Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 31. Apa Tidak Boleh?


__ADS_3

Naya masih diam mendengarkan suara dari balik ponselnya. Wajah cantik itu terlihat berubah masam, dahinya juga berkerut.


"Oh, seperti itu ya. Baikalah, semoga kamu gak salah dengar." kata Naya setelah beberapa saat kemudian ia diam, dia berkata lagi,


"Apa kamu yakin? terimakasih kalau begitu." kata Naya, akhirnya ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya.


Naya berjalan beberapa langkah dari tempatnya berdiri lalu masuk kesebuah kedai kopi yang cukup ramai. Ia menemui seseorang yang tampak sudah menunggu.


"Sudah lama?" tanya Naya, ia menyalami seorang wanita muda yang dulu pernah jadi temannya juga.


Wanita itu mengaku bertetangga dengan Yola dan ia menceritakan bagaimana hubungan suami Naya dan Yola. Perempuan itu meminta Naya menemuinya di kedai kopi itu, ia mengatakan semua informasi yang ingin Naya ketahui tanpa diminta.


Dari dua orang yang mengatakan hal yang sama, tentang kenaikan jabatan Rudian di perusahaan itu, sudah cukup bagi Naya untuk memutuskan bagaimana ia harus bersikap pada suaminya.


Ia bukan bermaksud memata-matai suaminya, ia hanya ingin kepastian. Sebab suaminya tidak akan mengatakan yang sejujurnya. Apakah ia termasuk ghibah tentang suaminya. Apakah tidak boleh mencari informasi?


"Baiklah, aku berterimakasih padamu. Tapi sebenarnya aku sudah tahu. Aku sekarang dimadu."


"Apa, jadi kamu sudah tahu dan membiarkan semuanya, Nay?" kata perempuan itu heran.


Naya tidak bisa membohingi siapapun sekarang, jadi ia mengatakan semua, hingga ia bisa mengetahuinya.


"Ck! Aku heran sama kamu, Nay. Kamu tidak marah atau membencinya? Aku tidak akan kuat kalau jadi kamu." kata perempuan itu diakhir obrolan mereka. Naya hanya tersenyum kecut.


'Haruskah aku membenci suamiku sendiri...? Kalau bisa maka akan aku lakukan, aku tetap mencintai Rudian walau sekuat apa aku berusaha membencinya... Aku tidak bisa.'


Bukankah Allah tidak pernah salah menyimpan ujian dipundak mereka yang Dia kehendaki dan orang yang sudah mendapatkan ujian itu adalah orang yang tentu kuat memikulnya?


Ada rasa tidak puas, merasa terdzolimi dan dibohongi oleh suaminya sendiri. Kini Naya tahu kalau Rudian sudah menjadi leader dibagian yang sama dengan Yola. Yang tentu saja pendapatannya berbeda. Dan itu sudah sejak tiga bulan yang lalu.


Naya menghembskan nafas pelan, ia sadar posisinya. Hatinya sesak, dada rasa terhimpit benda berat. Haruskah ia menyesali takdirnya? Tidak.


Ia tahu bila takdir sudah memeluk hidup seseorang, maka ia akan menghisap energinya sampai habis tak bersisa. Dan orang itu tidak akan mempunyai kekuatan sedikitpun untuk melawannya.


Naya hanya berprasangka baik saja.


Kadang, ketika seseorang merasa ada orang lain yang sudah berbuat tidak tepat, atau orang lain itu lalai akan haknya, atau ia sudah berbuat tidak adil, padahal, bisa jadi mereka lupa atau tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya, atau bisa jadi kalau kitapun sudah berlaku sama.

__ADS_1


Maka saat ada diantara kita merasa ada orang lain yang sudah membuat kita kesal karena apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, berbaik sangka sajalah.


Setelah melewati beberapa waktu, mungkin rasa sakit itu akan hilang, mungkin rasa sakit itu akan berubah jadi kebahagiaan. Naya hanya mencoba sabar, menunggu dan melihat, apakah Rudian akan tetap menyembunyikan uang gaji darinya. Mau sampai kapan?


-


Naya kembali kerumah ketika sudah hampir magrib. Ia melihat motor suaminya sudah berada diteras, menandakan Rudian sudah ada datang. Naya melangkah kedalam setelah mengucapkan salam, ia tak mendapati suaminya dimanapun.


"Kanda! Kanda ada di dalam?' tanya Naya ketika ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Hmm.." jawab Rudian.


Naya duduk di sofa menunggu suaminya sambil membuka makanan yang sengaja ia beli dari warung nasi Padang. Ia enggan memasak kali ini.


"Kamu gak masak?" tanya Rudian saat melihat beberapa jenis makanan ada di atas meja.


'Gak apa kan sekali-kali gak masak. Cape.'


"Hmm..." jawab Naya.


"Kamu kenapa, sakit gigi? kok suami nanya gak dijawab"


Naya menggeleng dan hanya mengambil piring juga segelas air minum untuk Rudian.


"Kamu makan sendiri saja. Aku masih kenyang." kata Rudian.


'Kenapa. Baru makan direstoran karena ada uang lebih sambil membahagiakan istri tersayang, iya?!" kata Naya.


"Apa maksudmu, Nay? Aku cuma kenyang saja. Sudah sana makan, sebelum dingin. Nanti gak enak." sahut Rudian mencoba mengalihkan pembicaraan.


Tapi tanpa disangkanya, justru Naya malah menangis. Rasa sedih yang ada dan dipendamnya sejak lama, ia tumpahkan saat itu juga. Rudian bingung dan juga panik melihat Naya seperti ini.


Selama mereka menikah, Rudian hanya melihat Naya menangis ketika akad nikah dan saat ibunya meninggal saja. Dan saat ini ia melihat Naya menangis karena dirinya.


"Naya, kenapa si, kamu nangis. Aku gak bohong. Aku cuma masih kenyang saja."


'Kamu bohong, Nda.'

__ADS_1


"Naya... ayo makan. Oke aku temani kamu makan sekarang. Sudah, jangan nangis lagi...!" kata Rudian lagi masih panik juga kesal. Menurutnya Naya sekarang jadi manja.


Sebenarnya bukan karena makanan, tapi karena Naya tak tahu harus bagaimana menenangkan dirinya sendiri. Setelah beberapa saat lamanya, Rudian diam membiarkan istrinya menangis, ia mendekati Naya dan mengusap kepalanya yang masih terbungkus jilbab.


"Naya, kamu gak usah nangis. Kamu kan calon bidadari surga. Ayo makan."


Ucapan Rudian berhasil membuat Naya diam. Ia mengambil sedikit nasi dan mencoba menyenangkan hatinya sendiri, menikmati makanannya.


Melihat Naya sedikit tenang, Rudian tersenyum, ia makan sedikit nasi. Banyak sisa yang bisa dihangatkan untuk sarapan besok pagi. Mereka sudah biasa makan makanan kemarin yang dihangatkan.


"Naya..." kata Rudian tenang, ada kehati-hatian dalam nada bicaranya.


"Hemm" jawab Naya sambil mengunyah.


"Mulai pekan depan, Yola akan tinggal di sini." kata Rudian sambil menatap wajah Naya lekat.


Duarr! Suara petir seperti menyambar ditelinga Naya.


"Uhuk! Uhuk!' Naya terbatuk berulang-ulang. Ia tersedak makanannya sendiri mendengar kalimat yang terlontar dari mulut suaminya.


Tatapan mata mereka beradu tajam. Naya terus menatap Rudian sambil menghabiskan air putih digelasnya.


" Hati-hati kalau makan." kata Rudian sambil menepuk-nepuk punggung Naya pelan.


"Apa haknya hingga harus tinggal serumah dengan kita? Apa dia wanita yang sudah tidak punya Rumah dan aku harus mengasihani dirinya?" kata Naya sambil menepis tangan Rudian dari punggungnya


"Bukan begitu. Aku hanya kasihan sama dia, sekarang suka muntah-muntah tiap malam. Kasian kan kalau harus tinggal sendiri dirumah. Gimana kalau ada apa-apa nanti dengan anakku?"


"Jadi aku harus memakluminya lagi. Aku harus


menerima Yola disini. Di rumahku. Lalu aku harus kemana?"


"Ya kamu gak harus kemana-mana, kita tinggal di sini bertiga. Jadi lebih enakkan nantinya. Apalagi kalau anak itu lahir, anak itu jadi anak kamu juga kan Nay...?"


Naya diam ia tak menggubris pemberitahuan yang bersifat memaksa dari suaminya. Lalu pergi ke kamarnya melepas kerudung dan pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya yang terasa sangat panas.


Ia masih beeharap kalau ia hanya salah dengar dan Rudian hanya salah bicara saja. Ketika ia berada di kamar mandi, ia baru tahu kalau ia mendapatkan tamu bulanannya hari ini.

__ADS_1


Suara tangis kembali terdengar menyayat dari kamar mandi yang ditingkahi suara air yang keluar dari kran. Sunghuh ia berharap tamu bulanan ini tidak muncul sampai tiga bulan kedepan.


"Naya, kenapa kamu lama sekali. Naya, sudah selesai belum?!' kata Rudian berteriak dari luar kamar mandi, ia mengetuk pintunya beberapa kali.


__ADS_2