Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 52. Bimbang


__ADS_3

Sella duduk dihadapan Sarita setelah menyalami dan mencium tangannya. Ibu mertuanya itu tampak mengerutkan alis demi menatap Naya yang terlihat tidak bersemangat. Selain karena lelah setelah bekerja, Naya juga lelah mengatasi kebimbangan hatinya.


Kini ibu dari Rudian yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, duduk dihadapannya. Menatap menantunya sambil berkata,


"Ada urusan apa kamu kemari, Nay. Tumben."


"Apa saya harus ada urusan baru boleh mengunjungi ibu?" tanya Naya sambil mengedarkan pandangan matanya keseluruh ruangan, lalu bertanya,


"Kok sepi, bu. Kak Sania mana?"


"Pergi ke undangan bu ustadz, anaknya disunat," jawab Sarita.


"Oh. Tapi ibu baik-baik saja, kan. Kok ibu gak ke sana?"


"Malas kalo cuma sunatan. Terus kalau ibu ke sana juga gak bisa ketemu kamu sekarang," kata Sarita sambil membuka layar ponselnya. Lalu bertanya lagi, "Kamu sendirian, Nay?"


'Sudah tau, tanya'


"Iya, bu. Biasa, Kanda sekarang pulang pergi sama Yola. Mau si, ngantar saya tapi jarang sekarang. Jadi saya sering naik ojek. Kesini juga naik taxi online," jawab Naya, mengadu pada ibunya.


"Ya, kamu yang sabar saja. Namanya juga suamimu bukan cuma ngurusin kamu. Apalagi Yola hamil."


"Saya juga punya hak yang sama, bu. Harusnya kanda mau gantian dong. Jadi Naya juga minta ibu bisa nasehati kanda, kan dia anak ibu."


"Dari awal kamu sudah mau menerima kan? pastinya kamu sudah siap dengan segala resikonya." kata Sarita sambil menyimpan ponselnya di meja. Lalu melipat tangan didepan dada.


'Ya kan sudah kejadian duluan, taunya juga'


"Ibu. Sama saja. Kanda juga harus siap menerima kalau istrinya cemburu atau marah, soal nafkah, harus adilkan, bu. Jangan terus menerus menuntut saya mengerti."


Mendengar ucapan Naya, Sarita membuang pandangan sambil tersenyum. Lalu berkata,


"Kamu, Nay. Kan punya penghasilan sendiri, kenapa bingung soal nafkah..? kalau kamu sabar, pahalanya bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri. Apalagi kita sebagai muslim, berbuat baik itu ibadah. Apalagi berbuat baik pada orang yang terdekat."


'Ibu saja punya pendapat seperti ini, bagaimana bisa mendukungku dan mempertahankan aku?'


"Bu, bukannya saya gak butuh pahala, gak mau ibadah atau gak mau berbuat baik. Tapi sebagai suami yang melakukan poligami harus bisa adil," kata Naya dengan menahan geram dibenaknya.


"Ah, ibu gak percaya kalau Rudian sudah gak adil sama kamu, Nay. Terus soal nafkah, Rudian juga bilang sama ibu kalau bulan ini dia ngurangi jatah ibu, katanya buat kamu," kata Sarita agak kesal, sebab menurutnya penghasialan dari anaknya menjadi berkurang karena Naya.


Saat gajian kemarin, memang Naya menerima uang bulanan yang dijanjikan Rudian untuk menambah uang belanja kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya Naya merasa lebih baik ia tidak menerima uang itu karena dengan ia menerimanya, berarti ia harus mau bertanggung jawab penuh soal kebutuhan rumah tangga termasuk makanan untuk Yola. Tapi disisi lain, Naya bisa menghemat sedikit uang gajinya dan bisa ia tabung untuk keperluan dirinya sendiri.


Naya memilih untuk melihat, sampai dimana batas kekuatannya untuk bersabar, menghadapi suami dan madunya. Selama ini ia masih bisa menanggunggkan semua hal yang menyakitkan karena ia masih kuat. Ia masih bisa mentolerir sikap suaminya.


Jadi, sekarang Naya mengelola uang ratusan ribu dari suaminya itu untuk keperluan yang bisa ia beli secara bulanan. Jadi ia membelanjakannya sekaligus agar hatinya tenang. Naya mengisi token listrik dan membayar tagihan air bersih untuk satu bulan, beras, minyak, sabun dan kebutuhan lainnya.


'Mana saya tau uang itu dari mengurangi jatah ibu'


"Ibu, saya mau tanya soal janji saya dua bulan yang lalu saat Yola ibu resmikan menjadi menantu, apa ibu ingat?"


"Tentu saja, ibu ingat. Kamu gak hamil, kan. kamu sudah haid lagi. Iya kan?" tanya Sarita sambil tertawa kecil.


'Tebakan ibu benar banget. Ahk, seharusnya aku gak perlu ke sini, astagfirullah'


"Hei, Naya. Harusnya kamu tahu diri, gak usah pake janji. Kalau mau pergi ya pergi," kata Sarita lagi, seraya melambaikan tangan di hadapan Naya. Lalu ia kembali berkata,

__ADS_1


"Rudian itu, gak salah pilih istri kedua kok. Cantik, baik, gak mandul. Yola juga kerja, jadi dia banyak kelebihannya dari pada kamu." Sarita masih saja berceloteh, Naya tidak mungkin menghentikan omongan ibu mertuanya karena itu tidak sopan.


'Astagfirullah, aku tau diri, bu. Gak usah bilang yang ngakitin juga aku sadar ko. Memang Kanda mencari istri yang membuatku seolah tak punya hak untuk cemburu' batin Naya menahan tangis.


Naya tak menyangka Sarita tega berkata seperti itu. Kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut seorang wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya.


"Terus kamu ke sini mau pamit, gitu?" tanya Sarita mengakhiri omelannya.


'Sebenarnya saya mau meminta ibu agar mau melupakan semua ucapan saya, anggap saja saya gak pernah bilang seperti itu. Saya masih cinta sama kanda, masih mau bersamanya, saya ingin dipertahankan sebagai istrinya. Saya istrinya yang sah'


"Bu, istri kanda yang sah itu saya. Seharusnya saya dipertahankan dan diperlakukan dengan baik. Saya sudah banyak membantu kanda sebagai istrinya. Tapi ternyata ibu tidak menyayangi saya hanya karena saya belum bisa hamil, seolah kekurangan itu adalah kesalahan saya. Saya gak pernah minta ditakdirkan jadi wanita mandul, gak peenah... Semua kehendak Allah, bu."


Mendengar ucapan Naya, Sarita terdiam lalu, mengambil ponselnya yang bergetar tanda ada pesan masuk. Ia melihat ke layar ponsel sambil bertanya,


"Ibu gak nyalahin takdir kamu, tapi apa sebutan orang yang gak bisa punya anak kalau bukan mandul? Aku benar, kan?"


Naya menarik nafas dalam ketika terdengar suara motor berhenti di halaman rumah Sarita, bersama sebuah teriakan keras dari suara seorang laki-laki memanggil nama Yola.


"Yola! Yola!"


"Pergi! Yola gak mau!"


"Yola!!!"


Naya beranjak dari kursinya dan melangkah keluar dengan rasa penasaran, begitu juga dengan Sarita.


Seorang pria botak bertubuh gempal sedang duduk di atas motornya, menghadang motor yang ditumpangi oleh Rudian dan Yola. Ia berusaha memegang tangan Yola tapi Rudian menghalanginya.


'Kebetulan apalagi ini. Tenang Naya, semua akan baik-baik saja'


Pertengkaran itu memancing perhatian warga sekitar yang nampak keluar dari dalam rumah mereka. Bahkan ada beberapa pengendara motor yang menghentikan laju kendaraan mereka untuk melihat kejadian ini.


Rudian turun, begitu pula dengan Yola yang berdiri dibelakang Rudian mencarai perlindungan.


"Apa maksudmu, dia belum selesai masa iddah?!" tanya Rudian ketus. Ia menatap pria botak di depannya dengan kesal, jari-jari tangannya terkepal.


"Iya. Dia baru bercerai belum tiga bulan. Dasar laki-laki genit, goda istri orang!!" jawab laki-laki itu.


"Genit, kamu bilang!" kata Rudian lalu,


Bukk! Satu pukulan mendarat diwajah laki-laki itu dari tangan Rudian. Laki-laki itu yerlihat badannya miring sedikit karena menahan tinju dari Rudian.


"Abang! Sudah! Jangan berantem di sini. Malu!!" pekik Yola berusaha menahan tubuh Rudian dari belakang.


"Kurang ajar kamu, ya!" teriak laki-laki itu kemudian,


Bukk!


Bogem mentah mendarat, ia membalas pukulan Rudian. Seketika Rudian tersungkur karena posisi yang tidak siap. Tapi dengan cepat ia berdiri lalu,


Syuut. Dukk! Sebuah tendangan mengenai perut Rudian. Tapi Rudian membalas dengan tinju yang ia layangkan kearah perut pria botak. Pria itu menangkisnya lalu membalas dengan satu pukulan di dada Rudian. Mereka berkelahi. Saling memukul.


"Cukuup!!" teriak Naya dan Sarita akhirnya keluar rumah dan berusaha melerai mereka. Semua orang yang ada menoleh ke arah dua wanita.


"Naya?" kata Rudian dan Yola bersamaan. Mereka terkejut.

__ADS_1


Mereka berdua tidak menyangka akan bertemu Naya, di rumah ibunya karena ini hal yang sangat memalukan bagi Rudian dan Yola. Mereka secara tak sengaja bertemu dan mantan suami Yola yang mengaku sudah berubah dari sikap kasar dan menginginkan Yola kembali karena ia masih mencintainya. Laki-laki itu berjanji akan membahagiakan Yola. Tapi Yola menolak dan ternyata pria itu mengejar mereka.


Rudian sada tidak mudah bisa menghindar dari kejaran laki-laki itu. Rudian memilih untuk pergi melarikan motor kearah rumah ibunya, karena takut Naya tau dan akan menjadi masalah tambahan baginya. Tapi justru mereka bertemu dengan Naya ketika sampai di rumah Sarita.


Kadang sering seperti itu kan? Ketika seseorang berusaha menghindari sesuatu, tapi justru ia bertemu dengan sesuatu yang sudah dihindari. Inilah mungkin yang dimakaud dengan sekeras apapun usaha seseorang agar bisa menghalangi kemudhorotan, ia tidak akan mampu kecuali Allah menghendaki.


"Hentikan!" kata Naya sambil menarik tubuh pria itu dari tubuh suaminya.


Naya mendorong laki-laki itu dengan kuat, tenaganya cukup besar karena dipenuhi amarah. Marah karena ia melihat suaminya dipukuli hanya karena membela perempuan seperti Yola. Dan yang lebih membuat Naya marah adalah bahwa ia mendengar kalau Yola berhubungan dengan suaminya saat masa iddahnya belum selesai. Apa ini. Bukankah ini dosa yang lebih besar lagi?


Beban perasaan menghadapi ucapan mertuanya belum teratasi, sekarang harus melihat hal memalukan seperti ini. Membuat Naya tidak lagi bisa menahan air matanya. Ia menangis, mengeluarkannya dihadapan semua orang. Ia sudah tidak perduli dikatakan lemah, karena selama ini ia tak ingin Yola melihat dirinya meneteskan air mata.


Kedua laki-laki itu sudah berdiri tegak kembali walau masih saling berhadapan dengan tatapan penuh kebencian.


"Apalagi sekarang, Kanda? Apa!" kata Naya. "Benarkah saat itu Yola belum resmi bercerai?"


"Yola! Aku mohon, sayang. Aku sayang, aku cinta sama kamu..." kata pria itu kini ia bisa memegang tangan Yola tapi wanita itu menepisnya.


Rudian bingung, ia melihat antara Naya yang menangis atau Yola yang sedang dirayu mantan suaminya.


"Naya, kamu jangan memperkeruh keadaan! Sini kamu!" kata Sarita menarik tubuh Naya yang terguncang karena tangisan.


Naya mengelak dari tarikan tangan Sarita, sehingga ia hanya mundur beberapa langkah saja dari suaminya. Lalu berdiri menatap ketiga orang yang sedang berseteru didepannya. Dan Akhirnya semua membiarkan kedua suami istri itu menyelesaikan masalah mereka.


"Gak, mau! Aku mending sama bang Rudi. Bang Rudi punya rumah. Lebih ganteng dari kamu!"


"Aku sekarang mau beli rumah juga, Yol!! Aku kerja sekarang! Aku sudah ngari kamu kemana-mana, Yola. Aku maaih cinta sama kamu." kata pria itu masih berusaha memegang tangan Yola.


"Tapi aku hamil, aku sudah hamil anak bang Rudi!"


"Apa kamu yakin anak itu anak laki-laki ini? Kita pisah waktu itu kamu belum sampai tiga bulan, Yola!"


"Tidak. Tidak salah, kamu salah perhitungan saja!" jawab Yola sambil memeluk lengan Rudian.


Tak tahan mendengar kata-kata pria itu, Naya berjalan mendekati Rudian. Ia menatap suaminya dengan berurai air mata.


"Kanda! Apa kanda gak tanya soal status Yola waktu itu?" kata Naya. Rudian hanya diam, ia memang tidak menanyakan status Yola, sebab ia berfikir kalau Yola masih gadis hingga hubungan itu terjadi.


"Siapa, kamu! jangan ikut campur urusanku. Laki-laki ini sudah merebut istriku, tau!"


"Aku istri sahnya!" jawab Naya ketus. Mendengar ucapan Naya, laki-laki botak itu tertawa keras.


"Yola. Bahkan kamu dijadikan simpanan, ha?! Kau lebih baik kembali sama aku. Kalau kamu sama aku, aku akan menjadikan kamu wanitaku satu-satunya. Tau kau, Yola. Aku memang suka kasar, gak punya banyak uang, tapi aku gak pernah berpikir untuk cari wanita lain selain kamu!"


"Cukup! Hidup gak cuma butuh cinta!" jawab Yola ketus.


"Kamu pasti menyesal, Yola! Lihat, motorku baru. Sekarang aku punya kerjaan bagus. Aku suka kasar karena aku stress, gak punya kerjaan. Lihat aku sekarang, aku mau nyicil beli rumah juga!"


"Tapi aku sudah cinta sama bang Rudi!'


"Wanita itu lebih baik hidup sama laki-laki yang mencintainya dari pada cuma dijadikan simpanan, mau sampai kapan kamu dijadikan simpanannya, ha?!"


"Aku bukan istri simpanan. Bang Rudi menikahiku secara sah."


"Kau pikir itu sah, padahal kau masih jadi istriku? Aku juga nikah sama kamu sah, secara hukum, secara agama. Apalagi yang kurang?" kata mantan suami Yola dengan pongah.

__ADS_1


"Benarkah kamu mau beli rumah juga?"


__ADS_2