Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 20. Kejutan Di Rumah


__ADS_3

Mendengar suara itu, Naya yang semula menutup mata karena menahan perih dilambungnya, membuka matanya perlahan. Ia melihat sepasang kaki dengan sepatu vantopel mengkilat berdiri menjulang dihadapannya. Naya mendongak, dan ia terkejut malihat Ares yang menatapnya penuh rasa penasaran.


"Tente, kenapa jongkok di sini?" kata sebuah suara lagi dan kali ini dari Raya, gadis remaja itu membawa dua pot bunga ditangannya.


Mereka berdua baru saja pulang dari membeli bunga di toko yang tak jauh dari minimarket dimana Naya belanja. Raya berdiri di samping Ares.


"Tidak apa-apa. Lagi mau jongkok aja di sini" jawab Naya asal.


Naya, mencoba tersenyum sambil berusaha berdiri dengan mengabaikan rasa sakitnya. Tapi ia malah sedikit terhuyung kebelakang karena rasa berat yang menekan kepalanya. Dengan sigap Ares memegang pangkal lengan Naya mencegahnya jatuh kebelakang.


"Eh." kata Naya, mengembalikan fokusnya agar tetap sadar, berusaha melepaskan tangannya, berdiri kembali dengan benar.


"Maaf." kata Ares yang langsung melepaskan pegangan tangannya dari lengan Naya.


Raya melihat interaksi antara papanya dan Naya. Kemudian ia berkata.


"Tante mau pulang? Ayo bareng kita" katanya sambil melangkah mendekati Naya.


Naya menggeleng, dan menyahut.


"Tidak usah. Kita tidak searah" Ia mengambil kantong plastik belanjaannya berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa padanya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ares, ia menatap Naya intens. Ares melihat wajah pucat Naya, jelas sekali tadi Naya sedang menahan sakit, ia tahu Naya berbohong.


Sebenarnya Ares sedikit memperhatikannya, entah kenapa kebetulan demi kebetulan sering terjadi antara mereka. Melihat bagaimana Yoni nyaman bersamanya, serta melihat bagaimana Naya menenangkan anaknya, ia sangat terharu.


Ia juga mendengar cerita dari Raya tentang masalah yang ia hadapi di sekolah waktu itu, ia mempunyai satu rasa padanya. Tapi Ares menyimpan semua itu untuk hatinya sendiri. Biarlah perasaan hanyalah perasaan, toh semua manusia juga punya perasaan. Apalagi Naya adalah wanita bersuami.


Ares menyadari, mungkin dirinya bukanlah pria yang akan membuat Naya menyukainya. Ia bukan laki-laki yang religius. Berbeda dengan Naya yang terlihat sholehah dari penampilan dan sikapnya yang selalu menjaga diri dari lawan jenisnya.

__ADS_1


"Iya. Saya baik. Terimakasih sudah membantu saya." kata Naya terlihat malu.


"Tante, lihat. Baguskan, pilihanku?" kata Raya menunjukkan dua jenis bunga dalam pot bahan tanah liat.


"Hmm... Bagus. Ini bunga sedap malam. Kenapa kamu milih bunga itu, jarang anak-anak seusiamu memilih bunga itu. Apalagi itu bunga kesukaan tante." kata Naya sambil mencubit kecil dagu Raya.


"Itu juga bunga kesukaan mamih" jawab Raya.


'Wah. Ini Kebetulan apalagi?' Ares.


"Oh, gitu. Untuk apa beli, di rumah tante juga ada."


"Mana Raya tahu. Ini tugas sekolah, kalo gak ada tugas sekolah aku males ngurusin bunga." kata Raya polos, entah kenapa didepan Naya ia seperti tidak sungkan untuk menunjukkan jati diri, ia lebih bisa jadi dirinya sendiri, jujur apa adanya dihadapan Naya.


"Hmm... paati sukanya lihat drama Korea."


"Ih, kok tante tahu si...?" kata Raya tertawa lebar.


Tapi sesaat Ares hendak membuka bagasi mobil untuk menyimpan pot bunga Raya, ia melihat Naya kembali meringis kesakitan dan memegangi perutnya. Akhirnya ia berinisiatif menyuruh Raya yang memaksanya.


Raya menarik tubuh Naya dan mendudukkannya di kursi belakang. Naya tak bisa menolak, karena Raya yang memaksanya. Apalagi ia seperti sudah tidak kuat berjalan.


Ares membukakan pintu mobilnya untuk Naya, setelah sampai di depan rumah, jarak dari tempat mereka bertemu tadi memang cukup dekat.


"Terimakasih, pak. Terimakasih Raya." kata Naya begitu ia turun, ia melambaikan tangan pada mobil Ares yang bergerak menjauh.


Naya berjalan perlahan memasuki rumahnya, betapa terkejut Naya begitu sampai di luar pintu yang terbuka. Ia melihat ibu dan Yola sedang duduk di sofa, mereka terlihat asyik mengobrol dan ada beberapa orang di sana, termasuk suaminya.


Rudian menatap Naya dengan tajam, seperti menyelidik. Ia sempat melihat sekilas tadi pada mobil Ares yang mengantar istrinya sampai di depan rumah.

__ADS_1


Deg. Jantungnya berdetak lebih kuat.


'Ada apa ini? kalau ada acara keluarga, kenapa aku tidak tahu. Ini kan rumahku sendiri?'


"Assalamu'alaikum." kata Raya dengan ragu memasuki rumah nya.


'Aku tidak salah masuk rumah, kan?'


Beberapa tatapan mata menuju kearahnya. Dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada yang menatapnya dengan rasa kasihan, rasa kagum juga rasa aneh. Naya tahu beberapa orang yang sedang duduk saling berhadapan itu diantaranya adalah pak RT, bu RT, tetangga kiri dan kanan rumahnya.


Ada juga diantara tamu itu yang duduk di lantai beralaskan karpet yang biasa ia simpan di kamar sebelah kamar tidurnya. Naya jarang menggunakannya. Ia dulu membeli karpet beludru itu dengan cara mencicil. Ia tak menyangka karpet itu akan digunakan untuk acara kejutan bagi dirinya sendiri.


"Ada apa ini, Kanda?" tanya Naya. Sorot matanya menatap lekat kearah Yola dan Rudian secara bergantian.


"Duduklah dulu, Naya.." kata Sarita sambil tersenyum. "Maaf ya... Ibu buat acara ini dadakan. Soalnya takut kamu tidak setuju. Ini maksudnya baik. Hal baik, harus disyukuri. Iya kan bapak-bapak dan ibu-ibu?" kata Sarita lagi seraya berdiri dan merengkuh bahu Naya. Menuntunnya untuk duduk di dekat Rudian dan Yola.


"Iya...benar, bu..." kata beberapa orang di sana.


Tak lama, Sania, istri dari Bagas, muncul sambil membawa banyak makanan dalam nampan besar ditangannya. Diikuti beberapa saudara dari Sarita yang Naya tahu itu adalah paman dan bibi Rudian.


"Oh, Naya. Kamu sudah pulang?" kata Sania dengan senyum kaku di wajahnya. Terlihat basa-basi saja. Wanita berkulit putih itu duduk sambil meletakkan beberapa makanan di atas meja, juga di karpet.


"Jadi, karena semua sudah berkumpul, saya akan mengatakan maksud saya mengundang bapak ibu di rumah ini. Maklum ya pak, bu, sudah mengganggu waktu luangnya." kata Sarita dengan senyum ramah dan berkata dengan intonasi bicara yang baik dan lugas.


"Saya hanya mau mengenalkan, menantu saya yang baru. Ini, namanya Yola." kata Sarita sambil merengkuh bahu Yola hangat.


Diperkenalkan dengan cara seperti itu. Yola terlihat malu-malu dan tersenyum lebar. Ada semburat rasa bahagia diwajahnya, diterima dengan lapang dada oleh pihak keluarga suaminya, walau posisinya hanya sebagai istri kedua Rudian.


Sungguh sangat jarang hal seperti ini terjadi bukan? Biasanya dimanapun kalau istri kedua itu dinilai sebagai pelakor dan perusak rumah tangga, pengganggu bagi kebahagiaa orang lain. Tapi kali ini tidak demikian yang dialaminya.

__ADS_1


Brukk! Tiba-tiba saja saat itu Naya pinsan. Ia dari tadi memang tidak duduk dengan benar, karena gelisah dan akibat dari rasa sakit diperutnya.


__ADS_2