
Naya menoleh sejenak dan menjawab dengan malas.
"Sekarang belum terlalu larut, baru jam sepuluh malam. Dan aku pulang karena tidak dijemput Kanda. Jadi lama nunggu ojek." kata Naya dan langsung masuk kamar daj menutupnya.
Ia merasa tidak perlu membela diri di depan Yola. Entah apa yang dipikirkan Yola tentang dirinya, ia tak ingin memperpanjang masalah. Walau pedih rasa hatinya melihat semua hal tadi, ia tak bisa marah, kan?
Ia melihat bagaimana Rudian membantu membereskan barang-barang Yola dan menghabiskan waktu bersama, dalam kamarnya.
Naya merasa tidak perlu menangis lagi, seandainya ia menangis kali ini dan matanya bengkak, maka ia akan disangka wanita lemah. Tidak sama sekali bukan. Menangis bukan karena lemah, tapi karena itu adalah salah satu cara membuat hati lega.
Walau wanita memang dikenal sebagai mahluk yang lemah, dan wajar bila menangis, tapi Naya tidak akan menampakkannya di depan Yola. Ia harus kuat. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Naya, apa kamu sudah tidur?" kata Rudian sambil membuka pintu kamar Naya.
Rudian membelai wajah Naya lembut. Memastikan kalau istrinya ini sudah tidur. Kalau Naya sudah tidur maka ia akan tidur dengan Yola. Ia hanya tak ingin mengganggu Naya. Sebab bila Naya tidak marah, maka itu sudah sangat bagus untuknya. Rudian terlihat cukup lelah hari ini, hingga ia tertidur di samping Naya, di kamarnya sendiri.
-
Pagi harinya, Naya terbangun dengan Rudian disisinya, memluk erat tubuhnya, membuat ia tersenyum getir. Ia senang karena Rudian memilih tidur dengannya. Walau mereka tidak melakukan apapun selain tidur, itu sudah membuat Naya merasa bahwa Rudian masih menghargai dirinya.
"Bangun, Kanda. Sudah subuh." kata Naya sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Bunyi alrm tanda waktu subuh sudah hampir tiba terdengar nyaring dari balik ponsel Naya.
"Hmm..." sahut Rudian masih terpejam, ia hanya menggerakkan sedikit badannya ke samping. Lalu bertanya, "apa kamu sudah sholat sekarang?" Naya mengangguk. Dan Rudian tersenyum tipis. Masih mengantuk.
Sebelum Rudian menikah dengan Yola, ia sedikit tidak sabar kalau Naya sedang haid. Ia akan sering bertanya apakah Naya sudah selesai haid? Tapi sejak Yola hadir dalam pernikahannya, Rudian tidak lagi bertanya soal ini, ia sudah memiliki wanita yang bisa melayaninya ketika Naya sedang tidak bisa.
"Hooeek...hooeek!" terdengar suara keras dari luar pintu, suara seperti orang yang muntah.
Rudian segera bergegas keluar dengan membuang raaa kantuknya. Mungkin karena ini adalah pengalaman baru baginya jadi ia terlihat begitu panik.
'Hei. Ini hal biasa bagi ibu hamil....!'
"Apa kamu sakit? Apa harus ke dokter?" kata Rudian sambil memijat lembut leher Yola di kamar mandi. Tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya
"Tidak apa-apa. Itu biasa buat wanita hamil. Gak perlu dibawa ke dokter. Nanti juga hilang kalau sudah tiga bulan." kata Naya. Ia juga sudah ingin menunaikan hajatnya di sana.
__ADS_1
"Apa kamu sudah pernah hamil. Jangan sok tahu!" sahut Yola sambil menegakkan punggungnya.
Dua wanita itu saling tatap dengan menyiratkan perasaan masing-masing. Bagi Yola, ia tidak senang dengan kata-kata Naya yang seolah menganggapnya manja.
"Aku memang belum pernah hamil. Tapi aku tahu soal seperti itu dari teman-teman dan baca di internet.
" Walau kamu tahu, tapi kamu belum pernah merasakannya, kan?" kata Yola.
"Sudah-sudah. Ayo kita sholat gak usah ribut pagi-pagi."
'Kanda seharusnya sudah tahu akan seperti ini resikonya bila tinggal bersama. Ah, memang kebanyakan pria kalau poligami itu tidak tahu ilmunya dan gak tahu harus bagaimana. Selalu saja menuntut pengertian dari istrinya.'
"Awas..." kata Naya begitu Rudian selesai bicara. Ia sudah ingin ke kamar kecil itu sejak tadi.
Yola dan Rudian beranjak menjauh, duduk di sofa menunggu giliran ke kamar mandi. Mereka tampak mesra saling mengusap. Rudian mengusap perut Yola yang masih rata. Sedang Yola mengusap punggung Rudian dengan lembut.
" Ehem!" Naya keluar dari kamar mandi dengan berdehem, memberi isyarat agar mereka tidak mengumbar kemesraan di depannya. Ia juga punya hati kan?
"Kamu sudah selesai?" tanya Rudian salah tingkah dan basa-basi.
Naya ke kamarnya tanpa melihat pada Yola. Biar bagaimanapun semua perlengkapan milik Rudian ada dalam kamarnya, Rudian pasti akan lebih banyak memenuhi keperluannya di sana.
Benar saja, selesai dari berwudhu dan gosok gigi, Rudian ke kamar lagi untuk bersiap sholat berjamaah.
"Kita jamaah saja sholatnya, sama Yola." kata Rudian sambil memakai sarung dan baju kokonya.
'Apa maksudnya, lebih bagus sholat di masjid bagi laki-laki.'
"Gak usah gak apa, Nda. Sholat aja di Masjid seperti biasanya."
"Jamaah saja, biar lebih akrab." kata Rudian.
'Akrab seperti apa maksudnya? Seakrab-akrabnya wanita yang dipoligami itu seperti sejernih-jernihnya air cucian beras.'
"Memangnya bisa akrab gitu?" tanya Naya, sedikit heran. Menurutnya Rudian terlalu berharap.
__ADS_1
"Ya,, kamu harus banyak mengalah. Soalnya kan Yola sedang hamil. Apalagi kamu sebagai istri pertama harus bisa memberi contoh yang baik."
"Apa menurut Kanda aku memberi contoh yang tidak baik? Gimana si contoh yang baik buat istri keduamu itu?" diam sejenak lalu berkata lagi, "Kenapa aku yang harus mengalah?!"
"Kamu kenapa, si. Kok pagi-pagi malah ngajak bertengkar, aku cuma ngasih nasehat sebagai suami." kata Rudian dengan suara keras yang tentu saja di dengar oleh Yola. Wanita itu tampak tersenyum tipis.
'Wah, wah. Jadi aku yang salah di sini? terus apa katanya tadi, aku harus mengalah? Bukankah selama ini aku sudah banyak mengalah? Yang benar saja.'
Pada akhirnya mereka sholat berjamaah juga, setelah diselingi dengan drama, Yola kembali muntah-muntah yang membuat sholat menjadi terlambat.
Tak masalah bagi Naya untuk sholat berjamaah, tapi sebenarnya yang ia tidak rela adalah permintaan Rudian untuk mengalah. Apakah ini artinya ia harus rela bila suatu saat kelak ia tidak mendapatkan keadilan sebagai mana mestinya? Naif sekali kalau saja itu benar.
Naya berpikir dalam diamnya, masih termenung di atas sajadah. Ia merasa tidak pantas untuk memperdebatkan hal itu sementara Yola ada diantara mereka.
Mengalah memang bukan berarti kalah, dan mengalah untuk menang adalah sebuah kebaikan. Tapi dalam masalahnya, mengapa ia yang harus mengalah? Bukankah seherusnya suami lebih bijaksana? Mengalah itu ilmu tingkat tinggi.
'Apakah aku akan kuat? Ya Allah, bukankah aku memiliki hak yang sama? Bagiku, mengalah itu hanyalah kata yang sederhana, tapi untuk melakukannya, tidak semua orang bisa.'
Jadi, seharusnya mengalah adalah sebuah kata yang istimewa.
Segala rasa sakit, kecewa, tidak puas, semua campur dalam dadanya. Sesak, ingin menumpahkannya dalam bentuk tangisan, keluh dan kesah tapi tak bisa.
Ingin rasanya Naya meminjam kekuatan angin untuk mengusir segala ketidakperdulian Rudian akan perasaannya, lalu menghancurkan keculasa semua pria pada wanita, atau menjadi kuku yang mencakar keegoisan para suami pada istrinya.
Tapi bukankah Yola juga seorang wanita, yang memiliki perasaan yang sama dengan dirinya? Ahk...
Seharusnya Yola juga mengerti, bagaimana bila ia diperlakukan sama seperti ini oleh orang lain. Dendam? Ini adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh agama.
Pegal rasanya Naya hanya duduk di lantai sendirian di ruang tamu yang bertambah fungsinya menjadi kamar sholat. Naya membereskan alat sholatnya dan pergi ke dapur untuk mencuci pakaian. Kalau ia mendapatkan ship sore, maka ia akan mencuci pakaian pagi hari, kalau waktu ship pagi, ia akan mencuci malam hari.
Saat ia melihat keranjang pakaiannya, ia melihat ada beberapa pakaian yang tidak ia kenal milik siapa. Pikirannya melyang tentang pakaian Yola beberapa pekan yang lalu.
'Ini... baju Yola?'
'Kanda....!" Naya berteriak kearah kamar sebelah yang kini menjadi kamar Yola. Sejak selesai sholat subuh, suaminya masuk ke kamar itu sambil memapah Yola yang terlihat lemas, dan sampai sekarang Rudian belum keluar.
__ADS_1
'Apa aku juga harus mencuci pakaiannya? Tidak akan!'