
Naya masih melihat pada pil pencegah kehamilan yang ada di atas meja, tangan Saras masih memegang benda itu, benda yang sangat riskan untuk berada di tangan anak sekolah. Belum waktunya bagi anak seusia mereka untuk menggunakannya. Siapa yang harus bertanggung jawab untuk hal seperti ini. Peran orang tua lagi-lagi sangat dibutuhkan.
"Apa maksud bu Saras, pil ini ada dalam tas Raya, begitu?" tanya Naya hati-hati, ia masih memikirkan cara bagaimana menyelesaikan masalah anak remaja ini.
Naya belum pernah memiliki anak seusia Raya, hamil saja belum pernah. Tapi ia punya seorang adik perempuan yang masih kuliah bersama kakak laki-lakinya di Pulau Borneo. Selama bersamanya dulu, Naya tidak pernah mengalami hal yang riskan seperti ini.
Ah, tiba-tiba saja rasa rindu Naya pada kedua saudara kandungnya yang jauh disana mengusik hatinya. Kira-kira bagaimana kabar mereka hari ini? Mereka pindah ke sana setelah ibunya meninggal lima tahun yang lalu. Saat itu Naya sudah menikah.
"Bukan begitu ceritanya, kami hanya tidak sengaja menemukannya diantara Raya dan teman-temannya, yang masih bercanda di depan kelas, pil ini kami temukan di lantai, di dekat Raya dan teman-temannya," kata Saras penuh penekanan.
"Lalu, mengapa hanya Raya yang ada disini?" tanya Naya protes.
"Semua teman-teman Raya sudah mengakui kalau itu bukan milik mereka. Sedang Raya tidak bisa menjawab," kata Saras lagi.
"Karena Raya tidak bisa mengakui kalau pil kontrasepsi ini miliknya atau bukan, makanya kami menganggap perlu membicarakannya dengan orang tua Raya."
'Ya Allah, aku terpaksa melakukan ini. Yang penting menurutku adalah Raya bisa segera keluar dari masalah ini. Soal kebenarannya biarlah nanti aku mengurusnya sendiri.'
"Lalu, kami harus bagaimana, bu?" tanya Naya.
"Jadi, karena kami menduga ini adalah milik Raya, kami meminta agar orang tuanya bisa mengawasinya lebih ketat lagi. Pihak sekolah tidak bisa melakukan pengawasan selama dua puluh empat jam, tentu peran orang tua sangat penting. Kalau benar pil ini milik Raya, maka kami akan menjatuhinya skor. Itu hukuman yang pantas. Ini masalah moral, mbak. Bagaimana kelak kalau terjadi sesuatu, maka pihak sekolah juga akan menanggung rasa malu." kata Saras.
"Apa tidak ada yang melihat sebagai saksi ataupun kamera pengawas misalnya hingga jelas pil ini milik siapa?" tanya Naya, menurutnya kejadian itu aneh, dan kenapa Raya tidak mengaku atau menyangkal?
"Kebetulan, tempat kejadian tidak terjangkau kamera pengawas."
'Oh, jadi seperti itu'
"Boleh saya bicara dengan Raya, bu?" tanya Naya sambil melirik pada Raya yang terlihat sedih. Raut wajahnya begitu memelas, sorot matanya seolah berkata, bukan aku pelakunya!
Saras mengangguk. Guru pembimbing itu tidak begitu memperhatikan Naya dan Raya setelahnya.
"Raya...apa kamu baik-baik saja?" tanya Naya pada Raya sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Raya tampak terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan padanya oleh Naya. Dengan cepat ia mengangguk. Padahal ia sudah cukup pegal dan lelah berdiri sejak tadi, bahkan hampir satu jam.
"Raya, apa kamu sudah salah membawa vitaminmu tadi pagi?" tanya Naya sambil mengedipkan mata lagi.
Raya terlihat berpikir sejenak, lalu ia menjawab dengan raut wajah tanpa dosanya.
"Tante, jangan bilang kalau tante mengganti merk vitaminku?" kata Raya sambil melirik pada Saras.
"Makanya, kalau tante bicara itu diperhatikan. Jadi tidak salah bawa obat begini. Gurumu jadi salah faham, kan?" kata Naya merasa lega. Karena Raya memahami usahanya.
"Kamu terlalu terburu-buru" kata Naya kembali menoleh pada Saras.
"Maaf, bu. Ini salah saya, tidak memperhatikannya. Pagi tadi memang cukup sibuk. Semuanya ingin datang tepat waktu, bukan?" kata Naya.
"Jadi, maksud mbak, pil ini milik mbak yang tidak sengaja terbawa oleh Raya tadi pagi, begitu?"
"Iya, bu, maaf sudah membuat masalah buat pihak sekolah." Naya menjawab cepat.
"Iya, tapi karena terburu-buru jadi salah. Tante, kenapa juga menyimpan benda itu di meja makan?" kata Raya terkesan meyakinkan.
"Maaf, lupa" kata Naya tersenyum simpul.
'Astagfirullah...'
"Jadi, saya minta maaf sekali lagi, bu. Karena kesalahan saya, bisa jadi kesalah fahaman seperti ini. Mungkin tadi Naya punya niat membaginya dengan temannya."
"Ah, untung saja belum sempat dimakan, kan?" kata Saras.
"Iya, bu. Saya juga minta maaf," kata Raya.
"Raya, kamu tahu apa fungsi pil ini?" tanya Saras. Dan Raya menggelengkan kepalanya.
"Pil ini, untuk perempuan yang sudah menikah dan tidak mau hamil atau tidak mau punya anak, kalau anak remaja seusia kamu minum pil seperti ini, maka akan merusak reproduksimu nanti, faham?" kata Saras. Raya mengangguk.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Saras itu, hati Naya seperti dicubit. Ada banyak wanita yang tidak mau hamil, padahal ia mengalami nasib yang sebaliknya. Bahkan suaminya akan menikah lagi hanya karena alasan ini.
Kadang dunia begitu indah bagi seseorang, tapi terjadi sebaliknya bagi orang lain. Kadang dunia ini begitu ramah bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan, tidak! Ia akan terlihat buruk bila melakukan kesalahan sedikit saja. Ahk... Tapi tidak bisa hamil atau tidak bisa punya anak, apakah ini murni kesalahannya, tidak kan?
"Jadi, bu Saras. Bagaimana dengan Raya sekarang, bolehkah ia duduk?" tanya Naya. menutupi pilu dihatinya.
"Oh, iya. Raya, kamu boleh duduk." kata Saras menyerahkan pil kontrasepsi itu pada Naya dan Naya memasukkannya ke dalam tas kecilnya.
"Raya, jadikan ini pelajaran. Berhati-hatilah dalam segala tindakan mulai dari sekarang. Ingat, seebagai remaja yang masih sekolah, jangan main-main dengan benda seperti ini. Dan yang paling penting adalah jauhi peegaulan bebas. Tidak boleh berpacaran kalau kamu mau serius belajar." kata Saras menasehati.
"Baik, bu" kata Raya.
Setelah berpamitan, Naya meminta izin untuk membawa Raya pulang, apalagi beberapa menit lagi sudah waktunya pelajaran berakhir. Saras mengijinkan, hingga Raya bisa pulang bersama Naya.
Niat Naya adalah menyelesaikan masalah pil itu, jadi ia meminta Raya menunggu temannya yang tadi terlibat, untuk bertemu dengan Naya. Ini masalah yang ia anggap perlu di bicaraakan, setelah membebaskan Raya dari hukuman.
Menurut Raya, ia tidak tahu menau masalah pil kontrasepsi itu, saat ia mendekati beberapa temannya yang tengah mengobrol di depan kelas, tiba-tiba ada Saras lewat, entah apa yang temannya bicaraakan, ia melihat ada pil dalam satu strip itu jatuh tepat dikakinya.
Saras melihat pil itu, hingga ia menanyai semua anak perempuan yang berkerumun, tapi tidak ada satupun yang mengakui kalau barang itu milik mereka.
"Itu bukan milik Raya, buat apa Raya mengakui yang bukan milik sendiri," kata Raya mengakhiri ceritanya. Mereka berdua masih berdiri di dekat gerbang sekolah.
"Tapi kenapa Raya juga tidak mengaku kalau benda itu juga bukan milik Raya?" tanya Naya heran
"Ya, seharusnya mereka mengaku dong. Kalau memang mereka benar-benar teman. Jadi tidak mengkambinghitamkan teman sendiri. Sekarang Raya tahu, teman seperti apa mereka. Raya sengaja diam, karena aku mau tahu juga, pil itu milik siapa, nyatanya mereka malah tidak ada yang berani mengakuinya." kata Raya terlihat kesal.
Naya tersenyum, hingga ia melihat beberapa anak mulai berhamburan keluar kelas bersamaan dengan suara bel sekolah tanda pelajaran berakhir.
"Tante, itu mereka!" kata Raya menunjuk sekumpulan anak perempuan berjalan kearah pintu gerbang.
*Silahkan tinggalkan jejak kalau kalian suka. Terimakasih atas dukungannya*
Bersambung
__ADS_1