
Swedia,
Pesawat mendarat sempurna di sebuah bandara udara di negara swedia. Alvian yang baru saja keluar dari dalam pesawat, langsung disambut oleh seisi bandar udara yang menundukkan kepala mereka.
“Tuan muda, mobil anda di sebelah sana.”
Alvian bersama kedua orang kepercayaannya yang tak lain adalah Bram dan juga David, mengikuti seorang anak buahnya yang menyambut kedatangan mereka, menuju mobil yang akan membawa mereka.
“Bagaimana?” tanya David
“sudah selesai dipersiapkan tuan, “ jawab anak buah Alvian yang tadi.
Mobil yang di tumpangi Alvian melaju mendahului, di ikuti oleh beberapa mobil lainnya yang membuntutinya dari belakang. Jalanan yang tadinya penuh dengan kendaraan, ketika mobil milik Alvian melintas seketika mereka menyingkir memberinya jalan terlebih dahulu.
“Astaga, itu tuan muda Alviano!”
“Gila, ganteng banget.”
“Oh my God, dia kembali?!”
Di sekitar jalanan kota, seluruh masyarakat terpukau melihat kehadirannya di sana. Mengapa begitu? Sebab, baru kali ini Alvian menunjukkan wajahnya di keramaian penduduk Swedia.
Mobil yang di tumpangi Alvian, memasuki sebuah kawasan mewah bak istana. Ia dan juga David bersama Bram, mereka di sambut ratusan anak buahnya yang menunggu kedatangan mereka.
“Selamat datang kembali, tuan muda, “ ujar Jhon, salah seorang anak buah Alvian yang tugasnya sama seperti Very.
“Pindahkan seluruh barang kedalam rumah, “ titah Bram, sebelum mengikuti Alvian memasuki kediaman mewah itu.
“Baik Bos, “ jawab Jhon.
Alvian dengan diikuti David, melangkah menuju sofa menjatuhkan dirinya di sana melepas penatnya. Seorang gadis cantik bertubuh kecil, menghampiri mereka dengan membawa minuman.
“Silahkan tuan, “ ujarnya setelah selesai meletakkan minuman itu.
Alvian masih menyenderkan kepalanya, sedangkan David sudah lebih dahulu menyeruput minuman itu tanpa sisa. Bram baru mencapai keduanya, ikut menyeruput menghilangkan dahaganya.
“Kiran!”
Yah, gadis tadi adalah Kiran. Salah satu pelayan di sana, yang di temukan Alvian waktu dirinya masih kuliah.
“Iya tuan, “ Kiran mendekat.
“Siapkan Ari hangat, saya mau mandi!” pintah Alvian, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya
Kiran mengangguk, lalu melangkah menjauhi mereka menuju kamar Alvian yang berada di lantai atas menggunakan lift.
“David, persiapkan mobilku.”
Alvian bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamarnya mengikuti jejak Kiran yang baru beberapa menit meninggalkan tempat itu.
David sedikit menyenderkan kepalanya, beberapa detik kemudian Ia juga berlalu dari sana meninggalkan Bram seorang diri.
__ADS_1
“Swedia, aku kembali, “ gumam Bram merebahkan tubuhnya di sofa.
Alvian memasuki kamarnya, mendapati Kiran yang baru saja selesai menyiapkan air hangat untuknya.
“Sudah selesai?” Alvian meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Sudah tuan, “ ujar Kiran.
Ia tak langsung pergi, gadis itu masih menatap Alvian sekilas. Alvian yang menyadari hal itu, bangkit dari tidurnya berjalan kearah ruang gantinya.
“Kau bisa keluar!” titah Alvian memasuki kamar mandi.
Sedikit ada rasa kecewa terukir pada wajah Karin, Ia melangkah keluar kamar Alvian tak menggunakan lift melainkan tangga.
“Apa dia tidak merindukan ku?” ujar Kiran kesal.
"Mengapa dia seperti ini?" timpalnya lagi.
Bram yang hendak ke dapur sedikit mendengar celutukan Karin, menggelengkan kepalanya melirik gadis itu dari samping kulkas.
“Pantas Victor tidak menyukainya, “ gumam Bram.
Alvian yang sudah menyelesaikan ritual mandinya, melangkah kedalam ruang ganti mengenakan kaos putih dengan celana jeans. Ia kembali melirik ponselnya, teringat akan kejadiannya bersama Nara di kediaman Atmaja, waktu mati lampu.
Alvian tersenyum kecil, memasukkan ponselnya kedalam kantongnya berjalan keluar kamarnya sedikit terburu-buru. Ketika dirinya keluar dari lift, Ia langsung disambut Kiran yang tersenyum memandanginya.
“Anda mau kemana? Baru juga tiba, nggak mau istirahat dulu?”
“Saya perlu ikut?” tanya David, yang seharusnya pertanyaan itu tidak perlu Ia lontarkan lagi.
“Hmm, “ hanya itu yang mampu Alvian keluarkan dari mulutnya.
David sedikit menarik nafasnya, mengikuti Alvian kedalam mobil. Namun sebelum Ia benar-benar masuk, matanya sedikit melirik Kiran yang berdiri di depan tangga masuk.
“Anda tidak membawanya?” ujar David, menduduki bangku pengemudi.
“Aku mencintai kekasihku.”
Cukup satu kalimat itu saja, David menarik nafas lega. Ia khawatir, jika Alvian kembali menaruh perasaan pada gadis itu, Nara pasti akan begitu jauh dari kehidupan Alvian. Hal itu akan sangat berbahaya, apa lagi bagi perusahaan Jovanka.
“Ada apa dengannya? Mengapa dia jadi dingin?” gumam Karin bertanya-tanya.
David mulai melaju, meninggalkan kediaman mewah itu menuju tempat yang sudah sangat dirindukan Alvian.
Ketika mobil itu berhenti, Alvian melangkah turun menuju penjual bunga di sana. Mata penjual itu berbinar-binar melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Saya mau Mawar putih, “ ujar Alvian.
Masih sedikit mematung, penjual bunga itu lalu mengambil bunga yang di maksud Alvian dengan begitu sangat gugup.
“Untuk siapa tuan?” ujarnya memberanikan dirinya bertanya.
__ADS_1
“Wanitaku, “ jawab Alvian.
Beberapa gadis yang kebetulan berada di sana, sedikit kecewa dengan apa yang di tangkap pendengaran mereka.
Setelah mendapatkan apa yang dibelinya, Alvian mengeluarkan selembar uang lalu berbalik berjalan tanpa menunggu sisa uang tadi.
David mengawali Alvian dari belakang, keduanya memasuki makam umum. Saat hendak mendekati sebuah Nisan, Alvian menghentikan langkahnya jauh sebelum mencapai nisan itu. Ia mengeluarkan ponselnya, mengusap mencari foto dirinya dan juga gadisnya.
Alvian berjalan dengan perlahan, lalu berjongkok disebuah nisan yang bertuliskan nama “Viona Hill”
Entah mengapa, jantung Alvian berdetak kencang. Ia meletakkan mawar putih tadi, lalu meletakkan kiga ponselnya. Alvian terdiam sebentar, maniknya berair beriringan dengan tangannya yang mengusap nisan itu.
“Bunda, Al pulang! Aku merindukanmu, hidup ini terasa berat tanpamu. Aku kembali mengambil semua milikmu, sedikit lagi semuanya akan kudapatkan kembali. Ohiya, kau akan segera mempunyai seorang menantu yang cantik. Setelah semuanya selesai, akan ku bawah dia kesini, “ ujar Alvian panjang lebar.
David yang sedari tadi mematung di sana, melangkah sedikit menajuihi Alvian memberi ruang pada tuannya melepas rindu.
“Bunda tau, dia tidak terlalu cantik tapi sangat menggemaskan. Jika kau masih di sini, aku rasa kalian berdua mempunyai sedikit kemiripan, “ ujar Alvian lagi.
“Aku harus pergi sekarang, akan ku temui kau lagi. Aku mencintaimu, “ Alvian kembali mengecup nisan bundanya, lalu bangkit berdiri.
Alvian berjalan keluar dari makam itu, melewati David langsung dibuntuti pria itu hingga keduanya mencapai mobil. Sama seperti awal mereka datang, kali ini juga posisi duduk mereka sama.
“Kita kesana tuan?” David melirik Alvian melalui kaca spion.
“Yah, sudah kau siapkan yang ku minta?”
“Sudah tuan, “ jawab David.
David mulai melaju kembali dengan kecepatan sedang, menuju tempat merupakan tujuan utama mereka kembali ke Swedia.
Dalam perjalanan kesana, Alvian memasang wajah datarnya hingga mobilnya memasuki parkiran rumah yang menyimpan kenangan pahit dalam hidupnya.
Alvian keluar dari mobil dengan gagahnya, sembari tangannya mengarah meminta barang yang dimaksudnya pada David.
Keduanya di sambut oleh seorang wanita tua, yang sedang menghisap asap rokoknya.
“Hallo cucuku, “ sapa wanita tua tersebut.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹
__ADS_1