
Nara yang sudah selesai dengan urusannya bersama Alvian, bergegas menuju ruang tamu.
Disana sudah terlihat Rani tengah menunggunya, dengan senyuman mengambang di sudut bibirnya Nara menghampiri Rani.
“Sudah? “ tanya Rani saat Nara mendekatinya.
Nara hanya mengangguk, lalu keduanya bergandengan tangan menuju parkiran.
Roseta yang melihat kepergian dua wanita itu, mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada seseorang
.
“Hari yang menyenangkan, “ gumamnya sesaat sebelum mencari keberadaan Ridwan dan Diandra.
Evan dan Alexo yang baru kembali dari kolam, tidak menemukan keberadaan Rani.
“Kemana mama? “ ujar Alexo.
Evan tidak menjawab pertanyaan putranya, pria itu hanya memutar matanya menyapu seluruh isi ruangan.
“Rani! “ teriak Evan menggema.
“Mungkin lagi sama Uncle kalik, “ ujar Alexo.
Evan menggendong tubuh Alexo, keduanya berjalan menuju taman belakang menemui Alvian.
“Al apa kau tau dimana Rani? “
Evan mendekati Alvian yang tengah sibuk dengan laptopnya.
“Ke toko kue bersama Nara, “ jelas Alvian.
Evan dan Alexo hanya berohiya, lalu kembali meninggalkan Alvian bersama pasukannya.
Rani dan Nara yang baru tiba di toko kue langganan Rani, bergandengan tangan masuk ke dalam.
“Wah donatnya menggoda banget, “ ujar Nara mendekati donat-donat yang tersusun rapih.
“Ambil sis. “
Nara terkekeh mendengar perkataan Rani, lalu mengambil beberapa donat yang langsung di bawa ke Kasir.
“Enaknya sama apa lagi Nara? “
Nara melangkah mendekati Rani, matanya langsung tertuju pada bittersweet.
“Bittersweet aja kak, “ ujarnya.
Rani mengangguk lalu membawa beberapa kotak bittersweet ke Kasir. Setelah selesai berbelanja, Rani mengeluarkan kartu kredit untuk membayar.
Selesai dengan semua urusan berbelanja, Rani dan Nara menuju mobil yang di parkiran tak jauh dari mereka.
“Yah dompet aku ketinggalan di Kasir Nara, kamu tunggu disini. “
Dengan cepat dan tanpa menunggu respon Nara, Rani langsung berlari masuk kembali ke dalam toko kue tadi.
Nara hanya mengangguk lalu berdiri di belakang mobil, sembari menunggu kedatangan Rani.
Dari kejauhan, tampak sebuah mobil Van putih sedari tadi memperhatikannya.
Tak lama kemudian, muncul seorang pria berbadan tegap yang entah dari mana datangnya menghampiri Nara.
“Sendirian aja mbak? “ basa basi pria itu.
Nara hanya tersenyum singkat menanggapi perkataannya, lalu maniknya kembali tertuju pada toko kue menunggu kemunculan Rani.
“Kalau di tanya jawab dong, “ ujar pria itu lagi.
Nara yang semakin risih, maju beberapa langkah menghindari pria itu.
__ADS_1
Namun, tangannya di tahan membuat Nara reflek memukul pria tersebut.
“Bang sat banget lo! “
“Maksud anda apa? Main tarik tarik aja, “ kesal Nara.
Karena tidak ingin membuat keributan, pria itu dengan cepat mengeluarkan sapu tangan yang telah di beri obat bius.
Ia dengan cepat membungkam mulut Nara, sampai gadis tersebut tidak memberikan perlawanan lagi.
Lalu saat itu juga, mobil Van putih dengan segera terparkir di samping mobil Rani. Nara di masukan kedalam, lalu di bawa pergi dari sana.
Rani yang baru saja keluar dari toko kue, melihat Nara di culik dengan cepat berlari menghentikan mobil itu.
“Turun kalian! “
Namun sialnya, Ia di serempet paksa hingga membuatnya terbentur di trotoar. Dari balik kedua kaki Rani, darah mengalir.
“Tolong! “ teriakan Rani dengan segera menarik perhatian beberapa pengunjung jalan.
“Astaga dia pendarahan, “ ujar seorang wanita dengan paniknya.
“Tolong hp saya. “
Seorang pria paruh baya mengambil ponselnya, lalu memberikan pada Rani.
Rani mengusap layar ponselnya lalu menghubungi Evan suaminya.
“Mas tolong aku, aku pen-
Belum sempat Rani menyelesaikan perkataannya, Ia sudah pingsan.
“Sayang kamu kenapa, Rani! “
[Maaf pak, istri anda kecelakaan dan mengeluarkan banyak darah. ]
“Sial! “ teriak Evan mematikan sepihak panggilan itu.
“Ada apa Evan? “
“Rani kecelakaan! “
Tanpa menunggu reaksi dari Alvian, Evan bergegas berlari menuju parkiran. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju tempat dimana Rani berada.
“Cari tau siapa pelakunya! “ pintah Alvian kepada Bram yang langsung menyusul Evan.
Alvian yang sama sekali tidak mendengar nama Nara di sebut, menjadi panik. Ia bersama Victor dan juga David menuju lokasi.
Evan yang sudah tiba di toko kue, dengan cepat menggendong tubuh Rani masuk kedalam mobil, lalu membawanya ke rumah sakit. Alvian yang juga baru tiba, langsung ikut menyusul Evan.
Setibanya di rumah sakit, Rani langsung mendapat penanganan dari dokter kandungan.
“Kami harus segera melakukan operasi sesar, jika tidak itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan sang ibu. “
“Lakukan apapun itu, asalkan keduanya selamat, “ ujar Evan.
“Dimana Nara? “ tanya Alvian.
Pria itu melihat kesekelilingnya namun, tak menemukan keberadaan Nara.
Evan menggelengkan kepalanya, sejak awal dia sampai di lokasi Nara sama sekali tidak kelihatan.
“Shit! “
Alvian memukul tembok melupakan kekesalannya, bisa-bisanya gadis tersebut menghilang di saat Rani seperti ini.
“David cari dia! “ pintah Alvian dengan dinginnya.
“Sabar Al, kita tidak tau apa yang terjadi sebenarnya kepada mereka. Hanya Rani yang bisa memberitahukan kita, “ jelas Evan menenangkan.
__ADS_1
Oek
Oek
Suara tangisan bayi menggema di seluruh penjuru rumah sakit, Alvian memeluk tubuh Evan menyalurkan kebahagiaan kepada suami kakanya itu.
“Evan dimana Rani? “
Diandra bersama Ridwan, dan tak luput Roseta yang baru tiba menghampiri Evan.
Seolah tidak memperdulikan kedatangan mereka, Evan melangkah mendekati dokter yang juga baru keluar dari ruang operasi.
“Selamat pak, putri anda sangat cantik. “
Senyuman mengambang di wajah semua yang berada disana.
Menjelang beberapa menit, setelah Rani di pindahkan ke ruang rawat Evan dengan segera memasuki ruang rawat itu.
“Kapan Kakak saya akan sadar? “ tanya Alvian kepada perawat.
“Sebentar lagi. Ia masih terpengaruh obat bius, Saya permisi. “
Setelah kepergian perawat, benar saja Rani mulai membuka matanya perlahan melihat kesekelilingnya, dan mendapati Alvian yang berada di dekatnya.
“Al, kau harus selamatkan Nara Al, “ ujar Rani.
Saat itu juga, Bram bersama Alexo muncul dengan nafas terengah-engah menghampiri Alvian.
“Nona muda di culik! “
“Benar uncle, unty Rani di culik, “ ujar Alexo memperkuat perkataan Bram.
Alexo yang memang tidak ingin jauh dari Bram kemanapun pria itu pergi, mengikuti Bram mencari informasi tentang kecelakaan Rani. Hal itulah yang membuat bocah itu berani berkata seperti itu.
Damn
Victor dan juga David bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Darah dalam tubuh Alvian mendidih, Ia bangkit dari duduknya ikut melangkah mengikuti jejak David dan juga Victor.
“Mom, “ ujar Alexo mendekati Rani.
“Lihat Lexo, you have a sister, “
mendengar ucapan Evan, Alexo melepaskan pelukan Rani berlari mendekati Evan.
“Yea! “ hebo Alexo.
"Oma, Lexo punya adek. "
"Iya sayang, " ujar Diandra mendekati Alexo.
Ridwan yang sama sekali tidak perduli akan kelahiran cucunya, memilih pergi dari sana.
"Opa kenapa ayah? " tanya Alexo menatap wajah Evan.
Evan tidak menjawab pertanyaan Alexo, Ia mendekati Rani.
"Aku mencintaimu. "
setelah mengatakan itu, Evan mengecup singkat kening istrinya.
Roseta yang merasa risih, memilih pergi mengikuti jejak Ridwan. Namun, sebelum meninggalkan pintu ruangan itu Ia menarik senyumannya melihat.
“Bagus Kelly, “ gumamnya.
.
.
.
__ADS_1
makasih buat yang sudah mau mampir, jangan lupa untuk selalu dukung cerita ini 🌹❤️