
Ares menghentikan cumbuannya, ia menatap Naya sambil berkata, "apa mau makan sekarang?" Lalu melanjutkan ciuman diseluruh wajah Naya.
"Kan, tadi bilang lapar, ja _ _" Ucapan Naya terputus ketika Ares kembali melancarkan ciuman lembut yang hangat, di bibirnya.
Suara azdan terdengar bersahutan di masjid sekitar rumah ketika Naya dan Ares mengakhiri ciumannya, disertai dengan wajah yang merona dari Naya. Mereka sudah pernah berciuman sebelumnya hanya sekilas, dan ciuman sedalam itu baru mereka lakukan saat ini, yang harus segera mereka akhiri karena ada panggilan yang lebih penting yang harus mereka penuhi.
"Kamu mau mandi?" Ares bertanya seolah tidak percaya padahal ia tahu Naya sudah menyampirkan handuk dipundaknya.
"Iya."
"Sudah magrib, mau mandi. Pamali"
"Pamali, tahu dari mana istilah itu?"
"Mama, sering bilang begitu. Aku gak boleh mandi kalau magrib."
"Makanya, lainkali kalau ada orang mau mandi, jangan di cium."
"Siapa yang mau dicium, kamu kan?"
'Eh, bisa-bisanya nyalahin orang'
Naya tidak memperdulikan Ares lagi, ia masuk kamar mandi sambil cemberut. Padahal Ares tidak salah, kalau saja Naya tidak menyambut ciuman darinya, ia tidak akan meneruskan ciumannya. Akh, balada pengantin baru, penuh drama.
Seluruh isi rumah berkumpul untuk makan malam setelah mereka selesai melakukan sholat maghrib.
Para laki-laki sholat berjamaah di masjid terdekat dan Budiman memperkenalkan Ares sebagai menantu yang sudah menikah dengan Naya sehari yang lalu. Para tetangga yang kebanyakan bapak-bapak itu menyalaminya, dan mengucapkan selamat diiringi dengan do'a kebaikan bagi rumah tangga yang mereka bina. Semua Ares terima dengan hati penuh syukur. Ia disambut dengan baik oleh orang-orang yang baik pula.
Naya pun demikian, ia menerima ucapan selamat dari para tetangga yang kebetulan lewat atau mampir ke rumah, dan melihat kepulangan Budiman. Seperti itulah suasana di kampung yang masih terasa kemasyarakannya.
Berita bahwa Budiman memiliki menantu baru segera tersebar, walaupun belum sehari mereka datang. Bahkan beberapa kali Nuriya dan Budiman menerima telepon dari saudara dan tetangga lainnya yang menanyakan kebenarannya.
"Kalian mau menginap berapa hari di sini?" tanya Budiman membuka obrolan di meja makan.
"Mungkin besok saya harus pulang, Yah. Tapi tidak tahu, Naya masih betah di sini atau tidak?"
"Kalau ditanya betah, ya betah aku di sini. Tapi aku mau ikut kak Fanan pulang saja."
"Tapi aku punya rencana mampir ke Villa kakek."
"Kak Fanan punya kakek di sini?"
"Bukan di sini. Tapi di Pantai Anyelir." Sahut Fanan sambil mengusap bibirnya dengan tissu karena makanan yang ada di piringnya sudah habis.
"Oh, ya sudah. Sekalian bulan madu." Budiman menyahut sambil tersenyum.
"Ayah, bulan madu apanya, anak juga masih sakit masa mikirin bulan madu, gak lucu."
"Ya, bukan bulan madu, kita cuma mampir saja ke Villa kakek, besok."
"Ya mudah-mudahan Yoni cepat sembuh, jadi kalian bisa tenang. Kapan-kapan kalian ke sini lagi, ibu mau buat syukuran." Nuriya yang sedari tadi hanya diam pun menyahut.
"Buat apa, bu?" Tanya Naya.
"Bersyukur kok buat apa? Bersyukur kamu sudah punya pendamping baru. Apa itu salah disyukuri? Nanti ibu mau buat kenduri kecil-kecilan, jadi kalian harus datang lagi kesini, ya?"
"Iya, bu insyaallah." Jawab Ares dan Naya hanya mengangguk.
"Ayo, kalau begitu kalian cepat istirahat. Seharian ini kalian tidak tidur, ngurusin macam-macam, besok mau pergi lagi. Kalian pasti cape, kan? Jadi ayo cepat istirahat sana," kata Nuriya sambil menumpuk piring kotor di meja.
Naya hendak membantunya tapi Nuriya menolak karena ia merasa mampu untuk membereskan bekas makanan itu sendiri. Hingga makan malam itupun berakhir dengan obrolan yang menyenangkan.
Segala hal yang berkaitan dengan rumah, Nuriya melarang Naya mengerjakannya, dengan alasan ia masih pengantin baru, yang seharusnya jadi ratu sehari. Tapi yang Naya dapat adalah kerepotan mengurus kepentingan orang banyak.
__ADS_1
Naya tahu, Nuriya bersikap seperti itu karena ia menyayanginya seperti anak sendiri. Naya sangat bersyukur, dan ia juga bertekad akan seperti ini dalam menyayangi Raya dan Yoni. Walaupun mereka tidak lahir dari rahimnya sendiri.
Sungguh Allah maha penyayang, karena itu sebagai seorang hamba-Nya juga harus saling sayang menyayangi. Betapa sayangnya Allah pada hamba-Nya ini diungkapkan oleh utusan-Nya yang mulia, Muhammad Rosulullah.
Ada dalam sebuah kisah yang terjadi, saat Rosulullah memenangkan sebuah peperangan, dan ada banyak tawanan. Diantara para tawanan itu, ada seorang wanita yang terpisah dengan anaknya yang masih kecil. Tapi tidak lama setelah para tawanan berhasil dikumpulkan, wanita itu pun dapat bertemu dengan anaknya kembali, hingga tanpa sadar wanita itu membuka bajunya untuk segera menyusui anaknya.
Semua orang yang melihat hal itu pun menggelengkan kepalanya.
Lalu Rasulullah bersabda, "kalian lihat sikap perempuan itu menunjukkan betapa dia sangat menyayangi anaknya, sesungguhnya Allah lebih menyayangi kalian lebih dari kasih sayangnya seorang ibu pada anaknya."
Kisah ini cukup Naya ingat sebagai pelajaran, bahwa orang yang ada di sekitarnya yang juga menyayangi dirinya adalah bukti Allah lebih menyayanginya.
-
Naya bangun sebelum waktu subuh menghampiri dunia, ia segera bergegas untuk membersihkan diri karena junub, mandi yang wajib dilakukan oleh orang yang sudah melakukan hubungan suami istri.
Ia membangunkan Ares setelah selesai menyiapkan air hangat untuk suami barunya itu. Ia pernah merindukan hal seperti ini dulu, ketika ia masih hidup sendiri. Rindu akan kesibukan menjadi seorang istri, mengurus rumah, suami dan juga anak-anak, dan kini Allah memberinya kesempatan untuk melakukan hal yang sama lagi.
"Kak, bangun." kata Naya sambil mengguncangkan tubuh Ares, dan laki-laki itu terbangun sambil menggeliat.
"Kamu, sudah mandi?" Ares bertanya sambil duduk di sisi tempat tidur. Ia menatap Naya sambil mengusap wajahnya.
"Sudah."
"Kenapa gak bareng saja mandinya?"
"Ih, malu lah. Ini pakai handuk dulu." Naya berkata sambil memberikan handuk bersih pada Ares untuk menutupi tubuhnya, karena Ares masih belum berpakaian.
"Kenapa malu, kita sudah lihat semuanya semalam?" Ares berdiri dan menyambut handuk, lalu membelitnya di pinggang, mendekatkan wajahnya pada wajah Naya yang bersemu merah karena malu.
Walau ia wanita yang sudah pengalaman, tapi wajarkan kalau ia masih malu, Ares adalah orang yang berbeda, dan mereka masih baru saja menikah. Seandainya mereka masih di rumah sakit, tentu saja mereka tidak akan punya kesempatan melakukan hal itu secepat ini
Naya ingat bagaimana Ares mengajaknya berbincang hingga larut malam, membicarakan semua hal tentang dirinya dan apa yang ia rasakan sejak bertemu dengan Naya, ia mengatakan segala kekhawatirannya saat mendengar kabar tentang apa yang dialami Naya. Ia mendengar semua berita itu dari bu Nha.
Kata-kata Ares dan semua yang diungkapkan laki-laki itu, membuat perasaan bahagia dan malu berkumpul menjadi satu. Jadi, pernikahan dengan cara dan perjalanan cinta yang seperti inilah yang terbaik bagi mereka. Rencana Allah siapa yang bisa menandinginya.
Saat terbuai dengan perasaannya inilah, yang kemudian membuat Naya berinisiatif memeluk dan mencium bibir Ares terlebih dahulu. Gayungpun bersambut, Ares membalas apa yang dilakukan Naya dengan ciuman yang lebih hangat dan keinginan kuat untuk segera memiliki dirinya seutuhnya. Naya kini adalah istrinya!
Ia memperlakukan Naya dengan penuh kelembutan juga has*rat yang terpendam sekian lama, ia menumpahkan semua rasa itu saat ia benar-benar menguasai tubuh Naya. Dialah wanita yang membuatnya nyaman, tanpa ada rasa was-was bila berdekatan, dengan dirinya dan juga anaknya.
"Jadi, apa kamu mau lagi?" Ares mencandai Naya sambil memeluknya.
Naya melepaskan pelukan sambil mendorong tubuh Ares.
"Cepat mandi sana, sebentar lagi subuh."
Ares menurut, ia pergi ke kamar mandi yang sudah disiapkan Naya air hangatnya. Naya menatap kepergian Ares sambil tertawa kecil. Ia mengeringkan rambutnya yang panjang di depan meja rias kecilnya.
Naya mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan, ketika ia sudah selesai berpakaian. Ia menanyakan pada Farah, temannya yang rumahnya dekat dengan pantai Anyelir. Ia pernah ke pantai itu bersama Farah mengendarai motor waktu itu.
Saat Ares menghampiri, Naya menyimpan ponselnya dan memberikan pakaian Ares yang ia bawa kemarin dari dalam tasnya.
"Enaknya punya istri, semua sudah di siapin seperti ini. Biasanya apa-apa aku sendiri. Terimakasih ya." Ares berkata sambil memakai pakaiannya.
Setelah selesai, ia mendekati Naya dan mencium pipinya sekilas. Suara adzan terdengar di kejauhan ... ia mengusap perut Naya yang rata, lalu menciumnya. Naya terbelalak ketika melihat apa yang dilakukan Ares padanya. Ia bersikap seolah dirinya tengah hamil saja.
"Semoga benihku bisa tumbuh di dalam sini. Semoga kamu bisa jadi seorang ibu yang bisa memiliki anakmu sendiri," katanya sambil terus mengusap perut Naya.
Naya memeluk Ares sambil tersenyum, dan berkata, "terimakasih, dan jangan lelah untuk terus berdo'a untukku."
Ares mengangguk saat Naya sudah melepaskan pelukannya.
Selesai sudah semua rangkaian kegiatan mereka di rumah itu, dari mulai ibadah dan sarapan. Di akhir kata saat ramah tamah, Budiman mengucapkan terimakasih kepada Ares atas kebaikanny yang memberikan cek sebagai seserahan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
__ADS_1
Ares hanya mengangguk menanggapinya, baginya pemberian itu tidak sebanding dengan usaha Budiman mewujudkan apa yang Ares inginkan, yaitu menikahi Naya secepatnya, tanpa banyak syarat dan permintaan. Bahkan Ares sangat berterima kasih, karena Budiman sudah mengerti kesibukannya.
Ares memasukkan pakaian dan perlengkapan yang dibawa Naya ke dalam tas ranselnya, hingga Naya tidak perlu membawa apapun, dan cukup menggandeng tangannya saja.
Mereka memesan taxi untuk sampai di Villa yang Ares maksudkan. Sebuah Villa milik keluarga Ares yang sudah biasa digunakan untuk berbagai acara keluarga, disaat sang kakek masih hidup. Keluarga Hendra sempat di asingkan oleh keluarga besarnya ketika ia berhijrah, tapi Ares sebagai cucu yang baik, selalu berusaha dekat dengan keluarga terutama kakeknya. Ares dekat dengan kakeknya walaupun mereka beda agama. Tapi begitu kakeknya meninggal, tempat itu seperti tidak berpenghuni. Hanya Ares yang sering datang untuk berkunjung bersama dengan anak-anaknya ketempat itu.
Tempat yang sering Ares datangi untuk menenangkan diri atau sekedar melepaskan sejenak kepenatan tubuh, karena kesibukan sehari-hari. Bagi orang seperti mereka, orang yang selalu melakukan rutinitas yang sama setiap harinya, hal ini sangat dibutuhkan. Bersantai di akhir pekan.
Naya tertegun, ia mengingat tempat itu yang dulu pernah ia lihat ketika ia berada di pantai yang sana dengan Farah. Naya langsung mengambil ponselnya, untuk menghubunginya. Kerena pesan yang ia kirim, tidak juga dibalas oleh Farah.
"Halo, Farah. Apa kabar?" Tanya Naya begitu ponsel terhubung.
"Naya ... Apa kabar, ah iya, aku baik. Alhamdulillah."
"Apa kamu masih tinggal di rumah yang dulu?"
"Tidak, aku sudah pindah. Soalnya, pekerjaan suamiku juga pindah. Ada apa, tumben telpon?"
"Akh, tidak."
Naya pun menceritakan kejadian bahwa ia saat ini berada di pantai Anyelir tempat yang dulu pernah mereka datangi. Seandainya Farah masih berada di rumahnya yang dulu, tentu saja ia akan mengunjunginya.
Naya mengingatkannya tentang kejadian, bagaimana ia mendatangi Farah, saat ia baru saja mendapatkan ujian, pertama kali mengatahui bahwa suaminya memiliki seorang wanita lain selain dirinya.
Naya juga menceritakan bahwa Rudian sudah meninggal setahun yang lalu, dan kini ia sudah menikah kembali. Orang yang pernah mereka lihat dulu, sedang bermain di pantai bersama anak-anaknya, adalah orang yang kini menjadi suaminya.
Semua yang diceritakan oleh Naya membuat Farah tercengang, Ia tidak percaya, bahkan ia menyesali mengapa ia berada jauh saat ini, sehingga tidak bisa melihat Naya berbahagia dengan Ares, suaminya. Ia ingin melihat dari dekat, orang yang sudah menjadi topik hangat pengunjung pantai, tentang kematian istrinya yang cukup tragis.
Farah juga takjub, bagaimana nasib mempermainkan seseorang sedemikian rupa, hingga semua terpaku dalam kemahakuasanya Allah dalam segalanya. Sampai pembicaraan mereka di telepon berakhir, Farah masih tetap berada dalam keheranannya, dan ia tidak henti-hentinya mengucap syukur atas kebahagiaan sahabatnya.
Ares duduk di halaman Villa yang langsung menghadap ke pantai, mengajak Naya duduk di sampingnya sambil menikmati es kelapa muda yang sudah ia pesan dari pengurus Villa.
"Apa saja yang kamu dengar tentang aku sebelumnya?" Ares membuka obrolan sambil merengkuh bahu Naya setelah ia selesai menelpon.
"Tentang kematian Nindy ... Tidak ada yang lain."
"Apa kata mereka tentang Nindy?"
"Sama seperti yang aku dengar dari Dinda."
Ares menghela nafas lalu meneguk air kelapa muda dari sedotan sampai habis.
"Pelan-pelan, minumnya." Naya berkata sambil mengusap-usap punggung Ares dengan lembut.
Ares bercerita lagi tentang kejadian yang menimpa dirinya waktu itu, secara langsung pada Naya. Dan betapa terkejutnya Naya bahwa Ares melihat sendiri bagaimana istrinya harus dioperasi saat ia pinsan atau dinyatakan koma oleh dokter. Pilihan yang sangat berat yang harus ia tentukan saat itu, seolah ia menentukan kematiannya sendiri. Kedua orang itu tentu sangat berharga baginya, tidak mungkin ia memilih dari salah satunya, bahkan ia sempat putus asa, ingin mati saat itu juga, dan dia sendirilah yang berada di meja operasi yang berlumuran darah menggantikan istrinya.
"Ah, aku merasa jadi pembunuh saat itu." Ares berkata diakhir ceritanya sambil memeluk Naya, dan wanita itu membalas pelukannya dengan hangat. Mereka memiliki kenangan dengan pasangan mereka yang hampir sama.
Hal yang cukup menorehkwn kesan manis adalah, ketika Naya menghadapi kematian Rudian, yang terlontar dari mulutnya, sebelum ia benar-benar tidak bisa bicara, adalah saat ia berkata, "maafkan aku."
Kata-kata itu hanya Rudian tujukan untuk Naya, seolah ia ingin menebus semua kesalahannya namun tak berdaya. Setiap kali ia berkata, maka ia seperti menahan sakit yang amat sangat hingga ia kembali pinsan, tak sadarkan diri karena otak sudah tidak bisa mentolerir rasa sakitnya.
Naya saat itu melihat sendiri bagaimana nasib membuat Rudian tersiksa dengan sakit yang diderita, bahkan mungkin lebih sakit dari derita yang sudah ia berikan kepada Naya.
Hal yang membuat Ares sedikit lega saat ia menghadapi kematian Nindy adalah, saat Nindy membuka sedikit kelopak matanya, menyunggingkan senyum tipis, lalu menggerakkan bibirnya seraya berkata, "terimakasih.'
Wanita itu seolah menyetujui keputusan Ares, yang memilih anaknya untuk tetap hidup, dia seperti memilih untuk bertukar nyawa demi anaknya.
"Aku bersyukur sekarang memilikimu, Nay."
"Tapi aku bukan dia ... Aku bukan Nindy, aku orang yang berbeda."
Bersambung
__ADS_1
*Episodenya sudah mau tamat, sedikit lagi yaa ... silahkan komen yang banyak, keluarkan semua uneg-unegmu di komentar, tunggu kelanjutannya besok, terimakasih atas dukungannya!*