
Hari sudah mulai gelap, sinar mentari di kalahkan gelapnya malam yang sudah menyelimuti seluruh bumi.
Nara melangkah ke kamar Alvian, membuka pintu kamar kekasihnya. Ia mendapati Alvian yang baru saja selesai mandi.
Melihat kehadiran Nara, Alvian tersenyum mengisyaratkan tangannya agar gadisnya mendekat.
Dengan senyuman terukir di bibirnya, Nara menghampiri Alvian. Ia di bawa Alvian masuk kedalam pelukan pria itu.
"Kenapa? kau merindukanku hmm, " ujar Alvin.
Nara menggelengkan kepalanya, sembari melepaskan pelukan pria itu.
"Aku mau pulang, " ujarnya.
Alvian sedikit tersenyum, lalu mencolek hidung Nara. Tak hanya sampai di sana, pria itu menghujani pipi Nara dengan seribu satu ciuman.
"Ayok aku antar pulang. "
Dengan bergandengan tangan, keduanya menuruni anak tangga menuju parkiran.
Alvian membukakan pintu untuk Nara, lalu mengitari mobil dan masuk.
"Kita mampir ke suatu tempat dulu yah, " titah Alvian.
"Kemana? " kepo Nara.
Alvian tidak menjawab pertanyaan Nara, Ia melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya.
Dalam perjalanan, Nara sesekali melirik Alvian saat jalan yang di tempuhnya bukanlah ke rumah sakit.
Mata Nara terbelak kaget, saat melihat tempat yang di datangi mereka.
"Ihh ngapain kesini? " tanya Nara kesal.
"Bukannya waktu itu kamu yang minta, " goda Alvian.
Nara menatap tajam ke arah Alvian, kemudian mengarahkan pandangannya pada papan besar yang bertuliskan "OYO"
Alvian melepaskan sabuk pengamannya, turun mengitari mobil membukakan pintu bagi gadis itu.
Nara menelan kasar salivanya, menatap wajah Alvian yang tengah tersenyum devil ke arahnya.
"Ayok, " ajak Alvian.
Nara menahan nafasnya, saat Alvian melewati tempat itu menuju penjual buah, Nara menjadi bingung.
"Kenapa kamu berharap kita ke sana? " goda Alvian.
Nara memalingkan wajahnya, tertawa terbahak-bahak menatap wajah Alvian.
"Saya tau otak mu, " ujar Alvian.
Keduanya menghampiri penjual buah. Alvian membeli beberapa apel dan juga jeruk, lalu membayar setelahnya mereka kembali menuju mobil.
Alvian memandangi wajah Nara, di mana gadis itu tidak berhenti tersenyum.
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu, jika tanpa izin darimu, " ujar Alvian.
Nara tersenyum menanggapi perkataan Alvian.
Alvian memasang kembali sabuk pengaman, melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Setibanya di sana, keduanya melangkah beriringan masuk menuju tempat Firman di rawat.
"Malam Rian, " ujar Alvian menyapa.
Rian mengangguk membalas sapaan Alvian, kembali fokus pada laptopnya.
__ADS_1
"Mama mana? "
Nara yang tidak menemukan sosok Tina di sana, berjalan mendekati Rian.
"Pulang, " jawab Rian singkat.
Nara meletakkan plastik berisi buah yang tadi di beli mereka, lalu berjalan menuju samping firman.
Tak menjelang beberapa menit, dokter bersama seorang perawat memasuki ruangan itu.
"Permisi, mbak kami mau periksa kondisi pasien. "
Nara mengangguk, melangkah berdiri di samping Alvian.
Dengan telaten, dokter mulai memeriksa kondisi Firman. Dari detak jantung, sampai hal paling kecil pun di periksa.
Setelah selesai, sang dokter berjalan mendekati Nara.
"Bisa ikut saya ke ruangan? "
Nara tampak ragu, menatap Alvian. Alvian mengangguk mengiyakan perkataan dokter.
"Bisa dok, " ujar Alvian.
Dengan menarik tangan Nara, Alvian berjalan membuntuti dokter menuju ruang kerja dokter tersebut.
Setibanya di sana, keduanya di persilahkan duduk.
"Bagaimana dok? " tanya Nara.
"Jadi begini Nona Nara, kondisi pasien bisa di bilang tidak bagus. "
"Maksudnya dokter? " tanya Alvian yang tidak mengerti akan arah pembicaraan sang dokter.
"Begini tuan Jovanka, hampir dua bulan ini saya melihat tidak ada perubahan dalam tubuh pasien. Obat yang di berikan pun, sama sekali tidak respon tubuhnya. Kondisinya mala semakin memburuk. "
"Jadi apa yang harus di lakukan dok? " tanya Alvian.
"Saya sarankan untuk memberhentikan pengobatan ini. "
"Tidak! bukannya saya sudah pernah bilang, apapun yang terjadi tetap lanjutkan, " tukas Nara.
Kali ini, air matanya sudah meloloskan diri dari balik kelopak matanya.
"Tapi Nona, ini akan percuma saja. "
Mendengar penuturan dokter, hati Nara begitu hancur. Apa Ia akan kehilangan ayahnya? pertanyaan itu terus berputar dalam kepalanya.
"Lanjutkan saja pengobatannya, " ujar Alvian.
"Permisi. "
Alvian menggandeng tangan Nara, melangkah pergi.
Dengan pikiran yang sudah tidak bisa di jelaskan, Nara mendekati ruangan firman.
"Tidak usah terlalu di pikirkan, akan ku pastikan pengobatan ayah terus berjalan. "
Alvian mengusap lembut pipi Nara, membawanya masuk bertemu Rian.
"Apa kata dokter? " tanya Rian menyambut kedatangan mereka.
"Katanya kondisi ayahmu lumayan, " jelas Alvian.
Sedangkan Nara, sudah membenamkan wajahnya pada ranjang Firman sembari menggenggam erat tangan ayahnya.
"Kalau lumayan, kenapa wajah Nara muram begitu? " tanya Rian lagi yang kali ini tidak melepaskan pandangannya dari wajah Nara.
__ADS_1
"Entahlah, waktu keluar dari ruangan wajahnya sudah muram, " bohong Alvian.
Ia sengaja mengatakan hal itu, sebab tidak ingin melihat ekspresi yang sama dari Rian.
Rian mengangguk mengerti, lalu melangkah keluar.
"Mau kemana? "
Rian menghentikan langkahnya, berbalik menatap Nara yang bertanya kepadanya.
"Cari angin. "
Nara tidak mengeluarkan suara lagi, Ia memilih mendekati Alvian yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Selepas kepergian Rian, Nara menatap wajah Alvian. Pikiran terbayang kembali, pada pembahasan Alvian siang tadi.
Alvian yang di tatap Nara seperti itu, mematikan ponselnya lalu memeluk erat tubuh Nara.
"Ada apa? hmm, " tanya Alvian dengan lembut.
Tanpa menunggu persetujuan Alvian, Nara dengan lancangnya mencium bibir Alvian.
Alvian yang kaget akan perbuatan Nara, menahan tengkuk gadis itu memperdalam ciumannya.
Tak hanya sampai di sana, Alvian juga sedikit menggigit bibir ranum Nara dan mulai mengekspos setiap isi mulut gadis itu menggunakan lidahnya.
Alvian melepaskan pangutannya saat pasokan udara susah hampir surut di antara keduanya. Pria itu mengusap pelan bibir Nara, lalu mengecup singkat.
"Jangan tinggalkan aku, " titah Nara.
Mendengar penuturan Nara, jantung Alvian berpacu lebih cepat dari biasanya.
mulutnya tidak bisa berkata apa-apa lagi, Ia hanya menarik Nara semakin mempererat pelukannya.
"Aku tau kau tidak akan bisa menjawab hal ini. " batin Nara.
Ia melepaskan pelukan Alvian, lalu tersenyum pahit mengambil ponselnya.
"Sayang, " ujar Alvian pelan saat melihat perubahan sikap Nara dalam beberapa menit.
Nara tidak menjawab panggilan kekasihnya itu, Ia mengangkat kepalanya menatap wajah Alvian.
"Ada apa? " tanya Alvian lembut.
Nara menggelengkan kepalanya, kembali fokus pada ponselnya.
Alvian mendekatinya, mengambil paksa ponsel Nara menyimpannya jauh.
"Ia aku berjanji tidak akan meninggalkan mu, " tutur Alvian.
Nara berbalik menatap lekat wajah pria itu, mencari dimana letak titik kebohongan dalam wajah Alvian.
"Aku tidak yakin, " ujar Nara.
Alvian yang mendengar perkataan Nara tersenyum masam.
"Percayalah, kalau pun aku pergi aku akan kembali hanya untukmu, " jelas Alvian.
"Jika kau ingin kembali untukku, maka jangan pernah berpikir untuk pergi dari ku. "
Nara melangkah mendekati Firman, menjauhi Alvian. Alvian hanya bisa menelan kasa salivanya, mencerna apa yang di katakan gadisnya itu.
.
.
.
__ADS_1
Makasih yah, buat yang sudah mampir jangan lupa like komen biar aku tau ada yang baca