
Gadis remaja itu melempar pandangannya pada Ares, ayahnya. Anak itu bernama Raya. Ares membalas tatapan anak sulungnya sambil mengendikkan bahu seolah memberi isyarat bahwa ia tidak tau mengapa hal ini bisa terjadi, interaksi yang biasa pada Yoni dan Naya, tidak ada reaksi berlebihan pada anak kecil itu.
Naya, menatap wajah Yoni dengan intens, meraih tubuh kecil nan montok itu ke dalam pangkuannya.
"Jadi, siapa namamu?" tanya Naya lembut. Ia duduk di jajaran kursi tak jauh dari meja Ares dan Raya.
"Nayoni" kata gadis kecil itu membalas tatapan Naya.
"Eh, nama kita mirip ya. Nama tante Nayana. Kamu Nayoni." kata Naya sambil tertawa kecil.
'Jadi namanya Nayana. Sama apanya? Jelas-jelas beda' Ares.
"Yoni, sudah makan?" tanya Naya.
"Belum dihabiskan. Ayo sini. Habiskan makananmu!" kata Ares, sambil menunjukkan piring Yoni yang masih utuh.
"Oh, belum makan ya. Ayo, makan sana, bisa sendiri kan?" tanya Naya dan Yoni menggeleng.
"Wah, masih disuapin? Ayo sini, tante suapin" kata Naya sambil menurunkan Yoni dari pangkuannya. Berniat menyuapi Yoni, karena ia juga merasa tidak terlalu sibuk.
"Tidak usah. Biar makan sendiri saja" kata Ares sudah menggamit tangan Yoni dan mendudukannya dikursi dekat Raya.
"Jangan ganggu tantenya, nanti bu Nha marah" kata Ares tanpa melihat pada Naya yang terlihat kecewa.
"Emang tante kerja ya, disini?" kata Yoni sambil menyuap nasi kemulutnya. Naya mengangguk dan tersenyum, kemudian pergi ke dapur.
Raya menatap kepergian Naya dengan senyum samar. Ia meletakkan ponselnya dan menghabiskan sisa air putih dalam gelasnya. lalu berkata,
"Papa, bukankah tante itu cantik?"
Mendengar kata-kata Raya, Ares mengerutkan alisnya. Anak pertamanya ini memang pendiam, jarang bicara sejak kepergian mamanya, tapi sekali bicara ia akan mengeluarkan kata-kata pedas atau ceplas ceplosnya.
Sudah beberapa bulan ini Ares menjadi pelanggan di restoran sederhana milik bu Nha, tapi ia merasa kalau Naya tidak pernah menganggapnya ada. Baginya, Naya hanya lah pelayan restoran biasa yang juga memperlakukan para pelanggannya dengan biasa pula.
Tentu saja Ares tidak pernah memperhatikannya, apalagi Naya juga sejak bicara dengan Yoni tadi menganggapnya seperti udara, tak terlihat. Mungkin karena wanita berjilbab ini sangat menjaga harga dirinya sebgai muslimah atau wanita yang bersuami.
__ADS_1
"Mana papa tau." jawab Ares akhirnya. Ia benar-benar tidak tau harus berkata apa, karena ia memang tak pernah memperhatikannya.
Kalau ia datang, biasanya hanya memsan, duduk menunggu sambil menatap layar ponselnya, setelah hidangan teraedia, dia langsung makan. Sama sekali tak pernah melihat siapa yang sudah menghidangkan makanannya.
"Tapi Yoni tidak muntah. Anak manja ini bahkan tidak nangis saat dipangkuan tante itu" kata Raya.
"Apa kakak sudah selesai makan? Suapi adikmu. Jangan bicara hal aneh lagi"
"Aku tidak mau. Biar anak manja ini makan sendiri." kata Raya lagi kembali meraih ponselnya.
"Papa..." kata Yoni, dipipinya banyak sekali nasi yang menpel. Makanan di piringnya juga berantajan di meja.
Ares memebereskan makanan anaknya, lalu menyuapinya makan sampai habis dengan sabar. Anak kecil itu tak henti-hentinya berceloteh.
"Hei, yoyo!" panggil Raya pada adiknya.
"Panggil nama adikmu dengan benar. Yoyo itu nama mainan!" kata Ares sambil merapikan Yoni, mereka sudah selesai makan. Bersiap hendak pergi.
"Sstt..! Yoyo! Panggil tante itu ajumma. Apa kamu tau, kamu tidak kumat ya?" kata Raya pada Yoni sambil mendekati Yoni.
Yoni diam tanpa ekspresi, anak kecil polos itu tentu tak tau apa maksud kakaknya dengan kata-kata kumat. Selama ini, mana ia tau kalau ia alergi terhadap orang yang asing, orang yang belum pernah dekat dengannya.
Raya kembali mengarahkan pandangan Yoni pada Naya. Lalu dia membawa Yoni mendekatinya dan meminta agar Yoni mau digendong Naya.
Yoni menurut, lalu ia mendekati Naya dan menarik rok Naya. Karena merasa terusik, Naya menoleh kebelakang, mendapati Yoni dibelakangnya sedang memegangi roknya.
"Eh, ada anak manis disini..." kata Naya seraya berjongkok, mensejajarkan tubuh pada Yoni sambil tersenyum dan mengacak rambut Yoni.
"Lucu banaget si, kamu. Ada apa, mau pulang?" kata Naya lembut. Yoni mengangguk.
"Hemm..." Naya mencium pipi gembil Yoni, "hati-hati di jalan, ya. Besok kesini lagi" kata Naya, dan Yoni tersenyum
Adegan itu dilihat oleh Ares dengan raut wajah kaku, campur takjub dibuatnya. Sungguh hal langka kalau Yoni tidak muntah-muntah disentuh Naya. Biasanya, alerginya kambuh setiap kali disentuh orang yang baru saja ditemuinya.
"Benarkan, pa. Anak manja itu tidak kumat disentuh tante itu" kata Naya begitu Ares berdiri didekatnya, bersiap-siap pergi menuju mobil.
__ADS_1
Begitu semua anggota keluarga kecil itu masuk, mobilpun berlalu pergi meninggalkan restoran
-
Hari sudah hampir mendekati waktu ashar. Naya sudah menyelesaikan pekerjaan bagiannya dan ia bersiap untuk pulang. Jadwal ship siangnya sudah selesai. Ia segera berpamitan dengan bu Nha sebagai pemilik restoran.
Sampai di pinggir jalan, ia berniat menaiki angkutan umum saja seperti biasanya. Rudian tidak bisa menjemputnya, karena suaminya itu akan menjemputnya kalau saat ia menjalani ship sore saja.
Tiba-tiba sebuah mobil minibus keluaran brand ternama berhenti di depannya. Salah satu jendela kaca mobil terbuka perlahan dan sebuah wajah muncul disana.
"Tante mau pulang? Ayo bareng!" kata Raya, ia terlihat tersenyum ramah.
Naya melihat hal ini tak percaya, kok bisa kebetulan seperti ini, baru saja mereka bertemu saat makan siang tadi.
"Ayo, sekalian" kata Ares dari balik kemudi.
Walau agak ragu, Naya tetap masuk ke dalam mobil. Setelah duduk di samping Raya, ia melihat Yoni yang tengah tertidur. Ia tersenyum dan membelai pipinya lembut. sementara mobil terus melaju.
"Dimana rumahmu?" tanya Ares tanpa melirik Naya, pandangannya lurus ke jalanan.
Naya menunjukkan alamat dan jalan yang mengarah pada perumahan tempatnya tinggal bersama suaminya. Rumah yang jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain berhimpitan, hanya terbatas bata saja dan halaman yang kecil.
"Tante seneng ya, lihat Yoyo?" kata Raya mencoba memecah kesunyian.
'Yoyo? Apa Yoni maksudnya?' Naya.
"Ah, iya. Kalau tante punya anak, pasti sudah sama besarnya dengan Yoni" jawab Naya.
Tak lama, hanya membutuhkan beberapa menit saja, Naya menghentikan mobil Ares dan mengatakan kalau sudah sampai rumahnya.
"Terimakasih, pak" kata Naya begitu turun dari mobil. Ares hanya mengangguk dan Raya tersenyum.
"Siapa itu tadi?" tanya sebuah suara dari belakang Naya, begitu mobil Ares telah menjauh.
"Bukan siapa-siapa. Jangan salah sangka" kata Naya setelah menoleh kebelakang dan melihat Rudian berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Bersambung