
Naya menoleh pada sumber suara, yang ada di belakangnya. Ares sudah berjalan, lalu menarik kursi yang ada di depan Naya. Mereka berada di sebuah cafe kecil yang sangat ramai, karena terkenal dengan minuman dan cupcake nya. Naya sudah memesan dua jus alpukat untuk dirinya dan Ares.
'Aku tidak nyangka, cepat juga dia datang'
"Oh.., lumayan," sahut Naya.
"Cafe ini ramai. Kamu sengaja ngajak ketemu di tempat seramai ini?" tanya Ares sambil mencicipi minuman yang ada di depannya.
Naya mengangguk perlahan sambil mengaduk-aduk jus di gelasnya.
"Tempat yang ramai ini, cukup menjadi saksi si untuk kita, jadi tidak perlu lagi saya bawa muhrim atau bapak bawa anak-anak untuk jadi teman bicara," kata Naya.
"Hmm...Kalau begitu, bicara saja. Aku akan dengar"
'Hais. Ramai sekali padahal sekarang bukan waktu makan siang'
Mereka berdua duduk di salah satu meja yang ada di di dekat jendela, mereka duduk saling berhadapan seolah saling bertatapan mata, padahal Naya memandang entah ke mana, sedangkan Aries menatap tepat di bola matanya. Naya menyenderkan tubuhnya dan menyimpan kedua tangannya di atas paha saling meremas.
"Maaf ... " kata itu yang pertama kali keluar dari bibirnya.
"Maaf untuk apa ...?" kata Ares.
Ia mencondongkan badannya ke depan dan menopang tubuhnya dengan kedua siku tangannya di atas meja, mengaitkan jari-jari menjadi satilu.
"Dari pertanyaan bapak kemarin, Bapak merasa saya menghindar," kata Naya dengan menahan gejolak dihatinya.
Ia berusaha setengah mati menenangkan dirinya dan berusaha tidak terlihat gugup atau biar terlihat biasa-biasa saja. Namun nyatanya suaranya tetap terdengar sedikit gemetar. Setelah diam beberapa saat, Naya melanjutkan perkataannya.
"Lalu mungkin Bapak juga merasa saya seolah-olah membenci Bapak? Sekali lagi maaf,"
"Oh sebenarnya tidak masalah, yang penting kamu gak benci kan sama aku?" mendengar perkataan Ares, Naya menggelengkan kepala dengan kuat.
Naya lalu menjawab, "Sebenarnya saya ... " ia kembali terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.
Lalu ia menundukkan kepala sangat dalam dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan terlihat bahunya terguncang.
'Hei, apa? Apa dia menangis, kenapa dia menangis? Aku gak salah kan?'
Ares mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Iya terlihat serba salah dan gelisah, khawatir orang-orang yang melihat kejadian ini dan melihat Naya menangis, akan menyalahkan dirinya seolah-olah mereka sedang bertengkar, atau orang-orang akan menilai bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sedang berselisih.
Ares mengusap wajahnya dengan telapak tangannya sendiri, ia mendesah keras lalu berkata, " Memangnya apa yang kamu tangisi saya salah apa sama kamu?"
Maya tidak menjawab ia menggunakan telapak tangan kanannya untuk melambay pada Ares mengisyaratkan ia berkata tidak.
'tidak? apa maksudnya tidak salah atau jangan bicara?'
Ares membiarkan Naya menuntaskan isak tangisnya, hingga beberapa saat. Setelah Naya berhenti menangis, Ares mengambil beberapa tisu dan mengulurkannya ke hadapan Naya. Naya menyambutnya dan segera menghapus air matanya sampai bersih.
Lalu sekali lagi berkata, "maaf..."
Mendengar perkataan Naya, Ares menghela nafas sambil memalingkan mukanya. Ia meredakan rasa gelisahnya dengan menghabiskan sisa minuman yang ada di gelasnya hingga tandas.
'Harus kah aku jujur padanya? Memangnya dia siapa sampai harus mendengar sendiri kejujuranku padanya? Apa aku yang sebenarnya merasa bersalah sampai aku gak tau harus bersikap bagaimana dihadapannya?'
Ares melihat Naya sudah sedikit tenang, kecanggungan yang luar biasapun terjadi hingga ia berkata, "sekarang katakan kenapa kamu nangis, apa saya sudah nyakitin kamu?"
Pertanyaan Ares hampir saja membuat Naya kembali menitikkan air mata, tapi Naya menahannya, dengan memalingkan pandangan ke arah luar jendela. Ia menghela nafas dalam setelah itu ia memberanikan diri untuk menatap Ares.
Ia berkata, "Pak Ares nggak salah." dengan gestur yang canggung. seandainya ia punya sebuah konjungsi agar ia tidak berbicara secara langsung kepada Ares, tetapi apa yang ia maksudkan bisa dimengerti oleh laki-laki ini.
"Saya sudah merelakan kepergian suami, itu sudah sangat lama. Saya menghindari Pak Ares bukan karena itu, tapi karena saya malu." kata Naya sedikit terbata-bata.
__ADS_1
Mendengar perkataan Naya, Ares tertawa kecil.
"Kenapa harus malu? Memangnya kamu pernah salah apa sama saya atau saya pernah berbuat sesuatu yang memalukan dengan kamu? Tidak, kan?"
"Iya, memang tidak. Tapi Saya hanya ingin bilang seperti itu bahwa saya tidak membenci Bapak. Saya tidak menghindari karena masih ingat dengan suami saya. Dan semua itu karena saya malu dan saya minta maaf."
"Lalu?"
"Hmmm... sudah. Cuma itu." sahut Naya tenang.
'Ahk, yang benar saja, Naya! Aku kira kamu siap menjadi ibu dari anak-anakku'
"Naya, kamu mau tahu sesuatu tentang aku?"
Ares bertanya sambil mengetukkan jari-jarinya di atas meja, sedang semua anggota tubuhnya yang lain tidak bergerak termasuk tatapan matanya, tenang, tidak beranjak dari wajah Naya, seperti mengamati reaksi selanjutnya dari apa yang akan dia katakan.
"Saya itu, sejak lihat kamu bisa dekat sama Yoni, saya sudah suka sama kamu. Kalau saja dulu, kamu masih gadis atau janda seperti sekarang, saya sudah langsung lamar kamu, saya cari dimana orang tua kamu, dan minta kamu buat jadi ibu anak-anak saya."
Ares tidak menunjukkan perasaan yang sebenarnya waktu itu, karena ia menyadari kalau Naya ternyata sudah bersuami, dan ketika Iya tahu bahwa Naya sudah bercerai pun, ia tetap menahan diri, karena ia melihat Naya tidak tertarik padanya. Bahkan terkesan menjauhinya.
Kekuatan seorang pria bukan dilihat dari seberapa besar kemampuannya untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tapi dilihat dari seberapa besar kemampuannya untuk menahan diri, ketika apa yang ia inginkan itu ada di hadapannya.
Deg! Nah, kan. Jantung Naya seperti hendak meloncat dari tempatnya, mendengar kejujuran Ares. Ia yang awalnya enggan berkata jujur justru kini mendengar kejujuran dari Ares membuatnya seperti orang yang linglung, menatap Ares dan pemandangan di luar jendela secara bergantian.
"Kamu gak percaya?" tanya Ares. Naya diam tidak tahu harus menjawab apa, karena ia memang tidak percaya Ares akan berterus terang seperti ini.
"Sekarang, kalau kamu mau, bilang dimana rumah orang tuamu, aku ke sana sekarang." Ares menunjukkan kesungguhannya, dan kembali bicara dengan tenang.
"Orang tua saya jauh dari sini, Pak. Dan saya juga belum siap untuk berumah tangga lagi," Naya berkata sambil menahan debaran jantungnya.
Ucapan Naya ini seperti memberi sinyal pada Ares, apabila rumah orangtuanya dekat, maka ia pasti akan mengijinkannya.
Setelah diam beberapa saat, Naya berkata lagi,
Naya terlihat menahan tangis sedangkan air mata sudah mengembun di pelupuk matanya. Ares yang semula menyandarkan badannya, sekarang ia menegakkan punggungnya dan melipat kedua Tangannya di atas meja, menatap Naya sejurus.
ia membasahi bibirnya sebelum berkata, " terus kamu pikir aku bakalan bersikap seperti suami kamu yang dulu gitu? bakal nikah lagi, gitu?" lalu memalingkan muka sambil tersenyum geli.
"Aku nggak sama kayak dia, Nay!" Tandas Ares.
Mendengar kata-kata Ares, Naya mengangguk, ia mengusap matanya agar air matanya kembali masuk ke dalam, lalu berkata,
"Pak, maaf. Saya mau jujur sama bapak."
"Ya sudah, jujur saja."
"Pak, setiap saya lihat bapak, saya pasti ingat lagi kejadian memalukan yang saya alami. Ingat gak Pak, setiap bapak ketemu sama saya, saya lagi nangis, saya lagi kacau. Jadi, kalau ketemu bapak, saya masih ngerasain malu dan sedih yang saya rasakan dulu. Makanya saya menghindar. Pak, seperti sekarang, saya jadi ingat lagi waktu saya di tuduh pelakor, waktu nangis di troto _ _ " ucapan Naya terputus.
"Sst! Sudah cukup. Kalau memang begitu saya permisi. Saya yang harus minta maaf, karena saya sudah buat kamu sedih." Ares diliputi rasa bersalah, ternyata secara tidak sengaja ia sudah melukai Naya.
Saat berkata, Ares melihat jam yang melingkar di tangannya, ia mengambil dompet dari saku celananya dan mengambil dua lembar uang seratus rubuan, yang ia letakkan di bawah gelas.
Ia beranjak dari duduknya, dan saat melewati Naya ia berkata, "kamu jaga diri baik-baik ya. Aku pergi dulu."
"Eh, saya..." kata Naya terhenti karena Ares sudah terlanjur pergi.
Dengan langkah cepat Ares menuju mobilnya, dan mengendarainya, kembali menuju ke kantor. Perasaan tidak jelas yang hadir dalam hatinya ia tuangkan dengan cengkraman kuat kedua tangannya pada setir mobil, sambil menancap gas pada mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sementara Naya melihat kepergian Ares dan uang yang ia tinggalkan di atas meja secara bergantian, dengan perasaan heran.
'Apa aku salah, bukankah tadi sudah sepakat mau saling jujur, apa aku sudah menyinggungnya? Pak, saya belum selesai bicara!'
__ADS_1
Naya menggelengkan kepalanya sendiri seperti orang bingung hingga kemudian Ia pun pergi, dari tempat itu.
Mulai saat itu Ares berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menemui Naya lagi. Mendengar Naya berkata jujur tentang perasaan sedihnya ketika melihat dirinya, hatinya seperti sedang dilubangi ada rasa sakit seperti teriris.
Apakah Naya atau Ares yang bersalah hingga pertemuan mereka selalu diwarnai dengan drama yang menyedihkan, atau justru tidak ada yang salah dalam hal ini? Sepertinya, semua ini hanya permainan takdir yang terlihat sangat aneh dalam kehidupan manusia.
Jejak hujan tidak bisa hilang begitu saja, buktinya ketika hujan itu berhenti, ia masih meninggalkan genangan di sana-sini. Ia butuh waktu beberapa saat hingga jejaknya benar-benar lenyap terserap bumi. Begitu juga dengan melupakan, ia butuh waktu agar benar-benar bisa hilang, apalagi melupakan hal yang menyakitkan.
Ares masih terus berfikir, apakah ia akan menunggu atau kembali berjuang bersama anak-anak. Bukankah sejatinya hidup bukan sebuah penantian tapi adalah perjuangan? Mungkin matahari masih akan terbit esok hari, hingga menandai bahwa masih ada harapan lagi.
-
Sejak hari itu, Naya tidak lagi bertemu dengan Ares. Sesekali ia pernah melihat sekelebat bayangannya ataupun mobilnya, yang terparkir di halaman tempat Naya bekerja, tapi ia tidak benar-benar bertemu secara langsung dengan dirinya. Selain itu Naya tidak pernah lagi menerima pesan, berupa perhatian ataupun beberapa pertanyaan yang biasa Ares berikan setiap pagi ataupun malam hari.
Hubungan antara Ares dan dirinya benar-benar terputus seperti ditelan air bah dan banjir bandang, bahkan akhir pekan kemarin pun anak-anak tidak berkunjung ke rumah, seperti janji mereka di akhir pekan sebelumnya.
Sebenarnya, Naya sangat merasa bersalah, ia merasa secara tidak langsung sudah menyakiti Ares. Pernah, suatu ketika ia sekali atau dua kali, menanyakan kabar anak-anak pada Ares, melalui pesan chat di ponselnya, dan laki-laki itu hanya menjawab seperlunya saja.
Naya
"Pak, apa kabarnya anak-anak?"
Ares
"Alhamdulillah, anak-anak baik-baik saja, kamu gak usah kuatir."
Sebenarnya pesan Ares yang seperti ini membuat Naya sedih, bahkan lebih sedih saat ia bertemu dengannya dan mengingat masa lalunya.
'Ya Allah. Apakah aku sudah salah mengambil keputusan dengan berkata jujur, sehingga laki-laki itu merasa bahwa dirinya sudah menyakitiku? Padahal secara tidak langsung ia seperti pahlawan yang Engkau kirimkan untukku'
Bukankah setiap orang bisa jadi pahlawan bagi orang lainnya?
Padahal waktu itu, Naya ingin menyelesaikan kalimatnya, dengan sebuah kesimpulan bahwa, ia menyadari, kadang jawaban yang Allah berikan hadir dalam bentuk luka dan kesedihan, hanya saja, manusia enggan menerima karena merasa bukan seperti itu jawaban yang mereka inginkan. Tapi Ares sudah terlanjur pergi...
"Assalamualaikum." Naya terdengar suara ceria dari Rama yang menegur Naya saat makan siang hari itu tiba.
"Waalaikumsalam!" Jawab Naya seadanya.
"Hei, aku lihat dari tadi kamu melamun terus,
mikirin apa? mikirin aku ya?"
"Akh, nggak. Biasa saja," Kata Naya sambil meladeni pesanan Rama.
'Atau mikirin Pak Ares, Nay? Dia sering nanyain kamu kalau ada rapat bareng, tapi selalu pesan jangan bilang-bilang sama kamu. Sebenarnya ada apa antara kamu sama dia?'
"Gimana kamu sama Dinda?" tiba-tiba Naya mengalihkan pembicaraan.
"Masih sama."
"Oh. Dia sudah banyak.berubah, Rama. Dia sudah jauh lebih baik."
"Iya. Aku juga lihat. Oh iya, Nay. Ibunya sakit lho, sampai di opnam."
"Maasyaa Allah...kapan?"
"Sudah hampir sepekan ini, masa, kamu gak tahu. Nay?"
"Aku gak tahu, Dinda juga gak bilang sama aku."
"Ya sudah, aku kan yang bilang."
__ADS_1
"Oke. Terimakasih sudah ngasih tahu. Nih, minumanmu. Makan sana, jangan lupa berdo'a," kata Naya sambil mengasongkan segelas teh tawar pada Rama, dan laki-laki itu tersenyum masam.sambil membawa makanannya ke meja makan kantin.
'Ya, Allah... mama sakit. Aku harus ke sana hari ini juga'