Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 12. Mengatakan Soal Mahar


__ADS_3

Setelah beberapa anak perempuan berkumpul di dekat Raya, Naya mengajak mereka ke tempat yang agak jauh dari keramaian di sebelah halaman parkir kendaraan. Semua anak itu berjumlah empat orang termasuk Raya.


Naya berada diantara mereka dan mulai bertanya dengan serius.


"Kalian tidak usah takut sama saya. Sebab saya bukan guru kalian. Saya hanya ingin kalian jujur mengakui barang ini milik siapa?" seraya mengacungkan pil kontrasepsi pada mereka.


Anak-anak yang ada disekitar Raya saling berpandangan. Wajah mereka menunjukkan ekspresi takut, cemas juga kesal.


"Saya yakin, ini bukan milik Raya. Tapi Raya sudah melindungi kalian hingga kalian bisa bebas." kata Naya lagi, semua anak itu hanya diam.


"Kita juga tidak minta Raya buat melindungi kami. Dia bisa bilang kan kalau itu bukan miliknya. Kenapa jadi menyalahkan kami?" kata salah satu anak yang berwajah paling manis. Anak yang lain mengangguk tanda setuju.


"Saya tidak menyalahkan kalian." sahut Naya.


"Kalau aku mengakui hal yang sama seperti kalian, aku rasa kita akan tetap dapat masalah yang sama. Bu Saras itu bukan orang bodoh yang bisa kita tipu begitu saja." kata Raya.


"Ya kan? Kalau kita semua bilang benda itu bukan punya kita, emang benda itu jatuh dari langit?" kata Raya lagi.


"Kalian sengaja, kan melemparnya di kakiku?" tanya Raya dengan nada tinggi, pada anak yang tadi bicara.


"Kamu jangan asal menuduhku, Ray!" kata anak itu. Sedang yang lain diam.


"Sudah, lah. Sekarang kita jangan saling menyalahkan, kita di sini mau mencari kebenarannya" kata Naya berusaha menenangkan Raya.


"Akui saja, dan kalian tidak akan disakiti. Tapi kalau kalian tidak mau mengakui, ya sudah. Ingat, Allah mahatahu apa yang kalian lakukan. Kalian sadar kan kalau minum pil semacam ini dilarang keras untuk anak seusia kalian?" kata Naya dengan lemah lembut. Mereka mengangguk.


"Kalau kalian mengerti, jangan kalian ulangi membawa benda-benda seperti ini, apalagi mengkonsumsinya"


"Iya, kak. Kami salah" kata anak yang tadi bicara . Raya seolah tahu bahwa dialah teman yang sudah menjebaknya.


"Kalian tahu, mengapa di kelas biologi kalian harus mempalajari tentang alat reproduksi?" tanya Naya. Mereka semua menggeleng.

__ADS_1


"Agar kalian tahu tentang tanggung jawab. Pelajaran itu memberi ilmu pada kita tentang bagaimana proses terjadinya janin atau bayi dalam perut ibu kalian." kata Naya sambil menghirup udara dalam-dalam, seolah oksigen menipis disekitarnya.


"Jadi, setelah kita tahu, kita akan hati-hati dalam berbuat. Karena apapun perbuatan kita, maka kita sendiri yang menanggungnya... Tahu gak, soal apa itu perawan?" tanya Naya, sebagian anak terlihat antusias.


"Keperawanan adalah hal paling istimewa pada diri kalian yang harus kalian jaga. Jadi, jangan serahkan keperawanan kalian pada orang yang tidak berhak." kata Naya dengan perlahan seolah berbisik.


"Siapa yang berhak?" tanya Raya.


"Dialah orang yang akan menafkahi kalian, yaitu suami kalian kelak. Dialah orang yang kalian nikahi dan memberikan mahar pada kalian." jawab Naya lugas.


"Jadi, belajar saja yang rajin. Tidak usah ikut bergaul dalam pergaulan bebas. Boleh berteman dengan siapa saja, tapi tetap jaga diri dan kehormatan kalian dengan baik."


"Apa keperawanan sama dengan kehormatan?" tanya anak berwajah manis itu, sepertinya ia adalah ketuanya.


"Bisa jadi. Anggap saja, itulah kehormatan satau-satunya yang paling berharga. Jangan berikan pada orang lain yang tidak berhak, bahkan secara gratis. Kalian adalah berlian bagi orang tua dan bagi diri kalian sendiri." kata Naya, ia mulai bernafas lega. Semua ganjalan dalam hatinya terurai sudah.


"Ray, maaf ya. Seharusnya aku mengaku tadi. Aku juga sebenarnya penasaran saja dengan benda itu" kata anak itu dengan senyum malu-malu.


"Bagaimana kalian mengahargai orang lain, seperti itu pulalah diri kalian akan dihargai." Naya menyambung kalimatnya.


"Jadi kalau kita menghargai orang lain, kita sama saja menghargai diri sendiri, begitu?" tanya Raya.


"Ya, anak pandai..." kata Naya mengusap kepala Raya, "Aku sampai tidak percaya mengatakan soal mahar pada anak-anak..." kata Naya lirih. Tapi Raya sempat mendengar.


"Apa itu mahar?" katanya polos.


"Nanti, kita bicara di mobil, sekalian pulang. Ayo..." kata Naya setelah selesai dengan anak-anak tadi.


Akhirnya mereka semua berpisah setelah saling memaafkan dan berjanji kalau akan tetap berbuat baik. Tidak akan bermusuhan esok hari.


Setelah di dalam mobil, Raya mulai menanyakan rasa penasarannya mengapa harus Naya yang datang kesekolah, dan juga soal apa itu mahar pada Naya.

__ADS_1


Naya menatap anak remaja berwajah cantik, putih bersih itu dengan raut bahagianya. Seperti inikah rasanya jadi ibu?


"Papamu tadi bilang mau rapat. Jadi minta tolong pada tante" kata Naya, sementara mobil terus melaju. Sopir di belakang kemudi melihat Naya sekilas dari balik kaca spion.


"Pasti tante repot ya. Maaf..."


"Tidak, juga. Tante sudah izin tadi"


"Untung tante bisa bebasin Raya."


"Astagfirullah, Raya. Kita sudah bohong. Mudah-mudahan Allah mengampuni kita"


"Tapi, tante. Itukan terpaksa."


"Iya, tapi kebohongan tetap saja bohong." kata Raya. Ia dalam hati terus saja istigfar. Sesekali ia merapikan kerudungnya. Yang tertiup angin dari jendela, ia sengaja tidak menyalakan AC mobil.


"Lalu soal mahar, kenapa harus ada mahar, kenapa harus laki-laki yang memberi?"


"Oh. Tahu gak, kalau mahar itu sebenarnya bukan cinderamata. Mahar itu adalah sesuatu yang wajib dibayar atau diberikan oleh seorang pria pada wanita yang akan dinikahinya, sebagai tanda keabsahan pernikahan, juga sebagai imbalan karena laki-laki itu akan mengambil kenikmatan dari wanita yang dinikahinya itu."


"Oh..." sahut Raya dengan mulutnya membulat. Naya merasa lucu melihat ekspresi itu.


"Jadi, sebenarnya kebaikan mahar yang diberikan, mencerminkan kepribadian dan kematangan jiwa seorang laki-laki."


Tak terasa mereka sudah sampai di depan restoran. Naya segera turun, namun Raya menyusulnya.


"Dari mana saja kamu" tiba-tiba Rudian sudah berdiri disamping mobil.


Deg. Jantung Naya seperti dipukul. Kaget.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2