
Sementara menunggu orang yang akan melakukan pembayaran rumah yang sudah disepakati, Naya duduk bersama dengan Budiman dan Nuriya yang sibuk dengan buah hatinya. Mereka bercengkrama sambil menikmati makanan yang disediakan Sarita.
Seluruh keluarga berkumpul, di ruang tamu. Bastian dan Sania, kakak Rudian itu sudah datang, mereka juga ingin bertemu kembali dengan Naya, orang yang sudah berjasa merawat adiknya hingga tutup usia.
Naya melihat Yola mengasuh anak lelaki bertubuh kecil, yang wajahnya mirip dengan Rudian. Naya sudah tidak memiliki perasaan apapun ketika melihat anak manis yang sejak datang, ia selalu dalam pangkuan Yola. Anak itu tampak tidak bisa bergaul dengan banyak orang, karena jarang berinteraksi dengan anak seusianya.
Yola tidak punya banyak waktu untuk sekedar mengajaknya bermain, karena ia sibuk bekerja. Ia dirawat oleh Sarita begitu Yola selesai menjalani cuti hamil. Tapi, belum lama ia mulai bekerja, Yola harus mengalami nasib buruk karena ia terkena pemutusan hubungan kerja. Ia harus pontang-panting mencari pekerjaan lain, bahkan pernah menjadi buruh cuci piring di restoran.
Entahlah, apa yang dialami Yola, disebut karma atau bukan. Yang jelas, ia sangat kesusahan.
Selama ia belum mendapatkan pekerjaan, Yola terus berhemat dan tidak bisa mengandalkan Sarita, karena setelah ia mengalami pemutusan kerja, Sarita menderita sakit parah. Adik laki-lakinya, Dero, tidak bisa ia andalkan. Kehidupan yang semula ia anggap akan mudah, karena ada Sarita yang mengasuh dan membiayai hidup cucunya, tetapi kenyataannya tidaklah demikian.
Kejadian demi kejadian yang dirasakan Yola sebagai ujian pun datang terus menerus. Hingga ia kemudian sadar, bahwa yang ia alami itu, adalah cara Allah mengingatkannya tentang dosa, menginginkan tentang perbuatannya pada orang lain dimasa lalu, yang sangat memalukan. Hingga akhirnya, Yola menerima semua cobaan hidup yang pahit itu, dan yang ia harapkan hanyalah, kesabarannya akan jadi jalan sebagai penebus dosa-dosanya.
"Aku inget kamu terus, Nay. Kamu bisa sabar waktu itu. Apa yang kamu lakukan dulu, aku jadikan pelajaran juga contoh, biar aku bisa sabar menjalani ujian hidup, setelah Rudian pergi." Itulah yang dikatakan Yola, di akhir ceritanya.
Ya itulah keihklasan, dalam agama itu harus. Seorang muslim bukanlah orang, yang menganggap keikhlasan hanyalah sebuah kebohongan karena yang ada adalah keterpaksaan hingga lama kelamaan terbiasa, tidak.
Setelah menunggu beberapa lamanya, akhirnya pembayaran rumah yang mereka jual pun selesai. Semua merasa lega. Naya mengeluarkan zakatnya dari rezeki yang ia dapatkan sesuai ketentuan dan juga memberikan hak pada Sarita juga Bastian sebagai keluarga dari Rudian. Setelah itu barulah sisanya dibagi dengan Yola juga anaknya.
Tapi pada saat Naya memberikan sejumlah uang yang menjadi hak Sarita, wanita itu menolak secara halus, bahkan dengan beruarai airmata.
Ia berkata, "Naya, apa yang kamu berikan buat ibu, ini ... Ibu terima."
Sarita menggenggam tangan Naya dan memberikan uang itu kedalam tangannya.
"Tapi, ibu berikan lagi buat kamu, sebagai ucapan maaf dan terimakasih, atas semua yang sudah kamu lakukan buat kami, dulu. Ibu tidak bisa memberimu apa-apa sebagai hadiah pernikahanmu, Alhamdulillah, kamu sudah menemukan pria yang lebih baik. Jadi terimalah."
"Ibu..."
Merekapun berpelukan dengan erat penuh rasa syukur, dan melepaskan semua beban untuk saling mengikhlaskan.
Yola mengantarkan kelompok kecil keluarga Budiman ke terminal bis, menuju rumah Budiman di pinggiran kota. Mereka juga saling memeluk, dan memaafkan sebelum berpisah. Rasa terima kasih yang tulus mereka ucapkan.
Keduanya sama-sama mendapatkan pelajaran, dari semua yang sudah mereka lalui di masa lalu, tentu saja kini mereka bisa lebih menghargai satu sama lain, bahkan saling mendo'akan.
Sungguh perbedaan antara bahagia, senang, susah dan sakit, atau benci dan sedih, sangatlah tipis. Pada kenyataannya semua akan memudar seiring waktu yang berjalan. Lalu apa gunanya untuk terus menerus membenci kalau pada akhirnya setiap manusia hanya ingin hidupnya bahagia?
Budiman, Naya dan Nuriya berdiri berjajar menunggu bis yang akan mengantarkan mereka ke tujuannya.
Tiba-tiba ada seseorang yang dengan gerakan yang cepat memindahkan tas yang ada ditangan Naya ketangannya. Naya spontan menoleh, dan menarik tangannya dari pria itu dengan cepat pula. Betapa terkejutnya ia, setelah tahu siapa orang yang tersenyum manis padanya, sambil mengangkat alisnya.
Deg. Jantung Naya berpacu lebih cepat. 'Kenapa dia bisa ada di sini?'
"Eh, Kak Fanan. Kok bisa ada di sini?"
"Kamu sibuk terus, sih. Gak sempat buka hp, gitu?" Ares bertanya, ada nada kekesalan pada suaranya. Budiman dan Nuriya yang melihat itu hanya tersenyum.
Naya segera memeriksa ponselnya, dan ia melihat ada banyak panggilan dari Ares. Ia tersenyum setelah menyadari kesalahannya. Ia memang sibuk mengobrol dengan Sarita, Sania dan Yola.
Budiman akhirnya bicara bahwa, dirinya lah yang sudah memberitahu Ares, bahwa mereka berada di terminal bis menuju rumahnya. Saat Ares menelpon, mereka masih berada di rumah Sarita dan Ares baru turun dari bandara.
Ares menyusul Naya karena permintaan Rasti.
Saat itu Rasti memutuskan untuk mengurus kepulangan Yoni dari rumah sakit, setelah ia tahu bahwa Naya pergi ke Kota Hujan, dan menyadari nanti ia akan pulang sendirian. Wanita itu meminta Ares memesan tiket pesawat secepatnya, untuk penerbangan selanjutnya, dan menemui Naya. Ares tidak menolak keinginan ibunya, karena ia memang membutuhkan dukungan ibunya untuk menjaga anaknya dan ia bisa pergi bersama Naya.
"Maaf..." Kata Naya masih dengan tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Iya, aku maafkan. Gimana, sudah selesai semua urusanmu?"
Naya mengangguk sebagai jawaban, bersamaan dengan datangnya bis yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Naya dan Ares mempersilahkan Budiman serta Nuriya lebih dahulu memasuki bis. Kemudian Naya duduk di sisi Ares, terpisah beberapa bangku dengan Budiman dan Nuriya.
"Yoni sama siapa?" Tanya Naya begitu bis mulai berjalan. Ia menatap Ares lekat.
"Sama mama di rumah."
"Alhamdulillah. Dia pasti senang gak harus di-infus lagi. Terus, Kak Fanan gak kerja? Awas di marahi bosnya, sering gak masuk kantor."
"Biarin, nanti aku buat perusahaan sendiri saja kalo dia marah. Biar jadi saingannya."
"Kenapa, gak dari dulu buat perusahaan sendiri?" Naya berkata sambil mengendikkan bahu, memalingkan pandangan kearah jendela, melihat pemandangan diluar, yang seperti berkejaran, bergerak menjauh secara cepat sesuai kecepatan laju bis antar kota.
Ares mengulurkan tangannya untuk memegang dagu Naya agar memutar mengarahkan pandangannya kembali kearahnya. Mau tidak mau Naya beradu pandang dengan Ares yang tampak tersenyum samar sambil menaikturunkan alisnya.
"Apa...?" Tanya Naya.
"Kalau aku punya perusahaan dari dulu, aku gak bakal ketemu sama kamu, gak bakal nikah sama kamu."
'Ya, dan kamu gak harus kehilangan Nindy juga'
Cup. Tiba-tiba Ares mengecup kening Naya sekilas.
"Eh, kak. Cium-cium di tempat umum. Malu, tau." Naya berkata sambil melepaskan tangan Ares dari dagunya. Ares tertawa kecil, menanggapi sikap Naya.
"Kak, terimakasih sudah ada di sini."
"Gak usah bilang terimakasih mulu, aku bisa kecanduan terimakasih. Apa-apa maunya dihargai sama kamu."
"Mana ada orang yang kecanduan ucapan terimakasih?"
"Gak apa, kan, menghargai dan membalas kebaikan orang lain?"
"Tapi mengharapkan orang lain membalas kebaikan kita, jangan..."
Saat mereka mengobrol, jari-jari tangan mereka saling bertaut dan mata saling menatap penuh arti.
"Kamu bawa uang kamu di mana?" Tanya Ares sambil berbisik, setelah beberapa saat terdiam. Naya menepuk-nepuk tas yang ada dipangkuannya.
Oh, ya sudah. Nanti langsung simpan di bank, transfer ke rekeningmu, biar aman," kata Ares, yang disambut dengan anggukan kepala oleh Naya.
"Oh, iya. Tadi kamu diantar ke terminal sama siapa?"
"Oh, tadi kakak sempat lihat, perempuan yang nganter aku?"
"Iya, lihat."
"Dia Yola. Kakak gak ingat sama dia?"
Ares menggeleng sambil menghela nafas dalam-dalam. Naya pun bercerita bahwa Yola adalah perempuan, yang pernah bertemu saat mereka pulang dari klinik, karena Yoni terjatuh di restoran bu Nha waktu itu. Ares mengaku dirinya lupa karena memang ia hanya bertemu dengan Yola sekali saja. Ahh... Untuk apa juga mengingat orang yang tidak penting baginya?
Akhirnya meluncur lah cerita Naya satu persatu, tentang siapa sebenarnya Yola. Dan cerita tentang kejadian demi kejadian, yang pernah ia alami dulu, ketika Rudian masih hidup, dan sakit yang di deritanya, semua cerita itu mengalir seperti air, yang meluncur dari atas pegunungan.
Tidak tertinggal pula, kejadian dimana Naya bertemu dengan Ares, saat menangis di halaman parkir, saat di trotoar, saat di rumah sakit, itu adalah saat-saat dimana Naya dalam kondisi terburuknya. Saat ia benar-benar membutuhkan bahu untuk bersandar, membutuhkan tempat untuk mengadu, tapi ia tak menemukan siapa-siapa, dan yang bisa ia lakukan hanyalah menangis.
Naya menghapus air matanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ares. Ia merasa Allah menyayanginya. Membukakan jalan baginya untuk bisa bersandar dibahu orang yang selalu baik, menolongnya disaat ia dulu begitu terpuruk dan rapuh. Ares mendengar tanpa menyela cerita Naya sedikitpun, membiarkan perempuan itu melepaskan beban perasaannya.
__ADS_1
Ares terus mengusap-usap kepala Naya selama Naya bercerita, dan sesekali ikut menghapus bulir air mata yang kadang luruh dipipi Naya yang halus. Laki-laki itu kemudian sadar, apa yang membuat Naya sedih bila mereka bertemu, terjawab sudah mengapa Naya begitu terkejut bahkan spontan menghindar saat pertama kali melihatnya kembali di kota Batu, dan setelah itu ia akan berusaa terus menghindarinya.
Terkadang, bila seorang wanita telah pulih dari kesedihannya, atau ia sudah melewati cobaan yang teramat berat baginya. Wanita itu akan memiliki beberapa sikap dan perasaan yang muncul, yang tidak disadari bahwa ia sebenarnya ia depresi dalam tingkatan yang paling terendah.
Misalnya, ia berhenti berharap agar tidak terlalu khawatir, ia memberi jarak pada dirinya dan dunia, ia diam disaat orang lain tertawa, ia biasa saja saat orang lain berduka, ia lebih senang menikmati kesendirian, ia ingat masa suram tapi tidak merasakan kesakitan, ia melihat orang-orang yang pernah menyakiti tapi tidak lagi membenci, ia melihat kebahagiaan itu ada tapi rasanya sudah biasa saja, ia mencoba menikmati hidup dan bahagia dengan caranya, ia tidak lagi perduli dengan orang lain karena semua hal yang ia lihat adalah dirinya.
Itulah tingkat tertinggi dari rasa 'terserah' yang dibungkus indah dengan rasa pasrah, itu cara mereka untuk memulihkan diri dari rasa sakit diatas sakit, dari hidup yang rumit, dari rasa diabaikan yang terus berulang. (Dari sebuah sumber)
"Maaf..." Tiba-tiba Ares berkata sambil mengecup pucuk kepala Naya yang ada dipundaknya.
"Kakak gak salah, buat apa meminta maaf?" Naya mendongak dan lebih mengeratkan jalinan tangannya. Lalu tersenyum malu-malu, sambil berkata.
"Kak, saya mau jujur, sekarang ... Seandainya kita halal waktu ketemu di trotoar jalan itu, mungkin saya sudah peluk atau nangis di sini..." Naya berkata sambil menunjuk dada Ares.
Ares memegang tangan Naya yang ada di dadanya lalu menciumnya, sambil berkata, "Nangis, peluk sekarang saja..."
"Hais jangan di sini."
"Dimana, maunya?"
Ares tersenyum menggoda dengan dagu digoyangkan dan alis yang terangkat. Tapi sebelum Naya sempat menjawab, bis yang mereka tumpangi sudah menepi karena mereka sudah sampai di tujuan, membuat mereka melepaskan jalinan tangan dan segera bersiap untuk turun.
Setelah berada di halaman rumah, yang terlihat asri dan sejuk, Budiman berkata sambil menepuk bahu Ares, sementara satu tangan yang lain menarik sebuah koper dan tas besar.
"Nah, inilah gubuk kami, nak Ares, mudah-mudahan betah."
"Alhamdulillah. Ini rumah mertua indah. Jadi bukan gubuk, yah."
Mereka tertawa mendengar gurauan Ares.
"Maaf, rumahnya kotor." Nuriya berkata setelah mereka berada di dalam. Hasan, anak laki-laki Nuriya yang membukakan pintu untuk mereka.
Budiman dan Ares duduk di sofa ruang tamu, lalu bercengkrama mengakrabkan diri antara mertua dan menantu.
Sementara Naya masuk ke kamarnya, yang sudah lama tidak ia tempati. Membersihkannya dan memasukkan barang-barangnya di sana. Ia tidak berniat membawa semua barang dari rumah lamanya itu. Ia akan menyimpannya di sana. Agar bermanfaat untuk Nuriya kalau dibutuhkan.
Setelah Naya selesai dengan aktifitasnya, hari sudah menjelang maghrib. Naya tengah melepas jilbab dan mengurai ikatan rambutnya, sambil berdiri di depan cermin, dan bersiap untuk membersihkan diri. Tak lama, Ares masuk dan memeluknya dari belakang, menyimpan kepala di pundaknha dan menghirup nafas dalam-dalam, lalu berkata.
"Aku lapar ... tadi gak sempat makan siang."
"Kasiaan ... Kenapa gak bilang kalau belum makan, kalau tahu, tadi kita mampir di warteg."
"Sekarang juga bilang, kan?"
'Hais. Manja'
"Ya sudah, saya masak dulu."
"Makan ini dulu, boleh?"
Ares membalikkan tubuh Naya menghadapnya, menundukkan kepalanya dan mencium bibir Naya, dengan ciuman yang dalam. Naya diam, tidak merespon, hingga beberapa saat, punggung nya menjadi kaku dibuatnya
'Ayolah, diriku. Kamu bukan perawan, kamu bukan perempuan yang lugu seperti dulu'
Naya melingkarkan kedua tangannya dileher Ares, sedikit berjinjit dan menaikkan dagunya agar Ares lebih mudah melanjutkan ciumannya. Ia melepaskan ciuman sejenak untuk menghirup oksigen, dan melanjutkan lagi.
"Jadi makan, tidak. Katanya lapar?" Bisik Naya ketika ciuman Ares turun ke lehernya.
__ADS_1
"Hmm..."
Bersambung