
Nara yang menatap ke arah bawah, tersadar saat tangan Alvian melingkar pada pinggang rampingnya.
Alvian menumpukan kepalanya pada bahu Nara, sembari menghirup aroma tubuh gadis itu.
"Lepaskan, " ujar Nara pelan.
Alvian tidak memperdulikan perkataan Nara, Ia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Dimana kau bertemu dengannya? "
Tak melepaskan pelukannya, Alvian menyapu bersih leher jenjang Nara menganggukan mulutnya.
"Akh, di-dia yang menolongku kemarin, " jawab Nara sembari meremas kuat tangan Alvian yang berada di pinggangnya.
Alvain mulai melancarkan aksinya, dengan tangannya yang sudah masuk kedalam baju Nara mencari gundukan milik gadis itu.
Nara menutup kedua matanya, merasakan setiap sentuhan yang di berikan Alvian.
"Akh."
mendengar ******* Nara, Alvian tersenyum kecil semakin mengekspos setiap inci tubuh wanita itu.
Tangannya terus mengusap lembut tubuh Nara, hingga sampai pada ujung paha gadis itu.
"Al, aku mohon jangan. "
Alvian melepaskan tangannya, ketika kelopak mata Nara sudah mengeluarkan cairan bening.
"Dia menolongmu dari apa? "
Nara melirik ke arah kakinya, membuat Alvian juga ikut melihat ke arah bawah.
"Aku di serempet motor, " ujar Nara.
Mendengar hal itu, Alvian hanya bereaksi biasa saja seolah tidak memperdulikan perkataan gadisnya.
Nara yang melihat sikap Alvian, hatinya begitu teriris.
Dengan berat hati, gadis itu melangkah sempoyongan berjalan menuju sebuah kursi yang berada di sana.
"Lima menit lagi ke bawah, " ujar Alvian melangkah pergi.
Nara yang sedari tadi menahan tangisnya, meneteskan air matanya saat Alvian sudah tidak ada dari pandangannya.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa nomor menghubungi Rian adiknya.
"Ian, satu jam lagi jemput aku yah. "
Mendengar suara kakanya yang berat, Rian menjadi khawatir.
"Apa terjadi sesuatu denganmu? "
Tak menjawab pertanyaan Rian, Nara memutuskan panggilannya secara sepihak.
Sesuai dengan perkataan Alvian, gadis itu berjalan sempoyongan menuruni anak tangga kembali ke ruangannya.
Kakinya berhenti melangkah, ketika melihat sosok Ana dan juga Ria berjalan ke arahnya dengan membawa beberapa makanan.
"Ayok kita makan, " ujar Ria.
Nara tersenyum kecil, mengangguk mengiyakan perkataan gadis itu lalu ketiganya menikmati makanan di atas tangga darurat.
"Dari mana? " tanya Ana menatap intens wajah Nara.
"Dari atas. "
Ana dan juga Ria, seketika menatap ke atas plafon membuat Nara tertawa renyah.
"Bukan atas plafon, tapi rooftop. "
Kedua gadis tersebut ikut tertawa terbahak-bahak, dengan kekonyolan keduanya.
"Kaki Lo udah mendingan? "
Nara menggelengkan kepalanya sembari menyeruput minuman yang di berikan Ana tadi.
"Itu sepertinya para tulang deh Nara. "
Ria dan Nara seketika berbalik menatap lekat wajah Ana. Gadis itu seperti ahli tulang saja, bisa menyimpulkan semuanya hanya dengan penglihatannya.
"Berhentilah menatapku seperti itu, aku tau karena aku seorang peramal. "
__ADS_1
Tawa ketiganya menggema, di saat mendengar perkataan Ana yang begitu sangat serius.
"Nggak patah Ana, ini hanya luka luar. Besok juga sembuh, " jelas Nara.
Mendengar penjelasan Nara, Ana tersipu malu yang mengundang gelak tawa di antara kedua gadis di hadapannya.
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore, Nara bersama Ana dan juga Ria, masih setia duduk di tangga sembari melemparkan candaan satu sama lainnya.
"Kalian akan terus di sini, atau ingin pulang? "
Sendri menghampiri ketiganya, membuat mereka saling bertatapan lalu berjalan menuju ruang kerja.
Nara memungut barang-barangnya, lalu memasukkan kedalam tas.
"Nara, kita duluan yah. "
Nara tersenyum lalu mengangguk antusias, mengizinkan kedua gadis itu berlalu dari sana.
Di saat Nara keluar dari ruangan, Ia berpapasan dengan Alvian yang di buntuti Victor. Senyuman manis terukir di bibirnya, menyambut kedatangan pria itu.
Namun, seolah di sambar petir hatinya seketika hancur saat kekasihnya itu melewatinya begitu saja.
"Kaka! " teriak Nara.
Alvian terus melangkahkan kakinya, seolah acuh dengan teriakan Nara.
Victor yang menyadari hal itu, merasa bersalah. Jika saja waktu itu Ia tidak menunjukkan foto-foto itu, mungkin sekarang yang di lihatnya adalah kebucinan tuannya.
"Maafkan aku nona, " gumamnya pelan.
Dirinya tak kuasa melihat Nara yang berjalan tertatih-tatih, mengejar Alvian sampai ke parkiran.
"Ka-
Nara yang hendak memegang lengan Alvian, dengan cepat pria itu masuk kedalam mobilnya menutup pintu mobil dengan keras.
Menyadari hal itu, Nara memundurkan langkahnya. Victor yang baru tiba, bingung harus berbuat.
"Victor! "
Teriakkan Alvian dengan segera, membuatnya memasuki mobil itu tanpa memperdulikan Nara.
Mata Nara terus menatap mobil Alvian yang sudah jauh dari pandangannya.
suara panggilan dari Rian, menembus telinganya. Dengan senyuman paksa, gadis itu mendekati adiknya yang berada di jalan.
"Ada dengan kakimu? "
"Keserempet motor kemarin, " ujar Nara sembari menerima helm dari tangan Rian.
"Mau ke ayah dulu? "
Nara mengangguk antusias, lalu menaiki motor Rian. Ia memeluk erat pinggang Rian, menumpahkan seluruh kepala pada punggung adiknya.
"Terjadi sesuatu denganmu? "
Pertanyaan Rian Bukanlah tanpa alasan, Ia tau jika Nara memeluknya erat pasti kakanya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Aku hanya capek! " ujar Nara berteriak, sebab saat ini Rian sudah melajukan motornya.
Rian menghentikan motornya, ketika mendekati penjual bakso yang berada di tepi jalan.
"Mang baksonya dua pedas, " ujar Rian.
Nara yang hanya mengikuti saja, tidak bersuara lalu duduk di samping Rian.
"Tumben ngajak ngebakso, " ujar Nara sedikit menyindir.
Pasalnya, adiknya itu selalu mencari alasan di saat dirinya mengajaknya makan-makan.
"Ada yang ingin aku sampaikan. "
Nara yang tadinya duduk bersampingan dengan Rian, seketika memutar kursinya menghadap adiknya.
"Katakan, ada apa? "
Rian tampak menghela nafasnya sebentar, menggenggam erat tangan Nara.
"Sepatuku sudah tidak layak di pakai lagi, " ujar Rian menatap ke bawah kakinya.
Nara menatap intens kaki Rian, tersenyum menanggapi perkataan adiknya tersebut.
__ADS_1
"Apa lagi? "
"Mas baksonya. "
Rian mengangguk menerima sodoran penjual bakso, memberikan semangkok kepada Nara.
"Tas ransel ku juga sudah sobek, " tambah Rian.
Nara memasukan bakso kedalam mulutnya, mengangguk mengerti dengan apa yang di katakan Rian.
"Ya sudah, habiskan makananmu lalu kita ke toko, " ujar Nara santai.
"Jangan, kita ke pasar trift saja. "
Nara meletakkan mangkok baksonya, menarikan kepala Rian mengecup singkat kening pria kecilnya itu.
"Aku tidak akan memberikan mu merasakan hal yang seperti ku dulu, " ujarnya.
"Tapi Nara, "
"Cepat habiskan, tokonya sebentar lagi tutup. "
Dengan gerakan kilat, Rian menyeruput habis kuah sisa baksonya sampai bersih.
Nara terkekeh kecil melihat tingkah adiknya itu. Matanya seketika mengeluarkan cairan bening, di saat ingatannya kembali berputar mengingat masa-masa dimana mereka bersama Firman.
"Nara merindukan ayah. " batinnya pelan.
Setelah selesai membayar, Rian menggandeng tangan Nara menuju motornya.
Dengan sedikit tawa di antara keduanya, motor Rian melaju menuju toko yang di maksud Nara.
Lagi lagi, dengan bergandengan tangan, keduanya beriringan masuk.
Mata Rian langsung tertuju pada sebuah sepatu yang berada di paling sudut toko.
"Kau menyukainya? "
Rian mengangguk antusias, menatap wajah Nara. Nara memberikan sepatu kepada pelayan di sana, lalu mengikuti Rian mendekati gantungan tas.
"Menurut mu, mana cocok untuk seorang mahasiswa? "
Nara menatap satu persatu tas yang berada di sana, hingga matanya tertuju pada sebuah tas ransel hitam yang cocok dengan style Rian.
"Mbak tolong ambilkan yang itu, " ujar Nara.
Seorang pelayan menurunkan tas itu, lalu menyerahkannya kepada Nara.
"Mau yang ini? "
Rian mengangguk mengiyakan perkataan Nara. Dengan senyuman di wajahnya, Nara menyerahkan tas tadi kepada pelayan.
Setelahnya, Nara menarik Rian mendekati tempat pakian.
Dengan sangat telaten, Nara memilih beberapa baju untuk adiknya.
"Berapa semuanya? " ujar Nara bertanya saat sudah berada di depan kasir.
"Satu juta tuju ratus. "
Mata Rian membulat, mendengar nominal yang di sebutkan.
"Apa tidak kemahalan Nar? " bisiknya pada telinga Nara.
Nara hanya tersenyum menanggapi perkataan Rian, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang khas dari dalam tasnya.
"Mbaknya royal banget sama pacar, " ucap sang kasir.
Nara dan Rian saling bertatapan lalu tertawa renyah mendengar penuturan kasir itu.
"Dia adik saya mbak, " ujar Nara.
Dengan menggandeng tangan Nara, Rian menentang belanjaannya berjalan menuju motornya.
Keduanya kembali melaju, meninggalkan pusat perbelanjaan itu menuju rumah sakit.
.
.
.
__ADS_1
Makasih buat yang sudah mampir yuk komen sama likenya dong biar aku tau ada yang baca ❤️