
Naya membeli beberapa keperluan pribadi dan beberapa keperluan lain tentang keinginan kecilnya untuk memanfaatkan sisa barang-barang dagangan bibiny yang ditinggalkan. Dulu bibinya berharap Naya mau meneruskan usahanya dan membagi keuntungan dengannya. Karena bibinya sudah memiliki banyak pelanggan yang setia membeli barang gerabah dan perabotan rumah tangga darinya.
Bukan hanya keperluan pribadi saja yang ia beli, Naya memborong beberapa cat kayu dan besi dan berbagai warna, yang akan ia gunakan untuk mewarnai beberapa barang dalam warung kecil peninggalan bibi.
Sampai di rumah, ia menerima sebuah panggilan telepon dari Dinda yang mengajak bertemu esok lusa di sebuah cafe. Naya menyanggupi karena ia juga merindukan kehangatan sebuah keluarga. Kalau memang bisa akrab dan dekat dengan keluarga Dinda, apa salahnya?
Naya meletakkan peralatan lukisnya di ruang uang dulu digunakan untuk warung. Ia sengaja mengerjakan rencananya itu setelah pekerjaan rumah sudah beres dan rangkaiana ibadah sholat magrib dan isya sudah ia laksanakan. Ia khawatir kalau ia tengah asik dan sibuk, maka ibadah sholat akan tertinggal.
Naya mengambil beberapa barang seperti kendi tempat air, wadah makanan dan gentong kecil yang terbuat dari tanah liat, ia melukisnya dengan lukisan khas kota batu dan ia menyematkan beberapa lukisan batik yang akan ia jadikan cirikhasnya. Satu buah benda memakan waktu yang cukup lama agar lukisan benar-benar cantik dan catnya kering dengan sempurna.
Naya, hampir menyelesaikan satu buah lukisan pada kendi air, ketika ia mendengar suara berisik dari luar rumahnya. Ia segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Setelah membuka pintu Naya melihat Ida sedang bersama dua teman laki-laki yang mengantarkannya pulang ke tempat kosnya.
Karena merasa bukan urusannya dan tidak ingin terlibat apapun dengan Ida maka Naya kembali melakukan aktifitasnya. Ia begitu semangat hingga ia belum juga mengantuk padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
'Jam segini mbak Ida baru pulang. Sebenarnya kerja apa si, dia?'
Tiba-tiba Naya mendengar Ida memanggilnya, Naya segera keluar dan menanyakan apa keperluannya.
"Mbak Nay, punya kopi sama gula, gak? Gak apa ya ada teman aku mau gadang di sini?" kata Ida.
"Gak apa asal jangan sering-sering saja, mbak Ida, gak enak ganggu tetangga," sahut Naya sambil memberikan apa yang Ida butuhkan.
"Ada nya kopi instan, merk...ini. Gak apa?"
"Gak apa mbak Nay, terimakasih ya mbak Nay baik..." kata Ida sambil membuat kopi yang disodorkan Naya.
Naya memutuskan untuk tidur mencoba berdamai dengan ketidak nyamanan yang muncul dari arah teras. Ia sudah hilang semangat untuk meneruskan lukisannya. Naya hanya berniat akan mengerjakannya disela-sela waktu luangnya sepulang dari bekerja di kantin.
-
Sore itu waktunya Naya menepati janjinya pada Dinda untuk bertemu disebuah cafe sederhana tak jauh dari tempat Naya bekerja. Ia pergi dengan ojek online agar lebih cepat sampai. Setelah Naya sampai disana ternyata Dinda dan mamanya sudah menunggu.
"Hei, istriku, apa kabar?" kata Dinda.
"Assalamu'alaikum, tante..Dinda..." sahut Naya, "Alhamdulillah aku baik suamiku,"
"Eh iya lupa, wa'alaikumussalaam" kata Dinda disertai tawa kecilnya.
"Wa'alaikumussalaam.." kata seorang wanita setengah baya yang duduk dengan anggun mengenakan muslimah rapi serasi antara gamis dan jilbabnya, dengan bros mutiara putih sebagai penghias kerudungnya.
'Sepertinya aku pernah lihat belum lama ini, tapi kapan, dimana?'
"Apa kabar, tante?" tanya Naya.
"Alhamdulillah, baik. Gimana kamu Naya, kan? Kamu jauh banget bedanya, kalau ketemu di jalan, pasti tante gak kenal."
"Iya, tante juga beda, tambah cantikp.," kata Naya sambil menyambut tangan wanita itu dan menciumnya sopan lalu duduk dihadapannya sambil terus tersenyum ramah.
"Sudah lama ya gak pernah ketemu. Sekarang lihat kamu sudah dewasa. Alhamdulillah kamu sudah menikah, tapi lihat Dinda..."
"Belum ada jodohnya, ma," kata Dinda jengah, perkataan ibunya juga teman serta para kerabat selalu menanyakan soal pernikahan padanya. Dilema ditengah masyarakat biasa terjadi bila melihat seorang wanita dewasa yang belum menikah akan dikatakan perawan tua, padahal diluar negeri usia tiga puluh tahun adalah usia yang dinilai baru pantas menikah. Perbedaan kultur budaya yang mempengaruhinya.
Mereka terlibat obrolan hangat membicarakan tentang masa remaja dan kenangan lucu mereka saat masih sekolah dan juga banyak hal yang diselingi dengan canda, sambil menikmati makanan pesanan mereka.
Naya dan Dinda adalah teman akrab yang selalu bersama saat sekolah, mereka dicap bagai pasangan suami istri yang setia karena Dinda yang tomboy dengan Naya yang kalem. Kenangan termanis mereka adalah saat Naya rela meminjamkan sepatunya karena sepatu Dinda yang kotor terkena lumpur padahal Dinda harus tampil sebagai petugas pengibar bendera.
Hingga obrolan mereka akhirnya sampai pada pertanyaan Dinda tentang Rama, pada Naya. Dinda tahu Naya sering bertemu dengan laki-laki itu.
"Tante, sebentar lagi Dinda bakal cepat nikah kalau urusannya sama Rama selesai." Naya berujar sambil melirik Dinda.
"Apa si, Nay," sahut Dinda tersipu malu.
Sepertinya Dinda memang jatuh cinta pada Rama pada pandangan pertama. Tapi entah bagi Rama, Sebab setelah pertemuan pertama mereka, Rama tidak pernah sekalipun menghubunginya. Hanya Dinda yang terlibat aktif di akun mesia sosial Rama dan disana Dinda akan ditanggapi dengan baik oleh Rama.
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku akan coba menjembatani hubungan kalian biar bisa lebih dekat," kata Naya sambil menghabiskan minumannya.
"Kalo nanti kamu sudah nikah, ibu tinggal nyariin buat jodoh buat kakakmu," kata ibu Dinda.
"Kakak gak usah dicariin jodoh. Bikin pusing mama. Orangnya saja gak mau nikah. Anaknya juga susah. Sudah, jangan ngomong soal jodoh lagi. Malas banget," kata Dinda pada akhirnya.
Karena matahari sudah semakin turun keujung bumi, menarik waktu senja menjadi sempit terhimpit cakrawala. Memeluk harapan-harapan manusia yang tersisa disetiap ujungnya.
Naya berpamitan untuk pulang dan mengucapakan salam dengan hangat diiringi do'a agar kelak waktu dan usia masih memberi mereka jeda untuk kembali bersua.
Naya berada dalam angkutan umum, sambil berusaha mengingat sesuatu tentang mama Dinda. Terbersit dalam pikirannya bahwa mama Dinda mirip dengan Rasti, wanita yang pernah bertemu dengan Naya dulu, di restoran bu Nha, dan dia adalah ibu dari Ares. Bahkan wanita itu, secara terus terang meminta dirinya menjadi istri Ares.
'Maasyaallah, Astagfirullah. Untungnya mama Dinda bukan tante Rasti. Kalau benar, mungkin aku harus minta maaf dan berlari menjauh'
Naya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mengusir pikiran buruk yang sempat terlintas dibenaknya. Naya khawatir akan bertemu lagi dengan laki-laki itu. Ia berharap, mereka tidak berada dalam satu kota yang sama dan tidak akan pernah bertemu dengan dirinya.
Tapi siapa yang menyangka tali takdir menyeret kehidupan manusia dengan sangat kuat dan membelenggu kaki mereka hingga seolah-olah mereka tak mampu lagi berjalan.
-
Malam hari itu, Naya kembali dikejutkan oleh Ida yang baru pulang saat sudah sangat larut malam. Naya melihat ada sebuah mobil yang mengantarnya pulang. Sepertinya wanita itu sangat sibuk. Berangkat dipagi harinya dan pulang saat sudah larut malam.
Naya jarang bertemu atau berbincang dengan Ida, karena saat Naya berangkat Ida masih tidur dan saat Ida pulang, Naya sudah tidur.
Saat sore hari, bila Naya sudah tiba di rumah, ia sering menerima kiriman paket atau kiriman laundry pakaian Ida. Belum juga genap satu bulan Ida tinggal disana, Naya sudah tidak bisa menghitung berapa kali ia mewakili Ida menerima berbagai kiriman atas namanya.
Naya sempat terbangun sejenak hingga ia kembali tertidur. Sepulang kerja, Naya mengerjakan lukisan pada barang-barang gerabahnya dan ia melanjutkannya setelah sholat isya hingga larut malam.
Naya sudah memiliki beberapa koleksi yang menarik, dan ia akan bekerja sama kembali dengan Rama dengan memanfaatkan akun media sosialnya. Naya akan mentraktir Rama makan siang lagi sebagai kompensasi. Ia berharap barang-barang yang sudah terlihat usang itu bisa laku terjual bahkan diminati.
Ini akhir pekan. Sehingga Rama dan Naya bisa memanfaatkan waktu yang ada, menikmati hari libur kerja. Akhir-akhir ini, Rama sangat sibuk hingga ia jarang terlihat di kantin apalagi mampir ke rumah Naya.
Rama suadah muncul dengan penampilan khasnya saat hendak tampil di depan kamera. Ia berpakaian rapi dengan gaya fashion kekinian. Naya dan Rama masih menyusun beberapa barang yang akan mereka perlihatkan, sambil mengobrol.
"Suka, dulu waktu masih sekolah. Kalo bikin lukisan garabah ini awalnya dari rasa sayang sama barang ini biar gak mubazir."
"Bagus. Tapi gimana kalo mau dijual dan kirim secara online apa gak hancur?"
"Kalau soal itu aku belum pikirin lagi. Sekarang aku minta kamu pamerin, biar orang pada ke sini."
"Ck. Kamu kan kerja, siapa yang mau nunggu warungnya?"
"Oh, iya. Nanti kamu kasih tahu, tokok buka dari jam tiga sampai jam delapan malam"
"Kamu gak cape? Kamu gak sayang sama diri kamu sendiri? Aku saja sayang, Nay."
"Sayang apaan si?"
"Sayang sama kamu."
"Eh, ada Dinda yang jauh lebih sayang sama kamu."
"Tapi aku sayang nya sama kamu."
"Rama, kita kan sudah sepakat. Oke?"
Tiba-tiba saja Ida keluar dari kamarnya, dengan manis menyapa Rama. Mereka memang belum sempat berkenalan sejak Naya mengabarkan memiliki seorang teman yang menyewa kamar kosnya. Tapi karena pribadi Rama yang ramah dan humble membuat suasana menjadi hangat.
Mereka memulai pembuatan video dan juga mengambil beberapa foto. Ida hanya memperhatikan pekerjaan Naya dan Rama. Wanita itu terlihat berwajah mendung melihat semua aktifitas Naya dan Rama.
Ida juga pegawai kontrak seperti Rama, hanya saja ia bekerja di perusahaan yang berbeda, disaat pulang kerja ia harus mengikuti grup bandnya yang juga sudah dikontak untuk bernyanyi di sebuah cafe sampai malam hari. Ia bekerja keras untuk biaya sekolah adik dan ibunya di kampung halaman.
"Enak ya hidup kalian gak harus menanggung beban orang lain." kata Ida saat mereka sudah selesai membuat gambar.
__ADS_1
"Siapa bilang?" kata Naya dan Rama beraamaan.
"Kita menanggung hal yang gak sama mbak Ida. Kadang orang hanya bisa menilai dari luarnya saja" jawab Naya.
Kadang orang hanya mampu melihat apa yang bisa mereka lihat tanpa tahu apa yang sudah dilakukan orang lain hingga bisa terlihat seperti yang orang lain lihat. Ngerti, kan maksudnyaa...
Beberapa waktu berlalu setelah pembuatan video. Ida masih mengobrol dengan Rama dan Naya melukis beberapa barang lagi.
"Nay, nih lihat ada komen yang aneh," kata Rama menunjukkan sebuah komentar pada salah satu akunnya. Di video itu menampakkan sebagian badan Naya yang masih melukis dengan cat kayunya pada salah satu gerabah. Rama duduk di sampingnya sambil berkata, "kalian bisa pesan, gambar apa yang mau kalian buat pada barang atau gerabah yang ingin kamu beli, kalau berminat, hubungi nomor ini yaa..." video pun selesai.
Naya meraih ponsel Rama dan mengerutkan alis sambil berkata, "Kamu kenal dengan orangnya?" dan Rama yang di tanya menggeleng.
Komentar itu tertulis, "Kau tahu, sebanyak apa aku meminta? Seharusnya kau tau berapa banyak aku menyebut namamu, seberapa sering aku mengingatmu dan sebesar apa keinginanku bertemu?"
"Nama akun yang aneh, tapi dia tetap saja followerku." kata Rama sambil menerima ponselnya dari tangan Naya.
"Apa namanya?" tanya Ida ikut mengomentari.
"Yang disebut setelah Indonesia" kata Rama. Dan Ida pun tertawa, lalu berkata,
"Iya, nama akun yang aneh."
"Tunggu..." kata Naya, "yang disebut setelah Indonesia... itu berarti namanya, Raya?"
"Wah, kamu pinter, Nay! Bener nama orang itu Raya!" kata Rama, "Indonesia Raya!"
"Mbak Naya, orang itu komen begitu di foto yang ada mbak Naya, siapa tahu orang itu kangen sama mbak!" kata Ida.
Deg. Jantung Naya berdegup tak beraturan. Apa maksud Raya bicara seperti ini dan benarkah Raya yang ini adalah Raya yang pernah ia kenal dulu? Kalau ditotal jumlah waktu yang harus mereka lewati selama mereka berpisah adalah sudah mencapai satu tahun. Ya sudah satu tahun dari sejak terakhir mereka bertemu, atau mungkin lebih.
Ditempat lain.
Raya seorang gadis remaja, melihat foto Naya sambil tersenyum. Ada nomor ponsel Naya dalam foto itu. Walau foto itu hanya setengah badan saja dan tidak menampakkan wajahnya, tapi gambar Naya sangat ia kenali. Naya memakai baju gamis yang pernah ia berikan dulu saat Naya kehujanan. Ya, Naya memakai baju ulang tahun mamanya!
Kembali di rumah Naya.
"Kenapa, Nay?" tanya Rama yang melihat ekspresi wajah Naya yang berubah.
"Ahk, gak apa. Kalian lapar gak? masak mie yuk. Pakai telor sama cabe rawit, mau?" Naya mengalihkan pembicaraan juga menenangkan dirinya sendiri.
"Mau!" jawab Ida dan Rama bersamaan.
Setelah mereka sslesai makan siang hanya dengan mie instan dan telur, Ida mengajak Naya pergi ke toserba yang cukup besar di sekitar tempat tinggal merek. Ida mengatakan kalau kemarin ia baru dapat bonus dari cafe tempat Ida bernyanyi bersama grup bandnya.
"Aku gak diajak?" kata Rama, ini kesempatan yang baik untuk bisa jalan bareng dengan Naya. Sudah sebulan sejak mereka terakhir makan siang bersama, mereka belum pernah lagi pergi berdua.
"Ayo, boleh. Aku cuma mau beli buat mbak Naya alat lukisnya. Aku sudah sering ngerepotin mbak Naya."
"Ngerepotin yang mana nih? Soal begadang, soal kopi atau soal nalangin uang laundry?" kata Naya berkelakar.
"Semuanya mbak. Kalau gak ada mbak Naya gimana cucian saya. Tapi awal saja kan mbak, aku sering lupa nitipin uangnya. Maaf."
"Iya, gak apa. Tapi kalo kiriman paket itu sering banget, mbak Ida ini suka shoping online ya?" tanya Naya.
"Oh, kalo paket itu dari penggemar mbak."
"Wah, keren kemu punya penggemar yang suka kirim hadiah. Mirip selebritis!" sahut Rama.
Mereka bertiga sampai di Toserba yang cukup besar di kota Batu, mereka termasuk orang-orang yang tidak punya kendaraan sendiri jadi mereka bisa berbagi rezeki dengan para sopir angkot atau ojek.
Di rumah pribadinya di kota yang lain, Rama punya kendaraan pribadi tapi jarang ia pakai untuk bekerja dengan alasan mengurangi kemacetan dan folusi udara. Ia bukan cuma orang yang idealis, tapi juga narsis. Banyak kan orang begini?
Mereka bertiga berpencar, memilih barang kebutuhan masing-masing dan Naya memilih beberapa alat lukis yang ia butuhkan dan Ida yang akan membayarnya. Saat itu Naya memegang benda yang sama dengan yang di pegang oleh seseorang, Naya menoleh melihat siapa yang sudah memilih barang yang sama dengan dirinya.
__ADS_1