
"Kanda..." kata Naya segera menghampiri Rudian dan meraih tangan suaminya lalu menciumnya hikmat. Raya melihat pemandangan itu.
"Tadi, aku menemani Raya. Ini Raya" kata Naya memperkenalkan Raya pada Rudian. Raya melakukan hal yang sama seperti Naya, mencium tangan Rudian sambil tersenyum.
'Ini pasti suami tante Naya'
"Siang, om. Oh iya, tante. Terimakasih ya tadi sudah bantu Raya. Cara tante keren" kata Raya mengabaikan Rudian.
"Kamu mau makan dulu, bukan?" tanya Naya sambil melangkah kearah restoran diikuti Raya. "Tunggu sebentar ya, kanda. Aku pamit dulu sama bu Nha." kata Naya lagi, pada Rudian.
"Iya, tante. Saya lapar. Tante mau pulang ya?"
"Iya. Hati--hati ya"
Raya mengangguk dan berkata, "Tante jangan mengatakan apapun pada papa, kalau nanti papa tanya, soal kejadian di sekolah" kata Raya setengah beebisik pada Naya.
"Iya, insyaallah. Tante tidak akan mengatakan apapun. Rasanya papamu juga tidak akan menanyakannya pada tante." kata Naya, lalu segera pamit pada bu Nha dan menghampiri Rudian yang sudah menunggunya.
"Anak siapa itu?" kata Rudian sambil memajukan motornya.
"Dia iti teman. Anak pak Ares" kata Naya tenang.
"Apa kalian sudah sangat akrab, bahkan pergi bersama tadi dengan mobilnya"
Naya berpikir sejenak agar jawabannya tidak membuat suaminya salah faham. Dia merasa sudah banyak berbohong hari ini demi Raya. Ia berpikir kalau lebih baik jujur mengatakannya apa adanya, setelah itu, apa pun resikonya akan ia hadapi. Memang niatnya hanya ingin menolong.
"Tadi aku hanya dimintai tolong, sama bu Nha juga diizinkan, jadi ya aku pergi sama Raya. Buat jadi teman saja, untuk urusan sekolah."
__ADS_1
"Jadi kamu pergi sama laki-laki itu lagi juga tadi?" masih jelas dalam ingatan Rudian, wajah Ares saat dulu mengantar Naya pulang. Wajah yang cukup tampan, wajar kan kalau ia cemburu.
"Tidak. Tadi sama sopir. Sama Raya juga" jawab Naya.
Rudian hanya diam, ia juga akan mengatakan sesuatu, tapi entah, berat rasa hati memulainnya. Padahal rasa bersalah merasuki hatinya. Apakah Naya akan sakit hati kalau mengetahui kenyataan yang sebenarnya atau tidak ia tidak tahu.
Tapi sebenarnya sakit hati itu tidak lain karena kesalahan manusia sendiri yang menaruh harapan terlalu besar pada seorang mahluk. Seandainya harapan hanya disandarkan pada Allah, tentulah sakit hati tidak terlalu menyayat rasanya, mungkin.
Manusia tidak mungkin tidak punya harapan, kan? Sebab harapanlah yang membuat manusia sanggup bertahan.
"Kenapa, kanda?" tanya Naya ketika melihat Rudian menghela nafas berat. Rudian menggeleng pelan.
Motor yang mereka naiki pun berhenti di depan rumah mungil mereka yang berhimpitan dengan beberapa rumah lainnya. Naya turun dari motor sedang Rudian tidak, ia membelokkan motor kembali ke jalan sambil berkata,
"Aku ke rumah Tio dulu, nanti pulang makan malam."
Naya menatap kepergian Rudian dengan perasaan galau. Meski ia sudah mencoba berprasangka baik tapi tetap saja ia curiga. Kata sebagaian orang, insting wanita selalu tepat. Apa itu benar? Ahk... Naya menghempaskan tubuhnya ke sofa. Istigfar ia lantunkan berulang dari bibirnya.
Membiarkan orang yang dicintai bersama dengan orang lain, itu sama saja mengamini lukanya sendiri. Apakah mengizinkan suaminya menikah lagi adalah pilihan yang baik agar suaminya bahagia dengan membiarkan dirinya sendiri hancur?
Lagi-lagi Naya mendesah. Setelah beberapa saat iatirahat, Naya menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia melakukan beberapa aktifitas sesudahnya seperti membersihkan diri dan mengaji.
Ketika malam sudah mulai merayap, Naya mencoba menelpon Rudian, ia juga sudah mengirim pesan, kapan suaminya itu akan pulang. Ia sudah lapar. Tapi ia mendapatkan telepon Rudian tidak aktif dan pesannya tidak dibales.
Sementara di luar rumah terdengar suara memekakkan telinga dari sebuah petasan dan kembamg api yang dinyalakan entah dari mana. Naya merasa penasaran hingga ia berjalan keluar rumah. Ia mendongak ke langit dan melihat beberapa orang berkerumun.
Naya melewati orang-orang yang sibuk menyalakan petasan entah dalam rangka apa, atau mungkin hanya anak-anak iseng saja. Ia berjalan terus hingga keluar kompleks perumahan. Ia berharap kalau Rudian lewat, ia akan memanggilnya
__ADS_1
Naya berinisiatip untuk pergi ke swalayan dekat perumahan, ia ingin membeli beberapa barang kebutuhan sambil menunggu suaminya.
Tapi baru saja ia sampai di halaman parkir minimarket, Naya dikejutkan dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Darahnya seolah membeku dibuatnya, bahkan nafasnya seperti tersumbat ditenggorokannya. Ingin ia berteriak sekuat tenaga tapi tidak mungkin. Ia bukan wanita yang tidak beradab. Tubuhnya lemas dan hatinya benar-benar sakit sesakit sakinya. Getaran jantungnya berpacu lebih kuat.
"Kanda..." bisiknya lirih.
Naya berjalan mendekati suaminya secara perlahan, disana Naya melihat Rudian sedang memilih barang ditemani seorang wanita cantik bertubuh seksi dan berpakaian sangat bagus tapi tidak berjilbab seperti dirinya. Wanita itu bergelayut manja dilengan Rudian sambil tersenyum manis. Rambutnya terurai indah dan wajahnya dipoles riasan tipis.
"Kanda. Jadi, ini yang namanya Tiio?" kata Naya dengan suara bergetar.
Kedua insan yang terlihat sangat bahagia itu menoleh dan terkajut. Buru-buru wanita itu melepaskan pelukkannya di lengan Rudian.
"Naya, kenapa kamu ada di sini?" tanya Rudian gugup.
Rudian membawa Naya menjauh dari wanita yang tadi bersamanya. Dan menggenggam tangannya seolah berusaha menenangkan Naya dan mencegah agar Naya tidak berbuat sesuatu pada wanita itu.
"Siapa dia, Kanda?" tanya Naya. "kenapa kalian terlihat mesra sekali? Apa Kanda selingkuh?"
"Hati-hati Naya kalau bicara. Kamu wanita muslimah yang harus menjaga akhlaqmu" kata Rudian tegas tapi pelan karena khwatir menarik perhatian orang lain.
Naya menepis tangan Rudian dan hendak melangkah mendekati wanita itu, tapi Rudian mencegahnya, ia menarik tangan Naya dan mengajaknya keluar tempat itu.
Sampai di halaman parkir.
"Kanda takut, aku menjambak rambutnya? tenang saja kanda. Aku hanya nau tahu ada hubungan apa dia sama kanda, itu saja"
*Tinggalkan jejak, jangan lupa like komen dan votenya* Terimakasih atas dukungannya.
__ADS_1
*ujung pena*
Bersambung