Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 10. Menyelesaikan Masalahnya


__ADS_3

Pagi itu Naya berangkat ke restoran diantar oleh Rudian, suasana hatinya sangat baik sekarang. Tak ada masalah berarti yang terjadi selama sepekan ini. Keadaan dan hubungan mereka berdua sebagai suami istri baik-bak saja. Berjalan seperti air mengalir.


Setiap manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hadapannya. Tapi setiap menit yang berlalu sudah pasti akan menjadi masa lalunya.


Naya mencium tangan suaminya begitu turun dari motor matick Rudian, ia sudah sampai di depan restoran tepat waktu. Tapi suara ponsel dari balik saku celana Rudian terus saja berdering.


"Kanda, dari tadi ponselnya bunyi, kenapa tidak diangkat?" tanya Naya sebelum Rudian pergi.


"Biarkan saja. Pergilah. Tunggu aku ya, nanti aku jemput kalau mau pulang," kata Rudian berpesan sebelum pergi.


Naya hanya mengangguk sedang matanya terus menatap punggung suaminya yang semakin menjauh.


Sementara itu, setelah jarak cukup jauh dari tempat Naya turun, Rudian menghentikan motornya. Pada jarak sejauh itu, tidak memungkinkan untuk Naya bisa mendengar apa yang akan ia bicarakan. Sebab Naya sudah berada di restoran tempat ia bekerja.


Ia menjawab telepon dan berkata, "Tunggu, aku akan segera menjemputmu. Aku mengantarkan Naya dulu."


Ia berhenti sejenak untuk mendengar, lalu berkata lagi, "Maaf, gak masalahkan sekali kali terlambat, hehe."


Setelah selesai bicara dan telpon di tutup, Rudian kembali melajukan motornya menuju tempat yang sudah ia sepakati dengan seseorang.


-


Di restoran, Naya kembali bekerja seperti biasanya, membersihkan dan menyiapkan meja, melipat tissu, membantu memasak, dan melayani pelanggan yang datang.


Jam makan siang sudah hampir berakhir, suasana restoran sudah mulai lengang. Saat itu Naya kembali melihat Yoni dan Ares, mereka masih duduk di salah satu meja. Sepertinya mereka sudah menghabiskan makan siangnya. Akhir-akhir ini anak kecil itu tidak membuat masalah, makan dengan tenang dan menurut pada papanya. Hingga tidak merepotkan Naya.


Naya hanya sesekali saja menegur dan menyapa Yoni, memeluknya sebentar, atau sekedar meremas pipi gembilnya, disela-sela kesibukannya. Begitu setiap hari ini, biasanya ia akan menyapa sebentar, setelah itu melanjutkan aktifitas dan mengabaikan Ares begitu saja.


Namun, hari ini, Naya bercengkrama dengan Yoni lebih lama, karena kebetulan suasana restoran agak sepi.


"Kemana kak Raya, sekolah ya?" sapa Naya lembut pada Yoni. Anak kecil itu seperti hiburan baginya. Entah kenapa setiap kali saat jam makan siang Naya selalu berharap Yoni datang untuk makan di sana, dan ia bisa bercanda dengannya.


Anak itu mengangguk, lalu menatap Naya sekilas dan kembali sibuk dengan mainannya. Ares tampak sedang menerima telepon. Lalu berbalik menatap Naya yang baru saja hendak melangkah ke dapur dengan membawa piring kotor di tangannya.


"Maaf, apa kamu sibuk?" kata Ares, membuat Naya berbalik dan menatap Ares heran. Hanya sekilas lalu pandangan dialihkan pada Yoni.


'Apa maksudnya, jelas-jelas aku sibuk' Naya.


"Ada apa pak, mau tambah pesanan?" tanya Naya datar.


"Tidak. Saya minta tolong lagi, bisa tidak?" tanya Ares penuh rasa sungkan.

__ADS_1


"Minta tolong apa maksudnya?"


"Maaf, saya tidak tau lagi harus minta tolong pada siapa, ini soal Raya di sekolah."


'Sepertinya Raya anak yang baik. Dia tidak akan membuat onar di sekolah, kan?' Naya.


"Kenapa dengan Raya?" tanya Naya sambil menyimpan bawaannya disalah satu meja yang kosong.


"Maaf, sebenarnya Raya dipanggil ke kantor bimbingan, dan orang tuanya harus kesana. Saya ada rapat penting sekarang, jadi... Bisa tidak kalau saya minta tolong sekarang?"


'Hei. Anak juga penting kan? Bahkan anak-anak itu hanya tau bahagia dan semuanya berjalan seperti biasanya. Dan itu anak-anakmu. Mengapa harus aku yang membantumu?' Naya.


"Lalu bagaimana dengan Yoni. Apa akan ditinggal juga?" tanya Naya lagi.


"Oh, tidak. Yoni biar sama saya saja. Saya tidak mungkin meninggalkan rapat hari ini. Kecuali kamu sibuk."


'Baiklah, ini hanya membantu orang lain kan? Sebagai kewajibab antar sesama manusia saja. Tidak lebih'


"Sebentar, saya menyelesaikan pekerjaan yang ini. Nanti saya akan kesekolah Naya kalau sudah selesai. Dimana sekolah Raya?"


"Di jalan Pratama, di Permata Bangsa," sahut Ares sambil menggendong Yoni.


'Itu sekolah yang cukup elit. Mana Mungkin anak-anak disana bermasalah'


"Saya akan pesankan taksi biar menjemput disini," kata Ares lagi.


"Tidak usah, pak. Saya biasa pakai ojek online, kok."


Ares merasa tidak enak pada Naya, memberinya uang sebagai imbalan, akan merusak harga diri Naya, jadi lebih baik ia meminta Naya memakai mobilnya saja. Sudah ada sopir yang akan mengantarkan.


Ya, Ares hanya membutuhkan tenaga Naya untuk membantunya.


"Kalau begitu, pakai mobil saya. Terimakasih sebelumnya." kata Ares.


Naya hanya mengangguk pelan. Kedua orang itu sama-sama berlalu dari tempatnya.


Ares kembali ke kantor sambil menggendong Yoni. Ia meminta seseorang untuk menjadi sopir Naya, yang akan mengantarkan Naya ke sekolah Raya.


Setelah Naya selesai dengan pekerjaannya, ia meminta ijin pada bu Nha yang tengah menghitung uang dari dalam laci kasir. Wanita itu seperti hapal dengan kesibukan Ares yang harus mengasuh kedua anaknya sendiri.


Sebenarnya bu Nha ingin sekali bercerita tentang ini, tapi Naya terlihat tidak perduli karena merasa siapapun Ares, tak ada hubungan dengan dirinya. Jadi Naya tak perlu begitu mengurusi kehidupannya, bukan?

__ADS_1


"Pergilah, hati-hati." hanya itu jawaban bu Nha sambil tersenyum.


Naya pergi ke sekolah Raya dengan menggunakan mobil Ares, ada sopir yang mengantar, tentu saja sopir itu sudah tahu sekolah Raya.


Sampai di sekolah, Naya bertanya pada penjaga keamanan dimana ruang bimbingan berada. Pria bertubuh gemuk mengantarnya sampai kedepan pintu ruang yang dimaksud.


"Maaf, ini siapa Raya?" kata seorang wanita cantik yang masih cukup muda menyapa Naya begitu pintu terbuka.


"Saya, tantenya Raya" jawab Naya. Ia tidak sedang berbohong. Raya memang memanggilnya tante.


"Oh, lalu kemana orang tuanya Raya?" tanya wanita itu.


"Maaf, saya diminta mewakili karena orang tua Raya, mereka sedang sibuk?"


"Sibuk. Selalu itu yang jadi alasan para orang tua, yang tidak perduli dengan anaknya." kata wanita itu tanpa memperhatikan ekspresi wajah Naya yang tampak kesal. Ia setuju dengan wanita itu.


"Silahkan masuk, saya guru pembimbing Raya. Saya Saras" kata wanita itu memperkenalkan diri, dan mereka saling menjabat tangan.


"Nama saya Naya," kata Naya sambil menatap Raya.


Gadis itu juga tengah menatap balik dirinya dengan tatapan aneh, heran juga tak mengerti, mengapa bisa Naya yang ada disana untuk membantunya. Lalu kemana papanya?


Raya berdiri di sudut ruangan, sepertinya ia sedang dihukum. Tapi anehnya, tidak tampak kesedihan atau keletihan yang tampak diwajahnya.


"Ada, masalah apa dengan keponakan saya, bu Saras?" tanya Naya sambil duduk dihadapan Saras dipisahkan oleh meja.


"Apa mbak Naya tinggal serumah dengan Raya? Apa mbak tau bagaimana sikap dan perbuatannya sehari-hari?"


'Ya Allah, harus kah aku berbohong kali ini. Mengapa aku jadi terjebak dalam masalah seperti ini?'


"Sebenarnya ada apa, setau saya Raya anak yang baik..." kata Naya memilih kata yang tepat tanpa harus berbohong.


"Ini. Jelaskan mengapa Raya bisa memilikinya, kalau memang ia anak yang baik menurut mbak," kata Saras serius.


'Ini, pil kontrasepsi kan? Raya, tidak mungkin ... Untuk apa anak seusianya memiliki benda seperti ini?'


Saras menatap Naya lekat. Tatapan yang dingin sedingin es kutub. Menelisik kejujuran pada dua orang yang ada dihadapannya, Naya dan Raya.


*Terimakasih atas dukungannya, tolong tinggalkan jejaknya 'n_n'.....*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2