
Naya menepuk-nepuk dada untuk mengurangi rasa terkejutnya, Ia menghela nafas sebentar kemudian bicara,
" Astagfirullah Pak Sampai kaget saya," kata Naya, tanpa melihat pada Ares, laki-laki itu yang sudah mengejutkannya.
" Oh kamu kaget ya, maaf. Aku cuman mau tau aja kenapa kamu di sini?" kata Ares, laki-laki itu berdiri dihadapan Naya sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celananya.
" Oh, ini lagi ada perlu, teman cari tempat kost," jawab naya sambil mengedarkan pandangannya mencari rekan kerjanya yang tadi pergi entah kemana.
" Eh iya, aku lupa mau tanya, kamu baik-baik saja kan?" tanya Aries dengan mengerutkan keningnya.
Mungkin Ia berpikir setelah kejadian kemarin, membuat Naya mendapatkan masalah dengan suaminya sehingga dia perlu memastikan bahwa Naya ya baik-baik saja.
" Alhamdulillah, Pak. Saya baik-baik saja, gimana kabarnya Yoni apa dia jmbaik sekarang? dia di rumah dengan siapa?" Naya balik bertanya. ia mulai terlihat gelisah karena sekarang sudah waktunya dia harus bekerja.
" Yoni sama neneknya, dia baik Gimana ceritanya dia bisa jatuh kemarin? Maaf aku belum sempat bertanya kenapa dia bisa dapat luka selebar itu?" Tanya Ares maaih dengan posisi yang sama.
" Maaf Pak, saya yang tidak hati-hati, membiarkan Yoni main sendiri saya salah tidak menjaganya dengan baik. Sekali lagi maafkan saya,"
"Tidak perlu minta," kata Ares tenang.
Kemudian Naya mulai menceritakan kejadian yang membuat Yoni terjatuh, yaitu karena Yoni berlari-larian, kemudian entah apa yang menyebabkan dia bisa terpeleset dan akhirnya jatuh.
Tidak ada yang tahu kalau di tempat itu ada bagian lantai keramik yang pecah. Hingg lututnya terkena pecahan bagian keramik yang runcing membuat kulitnya yang masih lembut itu terluka.
" Naya Ayo kita pulang." kata rekan kerja Naya tiba-tiba muncul entah dari mana.
Ia mengambil tangan Sela dan kemudian berlalu meninggalkan Aries yang melihat mereka dengan Tatapan yang penuh pertanyaan.
" Pak, Saya pergi dulu ya," kata Naya berpamitan, Ia Berkata sambil berjalan.
" Kamu dari mana sih tadi?" tanya Naya penasaran setelah mereka berjarak cukup jauh dari Ares.
" Maaf, tadi perutku sakit jadi aku buru-buru ke belakang, kamu nunggunya lama ya?Tapi ngomong-ngomong siapa laki-laki tadi? dia cukup tampan, kenalin dong sama aku," kata rekan kerja Naya sambil merangkul bahunya.
Naya menoleh lalu tersenyum, sambil berkata,
"Kenapa tadi kamu enggak langsung saja berkenalan dengannya, malah ngajakin aku pergi, kau ini aneh," sambil tersenyum.
" Aku malu, lagi pula sekarang pasti di restoran sudah rame. Cepat, daripada nanti kita kena marah sama Bu Nha." kata rekan kerja Naya dengan mempercepat langkah mereka.
-
Di di restoran sudah nampak ada Beberapa pelanggan yang terlihat mendatangi tempat makan itu untuk mengisi perut mereka yang lapar di pagi hari
"Dari mana sih kalian, kenapa siang begini baru datang? kasihan kan koki sampai ikut membantu melayani pelanggan," kata bu Nha, dengan tatapan mata tidak suka kearah 2 orang yang baru datang.
Bu Nha, setelah bicara seperti itu mendekati Naya dan berkata,
"Naya Ayo ikut aku," Bu Na sambil menarik tangan Naya mengajaknya masuk ke dalam ruangan pribadinya.
"Duduk," kata buna setelah dirinya sendiri duduk disalah satu kursi di ruangan itu.
Naya menuruti perintah Bu Nha, sambil merapikan kerudungnya yang sudah miring. Lalu ia menatap bu Nha dengan tatapan serius seolah-olah tahu bahwa wanita bertubuh gemuk ini akan membicarakan sesuatu yang penting dengannya.
" Naya, jujur sama Bude, apa yang terjadi dengan rumah tanggamu, Kenapa kamu membawa tas sebanyak ini sambil bekerja, Ini tas mu kan?" kata Bu Nha sambil menunjuk koper dan tas yang ada di dalam ruangannya.
" Iya, ini punya saya, kok bisa ada di sini, tadi kan saya simpen di mushola," kata Naya sambil tersenyum malu, "Gak ada apa-apa, bude."
"Kamu nggak mungkin bawa barang-barang sebanyak ini, keluar dari rumahmu kalau tidak apa tidak ada yang terjadi, benarkan?" tanya bu Nha.
__ADS_1
Naya mengangguk dan akhirnya dia menceritakan Semua yang dia alami kemarin kepada Bu Na. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak ada ada kebohongan dalam nada bicaranya.
Naya berkata dengan jujur karena menurutnya Bu Nha sudah tahu apa yang terjadi pada dirinya, apalagi selama ini, bu Nha memang mengerti tentang keluarganya danl keluarga mertuanya.
" Jadi sekarang kamu mau pergi kemana Apa kau sudah punya tempat tinggal?" tanya Bu Nha, prihatin.
"Sudah, makanya saya tadi terlambat karena saya memastikan Ketika nanti saya pulang saya akan tinggal di sana," kata Naya.
" Kenapa kamu tidak bilang? kalau kamu bilang aku tidak akan memarahimu," kata Bu Nha merasa bersalah.
" Gggak apa-apa, bude kan atasan saya, jadi wajarlah kalau saya salah Bude marah" Naya diam sebentar lalu berkata lagi,
"Bude Tolong jangan beritahu teman-teman atau siapapun tentang status saya sekarang," kata Naya berharap.
'Statusku sebagai janda jangan sampai ada orang yang tahu bu Nha, kamu lah kuncinya Tolong jangan bergosip tentang ku'
Basanya gosip tentang orang lain, bagi seorang wanita, adalah kata-kata pembuka apalagi bergosip tentang suami, sepertinya itu adalah hobi, bahkan seolah-olah bergosip adalah nyawa mereka.
" Kenapa?" tanya Bu na heran, ia menatap Naya lekat.
Status sebagai janda, selama ini menjadi momok terbesar dan sangat menakutkan baginya Naya, ia sudah berprinsip untuk menikah hanya sekali seumur hidup tetapi siapa sangka yang mendapatkan ujian seperti ini.
Apalagi menjadi seorang janda, tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikiran Naya. Sebutan itu begitu mengerikan baginya. Sebuah dilema bagi seorang janda, di tengah-tengah masyarakat di mana ia akan dianggap sebagai sebuah ancaman. Terutama bagi ibu-ibu yang memiliki suami di dalam sebuah kompleks perumahan karena bagi mereka seorang janda bisa menjadi penggoda bagi suami mereka.
Apalagi bekerja di restoran yang akan selalu bertemu dengan banyak orang, termasuk banyak laki-laki. Naya hanya berusaha menjaga dirinya dari sesuatu yang tidak diinginkan. Seperti digoda oleh orang yang tidak bertanggung jawab hanya karena mengetahui bahwa dirinya adalah seorang janda.
Nay memang masih dalam masa iddah tetapi bukankah masa iddah juga akan berakhir? Hal inilah yang kemudian membuat Naya berusaha dengan keras untuk menutupi identitas sebenarnya, termasuk juga pada Ares.
Naya kemudian tersenyum kepada kepada buna dan dengan perlahan menjawab
" Bu saya malu kalau ada orang yang mengetahui saya sudah tidak bersuami dan saya tidak ingin menjadi bahan gosipan orang lain,"
"Tapi kita juga tidak bisa selamanya berbohong, ya kan? kata bu Nha sambil keluar dari ruangan itu kemudian Naya menyusul dibelakangnya, sambil berkata,
" Kalau soal tutup mulut, gampang. Tapi kamu yang harus menjaga dirimu sendiri," jawab Bu Na, seraya berjalan menuju meja kasir.
Sedangkan Naya ya pergi ke dapur melakukan aktivitas seperti biasanya. Ketika sampai di dapur ia bertemu dengan rekan kerja yang tadi menemaninya mencari tempat kost ia tersenyum melihat Naya, lalu bertanya,
" Kamu kena marah ya sama bude?"
" Ah, nggak. Bude cuman pengen ngobrol aja kok, tanya soal Ibu mertuaku, kan mereka berteman, "jawabnaya asal.
" Kalau laki-laki yang tadi ketemu sama kamu, itu teman kamu juga? kok sepertinya akrab?"
" Sudah kubilang kan, bukan! Dia bukan temanku. Tau nggak dia itu langganan spesial Bu Nha, sering makan malam atau makan siang di sini, kalau kamu pengen kenalan, ya kenalan aja nanti kalau dia makan disini," jawab Naya malas.
" Tapi aku malu Kenalin dong nanti gimana?"
" Kenapa malu, sekarang kan jamannya emansipasi?" Naya berkata sambil meninggalkan temannya begitu saja.
Sebenarnya emansipasi itu sudah ada sejak zaman dahulu kala,bahkan sejak zaman para nabi dilahirkan. Kata emansipasi atau yang sering disebut dengan penyetaraan gender ini sebenarnya adalah bentuk sebuah keberanian dari seorang wanita.
Biasanya para wanita hanya bekerja dirumah danbtidak ditampakkan, kata emansipasi kemudian digabungkan agar peranan kaum wanita yang biasanya tidak diperlihatkan, menjadi seorang yang bisa ditonjolkan ataupun dilibatkan dalam berbagai hal, karena pada dasarnya wanita mampu melakukan seperti yang bisa dilakukan oleh kaum laki-laki.
Salah satu contohnya adalah Siti Khodijah, istri dari Baginda Rasulullah Muhammad beliau termasuk salah satu wanita yang melakukan emansipasi pada zamannya. Terbukti ketika beliau melamar baginda Rasul untuk menjadi suaminya dan juga beliau adalah seorang pengusaha terkenal dan kaya raya.
Sebelumnya juga pernah terjadi pada kisah emansipasi seorang wanita bernama Aqila. Ini kisah emansioasi dalam menyatakan perasaan dan cintanya kepada Abdullah ayah dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Aqila adalah seorang wanita yang hidup di zaman sebelum Rasulullah lahir. Dia adalah seorang wanita Mekkah, yang sangat percaya dengan ramalan nasib dari para tukang ramal dizaman itu.
__ADS_1
Para peramal waktu itu mengatakan akan datang masanya ketika kota Mekkah akan dipenuhi oleh cahaya dan cahaya itu akan bersinar dari seorang keturunan Bani Quraisy. Aqila mendengarkan kata-kata peramal dengan antusias.
Pada saat yang bersamaan Akila mendengar seseorang berteriak,
" mereka sudah datang!"
" Siapa mereka yang kau maksud?" tanya Aqila ingin tahu.
" mereka kafilah yang datang dari Syam, sepertinya mereka membawa keuntungan yang besar dari perdagangan mereka!" jawab orang itu.
Aqila menunggu rombongan itu mendekat dengan harap-harap cemas.Setelah rombongan itu dekat, ia melihat seorang laki-laki tanpan dengan wajah yang diselimuti cahaya sampai iya terpesona. Kemudian dia merasa bahwa laki-laki itulah yang dimaksud oleh peramal akan membawa cahaya bagi kota Mekah, mengingat orang itu adalah Abdullah, salah satu keturunan Bani Quraisy.
Dalam rombongan itu Abdullah membawa seorang wanita cantik di sampingnya, berjalan bersamanya. Dia adalah wanita yang baru saja ia nikahi, beberapa hari sebelum perjalanan pulang dari perdagangan di negeri Syam, wanita itu adalah Fatimah istrinya atau calon ibunda baginga Rasulullah Muhammad. Dia seorang wanita Syam yang sudah dinikahi oleh Abdullah.
Tanpa ragu-ragu Aqila mendekati Abdullah dengan senyum yang sangat manis, ia memegang tangan Abdullah membawanya sampai ke sisi jalan, keluar dari rombongan kafilah, kemudian dia berkata,
" Hai Abdullah menikahlah denganku!"
Ini sepenggal kisah dari sebuah cerita tentang emansipasi. Walaupun ini tidak mewakili semuanya tentang hakikat emansipasi, setidak-tidaknya kata emansipasi itu tidak terlalu asing karena memang sudah ada sejak zaman dahulu.
-
Hari sudah sore, waktu kerja Naya sudah berakhir tapi ia sengaja tidak segera pulang, menunggu semua rekan-rekannya pergi dan dia sengaja menunda kepulangannya. Ia menunggu hari sudah gelap sehingga iya bisa pergi ketempat kosnya dengan tenang tanpa takut ketahuan oleh beberapa orang yang kemungkinan mengenalnya.
Restoran sudah tutup dan semua karyawan sudah meninggalkan restoran, barulah Naya mengemasi tasnya dan kemudian keluar dari restoran setelah berpamitan dengan Bu Na.
Ia berjalan perlahan menuju tempat kos yang letaknya tidak begitu jauh dari restoran itu. Menyeret kopernya dengan langkah cepat. untuk menuju tempat itu, ia harus melewati satu gang sempit yang sisi sisinya dipenuhi oleh rumah-rumah kontrakan atau tempat kos yang berjajar.
'Ahk akhirnya di sinilah aku berada sendiri jauh dari orang tua dan tidak punya suami. Mungkin kalau aku boleh bertanya ya Allah takdir macam apa ini? tapi tidak, Allah Mahatahu dan Dia tidak salah memberikan ujian-nya pada hamba-Nya. Ya Allah ampuni aku kalau memang aku salah dalam menjalani ujian-Mu'
Pada saat yang bersamaan, ada seorang laki-laki yang kembali turun dari mobilnya. Padahal Ia baru saja memutar mobil yang dinaikinya menuju ke jalanan. Demi melihat Naya berjalan dengan membawa koper dan tasnya Ia memutuskan untuk turun dan mengikuti Naya dari belakang.
Tanpa bicara Ia terus mengikuti sampai ia tahu perempuan itu berhenti di salah satu kamar kost. Fari kejauhan laki-laki itu melihat Naya termenung di depan pintu seperti ragu hendak melangkah.
Hingga akhirnya Naya membuka pintu memasukkan kopernya ia menutup pintu itu kembali dan begitu pintu itu tertutup dia bersandar tubuhnya di pintu, lalu melorot ke bawah dan ia berjongkok di lantai sambil menangis.
Laki-laki yang tadi melihatnya, mendekati pintu itu. Dia berniat untuk mengetuk pintu namun segera mengurungkan niatnya karena mendengar suara tangisan dari balik pintu itu. Yangisan yang cukup jelas untuk di dengar, pertanda orang yang ada di dalam kamar itu menangis cukup keras.
' Sebenarnya apa yang terjadi, apa yang sudah kamu alami sampai kamu sekarang tinggal di sini, Apakah benar karena kejadian yang kemarin, Apakah semua karena aku?'
Setelah cukup lama Naya menangis seolah air matanya sudah kering. Terdengar suara dering telepon dari dalam tasnya, ia mengambil dan menerima panggilan itu dengan cepat.
" Halo Ayah apa kabar," kata Naya ketika ponsel sudah ia letakkan di telinganya.
Ternyata ayahnya menelpon. Sejak kematian ibunya dan ayahnya kemudian menikah lagi, Naya jarang mengunjunginya. Memiliki seorang ibu tiri apalagi dia sekarang sudah memiliki seorang adik dari ibu yang lain membuatnya canggung. Iya hanya mengunjungi ayahnya saat hari raya ataupun saat ayahnya menanyakan dirinya.
" Ayah sekarang sakit, kamu sudah lama tidak mengunjunginya. Ibu harap kamu mau menengok nya sekarang, ia menanyakan mu. Pulanglah kalau kau ada waktu," kata suara seorang wanita seberang telepon.
Itu adalah ah ibu tirinya dengan suara yang lembut sudah menelepon Naya menggunakan ponsel ayahnya.
" Ibu, apakah Ayah sakit parah? Mungkin aku bisa menengok nya besok atau lusa," sahut Naya dengan wajah sedih.
"Tidak, tidak parah. Tapi sebaiknya kau tetap datang agar ayahmu senang." kata suara itu dari balik telepon. Hanya Naya anak yang paling dekat dengan dirinya.
" Insya Allah aku akan datang besok" kata Naya kemudian mengakhiri panggilannya.
Naya menyimpan teleponnya dan ia berdiri hendak membereskan isi kopernya, ketika terdengar suara ketukan di pintu.
'Siapa yang datang malam-malam begini'
__ADS_1
Naya membuka pintu, ia mengerutkan keningnya ketika melihat seorang yang berdiri di depannya dengan senyum malu-malu.
"Naya Mau boleh aku minta nomor telepon teman laki-lakimu, itu?"