Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 44. Dia Suamimu?


__ADS_3

Naya menoleh kearah dua suara yang memanggilnya. Ia mendapatkan bu Nha dan Yoni ada di depannya. Gadis kecil itu berlari kearah Naya begitu melihat orang yang ia sukai itu datang. Naya langsung menggendongnya.


Bu Nha yang melihat interaksi antara Naya dan Yoni tersenyum. Lalu mengulangi pertanyaannya.


"Kenapa terlambat? Ayo cicipi makanan yang lain. Keburu habis." kata bu Nha berjalan menuju tempat prasmanan.


Pesta di restoran itu dirancang oleh Naya dan teman-temannya, mengambil tema berbagi dan bersama. Siapa saja boleh menyumbang makanan sebagai hadiah dan siapa saja bebas menikmati secara gratis.


Semua makanan baik yang dibuat oleh pihak restoran atau pemberian dari pihak luar, disusun rapi di meja prasmanan. Jadi para pengunjung bisa mengambil dan memilih sendiri makanan yang ingin dinikmati.


Para pelayan tidak begitu sibuk, mereka hanya bertugas mengisi tempat makanan yang sudah kosong, atau mengbil semua piring kotor yang sudah dipakai para pelanggan. para koki dan petugas cuci piring yang kerepotan. Karena makanan yang harus disajikan lebih banyak dan piring kotor yang harus dicuci juga lebih banyak.


"Maaf ya bu Nha, saya terlambat soalnya lagi ada masalah dirumah." kata Naya. Tadi pagi setelah subuh sebenarnya Naya sudah meminta izin tapi ia tidak menyangka akan sangat terlambat seperti sekarang ini.


"Kenapa, masalah Rudian?" tanya bu Nha, dan Naya mengangguk. "Tuh, orangnya. Lagi makan gratis. Mana istri barunya?'


Mendengar bu Nha, Naya yang masih menggendong Yoni, mengedarkan pandangan dan ia mendapati suaminya tengah makan siang bersama beberapa orang rekan kerjanya.


" Tidak ikut. Dia dirumah. Sakit." kata Naya muram.


"Katanya kamu tinggal serumah ya, hebat kamu, Nay!" kata Bu Nha. sambil menepuk pundak Naya. Lalu pergi menghampiri beberapa pelanggan untuk berbasa basi.


"Tante, ini.'' kata Yoni memberikan Naya sebuah jeruk yang ranum dan tampak segar.


" Ini, buat tante?" tanya Naya sambil menatap Yoni yang ada dalam gendongannya. Yoni memandang Naya sambil mengangguk.


"Duuh, baik banget si, anak cantik ini. Gemes deh tante pengen nyium!" kata Naya sambil menelusupkan wajahnya dipipi Yoni yang membuat Yoni tertawa.


Suasana ramai dan penuh sesak direstoran itu membuat Naya yang sebenarnya bebaa kerja itu, menyingkir di halaman parkir yang tidak terlalu luas. Disisi restoran ada sebuah pohon yang cukup rinbang dan ada sebuah kursi panjang disana yang bisa dipakai untuk bersantai.


Mereka berdua mengobrol di sana sambil makan buah jeruk. Naya mengupasnya dan memberikannya pada Yoni.


"Ini buat Tante. Yoni udah. Yoni tadi makan sama papa." kata Yoni, menolak jeruk dari Naya.


"Oh." kata Naya akhirnya memasukkan jeruk itu kemulutnya sendiri.


"Tadi papa beli."


"Oh iya?"


"Eu hum. Tadi papa beli. Papa beli banyak. Telus..."


"Terus?"


"Terus papa bagi, papa bagi banyak-banyak." celoteh Yoni bercerita dengan gaya kihas anak kecil. Tapi Naya bisa mengerti maksudnya kalau Ares yang membeli buah jeruk dalam jumlah banyak kemudian dibagikan sebagai hadiah di restoran itu.


Momen berbagi memang tidak malulu saat hari-hari bersejarah dalam hidup saja. Tapi kadang mengambil sebuah moment tertentu, membuat hari berbagi lebih berkesan.


Para pelanggan yang datang untuk menikmati makanan gratis dan memeriahkan acara silih berganti. Tidak ada yang merasa kecewa dengan acara ini. Sebab ini sebuah kesempatan memberi dan menerima. Bu Nha sebagai pemilik juga sangat puas dengan ide Naya dan teman-temannya ini, mengingat ia juga tidak perlu mengeluarkan banyak uang dan juga tenaga seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Papa mana?" tanya Naya yang tiba-tiba sadar kalau ia tidak melihat papa Yoni itu ada di dalam restoran.

__ADS_1


'Apa aku saja yang tidak melihat atau memang pak Ares gak ada?'


"Papa..." kata Yoni yang juga baru sadar kalau ia juga tidak melihat papanya karena ia sibuk menghampiri Naya begitu Naya datang.


'Ah, gimana ini, pak Ares gak ada. Aku kan gak enak kalau gak ikut bantu teman-teman.'


Naya mencari kesana kesini tapi orang yang ia cari tidak ada dimanapun. Akhirnya mereka kembali ke halaman parkir.


"Naya, kamu gak kerja. Anak siapa ini?" Tanya Rudian yang tiba-tiba sudah ada di samping Naya dan ia tampak berkeringat. Cuaca memang cukup panas apalagi keadaan restoran yang ramai. Menambah udara menjadi lebih lembab.


"Kanda, makan di sini?" tanya Naya pura-pura terkejut padahal ia tahu kalau suaminya itu makan siang bersama temannya.


"Iya. Kok kamu gak bilang kalau bu Nha ngadain pesta makan gratis? makananya enak-enak lagi. Tahu gitu..."


'Mau ngajak Yola. Pasti dia senang, kan?'


"Kanda kan gak tanya, kanda gak perduli apapun lagi sama aku. Gak pernah nanyain apa gitu soal aku."


"Udah, udah deh...gak usah cari masalah ditempat umum begini." kata Rudian mencoba menghindari situasi menegangkan yang mungkin akan terjadi.


Sedang Naya masih kesal dengan kejadian antara dirinya dan Yola yang sangat menyakitkan. Menurutnya, semua karena suaminya yang sudah tidak pengertian.


"Aku gak cari masalah. Masalah datang sendiri buat apa dicari... Kanda sudah kenyang? Mau kerja lagi?"


"Iya, kamu kerjanya jadi pengasuh ya sekarang?" kata Rudian lagi yang sepertinya penasaran dengan anak ada dalam pangkuan Naya.


"Aku lagi istirahat sekarang. Ini anak pak Ares. Orang nya gak ada, jadi dititipin sama aku, Nda."


"Astagfirullahal'adziim, kanda. Jangan suuzdan, Nda. Aku ini istri sendiri kok bisa-bisanya kanda bicara begitu si? Ini anak temannya bude."


Mendengar kata-kata Naya itu, Rudian tertawa. Lalu duduk dikursi yang tadi diduduki Naya. Lalu ia berkata.


"Ya, mungkin saja kan?"


'Ada gitu, orang selingkuh secara terang-terangan, hanya orang yang sudah putus urat malunya yang melakukan itu.'


"Apa pikiran kanda seburuk itu sama aku? Kanda. Jangan anggap orang akan memiliki sifat yang sama dengan dirinya."


"Ahk, ya sudah-sudah, teman-temanku sudah beres tuh, aku pergi dulu, ya. Nanti aku pulang cepat. Jadi gak bisa jemput kamu. Mau ke dokter jam tiga sore. Gak tau pulang jam berapa, nanti."


'Ya, gak apa. Sekarang aku sudah biasa gak diantar jemput sama kanda.'


"Ya, hati-hati." jawab Naya.


Baru saja Rudian hendak menaiki motornya, ia tiba-tiba pinsan dan jatuh ke tanah begitu saja.


Bukk! Suara keras benturan tubuh yang jatuh ke tanah.


"Kanda!" jerit Naya sontak berlari menghampiri tubuh Rudian yang lemas dan pucat pasi. Ditangannya masih memgang kunci motornya.


Naya mengguncang-guncangkan tubuh Rudian berulang kali sambil menunjukkan kepanikan luar biasa.

__ADS_1


"Kanda! Kanda kenapa?! Kanda!" kata Naya beeharap suaminya bangun.


Beberapa temannya mendekat dan hendak mengangkat tubuhnya dengan bergotong royong.


Suasana panik menambah suasana ramai yang memang sudah tercipta sebelumnya karena kejadian Rudian yang pinsan. Teman Rudian yang berjumlah lima orang itu berdiskusi mau dibawa kemana, apa akan dibawa ke rumah sakit atau ke puskesmas terdekat saja.


Rudian dibaringakan diteras restoran dan beberapa orang mengerumuninya termasuk Naya, ia mulai menangis.


"Dia suamimu?" tanya sebuah suara di depan Naya yang masih menangis. Ia sudah mengusap-usap kan minyak kayu putih disekitar hidung Rudian tapi suaminya itu tidak kunjung siuman.


Naya menoleh kearah Ares yang bertanya untuk memastikan kebenarannya, dan Naya mengangguk.


Setelah mendapatkan jawaban Naya, Ares menggendong Yoni dan membuka pintu mobil lalu meminta beberapa orang untuk membawa tubuh Rudian ke dalam mobilnya. Teman-teman Rudian pun menuruti Ares karena mereka juga tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan.


"Ayo, kita bawa kerumah sakit. Sepertinya suamimu ini sakit." kata Ares sambil menutup pintu mobil setelah ia mendudukkan Yoni di kursi penumpang depan.


"Terimakasih, pak." kata Naya sambil duduk di samping Rudian yang masih tak berdaya.


"Bilang terimakasih itu nanti." kata Rudian sambil menjalankan mobilnya sendiri.


Semua orang yang menolong Rudian tadi hanya menatap mobil Ares pergi menjauh menuju rumah sakit.


Naya tidak tahu saat dirinya mengasuh Yoni, Ares lah yang menggantikan tugasnya membereskan meja, membawa piring kotor kebelakang dan menyusun makanan. Itu hal mudah baginya karena ia juga terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah bila tidak ada asisitant.


Penampilan Ares yang biasa saja dengan kemeja yang sederhana, membuat beberapa pelayan lain tidak sungkan, hanya kadang wajah tampannya saja yang kadang membuat para pelayan lain gagal fokus.


Kini Ares mengemudikan mobil dengan tenang tanpa menoleh pada pasangan suami istri dibelakangnya.


Naya masih setia memberikan aromaterapi didekat indra penciuman Rudian agar segera sadar, tapi suaminya itu masih saja tak membuka matanya.


"Apa dia sering seperti ini?" tanya Ares memecah kesunyian.


"Tidak. Selama ini, dia sakitnya biasa saja." jawab Naya.


'Ya, selama menikah Kanda belum pernah sakit parah sampai masuk rumah sakit, dia sakitnya paling masuk angin, atau batuk pilek biasa. Tapi sekarang, kenapa?'


Tanpa berpikir panjang, Naya menelpon ibu mertuanya, Sarita untuk mengabarkan kejadian yang ia alami saat ini.


"Ibu, kanda pinsan, mau dibawa kerumah. sakit sekarang." kata Naya begitu telepon teraambung. Nada suara panik terdengar jelas.


"Kenapa? Apa dia pinsan?" jawab suara dibalik telepon.


"Iya, kok ibu, tahu?" tanya Naya heran.


"Tadi bude telepon. Rumah sakit mana, Nay? jaga jangan sampai kepalanya terbentur, ya. Itu bahaya." jawab Sarita.


"Bahaya kenapa, bu?" tanya Naya penasaran.


"Pokoknya, hati-hati soal kepalanya!" kata Sarita lagi.


'Tapi tadi waktu pinsan kepalanya bahkan terbentur kuat di tanah.'

__ADS_1


__ADS_2