Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 3. Mendahui Selingkuh


__ADS_3

Naya berjalan mendahului Rudian masuk ke dalam rumah, menyimpan tasnya di sofa dan menghenyakkan tubuhnya disana. Ia menatap Rudian yang juga menatapnya dengan tajam, duduk dihadapannya.


"Apa kamu berbohong padaku? Mana mungkin orang yang bukan siapa-siapa, tapi mengantarmu pulang, he?"


"Kenapa Kanda sudah pulang, biasanya maghrib baru pulang?" tanya Naya mengalihkan pembicaraan dan malas membahas soal Ares, orang yang mengantarnya pulang.


"Jangan mengalihkan perkataanku. Pasti ada yang kamu sembunyikan, kalau tidak buat apa kamu mengelak?"


"Aku tidak bohong, nda...yang mengantarku tadi, pelanggan di restoran. Aku juga tidak kenal namanya siapa. Tapi aku kenal anaknya" kata Naya tersenyum tipis, mengingat wajah Yoni yang lucu.


"Berarti kamu sering ketemu, dong. Awas saja kalau kamu selingkuh!"


"Apa maksud, Manda.? Aku tidak akan melakukan perbuatan keji itu, berzina dlarang dalam agama, sama saja dengan selingkuh. Naudzubillah... Astaghfirullah," kata Naya, sambil melangkah ke kamar mandi.


"Aku hanya mengingatkan, Naya! Jangan berbuat macam-macam, hanya karena kamu tidak suka dengan permintaan ibu, lalu kamu..." kata Rudian dengan suara keras, ia masih tetap duduk di sofa.


Naya menghentikan langkahnya. Ia kembali menghampiri Rudian, dan membungkukkan badan kearahnya.


"Apa naksud Kanda, apa kata-kata ibu yang bisa membuatku tidak suka?"


"Itu... Ya... Kata-kata ibu yang minta aku buat menikah lagi." Kata Rudian tanpa ekspresi.


"Oh, yang itu. Kanda, walau aku tidak suka. Tapi aku tidak akan selingkuh. Apa kanda curiga, atau kanda yang berusaha menutupi sesuatu?" menegakkan badan, hatinya mulai panas.


Rasa lelah setelah bekerja belumlah sirna, tapi kepulangan suaminya yang diluar kebiasaannya justru membuat mereka bertengkar.


Sebenarnya hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja selama empat tahun, hanya dua tahun belakangan ini yang kemudian mulai dipenuhi banyak masalah, terutama soal anak.


Panggilan kanda dan dinda yang selama ini melekat sebagai panggilan sayang pun mulai terdengar jarang dari mulut Rudian.


"Sudahlah, aku sebagai suami hanya mengingatkan saja"


"Atau jangan-jangan, kanda cemburu?"


"Buat apa aku cemburu. Aku hanya benci melihatmu diantar laki-laki lain. Kupikir kamu mendahuluiku selingkuh, padahal aku belum memulainya" kata Rudian pergi mendahului Naya ke kamar mandi dan menutup pintunya.

__ADS_1


"Apa, jadi kanda berniat selingkuh? Istigfar Kanda. Istigfar!"


Dok! Dok! suara pintu kamar mandi digedor Naya, meluapkan rasa kesalnya.


'Apa itu tadi maksudnya, mendahuli selingkuh, bahkan sebelum dia memulai. Apa kanda benar-benar selingkuh? Tapi bukankah menikah lagi lebih baik dari pada berbuat kotor seperti itu? Ahk... Tidak, tidak, keduanya tidak ada yang lebih baik. Memangnya siapa Kanda, mau beristri dua?'


-


Sementara di dalam mobil Ares.


"Papa, bukankah aneh, kalau Yoni tidak kambuh?" Tanya Raya masih dengan rasa penasarannya.


"Tidak aneh. Mungkin memang ada beberapa orang asing, yang tidak membuat Yoni mual atau kambuh."


"Menurutku ini aneh. Dasar anak manja. Kenapa harus punya alergi seperti itu, apa karena ia tak punya ibu sejak lahir?"


Ares tak menjawab, menurutnya ini hanya kebetulan.


Andai saja ada diantara baby sitter yang pernah bekerja padanya bisa seperti Naya, yang tidak membuat alergi anaknya kambuh. Maka ia tidak akan kerepotan seperti ini.


Biasai, yang menjaga Yoni adalah ibunya. Namun hari ini,


Ares, sudah menyerah untuk mencari pendamping yang bisa mengurus anak-anaknya. Bukan karena ia sudah tidak memiliki keinginan terhadap perempuan, tapi kondisi anaknya lah yang memaksanya menyerah. Walaupun ia sendiri lelah, harus mengurus keluarga dan pekerjaan tanpa bantuan pendamping.


Menyerah bukan berarti kalah, tapi seandainya ia masih bisa menemukan wanita yang memang bisa beradaptasi dengan Yoni, tentu ingin menjadikannya istri.


"Papa tidak penasaran dengan tante tadi? Papa, aku pikir, tante itu _ _ " ucapan Raya terputus.


"Hus. Diam, jangan lagi ngomongin orang." Ares menyela anaknya.


Lalu Hening.


-


Naya melanjutkan kegiatannya dengan memasak untuk makan malam. Saat ia mendapat ship pagi, maka ia bisa memasak untuk makan malam. Tapi saat Naya mendapatkan ship sore, maka ia akan memasak sarapan untuk mereka berdua.

__ADS_1


Suasana masih kaku dan dingin. Aroma kemarahan masih menyelimuti hati mereka berdua. Rudian benar-benar tak suka melihat istrinya diantar seorang pria. Apalagi laki-laki yang mengantar Naya pulang tadi, terlihat lebih baik dari dirinya.


Ini pertama kalinya Rudian melihat Naya diantar seseorang menggunakan mobil pribadi. Biasanya ia hanya menggunakan ojek, atau angkutan umum lainnya.


Saat makan malam, Rudian masih penasaran dengan kejadian itu, tapi wajah Naya terlihat enggan membahasnya. Jadi ia memilih membicarakan topik lain.


"Tadi, ada kejadian di pabrik. Karyawan pada demonstrasi minta kenaikan gaji. Jadi mogok kerja masal. Makanya aku pulang lebih awal"


Pernyataan Rudian itu membuat Naya heran, ia pun bertanya, "kenapa tidak menjemputku?"


"Itu juga mau jemput. Eh, ternyata sudah ada laki-laki lain yang nganter. Wajar, kan, kalau aku kesal?"


"Maaf. Tadi itu anaknya yang ngajakin bareng. Aku sudah nolak, tapi anaknya yang maksa pulang bareng."


"Wah, kamu akrab ya. Sudah lama kenal?"


"Eh, aku sudah bilang, baru saja kenal sama anaknya hari ini" kata Naya cemberut. "Sudah, aku malas membahasnya... Buat apa dijelaskan kalau Kanda tidak percaya."


"Terserah. Kamu sudah tau kan mana yang baik mana yang buruk?" kata Rudian, menyudahi makan malamnya.


Naya mengangguk.


"Kanda juga dong, harus hati-hati. Di pabrik banyak cewek cantik. Dulu teman-teman aku di pabrik banyak yang cantik, orang yang tidak kuat, bisa mudah tergoda."


Mendengar kata-kata Naya, Rudian tiba-tiba terbatuk-batuk. Naya menyerahkan air minum dan menepuk-nepuk punggung suaminya lembut.


"Oh, iya. Malam ini aku ada perlu, Tio mengundangku main catur dirumah barunya. Jadi gak usah nunggu aku pulang, tidur duluan saja" kata Rudian sambil menggeser kursi dan meninggalkan meja. "Aku mungkin pulang malam."


Naya mengerti, ini sudah jadi kebiasaan suaminya beberapa bulan terakhir, pergi bersenang-senang dengan teman-temannya. Kalau sudah bilang seperti itu, artinya Naya akan tidur sendiri sampai lewat tengah malam, dan tidak perlu menunggu Rudian pulang.


"Aku bawa kunci cadangan. Tidur lebih awal ya" kata Rudian sambil berlalu, menyalakan sepeda motor yang baru saja lunas cicilannya. Lalu. pergi meninggalkan Naya sendiri memberskan sisa makan malam mereka.


Ia harus segera pergi bekerja pagi-pagi sekali, hingga semua pekerjaan rumah ia bereskan dimalam harinya. Bahkan terkadang ia mencicil meracik masakannya dimalam hari, hingga setelah subuh ia bisa dengan cepat membereskan masakan yang harus ia siapkan untuk sarapan.


'Ya Allah beri aku kesabaran, apa keadaan rumah tangga yang sudah lama terbina, akan sama seperti ini juga. Tidak ada lagi keromantisan di dalamnya?'

__ADS_1


Merasa diabaikan.


Bersambung


__ADS_2