lalu ada apa dengannya sekarang. Nara seketika mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang berdering, melihat nama Rian, Nara langsung menjawab panggilan itu dengan menekan tombol hijau.
“Ha-
Belum sempat Nara berbicara penuh, Ia menjatuhkan ponselnya menarik tangan Alvaro berlari kembali kearah mobil.
“Nara, kenapa?” tanya Alvaro.
“Antar aku, ke bandaraan!”
Alvaro yang masih berdiri lama, langsung di dorong Dito mengikuti Nara kedalam mobil. Dito mengambil alih kemudi, mengemudi menuju bandara.
Meskipun tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, kedua pria itu ikut risau melihat kekhawatiran dalam wajah Nara.
__ADS_1
“Tolong tunggu aku.” Batin Nara.
Nara menatap ponselnya, terus mengirimkan pesan dengan sesekali mengusap matanya yang mengeluarkan bulir-bulir bening.
“Tunggu aku!”
Pesan yang sama, berulang kali di teruskan Nara hingga mereka tiba di bandara. Tak mengucapkan apa-apa, Nara berlari memasuki bandara mencari seseorang.
Nara bersama Dito, dan Alvaro yang berada di belakangnya, berlari kesana-kemari dalam bandara itu. Nara yang teringat sesuatu, melangkah menuju penerbangan luar negeri.
“Siapa yang kau cari?” tanya Dito.
Menyadari siapa yang hendak di cari Nara, Alvaro menarik tangannya menuju tempat yang seharusnya di tuju Nara.
Dari kejauhan, mata ketiganya menangkap Victor, Bram, dan juga Tiara sudah berada di sana. Nara berjalan mendekati mereka, lalu menyentuh punggung Victor.
“Dimana Alvian?”
Victor terkejut bukan main dengan kehadiran Nara di sana, rencana mereka membuat Nara tak mengetahui hal ini sepertinya gagal.
“Jawab Victor!” bentak Nara, dengan nada memberat menahan tangisnya.
“No-Nona, sedang apa anda di sini?” Victor mencoba mengalihkan pembicaraan.
Nara sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya, Dito melirik jam tangannya menunjukkan pukul dua belas tengah malam.
“Nona, jangan menangis seperti ini, “ ujar Bram mencoba menenangkan Nara.
“Dimana dia?!” tangisan Nara semakin menjadi-jadi, saat ketiga orang itu tak menjawab pertanyaannya.
“Victor, dimana Alvian?!” Alvaro yang sama sekali tidak tahan melihat tangisan Nara, mendekati Victor meraih kerah baru pria itu.
Victor mendorong tubuh Alvaro, merapikan kembali bajunya lalu mendekati Nara.
“Nona,” ujarnya.
Nara menatapnya tajam, berjalan menjauhinya mendekati Tiara mengambil kedua tangan gadis itu menggenggam erat.
“Aku mohon, beritahu aku Tiara, Dimana kekasihku?!” ujar Nara, dengan nada terengah-engah dalam tangisannya.
“Pesawat dengan tujuan Jakarta-swedia, telah lepas landas.”
Sedikit samar-samar, Nara masih bisa mendengar kolingan itu. Ia terjatuh tak berdaya di lantai, memeluk kedua lututnya erat.
“Hahahaha, Alvian!” teriaknya menggema, hingga seluruh mata tertuju padanya.
“Sayang, “
Ketika merasakan sebuah tangan berada pada pundaknya, tak hanya Nara semuanya ikut menatap kearah belakang punggung Nara.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹