Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
106 Tawa Alvian


__ADS_3

Vas itu melayang melewati kepala Nara. Nara hanya berdiri santai, sembari tersenyum Ia mendekati Roseta.


“Dengar Nona Roseta, jika kau berani macam-macam di sini akan ku habisi dirimu!” tegas Nara.


Nara berjalan menuju mimbar, mengambil alih tempat Alvaro lalu menatap seluruh penghuni ruangan itu satu persatu.


“Apa kalian ingin makan gaji buta?! Kembali bekerja!” ujar Nara sedikit berteriak.


Saat itu juga, seluruh karyawan Jovanka grup berhamburan keluar dari aula. Hal itu semakin membuat Ridwan dan Diandra, menatap tak suka pada gadis itu.


“Dan kalian, para direksi, apa perlu saya memanggil security untuk menuntut kalian kembali?!” bentak Nara.


Sungguh, saat ini sepertinya sosok Alvian tengah menguasai gadisnya tersebut. Alvaro menarik senyumannya, gemas dengan apa yang di katakan oleh Nara.


Para Direksi pun akhirnya memilih meninggalkan ruangan itu. Akan tetapi, baru selangkah mereka hendak pergi suara Ridwan berhasil menghentikan mereka.


“Kalian mau kemana!” kata Ridwan.


“Yang membayar gaji kalian itu, Jovanka bukan gadis kampung ini.”


Dengan berapi-api, Diandra mendekati Nara yang kini gadis itu sudah kembali pada posisinya semula di samping Tiara.


“Maaf Tante, saya pemegang saham tertinggi di sini setelah Rani.”


Tawa menggelegar dari Tiara, menghiasi ruangan itu ketika Nara memanggil Diandra dengan sebutan Tante. Sebenarnya tak ada yang salah dengan panggilan itu, hanya saja Diandra begitu sensitif jika ada yang memanggilnya Tante.


“Bubar semuanya!” titah Nara melangkah pergi dari sana.


“Jadi kalian ingin mengkhianati Jovanka grup, hanya karena gadis itu!” teriak Ridwan.


Bagaimana iya tidak berteriak coba, saat ini seluruh orang kepercayaan Jovanka lebih memilih berjalan mengikuti Nara dari pada tetap tinggal di dalam sana.


“Maaf tuan, tapi dia calon nyonya dari Jovanka grup.”


Mendengar perkataan salah seorang dari petinggi perusahaan itu, Ridwan mengerutkan dahinya bingung dengan perkataan tersebut.


“Ap-


“Mari semuanya, kembali bekerja!”


Ucapan Ridwan terpotong, saat Alvaro sudah bersama para direksi menuju pintu keluar membuntuti Nara dan juga Tiara.


“Alvaro, akan ku hancurkan kau!” kesal Roseta, Ia meraih sebuah kursi di sana lalu hendak membanting kursi tersebut kelantai. Namun, dengan cepat Victor menahan tangannya sembari menatap tajam gadis itu.


“Jangan macam-macam di sini, ini bukan barang-barang ayahmu.” Pandangan Victor tertuju pada Lian.


“Kau, beraninya kau!”


“Berhenti berteriak, atau ku hancurkan kalian berempat saat ini juga, “ ancam Victor.


Tak terima dengan ancaman Victor yang nota bene hanyalah seorang asisten Alvian tak lebih, Ridwan dengan penuh amarah mendekati pria itu.


“Jangan melewati batas mu, Victor!” bentak Ridwan.

__ADS_1


“Kau, dipecat saat ini juga, “ timpalnya lagi.


Bukannya takut dengan perkataan Ridwan, Victor melepaskan tawanya renyah. Lelucon bodoh yang diucapkan Ridwan, seolah menggelitik perutnya.


“Hahaha tuan Ridwan Jovanka, akhh namamu sangat tidak pantas memakai nama belakang Nyonya Viona di sana. Apa kau sadar dengan ucapanmu? Biar ku perjelas pada kalian berempat di sini, bahkan obe sekalipun kau tidak mempunyai hak terhadap mereka, paham!” ujar Victor sedikit membentak pada kata terakhirnya.


“Kau hanya sebatas orang suruhan Alvian, jangan berlagak sok seperti itu.”


Victor yang tadinya hendak melangkah pergi dari sana, terpaksa harus mengurungkan niatnya saat perkataan Roseta seolah mengganggu pendengarannya.


“Dan kau Roseta, dirimu hanya seorang pela cur murahan yang akan hancur hidupnya jikaa ku beberkan seluruh fotomu bersama beberapa pria, kepa-


“Diam kau!”


Victor tersenyum smrik, melirik Evan lalu kedua pria itu dengan penuh gagahnya melangkah keluar dari aula.


“Jangan lakukan itu Victor, kasihan karirnya di dunia entertainment akan hancur hahaha, “ tawa meledek Evan, mengiringi langkah keduanya.


“Dengar Ridwan, aku tidak mau putriku di permalukan lagi oleh orang-orang rendahan itu, segera desak Alvian untuk menikahi Roseta, “ ujar Lian.


Alvian yang sedari menyaksikan semua kekacauan tersebut, Ia tersenyum kecil saat mendengar ucapan dari Lian. Dirinya menutup tabnya, menatap David dan juga Bram bergantian lalu tertawa renyah.


“Wah, kau sangat bahagia sekali.”


Tawa Alvian terhenti seketika, saat suara Kiran terus mendekati dirinya. Dan beberapa detik kemudian, gadis itu sudah berdiri tepat di hadapannya dengan tersenyum manis.


“Siapa yang menyuruhmu kesini?” tanya Alvian, dengan nada suara tak bersahabat.


“Aku han-


Mendengar bentakan dari Alvian, Kiran dengan penuh kekesalan kembali meninggalkan ruang kerja Alvian.


“Jangan pernah biarkan dia masuk ke sini lagi, paham?!”


Tak langsung menjawab perkataan Alvian, Bram dan juga David saling bertatapan sekilas barulah keduanya mengangguk ragu.


Sedangkan dari luar ruangan, Kiran yang masih mendengar suara Alvian hatinya semakin teriris dengan sikap pria itu.


“Akan ku cari tau, apa yang membuatnya berubah setelah kembali. “ Roseta benar-benar meninggalkan ruang kerja Alvian, bergegas menuju lantai atas.


“Apa rencana kita selanjutnya Tuan?” tanya David.


“Bram, “ Alvian menatap kearah Bram, yang langsung di sambut anggukan dari anak buahnya itu.


“Kata Ilone, besok Nyonya Lidia akan keluar. Itu akan menjadi kesempatan kita, untuk masuk kedalam kamarnya, “ jelas Bram.


“Dari jam berapa Ia pergi?”


“Tepat pukul delapan pagi, tuan.”


Alvian mengangguk kecil, mengambil ponselnya lalu menampilkan senyuman pada bibirnya melihat foto yang baru saja di kirim oleh Evan.


“Dia sangat lucu jika terlihat serius seperti itu, “ gumamnya yang tanpa sadar, seluruh penghuni ruangan itu mendengar perkataannya.

__ADS_1


“Tuan, maksud anda?”


“Lihat ini, gadisku sangat menggemaskan bukan, “ ujar Alvian.


Ia menyodorkan ponselnya kehadapan seluruh anak buahnya, dengan tampilan foto Nara yang tengah serius berdebat di aula tadi.


Dengan penuh antusiasnya, semuanya mengangguk setuju. Bukan karena sebuah paksaan dari Alvian, tapi memang wajah Nara saat itu begitu menggemaskannya.


“Sudah, kalian tidak boleh melihatnya terlalu lama. Dia hanya pantas menjadi milikku, “ tukas Alvian.


Lihatlah pria ini, dia sekarang sudah berubah menjadi sangat posesif. Bukannya dia yah yang tadi menunjukkan foto itu, lalu mengapa dirinya juga yang mengoceh?


“Kau lihat itu Bram, dia sepertinya kemasukan jin Tomang?” bisik David, dengan pandangan masih pada wajah Alvian.


“Ia, aku jadi takut padanya, “ Bram ikut-ikutan juga.


“Apa kalian bosan kerja?”


Keduanya yang sepertinya tertangkap basah, langsung fokus pada pekerjaan mereka tak berani lagi menatap Alvian.


“Leon, tolong siapakan kamar di lantai tiga. Aku akan tidur di sana, “ titah Alvian.


Sedikit mengangguk mengiyakan perkataan Alvian, pria yang bernama Leon langsung gercap melaksanakan perintah tuannya itu.


“Karena kalian berdua sudah berani mengatai saya, kalian lembur malam ini!” titah Alvian bangkit dari duduknya.


“Apanya yang mau di kerjakan, kita hanya menunggu perintah saja dari Ilone.”


David dengan cepat membungkam mulut busuk Bram, bisa-bisanya Ia harus membocorkan semuanya saat Alvian belum meninggalkan ruangan itu.


“Akh begitu rupanya, ya sudah kalian ke gudang belakang saja, “ Alvian berbalik mendekati keduanya lagi.


“Tida tuan, Ak-


“Sttt diam! Nikmati hukuman Kalian, “ timpal Alvian lagi.


Dengan tawa menggema, Alvian melangkah meninggalkan ruang kerjanya menuju lift.


David dan juga Bram, keduanya lagi lagi bertatapan heran dengan perubahan ekspresi Alvian yang hari ini, sudah hampir terhitung lima puluh kali Ia tertawa.


“Hallo Ilone, Apa!” Kaget David.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2