Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 43. Salahkah Aku?


__ADS_3

"Naya. Sudah! Jangan cari gara-gara, bertengkar pagi-pagi begini. Apa kamu gak malu?" kata Rudian memegang tangan Naya agar istrinya itu duduk kembali dan menghabiskan sarapannya.


'Siapa yang cari gara-gara, si?'


Nayapun duduk dengan menahan gejolak dihatinya. Ia menghabiskan makanan dengan terpaksa. Ia melirik suaminya, sorot matanya seolah berkata, 'Kenapa selalu membelanya? Apa aku sudah hilang dari hatimu, Kanda?'


Tiba-tiba perasaan sepi yang belum pernah Naya rasakan menyalip dalam hati lalu mendiami salah satu sudutnya dengan gemulai.


"Apa maksud kamu tadi, Nay? Kamu maunya begitu, ya. Kalau aku gak akan bisa selamanya sama bang Rudi?" tanya Yola sambil menahan kesal, tapi air matanya tampak menggenang disana.


'Udah lah, gak usah pura-pura sedih.'


"Begini, ya. Manusia hidup itu penuh dengan perubahan, kadang ia mendapatkan kebaikan kadang mendapatkan ujian kesusahan. Jadi maksudku itu, kita tidak akan selamanya bisa memperlakukan orang lain semaunya, karena kita tidak tahu apa yang akan kita temui suatu saat nanti. Bagaimana kalau kamu berada diposisi aku sekarang? Bayangkan saja." kata Naya dengan perlahan.


"Jadi kamu harapa aku bakal dipoligami juga kayak kamu, gitu?" sahut Yola.


"Ya gak begitu juga lah. Bisa gak si, kamu empati pada orang lain."


"Apa kamu anggap aku gak punya perasaan gitu?"


"Mikir saja sendiri kalau soal itu. Ka..." kata-kata Naya terputus karena Rudian menyelanya.


"Sudah-sudah jangan bertengkar!"


"Kanda, aku gak mau bertengkar. Apa aku salah bicara hak dan kewajiban? Kanda seharusnya yang membagi tugas. Jangan belain dia terus." jawab Naya kembali kepersoalan awal.


"Aku gak bela salah satu dari kalian, aku bilang kalau kamu gak mau ya sudah. Kamu sendiri yang rugi, gak dapat pahala. Jadi gak usah bawa-bawa empati. Justru kalau kamu punya empati, kamu harusnya mau mengerjakan pekerjaan rumah dengan senang hati." jawab Rudian.


Duarr! Kata-kata Rudian bagai petir yang menyambar ditelinga Naya.


'Kenapa malah jadi terbalik gini, si?'


"Kanda, maksud aku itu..." Kata-kata Naya kembali terputus oleh Rudian.


"Naya...sudah ya. Kamu siap-siap kerja. Ayo aku anter kalau mau bareng. Kalau gak mau aku duluan."


"Ya, duluan sana!" kata Naya kesal. Ia meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.


Sementara Rudian keluar dan menyalakan motornya tanpa pamit pada istri-istrinya, untuk pergi bekerja. Dia juga kesal rupanya.


Ia berpikir tentang apa yang harus ia lakukan pada kedua istrinya, yang mungkin kejadian seperti pagi ini akan terus ia hadapi selama mereka masih bersama. Tapi untuk berpisah rumah juga ia tidak sanggup karena akan banyak biaya untuk pengeluaran yang harus ia penuhi nantinya.


Sungguh godaan Yola padanya dulu sudah membuat hatinya buta, hingga ia harus menjalani semua ini sekarang. Sedang ibunya yang dulu ia harapkan bisa membantu justru tidak pernah muncul setelah acara syukuran digelar dulu.

__ADS_1


Ia benar-benar mengandalkan Naya, tapi ia juga tidak tahu kenapa selalu saja emosi setiap kali Naya mencoba menolak kemauannya. Ia bingung menghadapi istrinya bila Naya mulai mengatakan sesuatu hal yang akan menyakiti Yola. Seolah ia takut kalau Naya benar-benar menolak keras perintah suaminya, hingga ia menunjukkan superiornya diatas istri pertamanya.


'Salahkah aku?' batin Rudian sambil mengendarai motornya.


-


Naya sudah membereskan meja dan menumpuk piring kotor di wastafel, ia berniat mencucinya nanti sepulang dari restoran. Lalu membersihkan diri.


'Syukur-syukur kalau Yola mau mencucinya.'


Ia sudah selesai memakai sepatu dan tasnya, bersiap berangkat ke restoran, ketika ia mendengar suara Yola sedang bicara dengan seseorang di telepon. Wanita hamil itu tampak sangat bahagia, ia bicara dengan tertawa kecil dan mengatakan hal-hal bagus yang memberi semangat pada seseorang diseberang sana.


"Jangan kuatir, walau kamu sendiri di sana. Tapi kan ada yang ngangenin kamu di sini?" kata Yola dengan nada manis.


"Haha. Iya. Itu kamu tahu. Sekarang lagi butuh uang berapa? Nanti ya, aku kasih kalau bang uangku sudah pulang." kata Yola lagi dengan suara rendah dan lembut.


"Eh, kamu ini. Aku harus baik dong sama dia, harus service dia dengan bagus, biar uangku ngalir terus." Kata-kata itu meluncur dari mulut Yola membuat Naya berprasangka buruk.


'Apa dia bicara dengan laki-laki yang di Toserba waktu itu?'


"Iya, memang dia bukan orang yang kaya-kaya amat, si. Tapi dia bisa cukupin kita, itu sudah cukup. Daripada kita jadi korban sama suamiku yang dulu. Kalau suami yang sekarang baik dan sayang, itu sudah cukup." kata Yola lagi sambil tertawa. Lalu diam, mendengar lawan bicaranya.


"Nah, itu masalahnya. Tapi aku yakin, kok. Dia gak bakal hamil dalam dua bulan ini. Sudah pasti dia akan pergi dari rumah. Terus kamu bisa pindah ke sini. Kita gak perlu bayar kost lagi, kan?" kata Yola.


"Yola!" pekik Naya merasa tidak kuat dengan ucapan Yola yang sudah didengar barusan.


"Naya? Kamu belum pergi bekerja?" tanya Yola sambil mematikan ponselnya.


"Oh, jadi kamu pikir aku gak ada, jadi kamu bisa seenaknya ngomongin orang lewat telepon? Kamu bukan Tuhan yang bisa menentukan nasib seseorang, jadi apa maksudnya itu gak bisa hamil?"


"Oh, jadi kamu dengar semua dan kamu sadar aku ngomongin kamu? Syukurlah kalau begitu." kata Yola memperlihatkan sarkasmenya.


"Yola, apa kamu memanfaatkan Rudian demi seseorang diluar sana? Kamu tahu, hidup kita ini biasa saja, kita bukan orang kaya raya yang banyak uang!"


"Naya, kamu gak tahu ya? Setiap kali aku minta uangnya bang Rudi, pasti ngasih, kok. Jangan kuatir. Aku bicara sama adikku." kata Yola sambil duduk di sisi ranjang.


'Benarkah? Tapi kenapa kanda gak pernah ngasih buatku?'


"Jadi bukan pria idaman lain apalagi selingkuhan. Haha. Jangan-jangan kamu sudah berpikir kalau aku punya laki-laki lain, ya?" Yola terbahak menatap Naya sinis. Lalu berkata lagi.


"Jangan menganggap cuma kamu yang suci. Aku juga bisa jaga diri. Kamu ini yang sok alim. Tapi aku juga baru tahu kalau ternyata kamu suka membantah suamimu." kata Yola dengan tersenyum samar.


"Aku juga begitu karena kamu. Kalau gak ada kamu aku gak bakal begitu." kata Naya sambil berbalik hendak melangkah menjauh dari kamar itu, ketika Yola berkata lagi.

__ADS_1


"Siap-siap bulan depan kalau kamu gak mau diusir dari sini sama ibu, berarti kamu harus hamil!" kata Yola disusul tawa keras.


Naya kembali berbalik kearah Yola dan akan mengatakan sesuatu tapi Yola menyelanya dan berkata.


"Apa. Apa? Mau marah? Aku benar, kan? Daripada marah, lebih baik kamu gunakan kesempatan untuk berbakti pada suami sebelum kamu di cerai dan jadi wanita yang gak laku karena mandul!"


"Astagfirullah.'


Naya mengurungkan niatnya untuk membentak Yola. Ia sudah tak bisa berkata-kata. Ucapan yang keluar dari mulut Yola sungguh menyakitinya.


Wajah Rudian yang marah seperti menghalang pandangan Naya. Ekspresi wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, wajah yang memisahkan jarak antara kenyataan dan khayalan. Bahakan ia seperti tak berpijak. Sepi itu kembali menyapa.


Sepi bukanlah tentang seseorang yang ditinggalkan sendiri, sepi yang sesungguhnya adalah tentang orang yang mencintai tapi ia tak bisa sepenuhnya bisa memiliki. Bukan dia yang sudah beranjak pergi, tapi hatinya yang berlari.


-


Naya meninggalkan rumah dalam keadaan sedih. Ia tak menyangka mendapatkan pukulan sesakit ini tepat diulu hatinya. Ia terus berfikir apakah ia pernah berbuat salah dengan seseorang dimasalalu yang membuat ia harus menerima balasannya sekarang?


Apakah dosanya begitu besar hingga ia harus menebusnya dengan rasa sesakit ini untuk menebusnya kembali. Sebagai hamba yang nantinya layak masuk kedalam pintu surga?


"Astagfirullah. Astagfirullah." ucap Naya berulang kali, selama dalam perjalanan menuju restoran dengan naik ojek.


Ingat, karma itu ada. Karma, dia menyaksikan perbuatan setiap anak manusia dan ia akan membalas semua yang sudah mereka lakukan di dunia dengan balasan yang setimpal.


"Kenapa, mbak?" kata tukang ojek karena mendengar Naya beristigfar dengan jelas.


"Gak apa-apa, pak. Banyak dosa. Jadi istigfar saja." jawab Naya asal.


"Ya, siapa yang gak punya dosa, ya mbak. Apalagi saya sudah tua, dosanya lebih banyak."


Naya kembali merenung, hingga ia sampai di depan restoran yang ternyata sudah sangat ramai, bahkan berbagai hiasan yang sempat di buat Naya dan teman-temannya, bertambah banyak, ada ucapan selamat yang berupa karangan bunga.


"Ada apa ini, mbak?" kata tukang ojek, ketika Naya turun dan membayar ongkosnya.


"Ini acaranya restoran, pak. Banyak makanan gratis. Ayo pak. Makan saja. Tapi hanya untuk hari ini." kata Naya antusias.


Ia mengambil bagian dengan membuat kue semalam. Ia niatkan sebagai hadiah buat bu Nha juga sekalian sedekah.


"Oh, Alhamdulillah. Saya belum sarapan. Kalau gitu terimakasih ya mbak, sudah ngajak saya." laki-laki tua itu terlihat sangat bersyukur.


Naya juga ikut bersyukur ada orang yang bahagia, walau hanya diberitahu soal makan gratis. Tukang ojek itu contohnya, ia sudah sangat senang bisa memberitahukannya. Padahal bukan ia yang menyelenggarakan.


Ternyata menyenangkan orang juga membuat hati senang. Hal-hal sederhana dan kecil yang biasanya diabaikan orang untuk bisa mensyukuri.

__ADS_1


"Tante...!" kata sebuah suara begitu Naya masuk dalam restoran.


"Naya! Kenapa kamu terlambat sekali?!" kata suara yang lain.


__ADS_2