
Nara yang sudah selesai bersiap-siap, melangkah keluar rumah berjalan menuju gang depan setelah mengunci pintu.
Tangannya berayun memanggil taksi yang hendak berlalu dari hadapannya.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di hadapannya, langsung menarik tangan Nara masuk kedalam mobil itu.
"Lepaskan! " teriak Nara.
Karena kekuatan yang tidak seberapa, Nara berhasil di taklukkan dengan obat bius.
Mobil tersebut melaju, hingga tiba di sebuah kontrakan yang sangat kumuh.
Nara di gotong dua pria, menidurkannya di atas ranjang.
"Itu bayarannya, kalian bisa pergi! "
Mendengar perkataan itu, keduanya mengambil amplop coklat lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dari kegelapan, muncul seorang pria bertubuh tegap melepaskan bajunya mendekati Nara.
Chup
sebuah kecupan di berikan pria itu tepat pada leher jenjang Nara, tak hanya itu saja pria itu meninggalkan bekas ciuman di sana.
Ia melangkah mengambil ponselnya memotret apa yang sudah dilakukanya.
Setelah itu, pria tersebut mulai melepaskan baju yang di kenakan Nara hingga tersisa bra milik gadis itu.
Dengan lancangnya, pria tersebut menempelkan bibirnya pada dada Nara.
"Hahaha mampos lo! "
Tawa jahatnya menggelar di seluruh penjuru ruangan.
Dengan sedikit merobek ujung rok Nara, pria itu memotret setiap apa yang dilakukannya.
"Maafkan aku sayang, " ujarnya mengecup singkat bibir Nara.
Setelah selesai dengan perbuatannya, Ia melangkah mendekati jendela lalu menempelkan ponselnya pada telinga.
"Beres, " ujarnya.
Pria itu mematikan ponselnya, mengambil bajunya lalu meninggalkan tempat tersebut.
"Tidur yang nyenyak manis, " ujarnya sesaat sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Nara yang belum sadar akibat obat bius tadi, di biarkan tertidur di tempat kumuh itu.
Saat ini, tepatnya di Jovanka grup, Alvian sedari tadi mondar mandir mencari keberadaan Nara.
Alvian melangkah masuk kedalam devisi marketing, Ia hanya menemukan keberadaan Ana dan Sendiri saja.
"Apa Nara sudah datang? "
Kedua insan itu hanya menggelengkan kepalanya, menanggapi pertanyaan Alvian.
Pria itu melangkah keluar devisi marketing, menuju lobby.
"Apa Winara sudah lewat? "
Pertanyaan yang sama di lontarkannya kepada setiap karyawan yang lewat.
"Tidak tuan, "
Jawaban yang sama pula, yang di dengarnya ketika bertanya soal Nara.
Alvian mengusap kasar rambutnya, melangkah kembali menuju ruangannya.
Ketika baru membuka pintu, Alvian di sambut oleh kedua asistennya dengan wajah yang tidak bisa di tebak ekspresi wajahnya.
"Apa gadisku sudah datang? "
__ADS_1
Lagi lagi, pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Tapi kali ini, Ia tidak langsung mendapat jawaban dari kedua anak buahnya.
"Kenapa dengan ekspresi itu? "
Alvian yang sudah menduduki kursinya, menatap bingung dua orang di hadapannya itu.
"Katakan ada apa! " bentak Alvian.
Victor dan David yang seolah sudah kebal dengan teriakan Alvian, keduanya saling bertolak siapa yang ingin memberitahu Alvian.
"Apa kalian sudah bosan kerja?! "
Victor menghela nafasnya panjang, Menyodorkan ponselnya kepada Alvian.
"Ada info dari Ilone? "
Sama sekali tidak ada suara dari keduanya, sampai Alvian mengambil ponsel Victor.
Matanya membulat sempurna melihat gambar dalam benda pipih tersebut.
"Bang sat! " umpat Alvian.
Dengan penuh amarah yang menggebu-gebu, Alvian melangkah menuju mobilnya.
"Victor hentikan dia! "
Dengan segera, Victor berlari membuntuti Alvian yang sudah berada dalam mobilnya.
Dengan kecepatan penuh, pria penuh amarah itu melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
"Tuan tunggu! "
Victor yang sudah tidak bisa mendapati Alvian lagi, mengambil motor David mengejarnya.
Nara yang baru membuka matanya, menatap ke sekeliling ruangan yang tampak asing baginya.
"Dimana ini? " ujarnya sembari memegang kepalanya.
Ia melangkah mendekati kaca, matanya membulat melihat dirinya yang hanya menggunakan bra.
Sembari mencari dimana bajunya, air matanya mengalir begitu saja. Pikirannya berputar pada kejadian, di saat dirinya di bawa secara paksa oleh dua pria tak di kenal.
Bruk
Sebuah kaki menendang pintu, membuat Nara seketika berbalik kearah ambang pintu.
Sosok yang di lihatnya di sana, memasang ekspresi wajah sangat tidak bersahabat.
"Al, "
Nara yang berlari kedalam pelukannya, didorong kasar oleh Alvian hingga dirinya terjatuh di lantai.
"Kak, " ujar Nara.
Tak menjawab pertanyaan Nara, Alvian menarik kasar tangan gadis itu menyeretnya ke atas ranjang.
Alvian mengukung tubuh Nara di bawahnya, lalu ******* kasar bibir wanita itu.
"Hmpt! " erang Nara, saat Alvian mengigit bibirnya kasar.
Dengan bersusah payah, Nara mendorong tubuh Alvian menjauh darinya.
"Ada apa denganmu! " teriak Nara menggema.
Alvian tersenyum smrik, mencengangkan keras dagu Nara.
Victor yang baru tiba, hendak melangkah menghentikan Alvian. Namun, saat melihat tangan Alvian yang mengisyaratkan dirinya untuk tidak mendekat.
Victor dengan berat hati, meninggalkan ruangan itu.
"Selamatkan Nona muda ya Tuhan, " gumam Victor khawatir.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu Al, sakit, " ujar Nara.
Gadis itu menutup matanya, ketika dekapan tangan Alvian pada dagunya semakin keras.
"Kenapa? Disaat aku yang menyentuhmu kau bersikap seolah tidak mau, tapi kau memberikan pria lain menyentuhmu! " teriak Alvian.
Bruk
Nara yang sudah tidak tahan lagi, menendang keras perut pria itu.
"Aku tidak semurahan itu Alvian, " telak Nara.
Alvian tersenyum kecil, mengambil ponselnya lalu membuang ke atas ranjang tepatnya di samping Nara.
Nara yang melihat hal itu, meneteskan air matanya.
"Apa yang terjadi padaku? hiks hiks, " tangis Nara pecah, ketika tidak bisa mengingat kejadian sebenarnya.
"Berhentilah berdrama Nara! " bentak Alvian lagi.
"Aku di jebak Kak, " ujar Nara dengan nada suara yang melemah.
"Kau pikir aku bodoh Nara?! lihat wajahmu sangat menikmati di sana. "
Nara semakin meneteskan bulir-bulir beningnya. Ia sama sekali tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tidak mau menyentuhmu karena aku sayang padamu, tapi apa balasannya hmm?! "
"Kau salah paham Al, " titah Nara.
Nara mendekati Alvian, berlutut di hadapan pria itu.
"Menjauh dariku! " bentak Alvian.
Nara menggelengkan kepalanya, memeluk erat tubuh Alvian.
"Kau salah paham kak, " ujar Nara dengan nada melemah.
Alvian mendorong tubuh Nara, meremas kasar rambutnya.
"Cukup Nara! "
Lagi dan lagi, suara Alvian tidak bisa di kontrol, Victor yang mendengar hal itu menahan dirinya di balik pintu.
"Tuan, kendalikan amarah anda, " gumamnya sembari menutup mata.
Alvian membalikkan tubuhnya tak menatap Nara, suara tangisan gadis itu terus terdengar oleh telinganya.
"Berhentilah menangis Nara! "
Alvian membalikkan tubuhnya, dan mendapati Nara sudah terkapar tak berdaya di atas ranjang.
"Sial! " umpatnya mendekati Nara.
"Victor, siapkan mobil! "
Mendengar perkataan Alvian, Victor dengan cepat menghidupkan mobil yang terparkir tak jauh dari gedung itu.
Dengan menggendong tubuh Nara, Alvian melangkah menuju mobilnya yang sudah ada Victor di dalam.
"Apa kita ke rumah sakit tuan? " tanya Victor sebelum melajukan mobilnya.
"Kita ke rumahku, hubungi Jihan temui aku di rumah. "
Victor mengangguk, lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
"Hatiku hancur melihat foto itu, Nara. " batin Alvian, sembari menatap lekat wajah kekasihnya.
.
.
__ADS_1
.
Makasih yah, buat yang sudah mampir jangan lupa like komen biar aku tau ada yang baca