
Di sebuah mushola kecil yang tak jauh dari sebuah restoran sederhana. Tampak Nayana, seorang wanita cantik yang berkulit putih, tengah duduk tenang dengan lamunannya.
Ia selalu memikirkan kata-kata yang mengusik hatinya.
"Biarkan suamimu menikah lagi, Naya.. itu demi kebaikanmu juga" kata-kata ini begitu mulus meluncur dari mulut Sarita, ibu mertuanya.
Wanita berjilbab ungu yang sedang istirahat disela-sela pekerjaannya itu sering kali melamun. Bahkan akhir-akhir ini pekerjaan yang ia lakukan sering kali salah karena ia tidak fokus. Pikirannya terganggu karena ucapan mertuanya itu.
Naya mengusap wajahnya, ia baru saja selesai menunaikan ibadah Sholat dzuhur. Ada seorang teman yang membersamainya melakukan sholat.
"Kenapa kamu sering melamun, Nay? Gak biasanya kamu salah-salah terus gitu. Bu Nha marah terus ke kamu" kata Sela.
"Iya, nih, Lagi banyak pikiran. Tapi gak apa kok. Kena marah bu Nha, udah biasa kan?" kata Naya tersenyum sambil melipat mukenanya.
Ia tak mungkin menceritakan masalah rumah tangganya pada orang lain, kan? Lagi pula soal suami menikah lagi adalah hal yang menurut Naya sangat tabu diperbincangkan.
Masalah poligami, banyak wanita anti pati pada kata ini. Apalagi menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh tak bisa Naya bayangkan kedepannya. Baru membayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
Ini soal Hati. Soal yang sangat sensitif untuk dibicarakan dengan orang yang belum tentu bisa menjaga rahasia. Ahk...
Ini sangat meresahkannya.
"Aku duluan ya, Nay" kata Sela sambil melangkah pergi meninggalkan Naya sendiri diruang mushola yang sengaja disiapkan oleh bu Na sebagai pemilik restoran sederhana tempat Naya bekerja sebagai pelayan disana.
Naya mengangguk pelan. Pikirannya masih berkelana tentang suaminya Rudian yang sudah hampir setahun ini berubah sikap dan kebiasaannya.
Ingatannya juga melayang pada peristiwa sebulan lalu saat Sarita berkunjung kerumahnya hanya untuk mengatakan bahwa Rudian akan menikah lagi. tentu saja Naya tidak rela. Tapi entah mengapa ia tak berdaya untuk melawan ibu mertuanya itu.
"Tapi kenapa, bu?" tanya Naya.
__ADS_1
Saat itu, Sarita memintanya mengijinkan Rudian menikah untuk kedua kalinya.
"Aku mau nimang cucu dari kalian, sudah enam tahun kalian menikah tapi Naya belum hamil juga" kata Sarita. Ia duduk dengan gaya elegan khas wanita setengah baya.
"Kan ada cucu dari bang Bastian, bu. Lagian kami menikah baru enam tahun. Banyak pasangan yang lain yang sudah belasan bahkan puluhan tahun tidak punya anak" jawan Naya tenang, menutupi kekacauan dihatinya.
"Jadi, kamu nyruh ibumu ini menunggu selama itu, sampai belasan atau puluhan tahun baru bisa gendong Cucu?" ujar Sarita tampak emosi.
"Ibu, menikah itu bukan cuma pengen anak. Adopsi juga bisa" jawab Rudian waktu itu.
Keluarga itu tengah duduk di sofa kecil yang ada di ruang serbaguna rumah kecil milik Rudian dan Naya. Mereka berdua membeli rumah itu ketika Bastian, kakak Rudian memiliki anak. Rumah yang mereka cicil dari uang gaji mereka secara gotong royong berdua.
Rumah bersubsidi itu berada tak jauh dari tempat Naya dan Rudian bekerja. Perumahan rakyat yang dibayar melalui KPR. Rumah yang terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, sebuah dapur dan satu ruang serbaguna dibagian tengah.
"Rumah kami masih belum lunas, masih ada cicilan motor kanda, juga. Mana mungkin beristri lagi" kata Naya menimpali.
"Ibu, apa ibu ini bukan perempuan? bagaimana kalau ibu ada diposisi Naya?" kata Naya mulai tidak sabar menghadapi mertuanya.
"Ya, untungnya ayahnya Rudian sudah tidak ada. Jadi kamu akui saja Nay. Kamu ini mandul. Ibu punya calon buat Rudian. Dia cantik, juga kerja. Orang tuanya juga kaya. Jadi kamu jangan takut bakal melarat, Nay." kata Sarita lagi.
Mendengar itu, Rudian seperti kepanasan, ia mengusap wajahnya kasar. Lalu memandang Nayana dengan gelisah, ada sesuatu yang ia sembunyikan
"Ibu, sudah cukup. Soal ini akan aku bicarakan sendiri dengan Naya. Ibu pulang saja" kata Rudian memalingkan pandangan pada ibunya.
"Tidak. Aku tidak mandul, bu. Aku sehat. Kanda dan aku sudah pernah periksa ke dokter kandungan." jawab Naya sambil berdiri, mencagah Sarita yang sudah beranjak pergi.
Mereka berdua memang sudah pernah melakukan beberapa tes. Hasilnya mereka sehat dan masih punya banyak peluang mendapatkan momongan.
Memang dulu Naya pernah berpikir untuk menunda memiliki anak karena ia masih tidak mau berhenti bekerja. Lalu tinggal di rumah mertua dan bersama kakak ipar, terlalu riskan baginya bila harus memiliki bayi saat awal-awal menikah. Tak ia duga kalau ternyata sampai detik ini ia belum juga hamil.
__ADS_1
"Kalau memang kamu sehat, buktikan. Tapi kalau tidak, biarkan suamimu menikah lagi" itulah kata-kata mertuanya yang membuatnya terganggu sampai saat ini, apalagi sebagai suami, Rudian tak tampak sedikit pun membelanya.
Nayana kembali kedapur setelah beberapa saat sibuk dengan pikirannya, ia kembali untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah menunggunya. Sering ia membantu mencuci piring atau memasak, walau itu bukanlah bagiannya.
"Aaa...!" tiba-tiba terdengar suara jeritan dari seorang anak kecil yang menangis.
Anak kecil itu tampak berurai air mata, ia menangis cukup keras. Anak itu duduk di samping seorang pria yang tengah sibuk menikmati makanannya. sedang dihadapan Pria itu ada seorang remaja perempuan yang asyik dengan ponselnya.
'Laki-laki itu, siapa. Bapaknya, kok cuek amat anak nangis dibiarin?'
"Ada, apa sayang?" kata Naya setelah mendekati anak itu, ia berdiri di samping bocah perempuan lucu dengan rambut ikalnya yang diikat dua dengan karet warna warni. Ia begitu manis dan menarik.
"Maaf, bisa pinjam gunting?" kata Ares, pria yang duduk disamping anak kecil yang terus menangis sambil memegangi satu pergelangan tangannya.
"Oh, ada." kata Naya segera berlalu kearah dapur dan kembali dengan gunting kecil ditangannya.
"Buat apa?" kata Naya lagi setelah kembali mendekat.
"Ini.." kata Gadis kecil itu sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang terikat banyak benang, hingga tampak memerah.
"Wah, kok bisa begini?" kata Naya seraya meraih tangan anak itu lalu memutuskan benang dari tangannya secara perlahan dan hati-hati kuatir tangan anak itu lebih sakit lagi.
"Gak boleh mainan benang seperti ini ya. Ini bahaya lho. Darahmu bisa berhenti disini" kata Naya lagi sambil mengusap-usap pergelangan tangan anak itu. Kini semua benang yang membelit di tangan sudah terlepas.
Ares menatap interaksi antara anaknya dan Naya, dengan alis yang bertaut penuh tanda tanya. Begitu pula anak gadis remaja yang ada disebelahnya, menatap heran pada Yoni adiknya dan juga Naya.
'kok bisa, anak manja ini gak muntah' batin anak remaja itu.
Bersambung
__ADS_1