
"Naya...! Bangun, Naya...!" suara lembut itu terdengar lagi, membelai pipi Naya dengan lembut. Naya membuka matanya, ia tersenyum ketika melihat wajah manis yang ada di hadapannya.
"Ibu..." Naya memeluknya, lalu mengajak wanita yang ia panggil dengan sebutan ibu, keluar rumah, mengajaknya makan gorengan di pinggir jalan.
Tapi belum lama mereka menikmati makanannya, wanita itu bicara dengan jelas,
"Naya, berdo'alah, agar hubunganmu dengan suamimu baik-baik saja dan Kalian akan dipisahkan hanya dengan kematian."
Lalu bayangan itu hilang begitu saja, sekeras apapun Naya memanggil, ia tak kembali hingga album foto yang ada di atas tubuhnya terjatuh.
Naya membuka matanya perlahan, ia mulai mengembalikan kesadaran setelah tertidur di sofa. Ia dengan jelas mengingat mimpi yang baru saja ia alami. Ia bertemu ibunya.
Ia tidak percaya dengan mimpi apalagi ini siang hari. Apa yang bisa diisyaratkan dari sebuah mimpi selain hiburan bila mimpi itu menyenangkan, dan sebagai bahan untuk mengingat dosa bila mimpi itu hanyalah keburukan.
Ada hikamah yang bilang Naya ambil dari kata-kata wanita itu adalah berdo'a khusus untuk pernikahannya.
Naya duduk sambil memeluk album foto, ia melihat jam dinding masih belum waktu ashar. Ia tidak sholat, jadi ia tak harua menyegerakan berwudhu. Ia menyimpan album foto di meja dan pergi ke dapur untuk melihat isi kulkas, ia ingin memasak sesuatu yang manis. Hingga ia memutuskan untuk membuat bubur kacang hijau.
Hari sudah hampir magrib ketika Rudian dan Yola sudah pulang. Mereka tampak bahagia dan membawa beberapa bungkusan. Yola membawa bungkusan itu kedalam kamarnya lalu membukanya dengan perasaan bahagia. Rupanya mereka berdua pulang membawa hasil belanja.
'Mereka habis belanja dari mana?'
"Kanda, sudah makan?" tanya Naya sambil menyiapkan makanan di meja.
"Tadi siang sudah. Kalo makan malam, nanti saja," jawab Rudian sambil memasukkan motornya kedalam rumah. Kalau ia sudah memasukkan motornya seperti itu berarti ia sudah tidak berniat hendak keluar rumah lagi.
"Kanda belanja di mana?" tanya Naya tanpa basa-basi.
"Itu nyicil beli pakaian bayi. Dari pada sekaligus belum tentu ada uangnya," jawab Rudian.
'Aku kan tanya belanja dimana? bukan nanya beli apa?'
"Itu juga uang dikasih sama ibu," kata Rudian lagi seolah takut kalau Naya akan protes padanya atau menuntutnya.
'Terserah'
"Oh. Aku gak kerja lho Nda, hari ini," kata Naya memberitahu suaminya kalau ia sedang libur.
"Gak ada yang tanya," Yola Tiba-tiba menyahut.
Naya diam, ia mengambil bubur kacang hijau buatannya sendiri. Lalu menikmatinya sendiri seolah tidak ada orang lain di ruangan itu.
"Kenapa gak kerja, kamu sakit?" tanya Rudian duduk dihadapan Naya.
Naya menggelengkan kepalanya sambil menyuap bubur kemulutnya.
"Terus kenapa?" tanya Rudian lagi.
"Aku kan mau pergi dari sini sebentar lagi, jadi buat apa kerja. Aku masak sama ngurusin rumah saja buat kalian berdua untuk sementara, sambil aku nyari kerjaan yang lain." Naya mencoba memancing seperti apa reaksi Rudian bila ia tak lagi bisa menghasilkan uang.
Rudian diam ia hanya menatap Naya yang dengan santai menikmati makanan.
"Ayo, sini Yol. Aku masak bubur kacang hijau. Pasti kamu suka. Makan yang banyak ya, biar sehat anakmu nanti," kata Yola sambil mengacungkan piring kosong pada Yola.
Yola tanpa malu-malu duduk di samping Rudian dan mengambil bubur dari wadah besar kedalam piringnya sendiri. Dengan lahap ia makan tanpa menawarkannya pada Rudian.
"Enak, kan?" kata Naya sambil terkekeh. Dan Yola mengangguk sambil mengisi piringnya untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa kamu gak kerja di restoran saja, kenapa cari kerjaan lain, kamu mau kemana memangnya," kata Rudian seperti tidak rela.
"Belum tau," jawab Naya sambil mengendikkan bahu.
__ADS_1
"Kamu di sini saja, tinggal si sini gratis," kata Yola dengan tenang sambil mengunyah, membuat Naya melotot.
Naya tertawa, tapi Rudian mengangguk, wajah mereka berdua terlihat bodoh menurut Naya. Bagaimana Bagaimana bisa mereka berpikir untuk memperlakukan Naya seperti sekarang ini. Apakah hati mereka benar-benar mati?
"Kenapa tertawa, yang dibilang Yola benar. Kamu bisa tinggal di sini walau kita sudah bercerai."
'Oh, jadi seperti ini modus kalian'
"Jadi maksud kanda aku kerja direstoran saja, dan tinggal di sini secara gratis di rumahku sendiri sedang sebagai imbalannya aku harus mau jadi pembantu kalian, lalu aku bisa melihat mantan suamiku bermesraan dsngan istri barunya setiap hari, begitu?"
'Kalian ini...! Maasayaallah'
"Bukan begitu... Tapi Nay, sebenarnya siapa si yang mau bercerai, aku gak mau cerai sama kamu, Nay!" kata Rudian sambil beranjak meninggalkan meja makan dan pergi ke kamar mandi.
"Yola, kamu dengar kan. Kanda gak mau cerai sama aku. Maaf kamu pasti kecewa."
"Gak."
"Alhamdulillah kalau gitu."
"Kamu ini munafik. Orang yang mengingkari janji itu munafik!"
"Aku gak ingkar janji, sudah mau bercerai, tapi kanda yang gak mau menceraikan aku, gimana dong?"
"Terserah."
Naya melirik pada Yola yang meninggalkan meja dengan kesal, lalu tersenyum simpul. Ia harus mencari tempat kos lagi besok. Ia tak akan mundur walau suaminya bersikeras ingin bertahan dengannya. Ia tahu suaminya itu takut kekurangan uang kalau Naya tidak ada di sisinya, untuk membantu membayar dan membeli kebutuhan rumah tangga.
Naya tidak ingin menjadi wanita yang tidak diizinkan mencium baunya surga karena ia meminta sebuah perceraian dengan suaminya. Tapi kalau terus menerus seperti ini juga Naya tidak mau.
'Memang benar, tidak akan ada yang sia-sia sekecil apapun pahala kebaikan di sisi-Mu ya Allah, tapi aku gak kuat. Aku gak kuat, ya Allah'
Naya membereskan bekas makan dirinya dan Yola yang baru selesai dimeja. Dan kembali menghangatkan makanan untuk Rudian. Lalu Rudian menikmatinya sampai kenyang. Setelah setelah selesai makan, dan Naya masih menonton televisi, Rudian mematikannya.
"Kenapa kamu gak kerja, besok mau kerja lagi kan?" tanya Rudian.
"Gak apa, lagi malas saja. Sudah kubilang, sebentar lagi aku mau pindah."
"Kenapa pindah?" tanya Rudian lagi dengan wajah serius dan menuntut jawaban.
"Buat apa di sini sudah gak ada yang sayang sama aku lagi. Kanda sudah punya wanita lain yang lebih Kanda cintai"
"Siapa bilang? Ha. Siapa yang bilang?"
"Aku," jawab Naya cuek.
"Apa gak kerasa sayangnya aku sama kamu selama ini? Kamu ini sama seperti pepatah, karna nila setitik rusak susu sebelanga," kata Rudian.
Naya mendengus, memalingkan pandangan, ini sudah hampir tiga bulan dan sikap Rudian semakin hari semakin menyakitkan menurut Naya. Apalagi kalau nanti Yola sudah hamil besar atau melahirkan dan memiliki seorang bayi. Apakah nasib Naya tidak akan lebih terhina lagi?
"Kalau kamu pergi, kamu mau bercerai, berarti kamu yang gak sayang sama aku, kamu yang gak mau ngerti sama keadaan suamimu yang memang masih belum bisa membahagiakan istrinya," kata Rudian membalikkan kesimpulan Naya.
'Istri yang mana yang kanda maksud?'
"Kanda sayang sama aku karena ada maunya. Kanda lebih mementingkan Yola, padahal aku juga istri kanda. Aku selalu saja disuruh ngerti hanya karena Yola hamil. Terus mau sampai kapan aku harus ngerti, Nda? Sampai Yola melahirkan, sampai Yola punya anak? Itu akan lebih repot lagi, Nda!"
Deg. Rudian berpikir lebih jauh, ia seperti disadarkan bahwa semakin Yola hamil besar akan semakin membutuhkan perhatian apalagi kelak bila ia sudah punya bayi. Ia merasa salah langkah, seharusnya ia tidak memanjakan Yola saat ini, hingga Naya mau tetap bertahan sampai kapanpun. Ia seharusnya bisa mengambil hati Naya agar istrinya itu tidak merasa menjadi wanita korban poligami yang menyakitkan dan tidak disukai.
Sungguh, memang poligami adalah salah satu solusi dalam Islam, ada aturannya dalam Al Qur:an. Tapi satu solusi syri'at agama yang satu ini, justru dihindari oleh umatnya sendiri.. Karena kebanyakan, yang merusak citra poligami adalah para pelaku poligami itu sendiri.
Mereka diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hidup memang tak indah kalau bukan kita sendiri yang membuat menjadi indah.
__ADS_1
"Naya, ingat. Aku gak akan bercerai dari kamu. Aku anggap kamu gak pernah bilang apa-apa soal janji tiga bulan itu, kamu ngerti kan? Aku sayang sama kamu, Nay."
Akhirnya Rudian memberi kepastian dan mengambil keputusan tegas bahwa ia memang membutuhkan Naya untuk tetap di sampingnya. Kemudian ia pergi ke kamar untuk beristirahat.
-
Beberapa hari ini adalah hari tenang, Naya tidak banyak protes atau menangis. Yola tidak manja dan mau bila harus gantian antar jemput bekerja dengan Naya.
Naya semangat bekerja, Rudian menunjukkan usahanya untuk tidak pilih kasih. Ia juga tidak menyuruh Naya melakukan pekerjaan rumah, tapi mereka bekerja bersama-sama, bahkan mereka terlihat semakin dekat satu sama lain.
Yola tidak menyukai hal ini, dimana dia harus masak sarapan bergantian dengan Naya, juga saat masak untuk makan malamnya. Hingga Yola terlihat sangat bosan dan malas untuk bekerja.
"Bang. Kenapa aku harus gantian tiap hari. bang, aku masaknya dua hari sekali saja ya?" Yola merayu suaminya.
Mereka dalam perjalanan pulang bersama. Yola menyampaikan keluhannya saat mereka sedang berada di atas motor.
Rudian tidak akan mengatakan apa-apa soal maksudnya berbagi tugas dengan Naya adalah cara agat Naya tidak merasa sudah dizolimi oleh suaminya karena selalu terlihat berat sebelah.
Ada sebuah hadis nabi yang menjelaskan tentang hukuman orang yang sudah tidak adil pada istrinya maka ia akan berjalan diakherat kelak dengan keadaan miring. Dan kemiringan tubuh saat berjalan itu adalah bahunya sampai menyentuh tanah. Alangkah berat dan susah.
"Yola, kamu harus belajar, biar kamu nanti kalau ngurusin anak, bisa sendiri. ngurus anak kan gak gampang," kata Rudian dengan lembut.
"Tapikan aku hamil, Naya tidak."
"Kamu harus mikir untuk masa depan kita, kalau Naya tetap tinggal sama kita, akan lebih mudah, nanti kita repot saat kamu melahirkan dan punya bayi, keberadaan Naya akan sangat membantu kita. Benar gak abang bilang?"
"Tapi, bang..."
'Aku malas'
"Sudahlah, nikmati saja dulu keadaan sekarang, biar Naya gak minta cerai"
'Aku mau kamu cerai bang, biar Dero bisa pindah. Jadi aku gak harus bayar uang kos lagi'
Yola tampak cemberut. Malam-malam saat Rudian membagi giliran dan tidur dengan Naya, ia juga sering merasa gelisah dan cemburu. Bahkan kecemburuan Yola lebih besar dari kecemburuan Naya.
Mereka mengobrol banyak hal, ketika Yola melihat seseorang yang ia kenal terlihat berjalan bersama seorang laki-laki. Kebetulan motor yang dikendarai mereka berjalan tidak terlalu cepat.
"Bang, tunggu bentar. Berhenti dong." pinta Yola sambil menepuk-nepuk pundak Rudian.
Motor yang mereka naiki berhenti setelah dekat dengan trotoar. Rudian menatap Yola yang ada di belakangnya.
"Ada apa si?" tanya Rudian. Ia mengikuti kearah yang dilihat Yola.
Yola memastikan penglihatannya tidak salah, ia menyipitkan matanya kearah Naya tak jauh dari mereka, sedang menggendong seorang anak kecil dan ada anak remaja berjalan mengikuti mereka. Terlihat mereka mendekati sebuah mobil Avanza hitam yang terparkir di dekat sebuah klinik kesehatan.
Rudian melihat hal yang sama. Itu mobil yang pernah ia lihat dan juga mengantarkan Naya ke rumah. Saat itu Rudian tidak tahu siapa pemiliknya. Tapi saat itu ia bisa melihat pria yang tampak lebih tinggi dan juga lebih bagus penampilannya dari dirinya berjalan beriringan dengan istrinya. Rasa terbakar hatinya oleh api cemburu, yaitu api yang lebih panas dari api yang digunakan untuk mengkreamsi mayat di negeri Sakura.
Dengan langkah cepat dan terburu-buru, Rudian menghampiri Naya yang seolah sedang bersama keluarganya sendiri yang berjumlah empat orang.
"Naya!!" pekik Rudian begitu jarak mereka hanya beberapa meter saja, "Siapa laki-laki itu!" bentak Rudian sengit.
Siang tadi saat makan siang, Yoni di titipkan pada Naya karena Ares akan pergi rapat dan sekaligus menjemput Raya ke sekolah. Setelah berkompromi dengan Bu Nha, Naya bisa leluasa mengasuh anak kecil itu, walau sebentar-sebentar Naya masih harus bekerja.
Tidak disangka Yoni terjatuh mengakibatkan luka di dekat lututnya yang cukup besar, darah tidak berhenti keluar dan tidak ada obat ataupun alat pertolongan pertama yang memadai di restoran bu Nha. Kemudian Naya membawanya ke klinik kesehatan terdekat. Diantar oleh bu Nha dengan mobilnya. Niat bu Nha hanya menolong pelanggan setia dan karyawannya itu saja.
Dokter di klinik itu memutuskan untuk menjahit lukanya. Sememtara Yoni di rawat, Naya menghubungi Ares. Setelah dokter selesai melakukan tindakan, barulah Ares datang dan bu Nha pergi dengan mobilnya.
Mereka baru akan mengantarkan Naya pulang saat Rudian datang. Sepertinya kesalahfahaman akan segera terjadi.
Naya terkejut melihat Rudian dengan wajah penuh kegelapan amarah dan Yola yang bersungut-sungut dengan bibir cemberut.
__ADS_1
"Jujur sama aku, Naya! Kamu selingkuh ya?!"