Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 14. Sikap Yang Tak Pantas


__ADS_3

Air mata Naya sudah menggenang dipelupuknya, sudah siap untuk tumpah saat itu juga. Ia menengadah kelangit mencegahnya jatuh. Memalukan kalau ia sampai menangis ditempat umum seperti itu. Dan yang paling penting ia tak mau terlihat lemah.


"Katakan, kanda. Siapa wanita itu?"


"Ah, dia temanku. Ayo aku kenalkan padamu, asal kamu tenang, ya?"


"Teman? Tapi sikapnya semesra itu...peluk-peluk tangan kanda."


"Ah, cuma pegang saja. Bukan peluk"


"Tapi yang aku lihat tadi tidak begitu. Sikap Yang kurang pantas untuk ukuran hanya teman"


Rudian kembali mendesah kesal, menguar rambutnya sambil mengalihkan pandangan mencoba mengatasi emosinya. Ia tak menyangka akan terpergok Naya ditempat seperti ini.


Jujur ia serba salah. Beberapa waktu yang lalu ia memang menolak untuk menikah lagi dengan wanita pilihan ibunya, sebab sebenarnya ia sudah mencintai wanita lain pilihannya sendiri. Rudian tidak ingin Naya mengetahuinya. Karena takut kalau Naya memutuskan untuk bercerai darinya kelak.


Semua laki-laki egois, faktanya begitu. Ia menginginkan wanita selalu mengerti dirinya tapi ia sendiri sulit mengerti wanita. Sudah tak heran lagi bila poligami atau harm yang dilakukan para pria terjadi, dimana ia akan selalu menuntut untuk dimengerti.


"Rud..!" terdengar suara seorang wanita memanggil nama Rudian dari pintu minimarket sambil membawa sebuah kantong plastik yang cukup besar.


Rudian menoleh padanya lalu menoleh pada Naya lagi. Naya juga menatap wanita itu dengan raut wajah sendu. Gemuruh yang belum sirna itu kembali menghentak didadanya.


Wanita itu cukup seksi dan cantik. Mungkin lebih cantik dari Naya. Saat itu juga Naya merasa hancur. Bahkan suaminya mencari teman wanita yang seperti itu modelnya. Sangat jauh berbeda dengan dirinya.


"Aku sudah selesai. Aku pergi dulu ya" kata wanita itu sambil berlalu.


"Yola, tunggu!" kata Rudian beranjak menghampiri wanita itu dan menggandeng tangannya mendekati Naya.

__ADS_1


'Oh, jadi namanya Yola' Naya.


"Kenalkan ini Naya, istriku" kata Rudian setelah berada dihadapan Naya. Kedua wanita itu saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


Tanpa di sadari Rudian masih memgang tangan Yola, dan Naya semakin sakit melihatnya. Naya mendekat, lalu melepaskan genggaman tangan Rudian dari wanita itu secara paksa.


"Eh, maaf" kata Rudian malu. Wajahnya jadi merona merah saat itu.


"Kalian hanya teman, kan? Jadi tidak usah pegang tangan. Bukan muhrim." kata Naya.


Tak disangka wanita itu terlihat kesal dan mendengus kasar, memalingkan pandangan kearah lain menyembunyikan ekspresi kecewa diwajahnya.


"Kamu mau naik apa, ojek, atau taksi?" tanya Rudian lembut.


Deg. Jantung Naya berdegup lebih kuat. Nada bicara seperti itu sudah lama hilang dari kebiasaan Rudian. Ini tidak mungkin kalau hanya teman. Apakah kalau tidak ada dirinya Rudian akan mengantarkannya pulang?


Rudian terlihat bimbang. Lalu ia menatap Naya lekat mencari kepastian diwajahnya, berharap ia tidak marah kalau sampai di rumah nanti.


"Apa kamu tidak apa-apa kalau aku mengantarnya pulang? Rumahnya jauh dari sini. Tadi hanya kebetulan saja bertemu disini. Dia mau belanja, jadi aku temani"


Mendengar perkataan Rudian itu kenapa hati Naya tidak percaya. Ia berjalan menjauhi Rudian dan wanita itu, mencoba menebak siapa yang akan suaminya pilih, dirinya atau Yola. Ia mengurungkan niat membeli beberapa barang kebutuhannya. Pulang.


'Aku juga tadi jalan kaki kesini. Sekarang pulang sendiri juga tak masalah'


"Nay, ayo naik!" kata Rudian dari atas motornya berhenti tepat disamping Naya, setelah ia berjalan beberapa langkah. Naya bersyukur suaminya masih mementingkan istrinya.


"Tadi mau belanja ya, kenapa pulang?" kata Rudian setelah Naya naik di atas jok motornya.

__ADS_1


"Besok saja. Sekarang aku lapar. Kanda sudah makan?"


"Eh, sudah. Ya nanti aku temani makan"


'Paati makan sama wanita itu, kan?'


Mereka berhenti di depan rumah, Rudian memasukkan motornya ke dalam, Naya mengikuti dan mengunci pintunya.


Kini mereka makan bersama di ruang serba guna yang biasa mereka gunakan untuk makan dan juga menerima tamu. Tidak ada obrolan apapun diantara mereka. Naya pun terlihat malas berbicara. Walau banyak pertanyaan memenuhi benaknya, tapi ia memilih diam. Sebenarnya diam itu bukan emas, kalau bagi wanita atau ibu rumah tangga yang menghadapi masalah seperti Naya, diam itu kalau sudah marah betul.


Berbicara pada Rudian percuma kalau hanya kebohongan yang akan ia dapat. Benarlah adanya bahwa kejujuran adalah pokok dari ketinggian ilmu seseorang. Sebab jujur itu sulit. Hanya malam yang jujur dengan kegelapannya, kalaulah kegelapannya sedikit berkurang itu karena bulan dan lampu yang memantulkan cahaya. Dan matahari yang jujur memancarkan sinarnya, kalau lah sinar cahayanya redup itu karena awan yang menghalanginya.


"Maaf, tadi sudah membuatmu menunggu" kata Rudian memecah keheningan. Ia sudah selesai makan, hanya sedikit nasi yang ia makan, ia sudah kenyang.


"Iya. Kalau kanda tidak bilang mau makan malam, aku sudah makan dari tadi"


Rudian mengusap kepala Naya yang sudah tidak diselimuti jilbab. Ia mendekat, duduk di samping Naya, lalu memeluknya erat, mencium bibir dan seluruh wajahnya dengan lembut.


'Apa ia memohon pengampunan kali ini. Aku tidak berselera karena kejadian tadi. Kalau cuma teman kenapa harus pegang tangan, kalau cuma teman, kenapa harus bicara selembut itu, bahkan memperhatikan dia akan pulang naik apa, rumahnya jauh. Ck! perhatian sekali. Lalu padaku?' Naya.


Malam itu berakhir indah diatas ranjang. Walau enggan tapi Naya tetap melayani Rudian dengan baik, itu adalah kewajiban, bahkan untuk itulah mengapa seorang istri harus dinafkahi oleh suaminya.


Kepada seorang wanita tuna susila saja para lelaki hidung belang harus membayar sejumlah harga. Apalagi pada istri mereka di rumah, bahkan para suami itu seharusnya membayar atau menafkahi istri mereka lebih mahal, karena seorang istri dirumah hanya mempersembahkan kehormatan mereka hanya untuk suami mereka sendiri, mereka menjaga kesucian diri mereka hanya untuk suaminya sendiri, tidak dibagi-bagi dengan lelaki lain.


Naya memikirkan hal ini karena ia masih teringat kejadian sebelumnya. Ia mendesah sambil menatap wajah Rudian yang terlelap disampingnya.


Banyak para suami yang salah kaprah dalam memaknai nafkah bagi istrinya sebab mereka merasa sudah jadi istrinya maka mereka bisa bersetubuh dengan gratis kapan saja. Padahal karena itulah harus ada nafkah yang seharusnya didapatkan oleh para istri, diluar uang belanja sehari-hari dan bila pertama kali menikah harus ada yang disebut mahar.

__ADS_1


Naya membersihkan diri sebelum suaminya bangun, waktu subuh sebentar lagi akan segera datang. Ia merebus air hangat untuk suaminya mandi. Ia tetap melakukan tugasnya sebagai iatri dengan baik, ia sadar ia harus melakukan semua dengan ikhlas.


__ADS_2