
* jangan lupa like, rate dan vote. terimakasih atas dukungannya *
Naya mengabaikan suara panggilan diponselnya meski suara ponsel itu begitu nyaring berteriak berulang kali. Ia masih asik memeluk Yoni dan menenangkannya bahwa ia harus jadi anak baik dan menuruti papanya. Lalu ia mencoba memberi sebuah solusi untuk anak kecil itu.
"Yoni.. Jadilah anak baik dan sekarang turuti papa. Kapan-kapan Yoni boleh main lagi ke sini"
"Kata nenek, Yoni harus sekolah," sshut Yoni bicara tidak nyambung, tapi kalimat anak ini menunjukkan sebuah keinginan atau pesan yang sering ia dengar dari orang lain, hingga akan ia ingat.
"Iya, Yoni harus sekolah karena sudah besar. Sekarang ikut papa dulu." kata Ares. Ia melihat jam di tangannya waktu makan siang sudah hampir habis.
Naya tidak mau menawarkan diri lagi untuk mengasuh Yoni seperti yang dulu pernah ia lakukan. Karena ia ingin menghindarinya, menghindari bertemu kembali dengan Ares. Ia masih menjaga jarak agar tidak lagi banyak berinteraksi dengan apapun yang terhubung dengan Ares. Termasuk Yoni.
Ia juga tidak bisa mengasuh Yoni untuk saat ini karena ia sudah sering libur kerja. Ia khawatir kalau akan jadi masalah dengan sesama karyawan atau dengan bu Nha.
"Ini, coba hitung jarimu. Nanti hafalkan dengan papa di kantor, ya. Terus kalau nanti Yoni ketemu tante lagi, Yoni harus sudah bisa menghitungnya..." kata Naya sambi meraih tangan Yoni.
Sememtara itu suara ponsel masih terus berbunyi. Ia sibuk menghitung jari tangan Yoni satu persatu. Ini cara dasar mengenalkan matematika pada anak, menghitung jari tangan mereka satu persatu, atau menghitung anak tangga di dalam rumah, jumlah jendela atau apa saja disekitar anak-anak yang jumlahnya lebih dari satu.
Mendengar ucapan Naya, Ares menautkan alis, lalu memperhatikan apa yang dilakukan Naya agar ia bisa mengikutinya. Ia berpikir kalau hal ini akan sedikit merepotkan dirinya di kantor, tapi ia juga tidak ingin mengganggu Naya untuk mengasuh anaknya, kecuali atas kemauannya sendiri. Ya, kalau Naya menawarkan untuk bisa mengasuh Yoni maka ia akan dengan senang hati membiarkannya. Tapi ternyata Naya tidak menawarkan bantuan apapun, hingga ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa sudah sering merepotkan Naya.
"Angkat teleponmu. Siapa tahu telepon penting," kata Ares setelah Naya selesai menunjukkan bagaimana cara menghitung jari-jari tangan Yoni.
'Kenapa jadi dia yang penasaran si?'
"Gitu, Yoyo...bisa?" kata Naya pada Yoni, dangan mengabaikan Ares. Yoni mengangguk dan Naya tersenyum, sambil mengusap kepala Yoni, lalu mengambil ponselnya yang ia simpan di saku celemek restoran. Ia melihat pada layar ponselnya dan menautkan alisnya melihat nama orang yang menghubungianya.
"Ayah." gumam Naya. Membiarkan ponsel tetap menyala.
"Yoni, ayo pamit sama tante dan bilang terimakasih," kata Ares sambil menggamit tangan Yoni hendak melangkah. Mendengar ujaran Ares itu, Naya terlebih dahulu menyalami tangan Yoni dan sekaligus mengajarkannya mengucapkan salam.
"Dadaah...Yoni, hati-hati yaa..." kata Naya. Kata-kata Naya secara tidak langsung ditujukan untuk Ares. Kedua bapak dan anak itupun pergi dengan mobil mereka.
Naya segera menerima panggilan telepon yang sudah ia abaikan sejak tadi, dengan perasaan tidak enak.
"Maaf ayah, baru diangkat telponnya, ayah apa kabar?" kata Naya setelah mengucapkan salam.
"Ayah, baik. Semua yang disini juga baik. Kamu sibuk ya?" suara Budiman terdengar dari balik ponsel.
"Tidak. Hanya tadi aku masih bicara ssma orang lain."
"Ini, ada berita dari kampung ibumu. Ayah telpon mumpung ayah ingat, kamu masih ingat rumah kakekmu, di Kota Batu?"
"Ingat, dong, yah. Masa lupa, si? Ada apa dengan rumah kakek?"
"Rumah itu mau dijual."
"Terus?"
"Ibumu salah satu ahli warisnya, kalau kamu mau, kamu bisa menempatinya atau menjualnya," kata Budiman tenang, entah mengapa kabar ini seperti angin sejuk untuk Naya.
Ibu kandungnya hanya dua bersaudara keduanya sama-sama perempuan, selama ini rumah peninggalan kakek Naya ditempati oleh bibinya, dan kini rumah itu akan dijual, tentunya bila suatu saat rumah itu terjual, sedangkan ibunya sudah meninggal, maka ia akan mendapatkan bagian warisannya, termasuk kakak laki-lakinya yang di Pulau Borneo atau adiknya yang saat ini ikut dengan neneknya. Adik perempuan Naya ini ikut dengan nenek dari ayahnya, sejak ibunya meninggal.
"Kenapa akan dijual, yah?" tanya Naya.
"Bibimu kemarin telepon, katanya mau pindah ikut suaminya, jadi sekarang rumah itu kosong, jadi katanya kalau setuju, akan dijual saja. Bibimu hanya memberi ayah informasi seperti itu."
"Oh, begitu. Kapan bibi akan pindah, ayah?"
"Bulan depan. Bibimu itu bilang kalau mungkin diantara anak-anak ibu ada yang mau tinggal di sana. Kalau tidak ada, yang mau menempati maka akan dijual dan hasilnya mungkin akan dibagi dua."
__ADS_1
"Apa ayah mau aku pindah saja kesana?"
"Itu terserah kamu, soalnya dari pada kamu disitu, kerja cuma jadi pelayan. Ayah hanya ikut memikirkan masa depanmu. Biar kamu gak perlu ketemu lagi sama mantan suamimu."
"Kalau aku ke sana, apa itu akan menjamin masa depanku? belum tentu, ayah..."
"Rumah itu dikawasan strategis, kamu bisa memulai usahamu di sana."
"Usaha apa, itu juga butuh modal."
"Apa sajalah. Bibimu dulu menjual barang perabotan rumah tangga," Mendengar ucapan Budiman, Naya tersenyum.
"Baiklah ayah, aku akan memikirkannya." kata Naya.
"Siapa tahu kamu dapat jodoh lagi di sana."
Naya tertawa mendengar ayahnya bicara, sebab solusi yang Budiman berikan juga masih belum jelas. Tapi ini kabar ini membuka pikiran dan hati Naya tentang beberapa pilihan dalam hidupnya.
"Ayah, do'akan saja yang terbaik buat aku, ya?" kata Naya sebelum mengakhiri panggilan telepon.
'Apa yang harus aku lakukan, uang sewa rumah juga naik, tapi kalau pindah ke sana juga belum jelas. Mau cari kerjaan lain juga susah. Mau cari tempat kos lagi selain di sana, tidak ada lagi yang lebih murah'
Mungkin banyak manusia yang mengalami seperti yang Naya alami, hidup penuh dengan pilihan dan bukannya seperti itulah hidup, selalu dipenuhi dengan berbagai macam pilihan hingga kemudia hanya satu diantara pilihan itu yang akhirnya benar-benar menjadi sebuah takdir.
Baru saja Naya menutup ponselnya, ketika telepon genggam itu kembali menunjukkan notivikasi sebuah pesan masuk. Naya kemudian kembali membuka layar ponselnya dan melihat pesan yang masuk adalah dari Ares. Merasa tidak enak kalau ada sesuatu yang terjadi pada Yoni, ia segera membaca pesan itu dan ternyata isinya lebih tidak mengenakkan lagi.
"bilang sama temanmu itu, jangan sering-sering mengirimkan pesan aneh padaku. Katakan aku sedang sibuk, harus bekerja dan juga mengasuh anak, apalagi kalau pesan yang dikirim itu pesan yang tidak ada gunanya"
Naya mengerutkan alisnya dan berpikir sejenak kemudian dia mengirim sebuah balasan pada pesan Ares,
"maksud Bapak teman saya yang mana?"
"temanmu yang satu pekerjaan denganmu"
'Oh, itu Nia. Kenapa gak langsung bilang saja sama orangnya?'
Naya terdiam sejenak, ia tidak membalas pesan Ares lagi dan menutup ponselnya.
'Ya Allah aku ini sudah malu bertemu dengan Pak Ares karena banyaknya masalah yang dia ketahui tentang aku, sekarang ditambah lagi dengan masalah Nia, anak itu bikin aku tambah malu saja. Memangnya apa yang dia bilang si?'
Naya segera menghampiri Nia yang tampak sedang duduk bersantai di dapur Naya duduk di sampingnya dan berkata,
"Ayo, kamu lagi chatting sama siapa? apa sama Pak Ares ya?" memancing Nia agar mau berbicara jujur.
"kok kamu tahu sih?" kata Niia, kemudian ia menunjukkan semua pesan yang ia kirimkan pada Ares.
Naya membelalakkan matanya, semua pesan yang dikirim oleh Nia tidak ada satupun yang dibalas oleh Ares walaupun pria itu membacanya. Menurut Naya pesan-pesan itu terlalu berlebihan seperti mengatakan, apa tadi makanannya enak? itu aku yang memasaknya, kemudian isi pesan itu menanyakan tentang beberapa hal yang tidak ada hubungannya dengan mereka berdua menurut naiknya ya ini sangat menggelikan.
Kemudian Naya berkata pada Nia,
"Nia, kamu tidak pantas mengirimkan pesan-pesan seperti itu karena Pak ares adalah laki-laki dewasa yang sudah memiliki anak remaja, bukan lagi anak baru gede yang baru lulus sekolah, yang harus ngomong soal pelajaran yang dia suka. Itu gak penting."
Nia terlihat diam seperti berpikir membenarkan ucapan Naya dan ia buru-buru mengirim pesan kembali untuk meminta maaf karena sudah mengganggunya.
Kemudian Naya berkata, "Nah begitu dong. Kalau pesan yang seperti tadi, mengganggu orang, kan dia sibuk. Apalagi dia harus ngasuh anak sambil bekerja. Nanti kalau kamu ganggu dia justru gak suka sama kamu."
"Nay, kenapa dia suka bawa anaknya, memangnya dia nggak punya babysitter ya?" tanya Nia
Kemudian Naya menjawab, " anaknya tidak bisa dengan sembarang orang karena punya phobia dan dia hanya bisa dengan orang-orang tertentu saja."
__ADS_1
" Termasuk kamu, kok kamu bisa dekat sama anak itu kalau dia punya phobia?" Nia penasaran.
Naya menjawab, "aku juga tidak tahu," sambil mengendikkan bahu.
-
Waktu berganti silih berganti, ia tidak pernah menunggu, apalagi matahari, ia tak pernah berhenti untuk terbit menyorotkan cahayanya sambil berputar. Pagi itu Naya baru selesai membersihkan diri dan ia hendak bersiap pergi ke restoran.
Lusa waktunya membayar uang sewa, tanpa terasa Naya sudah satu bulan berada di tempat itu. Semalam Naya sudah menghitung, berapa jumlah uang yang ia perlukan untuk membiayai hidupnya selama satu bulan, apabila ia tetap bertahan dengan kondisinya yang sekarang dan pekerjaannya sebagai pelayan.
Naya menghitung bahwa dengan jumlah uang sewa yang harus ia bayar untuk saat ini, ditambah dengan uang tabungannya yang ia miliki, maka ia hanya bisa bertahan selama dua atau tiga bulan saja. Selanjutnya maka ia harus sangat berhemat dan mungkin harus lebih banyak berpuasa untuk mengurangi pengeluarannya.
Hari ini adalah waktu gajian hingga ia berangkat bekerja ke restoran dengan lebih semangat.
Tetapi ketika ia baru sampai di luar dan baru selesai mengunci pintunya ia melihat ibu kosnya berlari kearah tempat kosnya dan Kemudian beberapa orang mengejarnya ibu kos menangis, berlutut dan memohon agar eksekusi tanah yang akan segera dilaksanakan agar bisa ditunda. Naya bertanya,
"Ada apa ini bu?!" dan bukan hanya Naya saja yang penasaran dengan apa yang dilihatnya, semua orang yang menempati tempat kos itu berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Beberapa orang yang berpakaian preman dan juga beberapa polisi ada di tempat itu dan menjelaskan bahwa tanah tempat kos mereka berada adalah sebenarnya tanah sengketa dan saat ini tanah sengketa itu masih dalam masa pengadilan. Siapa yang berhak untuk memiliki tanah itu, belum dioaatikan.
Hall seperti ini memang sering terjadi di kalangan masyarakat. Dimana mereka tidak memiliki kejelasan atau surat tanah yang benar. Walaupun tanah yang mereka tempati selama ini, sudah mereka miliki selama sekian tahun lamanya. Demikian juga yang terjadi dengan tempat kost yang Naya tempati sekarang. Siapa yang menyangka kalau ternyata tanah yang sudah dimiliki dalam waktu yang cukup lama dan berdiri sebuah bangunan diatasnya, ternyata adalah tanah sengketa.
Kemudian polisi Itu menjelaskan bahwa semua yang ada di sana harus meninggalkan tempat itu karena masih dalam masa persidangan. Seperti itu peraturannya, apabila tanah dalam keadaan sengketa, maka harus ditinggalkan sampai menunggu kejelasan keputusan pengadilan, hingga jelas siapa yang berhak atas tanah tersebut.
Satu hal yang tidak disangka bukan? Naya berpikir sejenak, apabila dia harus pindah, maka dia harus pindah ke mana? semua orang yang ada di tempat itu mempunyai pikiran yang sama. Polisi itu memberi waktu selama kurang dari satu pekan untuk mereka membereskan barang-barang mereka. Lalu meninggalkan tempat itu. Apabila keputusan pengadilan sudah final siapa yang menjadi pemiliknya, maka tempat itu boleh mereka tempati kembali dan membayar uang sewa pada orang yang berhak.
Naya mengambil sejumlah uang simpanannya. Beberapa lembar uang ratusan ribu itu, ia serahkan kepada ibu kos yang masih menangis di hadapan semua orang. Naya menggamit tangan Ibu kos dan kemudian membawanya di depan kamar kosnya sambil berkata,
"Bu, saya bertransaksi menyewa tempat ini dengan Ibu, jadi saya memberikan uang ini pada ibu. Kebetulan saya sudah cukup selama satu bulan tinggal di sini. Saya ucapkan terima kasih dan mungkin besok saya akan pergi."
Ibu kos itu menghentikan tangisannya, ia menerima uang dari Naya dengan senang hati, ia tersenyum sambil bersyukur.
Setelah mengucapkan terima kasih, Naya kemudian pergi untuk bekerja. Beberapa orang di sana mengeluhkan banyak hal, karena mereka sudah cukup lama tinggal di sana dan menjadi akrab dengan tempat itu, apalagi mereka mempunyai banyak barang yang harus mereka bereskn. Naya hanya membawa pakaian dan peralatan pribadinya. Sedangkan tempat tidur meja dan nakas memang sudah tersedia di tempat itu. Jadi Naya tidak perlu pusing memikirkan dan membereskan semua barang-barangnya.
Dengan langkah gontai Naya akhirnya tiba di restoran. Begitu bertemu dengan Nia, ia mengabarkan apa yang dialaminya kepada Nia, karena Nialah yang sudah membawanya ke tempat itu.
"Benarkah?" Nia terkejut, sampai membuka mulutnya.
"benar, kalo gak percaya tanya saja sama orang-orang di sana?" jawab Naya.
"Lalu kamu sama suamimu mau tinggal di mana?" tanya Nia.
"Belum tau. Biar nanti suamiku saja yang cari tempat lain lagi," jawab Naya sambil membersihkan meja restoran.
"Gimana kalo tinggal di rumahku. Ada kamar kosong bekas kamar kakakku yang sudah nikah ssbulan yang lalu, gimana?"
"Gimana soal bayar sewanya?"
"Nanti, aku bilang dulu sama ibuku, boleh apa gak. Kamu bisa bayar harga yang sama dengan harga sewa kamar kos-mu yang sekarang." kata Nia tulus. ia teman yang baik.
"Wah, itu bagus," Naya terlihat senang tapi ia kembali berpikir, seandainya keluarga Nia akhirnya tahu dirinya adalah seorang janda, apa yang akan terjadi?
"Apa di rumahmu ada laki-laki lain selain ayahmu?"
"Ada, kakak dan adik laki-lakiku." tandas Nia.
"Oh. Mungkin tidak. Terimakasih atas kebaikanmu. Mungkin aku akan pergi ke kampung halamanku yang dulu, atau..." Naya ragu.
"Atau apa? kalau kamu pergi dari sini artinya kamu nggak kerja lagi di sini?"
__ADS_1