Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 99. Dimana Naya 2


__ADS_3

Suasana rumah Naya sedikit panik. Budiman, Nuriya dan Ida yang memilih untuk membolos kerja itu, bingung mencari keberadaan Naya. Saat dini hari tadi, mereka masih melihat Naya bersama mereka, tapi ketika mereka sudah selesai sarapan dan membereskan rumah, mereka tidak menemukan Naya dimana pun.


Hendra, Dinda dan Rasti, datang ke rumah Naya mereka dikejutkan oleh kepanikan Budiman dan Nuria, juga Ida, perempuan itu bolos kerja hari ini karena ingin menghadiri pernikahan Naya.


Naya selesai membersihkan diri, kemudian pergi ke kantin, ketika mereka bertiga tengah beristirahat di kamar. Mereka merasa tidak ada yang perlu dikerjakan lagi, hingga mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing, dan tidak sadar kemana Naya pergi. Mereka sadar ketika sudah waktunya salat dzuhur, dan makan siang. Mereka tidak menemukan Naya ada di dalam rumah, dan mereka berpikir bahwa Naya melarikan diri karena tidak mau melanjutkan pernikahannya.


"Kalian semua sudah mencoba menghubungi, Naya?" tanya Hendra. Ketiga orang itu mengangguk. Mereka sudah melakukan upaya yang mereka lakukan, tapi tidak menghasilkan apa-apa.


Sejenak kemudian, Budiman menyadari kalau ada Dinda bersama mereka hingga ia bertanya, tentang Yoni, bagaimana anak itu bisa ditinggal kan tanpa ada yang menunggu.


"Untuk hari ini, saya minta bantuan jeng Mala." Rasti berkata menjawab rasa penasaran Budiman dan menjelaskan siapa Mala, ia adalah orang tua yang juga bisa diandalkan untuk menjaga Yoni. Terkadang Rasti juga membawa Yoni dan Raya berkunjung ke rumah Mala dan menginap di sana, biar bagaimanapun keluarga Mala adalah keluarga mereka juga.


Dinda menyiapkan hidangan dan pakaian Naya yang sudah ia siapkan, ia tahu sahabatnya itu tidak mempersiapkan pakaian untuk acara pernikahannya. Baju yang disiapkan oleh Dinda adalah sebuah dress brukat halus warna navi yang sederhana, tapi cukup indah untuk dipakai Naya, warnanya senada dengan jas yang akan dipakai Ares, disaat akad nikah mereka nantinya.


Perempuan itu memilih dress modern itu bersama dengan Rasti, semalam. Ia sengaja membelinya sebagai hadiah untuk Naya. Tapi ia tersenyum masam melihat pakaian itu mengingat kini Naya tidak ada. Dimana Naya? Pikir Dinda.


"Halo, kakak," kata Dinda saat ia menghubungi Ares, dan begitu telponnya tersambung ia langsung mengatakan kalau Naya tidak ada di rumah, dan mengatakan semua dugaan yang.uncul dari semua orang.


Setelah mengatakan semua pada Ares dan kakaknya itu mengatakan agar tidak perlu khawatir, maka Dinda mengatakan pada semua orang yang ada di rumah untuk tetap tenang dan cukup bersiap saja.


Saat itu, Ares menutup ponselnya sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia heran dengan kepergian Naya karena semalam wanita itu mengatakan, ia menerima lamarannya dan ia sudah menyatakan sanggup, tapi kenapa dia pergi?


Tak lama kemudian ia menerima sebuah pesan dari Naya kalau ia pergi untuk sebuah keperluan dan berjanji untuk datang tepat waktu keacara pernikahan. Ares segera pergi meninggalkan kantor, yang ada dalam pikirannya adalah, Naya pergi ke kantin untuk mengabarkan pernikahannha pada pengelola kantin, yang ia hormati sebagai orang yang sudah berbuat banyak untuk dirinya.


Dugaan Ares benar, Naya ada di sana, Rama juga ada dan bahkan menyanyikan lagu untuk Naya, menunjukkan perasaan sedihnya dan kecewa yang ia ungkapkan lewat lagu. Ares menanggapi kejadian itu dengan senyum tipis.


"Iya, aku akan membahagiakan dia walau kamu gak minta, dan akan menyayangi dia seperti yang kau inginkan." Ares bergumam tanpa ada yang mendengar. Ia menikmati makan siang yang disajikan oleh Naya.


Seperti biasa ketika mereka bertemu di kantin perusahaan, Naya tidak menunjukkan ekspresi wajah yang berlebihan, ssmua tampak biasa bagi Naya, biasa. Seolah mereka bukan calon pasangan suami istri saja. Naya tidak menyapa Ares, ia hanya menghidangkan makanan dan tersenyum padanya sekilas.


'Naya! Aku bukan udara!'


Saat Rama bernyanyi, mereka berdua sempat saling melempar pandangan sejenak. Tapi mereka kemudian kembali menyibukkan diri dengan aktivitasnya masing-masing.


Naya memilih tidak perduli dengan lagu yang dinyanyikan Rama. Terlepas bahwa lagu itu cukup bagus, itu adalah lagu yang pertama kali dipersembahkan seseorang untuk dirinya, lagu itu juga tentang sebuah rasa kepasrahan, tidak bisa memiliki orang yang disayangi, mencintai dengan cara yang sesungguhnya, yaitu membiarkan orang yang dicintainya bahagia.


Sepertinya benar adanya sebuah kat bijak yang mengatakan bahwa, cinta tak harus memiliki, sebab buat apa memiliki kalau tidak bisa membahagiakan.


Setelah jam makan siang usai, Rama masih menunggu Naya sampai ia selesai dengan pekerjaannya. Naya pamit kepada Bu Min, meminta maaf atas kesalahannya, dan meminta restu untuk pernikahannya. Naya juga berpamitan pada para kokinya, lalu keluar dari kantin bersama Ares di belakangnya.


"Naya, selamat ya kamu sudah ketemu jodohmu," kata Rama saat mereka berada di halaman parkir.


Rama menunggu Naya di sana, sambil bersandar dimobil Ares. Ia yakin bahwa mereka berdua pasti akan pulang bersama.


"Ya, terimakasih," sahut Naya, sambil tersenyum ramah. Lalu ia kembali berkata, "maaf tidak ngasih tahu. Bukan aku gak menghargai kamu, Rama. Tapi memang mendadak, maunya ayahku begitu."


"Gak apa, ini buat kamu," kata Rama, ia memberikan sesuatu pada Naya sebagai hadiah. Lalu berkata lagi, "Aku gak bisa ngasih kamu apa-apa."


Saat mereka berdua bicara, mereka seolah menganggap Ares tidak ada di sana.


"Eh, makasih. Jazakallah. Apa ini, kamu baik banget." Naya memperhatikan bungkus kado yang menarik itu sambil tersenyum.


"Nikah juga belum, udah ngasih kado," Ares berkata sambil membuka pintu mobilnya. Seperti memberikan kode, agar Naya dan Rama cepat selesai.


'Yaa, pak Ares, kalem saja dong, pak!'


"Nay, nanti kamu gak bakal kerja di sini lagi dong?"


"Iya, mungkin."


"Mau pindah rumah juga?"


"Iya, mungkin, rumah itu mau dijual seperti rencana awal, soalnya itu rumah warisan, jadi memang mau dijual."


"Terus gimana Ida."


"Untuk sementara dia di rumah itu dulu, sampai dia dapat tempat kos baru, yang dekat dengan cafe tempat dia kerja."

__ADS_1


"Oh. Kalau gitu nanti aku bantu dia cari tempat kos baru, deh."


"Terimakasih sekali lagi." Naya berkata sambil melihat kembali kado yang diberikan oleh Rama dan berniat untuk membukanya.


"Ya. Aku juga bisa. Waktu istirahat sudah habis." Ares menyela kembali obrolan Naya dan Rama.


Mendengar ucapan Ares, Naya menghentikan keinginannya untuk membuka kado. Tapi selintas ia sempat meraba lewat telapak tangannya, yang diberikan Rama padanya adalah satu set kuas dan cat air, mungkin ini adalah kuas dan cat yang sangat bagus.


"Sebenarnya aku beli kado itu sudah lama, tunggu waktu yang tepat buat ngasih ke kamu."


'Nay, sebenarnya aku nunggu hari kita pertama ketemu di kereta'


Hari itu datang sebentar lagi. Rama merasa bahwa hari itu, hari yang istimewa. Tapi belum sempat datang waktu yang ia tunggu, Naya sudah hendak pergi. Ia akan menikah, dan mungkin entah kapan mereka akan bertemu lagi.


"Maaf ya, Rama. Mudah-mudahan kamu juga cepat dapat jodoh, seorang yang bisa membahagiakan kamu sampai maut memisahkan."


"Ya, terimakasih atas do'anya!" Rama berkata sambil melambaikan tangan dan beranjak pergi.


Naya melihat kepergian Rama dengan perasaan tidak enak. Laki-laki itu sudah menjadi teman yang baik selama ini. Kehadiran seorang teman bagi orang yang hidup di perantauan, apalagi teman itu adalah orang yang baik, adalah hal yang sangat dibutuhkan. Karena seseorang yang hidup di perantauan biasanya tidak memiliki saudara orang tua, dan temanlah yang akan menjadi tempat dalam berbagi suka dan duka atau meminta bantuan padanya. Seperti itulah Rahma dimata Naya, apalagi kebaikan Rama tidak pernah meminta imbalan juga tidak meminta balasan apapun darinya.


Sementara menurut Rama, Naya adalah orang yang sudah memberi warna lain dalam hidupnya, orang yang ditemui secara tiba-tiba dan mengusik naluri untuk melindungi dan menyayanginya. Namun ternyata perasaan yang tulus dari hatinya ini tidak bisa Naya terima. Pernikahan Naya sungguh diluar kendalinya, ia menganggap Naya akan selamanyanya hidup sendiri. Karena perasaan yang tulus, Rama tidak pernah meminta apapun kepada Naya, dari semua yang sudah ia lakukan untuknya, hadiah yang ia berikan pun seolah-olah tidak berarti apa-apa.


"Mau sampai kapan kamu bengong begitu, ayo pulang," kata Ares secara refleks menyentuh bahu Naya agar segera naik ke mobil yang sudah ia buka pintunya. Reflek Naya menghindari sentuhan dari Ares. Lalu melotot kearahnya sambil cemberut.


'Apaan sih Pak. Belum sah, sudah pegang-pegang'


"Maaf, nggak sengaja." Ares berkata dengan


gugup menyadari kesalahannya.


"Nggak sengaja apanya?'


-


Sementara di rumah Naya.


Semua orang yang menunggu Naya sudah gelisah, saudara dan kerabat dari pihak Ares yang diminta untuk menjadi saksi pernikahan, sudah berdatangan satu persatu. Tapi mereka heran karena tidak melihat pengantin ada diantara mereka.


"Sudah, ma ... Kakak sudah ketemu jodohnya. Mama tenang, gak usah panik."


'Gimana enggak panik penganten aja belum di dandanin tapi orang sudah ramai'


Sebenarnya tidak terlalu ramai, karena yang datang hanya beberapa orang saudara dari Hendra dan Rasti.


"Dinda, telepon lagi, kakakmu!"


"Tenang, ma. Penghulunya juga belum datang."


Rasti berjalan keluar rumah. Menunggu anaknya datang, dengan gelisah.


Sementara itu di dalam mobil, Naya duduk tenang di kursi penumpang, disamping Ares. Ia melihat kado yang diberikan oleh Rama, dan membukanya. Setelah mengetahui isinya, ia memasukkannya ke dalam tas, sambil tersenyum. Itu kuas dan cat air spesial yang diinginkannya sejak lama.


Melihat sikap Naya yang terlihat sangat gembira, dengan pemberian dari Rama, Ares meliriknya dan mendengus kesal.


Ia berkata sambil mencibir, "aku juga bisa beli yang seperti itu, aku bisa beli nggak cuma satu buat kamu."


Naya menanggapi ucapan Aries dengan cuek dan hanya mengendikkan bahu. Ia menatap jalanan didepannya dengan serius, seolah-olah dia yang mengemudikan mobilnya.


"Apa maksudnya tadi, dia bilang waktu yang tepat buat ngasih kado itu ke kamu?" Ares tiba-tiba bertanya, ada nada cemburu didalam suaranya.


"Eh, mana saya tahu, kenapa tadi bapak nggak tanya?" Naya menyahut sambil mengernyit.


"Masa, jangan bohong, Nay ...?"


"Buat apa juga saya bohong? Kalau enggak percaya, tanya langsung sama Rama. Saya gak punya hari yang spesial sama dia."


"Naya, dalam rumah tangga itu harus ada kejujuran, buat apa membina hubungan rumah tangga kalau tidak saling percaya." Ares bermaksud menasehati.

__ADS_1


"Jadi, maksudnya bapak enggak percaya sama saya ya? Ya sudah!" Sahut Naya ketus.


"Ya sudah apa maksudnya?" Ares menyahut tidak kalah tegasnya.


"Nggak usah nikah."


'Apa?!'


Mendengar ucapan Naya, sontak Ares menghentikan mobilnya, dan menempatkannya ke sisi jalan raya. Ia menghadapkan badannya kearah Naya.


Dan berkata, "Apa maksud kamu, bilang begitu?"


"Nggak ada maksud apa-apa, bapak yang bikin gara-gara. Saya sudah jujur, pak!"


'Gara-gara apanya, si?'


Kali ini Naya berkata dengan menatap Ares tajam. Itu tatapan pertama dari Naya yang ditujukan pada Ares, setajam pisau.


Ares mengusap wajahnya sambil menghela nafasnya. Lalu kembali mengemudikan mobilnya dengan menahan perasaan.


"Sabar, sabar, ini ujian ... Memang dari awal dia memang seperti itu, jangan menuntutnya untuk berubah, karena tidak mudah untuk sebuah perubahan apalagi karakter seseorang'


-


Sesampainya di halaman rumah.


Begitu Naya turun dari mobil, ia langsung disambut oleh Rasti dengan memeluknya erat, seolah-olah Ia baru menemukan permatanya yang hilang. Wanita paruh baya itu kemudian membawa Naya ke kamarnya. Ia meminta Naya untuk segera membersihkan diri, dan berganti pakaian dengan baju kebaya yang sudah ia persiapkan.


Sementara Ares mengganti pakaian dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Rasti, lalu menghampiri Budiman yang duduk bersama dengan dua orang petugas dari kantor agama dan seorang penghulu.


"Mahar apa yang akan kamu berikan pada anakku?" Budiman berkata dengan raut wajah serius. Ini seperti yang pernah ia lakukan dulu saat Rudian melamar Naya.


Mahar adalah syarat sah ijab qobul, dan sebagai orang tua yang akan menikahkan anaknya, ia harus tahu, mahar seperti apa yang akan diberikan menantunya pada anaknya.


Saat itu Ares mengeluarkan dua buah cek. Menyerah satu lembar cek pada Budiman dan satu lembar lagi ia selipkan ke dalam kotak kecil berisi perhiasan. Ares membeli sebuah gelang cantik untuk Naya sebagai maharnya, dan uang dalam cek senilai dua ratus juta. Gelang itu sengaja ia beli ketika membicarakan mahar, dan Naya menyerahkan apapun mahar itu kepadanya. Ia memutuskan untuk membeli gelang, yang tidak harus ada ukurannya bagi orang yang akan memakainya.


"Ayah, saya hanya bisa memberikan mahar ini buat Naya."


"Apa semua ini permintaan Naya?"


"Bukan. Naya tidak minta apa-apa. Ini kemauan saya sendiri."


"Oh." Budiman berkata sambil melihat nominal dalam cek, lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


"Maaf, ayah ... Semua yang saya berikan ini tidak bisa membayar jasa ayah dan ibu sebagai orang tua, yang sudah merawat dan mendidik Naya, hingga bisa saya nikahi sekarang, tapi memang hanya seperti ini kemampuan saya untuk sekedar menyenangkan Naya, sekaligus rasa syukur, Naya mau menerima lamaran dari saya."


Semua orang yang ada di sana mendengar ucapan Ares, dan mengangguk-angguk. Pernikahan mendadak ini, membuat persiapan mahar pun jadi obrolan mendadak pula.


Ketika Naya berada di dalam kamar, Dinda menyambutnya dengan senyum simpul, dan tak henti-hentinya ia bercanda dengan Naya, bahkan setelah Naya selesai berpakaian. Dinda merias wajah Naya dengan riasan yang sederhana.


Naya melihat dirinya di cermin sambil membayangkan kembali pernikahan, yang dulu pernah ia lalui, tapi tepukan di bahu membuyarkan lamunannya.


Ahk, untuk apa mengenang sesuatu yang sudah lama. Bukankah Ia sekarang harus menghadapi sesuatu yang baru yang jelas berbeda?


Dinda memeluknya hangat dan berkata,


"terima kasih sudah mau menjadi bagian dari keluargaku, terima kasih sudah mau menjadi wanita yang akan membahagiakan kakakku, tidak mudah mencari orang sepertimu. Kau tahu, sudah lama mama mencari orang, yang cocok untuk Raya dan Yoni, aku gak nyangka ternyata orang itu sahabatku sendiri."


'Allah Mahalembut, mungkin semua yang aku alami dulu adalah bagian dari rencana-Nya, membuka jalan yang harus aku jalani saat ini'


Terkadang seseorang menjadi tercengang, dengan jalannya takdir yang sangat aneh.


Naya tersenyum dan membalas pelukan Dinda dengan hangat. Mereka tetap berada di dalam kamar, menunggu ijab qobul dilakukan. Dua orang perempuan itu duduk tenang mendengar prosesi akad nikah dilangsungkan.


Tak lama, suara riuh mengatakan "sah" terdengar dari ruang tamu, yang menyatakan bahwa ijab qobul itu sudah selesai dilakukan. Naya dibawa keluar kamar, dituntun oleh Dinda, untuk menerima mahar yang akan diberikan oleh Ares kepadanya.


Pernikahan itu dilakukan dengan acara yang sederhana, pengantinnya pun berpakaian sederhana, dan makanan yang sederhana pula.

__ADS_1


Saat Naya duduk disandingkan dengan Ares ...


Bersambung


__ADS_2