Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 100. Itu Bukan Cinta


__ADS_3


*Maaf tidak ada foto yang cocok, jadi yang ini saja ya, saya serahkan pada kalian mau membayangkan sosok mereka seperti apa, terimakasih atas dukungannya, jangan lupa like*


Naya dan Ares duduk di karpet, saling berhadapan. Naya menunduk, tidak berani menatap wajah Ares secara langsung. Ares menatap Naya sekilas lalu mengggamit tangannya dan menyematkan gelang emas yang cantik ditangan kirinya. Saat itulah setetes air mata membasahi tangan Ares yang masih berada pergelangan tangan Naya.


Seketika Laki-laki itu menatap Naya, tangannya terulur untuk mengusap airmata di pipi Naya. Tapi Naya tidak bisa menghentikan air mata yang keluar tanpa persetujuan darinya, sebagai ungkapan haru dan juga rasa syukur, yang nyata memenuhi benaknya.


Naya segera meraih tangan Ares yang ada di pipinya dan menciumnya dengan hikmat. Setelah itu Ares pun mencium kening Naya, sambil berdoa kebaikan untuknya.


Deg. Jantung Naya berdegup lebih kencang ketika Ares mengecup keningnya. Ia mencium aroma dari Ares yang menguar dirongga hidungnya.


Ares pun merasakan hal yang sama.


Sejenak kemudian mereka kembali duduk diposisi semula untuk mengikuti acara selanjutnya.


Lantunan doa-doa pun terucap dari seorang penghulu, yang juga seorang ustadz. Semua yang hadir, mengaminkan doa-doa kebaikan itu. Setelah berdo'a, pengantin baru itu menyalami semua orang yang ada di sana untuk meminta doa dan restu mereka.


Diawali dengan menyalami Rasti dan Hendra, meminta doa restu serta meminta maaf atas segala kesalahan mereka.


Rasti memeluk mereka berdua sambil berkata, "Alhamdulillah aku bahagia, kalian akhirnya menikah dan kamu, Naya, terimakasih sudah jadi bagian dari keluarga kam."


Naya tidak bisa menjawab, ia hanya mengangguk sambil terus mengusap air matanya. Begitu pula ketika mereka berada di hadapan Budiman, dan Nuriya, mereka menyalami kedua orang tua itu dengan hikmat meminta Restu darinya.


Budiman saat itu berkata, sambil mengusap kepala Naya, "mulai sekarang panggil tante Nuria dengan ibu, karena kamu juga akan memiliki anak yang bukan dari rahimmu. Sama seperti dirimu bagi tantemu, jadi mulai sekarang panggil dia dengan Ibu, karena kamu juga akan disebut sebagai ibu, oleh anak anak dari suamimu."


Ucapan Budiman itu justru membuat tangisan Naya semakin keras, ia menyadari satu hal, bahwa apa yang menurut dirinya, baik belum tentu baik bagi orang lain.


"Ibu ..." Naya memeluk Nuriya.


Penilaian setiap orang itu berbeda. Siapa yang menyangka bahwa kehidupan seseorang yang kadang dinilai salah, ternyata justru dialami, mungkin cukup menjadi sebuah pukulan dan ujian dalam hidup, karena tidak tahu apa yang ditakdirkan oleh Allah selanjutnya.


Naya dan Ares juga menyalami semua orang yang ada di sana untuk meminta restu mereka, yang terdiri dari beberapa kerabat dekat saja, dan saat mereka melakukannya, airmata Naya tidak berhenti mengalir di pipinya.


Akhirnya kedua pengantin selesai beramah-tamah, dengan semua tamu. Kini mereka yang hadir mulai menikmati makanan, yang disediakan oleh tuan rumah penyelenggara acara, makanan yang sederhana itu mereka nikmati dengan sukacita dan penuh rasa syukur.


Beberapa orang meminta waktu untuk berfoto bersama dengan kedua mempelai, setelah Naya berhasil menghentikan air matanya. Naya dan Ares melayani dengan senang hati dan tersenyum ramah.


Ares baru saja memberanikan diri untuk merengkuh bahu Naya, tapi Naya segera menepisnya kasar. Saat semua itu terjadi, mereka tengah duduk di salah satu sudut rumah, berdua. Tak jauh dari mereka, para kerabat masih menikmati hidangannya.


"Kenapa ... Masih marah?" Ares bertanya dengan berbisik di dekat telinganya.


Naya menjauhkan kepalanya secara refleks. Ia menatap Ares sekilas sambil tersenyum malu-malu, dan menjawab, "maaf, gak sengaja. Soalnya belum biasa."


Ares sepertinya paham dengan sikap Naya, hingga ia tidak lagi mencoba menyentuhnya. Ia sedikit merenggangkan duduknya.


Dan berkata, "kamu mau makan apa nggak?"


Naya menggelengkan kepalanya, dan menoleh Ares, menatapnya gusar.


"Siapa yang jaga Yoni, terus di mana Raya, kok nggak ada?" Naya bertanya sambil beringsut dari duduknya. Ia berpikir bahwa yang akan menjaga anak itu adalah Dinda. Tapi ternyata semua keluarga itu ada di sana. Sedangkan Raya ditugaskan untuk membantu Mala, menjaga Yoni sepulang dari sekolah.


"Sama Mama Mala." Ares menjawab singkat. Ia menahan Naya dengan memegang pergelangan tangannya tapi sekali lagi wanita itu menepisnya. Eh!


'Oh, berarti ada Caca dong? Uh!'


Naya berhasil berdiri dan Ares pun mengikutinya, melangkah ke dalam kamar. Naya hendak mengambil ponselnya, yang ia simpan di atas tempat tidur, untuk menelepon Raya, menanyakan dimana dia berada.


'Aku sekarang suamimu, Nay!'


Saat Naya menyalakan ponsel, Ares mengambil ponsel yang ada di tangan Naya, dan mengulurkan tangan untuk memeluk pinggangnya. Ares mencoba menciumnya tapi Naya mencegah dengan menempelkan jari-jari tangannya di bibir Ares.


'Ya Allah, dia ini ... Pak saya tuh lagi mikirin anak bapak!'


"Kenapa?" Kata Ares, sambil mencium tangan Naya yang ada bibirnya, tanpa melepaskan pelukannya.


Naya segera menyingkirkan tangannya.

__ADS_1


"Raya mau dijemput?" Tanyanya, sambil melepaskan diri dari pelukan Ares.


"Gak. Dia di rumah sakit, jaga Yoni juga."


"Oh."


Baru saja Naya selesai bicara, ponsel Ares yang ada di saku jasnya, berdering. Raya menelpon. Saat Ares menerima panggilannya, ia terkejut mendengar apa yang dituturkan oleh Raya. Saat ini Yoni sedang mengamuk, karena kehadiran Caca yang mencoba untuk membantunya membersihkan diri. Anak itu menangis memanggil Naya, karena ia yang biasa mengurusnya.


Seketika itu juga Naya dan Ares berpamitan kepada kedua orang tua mereka, dan juga semua tamu yang masih ada, untuk pergi ke rumah sakit, setelah mengatakan secara singkat tentang kejadian yang dialami Yoni di sana.


Saat kepergian Ares dan Naya, ada seorang laki-laki dengan penampilan rapi, dan berpakaian seperti pegawai sipil pemerintah, mendekati Dinda. Ia adalah seorang laki-laki yang menjadi petugas pencatat nikah. Laki-laki itu sejak tadi ada di dekat penghulu yang menjadi saksi dari pernikahan Ares dan Naya.


Laki-laki itu bertanya padanya tentang Naya, menanyakan apakah Naya adalah orang yang pernah ia kenal atau bukan. Saat ditanya seperti itu Dinda mengamati laki-laki yang ada di depannya, dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian dalam hati ia berkata


'Sepertinya pernah kenal, tapi siapa ya, astaghfirullahaladzim'


"Kenapa kakak tanya soal Naya, apa kakak kenal?" Dinda balik bertanya.


"Kalau memang Naya itu pernah sekolah di SMA negeri kecamatan, ya kenal. Aku dulu Kakak kelasnya."


"Oh iya, kalau memang kakak kelas Naya, berarti Kakak kelas aku juga dong?"


"Memangnya kamu siapa?" Laki-laki itu kembali bertanya.


Dinda baru sadar kalau dirinya sudah berubah 180° tentu saja teman-teman sekolahnya pun, kalau bertemu dengan dirinya, tidak akan mengenalinya. Dinda tersenyum kecut.


Ia berkata, "aku Dinda Fauziah, yang dulu tomboy, rambutnya cepak, mirip anak laki-laki, suka naik sepeda kalau ke sekolah, kenal?"


"Ya Allah, kamu Dinda yang itu? Masya Allah... "


"Ahk, kamu juga pasti nggak ingat ... Aku dulu sering ketemu sama kamu di rumah Naya, aku tetangganya."


"Masa sih, tetanggaan sama Naya? Aku juga sering loh, ke rumah Naya, tapi nggak pernah lihat Kakak?"


"Kenalkan, aku Danuarza, kalau kamu ingat ..."


Dan seketika Dinda tertawa terbahak-bahak. Setelah berhenti dari tawanya.


"Eh, kamu juga tambah cantik kalau pakai kerudung seperti ini."


Kedua mata mereka bersinar-sinar, sepertinya ada pendar-pendar ketertarikan menyelinap di antara mereka, apakah ini sebuah harapan? Mungkin Harapan tidak akan pernah berujung, selama manusia memiliki Allah sebagai tempat bersandar, dalam hidupnya.


"Mana anak dan suami, kenalin dong." Kata Danu dengan tersipu malu.


Dinda menatapnya jengah, lalu dengan malas ia berkata, "aku belum punya suami apalagi anak."


Danu menatap Dinda menunjukkan rasa tak percaya alisnya berkerut.


"Kalau nggak percaya, ya sudah." Dinda Berkata sambil melirik papa dan mamanya.


"Haha, kalau gitu kita sama ya?"


"Apa, pengumuman nih, kamu masih lajang?"


"Hahaha iya, aku ngaku. Mana ada yang mau sama pegawai honorer yang gajinya kecil sepertiku."


Dinda pun berpikir sama, merasa putus asa bahwa kemungkinan tidak ada laki-laki yang tertarik dengan dirinya, karena dia adalah perempuan yang tomboy dan urakan, hingga ia meminta kedua orang tuanya untuk menjodohkan dirinya, dengan siapa saja.


Entahlah, itu sebagai wujud putus asa atau bukan, tetapi yang terpenting bagi dirinya adalah ia bisa memiliki sebuah keluarga yang membuat hidupnya lebih bermakna.


"Apa kamu putus asa dengan kerjaan honorer kamu? Gimana kalau kamu kerja jadi pegawaiku, nanti aku yang gaji kamu?"


"Kerja sama kamu?"


"Iya, kalau kamu mau jadi asisten aku, atau kamu saja yang Jadi bos nanti aku yang jadi asisten kamu?"


Dan Dinda pun bercerita tentang pekerjaannya, mengurus ruko dan melanjutkan usaha papanya. Seharusnya usaha itu dilanjutkan oleh kakaknya, Ares, yang dinikahi Naya, tetapi Ares tidak berminat karena merasa bukan bidangnya.

__ADS_1


Danuarza saat di sekolah dulu, termasuk murid yang pintar di kelasnya. Hanya saja ia terkenal sebagai anak yang pendiam dan jarang bergaul. Ia lebih suka membaca ataupun menyendiri di kelasnya. Hingga banyak yang tidak mengenalinya. Ia kuliah dengan mendapatkan beasiswa dan kemudian Ia mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai honorer di salah satu kantor pemerintah setempat.


Sedangkan dulu, Dinda yang lebih terkenal dan dominan, karena tabiat dan karakternya, yang berbeda dari anak perempuan seusianya. Namun ketika pertemuannya sekarang, dengan Danuarza, ia merasa bahwa nasibnya mirip. Yang satu merasa minder karena pekerjaannya, yang satu lagi merasa minder karena karakter tomboynya.


Setelah beberapa saat lamanya mereka mengobrol akhirnya mereka berdua saling bertukar nomor ponsel. Ada kemungkinan besar hubungan mereka akan berlanjut.


-


Sesampainya di rumah sakit, dan kedua pasangan itu turun dari mobil, Ares tidak melepaskan pegangan tangannya dari Naya, nggak sampai di bangsal tempat Yoni dirawat. Sepasang manusia yang masih mengenakan pakaian pernikahannya itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


Dari luar pintu perawatan, Naya sudah mendengar suara tangisan Yoni, yang cukup keras. Ia segera memasuki ruangan mendahului Ares. Tanpa memperdulikan orang yang ada di sekitarnya, Ia pun langsung meraih tubuh Yoni dalam pelukannya dan mengangkat anak itu dalam gendongannya, berusaha menenangkan sambil terus menciumi pipinya. Mencurahkan segala kasih sayang, yang ada dalam hatinya. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya anak ini, ketika bangun tidur, mungkin yang diharapkan adalah dirinya, tetapi yang ia lihat justru orang lain yang tidak biasa merawat selama ia berada di sana.


Tak berapa lama akhirnya tangisan Yoni pun berhenti. Naya tersenyum padanya, ketika anak itu sudah fokus melihat dirinya dan tenang. Beberapa perban di bagian tubuhnya sudah dibuka, kecuali di bagian kepala dan kakinya, dimana terdapat luka yang cukup dalam.


"Ummaa... " Kata Yoni dengan suara parau, masih ada sisa tangis pada suaranya.


"Apaa ... Mana yang sakit?" Naya bertanya dengan penuh perhatian.


Yoni menunjuk kepalanya, lalu Naya duduk di atas tempat tidur dan Yoni berada di pangkuannya.


"Belum mandi, ya. Bau acem, uh, uh," Kata Naya sambil menenggelamkan hidungnya berulang kali dipipi gembil yang terlihat menyusut karena ia kurang nafsu makan.


Yoni tergelak kecil karena ulah Naya yang membuat dirinya geli.


"Ayo, kita mandi ... biar bersih, terus maem. Terus bobo lagi!" Kata Naya, sambil menidurkan tubuh Yuni di tempat tidur.


Naya melepaskan pakaian Yoni secara perlahan hingga semua pakaiannya terlepas, dan ia mengambil tisu basah yang tersedia di meja kecil seperti biasanya. Ia menggunakan tisu basah itu untuk mengelap seluruh tubuh Yoni sampai bersih hingga menghabiskan beberapa lembar. Mereka berdua melakukan kegiatan itu sambil bernyanyi dan ber bercengkrama. Namun kali ini Naya berulang kali meminta maaf padanya, karena sudah meninggalkannya.


Raya dan Mala terlihat lelah, karena sejak tadi mereka sudah berusaha menenangkan Yoni. Meskipun tidak berhasil tapi tetap saja usahanya berharga, karena tanpa dijaga mereka mungkin keadaan Yoni akan semakin parah. Mereka baru terlihat lega, ketika Naya sudah berhasil menenangkan anak itu, dengan kelembutannya.


Sementara Naya mengurus anak kecil itu, Ares dan Caca berada di luar, mereka bicara berdua di lorong rumah sakit, tak jauh dari pintu ruangan Yoni. Sejak kedatangan Naya, Caca terlihat cemberut dan ia keluar dari kamar perawatan, dengan menghentakkan kaki, menandakan ia sangat kesal. Ia sengaja datang ke rumah sakit begitu mendengar kalau Ares sudah menikah.


"Apa?" Tanya Caca ketika melihat Ares mendekatinya dengan wajah serius.


Ares mengambil sesuatu dari saku celananya, setelah itu ia melemparkan beberapa bunga kenanga yang ada di tangannya, ke arah Caca. Seketika Caca menutup hidungnya dan ia terlihat menahan mual yang amat sangat. Ia hampir muntah dan menutup mulutnya juga.


"Kamu tahu, Naya itu siapa? Dia punya kebiasaan yang sama dengan kakakmu Nindi, suka dengan bunga kenanga. Aku nggak tahu, penyebab dia sama Yoni bisa dekat. Apa karena bunga ini atau bukan? Tapi yang jelas, kamu nggak akan pernah bisa seperti Naya, dan Yoni tidak akan pernah bisa dekat dengan kamu kecuali Dia benar-benar sembuh dari phobia nya." Ares berkata.


"Kak, jadi karena ini kakak mencintainya, karena dia mirip dengan Nindy, begitu?" Tanya Caca masih dengan rasa jijik.


Ia memang tidak suka dengan bau dari bunga itu, yang akan membuatnya mual dan muntah. Dan sekarang bunga itu tersebar disekitarnya. Ares sengaja mempersiapkannya, ia tahu hal seperti ini akan terjadi.


"Bukan. Aku menyukainya sejak lama, bahkan sejak aku belum tahu kalau dia punya kebiasaan, yang sama dengan kakakmu. Kamu nggak akan percaya kalau aku cerita dari awal, aku ketemu Naya, sudah hampir dua tahun yang lalu."


'Dua tahun? Ahk, terserah'


"Kalau begitu, cinta kakak tidak tulus, itu obsesi, karena dia perempuan yang bisa mengurus Yoni, itu bukan cinta, tapi memanfaatkan orang lain."


"Kalau menurut kamu memanfaatkan orang itu salah, kamu benar. Kita tidak boleh memanfaatkan orang lain semaunya. Tapi dia mau nikah itu justru, karena ingin mengurus anak-anakku, ingin dimanfaatkan menjadi ibunya anak-anak Nindy."


"Mana mungkin, ada perempuan seperti itu."


"Ada, tanya saja Naya, kalau gak percaya."


"Kamu egois kak. Kamu jahat, kamu sudah tahu aku cinta dari dulu, aku mau nurut apapun yang kakak mau. Kakak nggak perlu ngasih mahar atau mas kawin kalau nikah sama aku, aku sudah punya semuanya, tapi kenapa kakak nikah sama orang seperti itu?"


"Memangnya Naya seperti apa menurutmu?"


"Lho, dia kan janda kak. Apa kurangnya aku sih kak...?" Caca mulai menangis, kecewa.


"Caca ... Gak nggak ada salahnya dia janda atau bukan, yang penting dia wanita yang bisa menjaga harga dirinya. Selama aku kenal sama dia, dia orangnya baik. Gak banyak tingkah."


"Aku juga baik, kak. Aku gak pernah macam-macam, atau jahat sama anak-anak, aku sering ngasih hadiah, juga makanan sama anak-anak, iya kan?"


"Caca ... Kamu memang baik, karena itu carilah laki-laki yang lebih baik dari aku. Masih banyak yang menyukai kamu dan kamu bisa bahagia kalau nikah sama dia."


"Cukup, kak. Aku benci sama kakak." Caca berkata sambil melangkah cepat menuju ruangan Yoni.

__ADS_1


"Caca!"


Bersambung


__ADS_2