Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 64. Masa Tenggang


__ADS_3

"Iya, kalau aku pergi ya aku pasti keluar dari restoran lah. Tapi belum tau, si. Gimana nanti saja," jawab Naya sambil meninggalkan Nia di sana.


Naya masih menggantung jawabannya ketika ada beberapa pelanggan datang. Naya dan Nia sibuk melayani pesanan mereka dan mebersihkan beberapa tempat. Hari masih pagi, biasanya pelanggan yang datang dijam seperti ini adalah mereka yang belum sarapan.


Naya juga sebenarnya belum sarapan, tapi ia berniat untuk berhemat karena ia akan punya banyak kebutuhan. Ia masih bimbang apakah akan mengikuti saran ayahnya untuk pergi ke kampung halaman masa kecil dulu atau mencari tempat kost baru.


'Seandainya bisa sholat istikhoroh saat ini juga.'


"Nay, aku sudah telepon ibuku, katanya kamu boleh tinggal untuk sementara waktu dirumahku. Uang sewanya, sama dengan sewa temppat di rumah kontrakanmu." kata Nia disela-sela kesibukan mereka.


Naya hanya tersenyum menanggapi kata-kata Nia, ia tidak bersungguh-sungguh untuk tinggal di sana walau hanya sementara waktu. Sebab Naya berfikir seanfainya tinggal di rumah Nia, sama saja ia mengumpankan dirinya sendiri sebagai fitnah. Lingkaran godaan setan yang garisnya tidak akan putus karena selalu berhubungan, harta, tahta, wanita.


Ada tiga pria yang juga tinggal di runah keluarga Nia, walau mereka punya kesibukan masing-masing tapi mengingat status Naya, itu sangat riskan baginya. Ya, khawatir itu tadi, fitnah. Sebaik apapun ia berusaha menjaga diri, jebakan setan itu sering kali aangat halus sehingga manusia tidak akan terasa kalau mereka sudah berada dalam.jerat godaannya.


Naya sadar, dirinya tidak hidup dizaman Rosul dan sahabatnya, yang jauh dari kisah-kisah perselingkuhan atau goda menggoda.


Pernah dikisahkan terjadi saat musimnya para sahabat Rosul dari Mekkah berhijrah ke Madinah. Karena di Madinah sudah tercipta lingkungan beragama yang kondusif. Saat itu ada seorang sahabat yang sudah saling dipersaudarakan satu sama lain oleh Rasul. Mereka diikat oleh persaudaraan karena ikatan keimanan dan ketaqwaan yang luar biasa. Hingga salah satu dari mereka ada yang berkata pada sahabat yang sudah dipersaudarakan,


"Wahai saudaraku, aku mempunyai tiga orang istri, pilihlah salah satu diantara mereka, mana yang engakau sukai. Maka apabila engkau sudah memilihnya, maka akan aku ceraikan dia agar engkau bisa menikahinya."


Subhannallah! Ini sebuah pengorbanan yang tidak biasa, memberikan istri untuk saudara seaqidahnya, saudara satu ikatan hubungan karena Allah. Persaudaraan yang bertujuan agar saling menguatkan.


Ini godaan yang sangat besar, yaitu diberi seorang istri. Tapi, karena kerendaha hatinya, sahabat yang ditawari istri itu, menjawab,


"Itu tidak perlu, saudaraku. Tunjukkan saja padaku dimana pasarnya?"


Sahabat itu memilih berbisnis, itulah sekelumit kisah tentang sahabat yang terkenal dengan kekayaannya, beliau adalah Abdurrahman bin Auf.


Sore harinya, ketika waktu giliran kerjanya sudah habis, Naya menemui bu Nha, ia akan berbicara tentang keinginannya untuk pindah. Naya akan pergi setelah menerima uang gajinya bulan ini. Semua sudah mendapatkan giliran untuk mengambil gaji mereka. Kini giliran Naya masuk.


"Bude...aku gajian hari ini.." kata Naya berkelakar sambil tersenyum manis.


"Iya, iya. Ini bagianmu."


"Ada bonus, gak?"


"Ck! kan udah yang waktu itu." yang dimaksud oleh bu Nha adalah amplop pemberian dari Ares waktu itu termasuk bonus!


"Oh, itu ya... Hmm," Naya mengangguk-angguk, "Tapi bude, gimana kalau aku gak kerja lagi disini?"


"Kenapa?"


"Mau pindah saja, bude. Soalnya lagi jaga hati, jaga perasaan biar gak sakit hati terus lihat mantan bahagia, heheh" Naya berkelakar.


"Kamu kan sudah tau dari awal, sudah melihat mereka bahagia diatas penderitaan orang lain. Kenapa sakit hati, apalagi kamu mau dimadu?


" Nah, sekarang aku gak mau," jawab Naya sambil memalingkan pandangan.


"Mau pindah ke mana?"


"Mungkin aku mau ke kampung bude. Tapi sementara aku menunggu surat-suratku beres, aku masih bantu bude di sini. Biar dapet makan siang gratis. Boleh ya? Lumayan bisa hemat uang makan. Hehe," kata Naya jujur.


"Boleh. Apa Sarita sudah tahu?"


"Gak. Keluarga Rudian belum ada yang tahu, bude."


Kalau dulu ia bisa tinggal dalam rumahnya sendiri, ia bisa menyisihkan sedikit dari uang gajinya yang ia gaunakan untuk ongkos pulang pergi, juga untuk keperluan lain. Tapi saat ini, uang gajinya harus dugunakan untuk membayar kos, itu sangat tidak mungkin kalau ia harus menggunakannya untuk hal lain.


Bu Nha juga sadar, uang gaji yang ia berikan untuk karyawannya memang kecil, hanya standar saja untuk pekerja seperti merka.


Setelah menerima uang gajinya dan berpamitan, Naya Kembali ke tempat kosnya. iya membereskan barang-barang yang bisa ia bereskan. Ia akan memanfaatkan sisa waktu yang diberikan oleh pihak berwajib sebagai masa tenggang meninggalkan tempat itu.


Naya duduk termenung, kembali memikirkan keputusannya, ia telah memantapkan hati untuk pergi ke kampung yang disarankan oleh ayahnya. Ia kemudian menghubungi bibinya untuk menanyakan tentang keadaan dan juga rumah yang bisa ia tempati di sana nanti.

__ADS_1


"Apa kabar Bibi?" kata Naya setelah ia berhasil menghubungi bibinya, dan mengucapkan salam.


Setelah itu terdengar suara seorang wanita dari balik telepon, bibinya yang ada di kampung menjawab,


"aku baik-baik saja. Alhamdulillah. Kita jarang bertemu hanya karena ibumu sudah meninggal, seharusnya kau sering-sering berkunjung ke sini.." membuat Naya tersenyum dan berkata,


"Maaf, bi..."


"Biar bagaimanapun aku masih lah bibimu, apa kau lupa kakak dan adikmu tinggal di tempat yang lebih jauh dari kamu? Apakah kau akan berkunjung ke sini Naya?"


" Benar Bibi, aku akan kesana aku dengar kabar dari ayah bahwa bibi mau pindah, itu artinya rumah itu kosong. Boleh gak rumah itu aku tempati sekarang?"


"Tentu saja boleh," jawab bibinya, "kalau kau tidak membutuhkan rumah itu, maka kita akan menjualnya dan uang hasil penjualannya bisa kita bagi dua tapi kau harus membaginya dengan saudara-saudaramu,"


"Iya, bibi. Aku tahu," jawab Naya, "sementara rumah itu belum terjual, aku akan menggunakannya."


"Naya, apa kamu mau ke sini bersama suamimu, apa kalian tidak punya pekerjaan tetap?" tanya bibinya.


"Bibi, aku sekarang sendiri, karena itu aku membutuhkan rumah mungkin juga aku akan menggunakannya dalam waktu yang lama," kata Naya.


"Apa kalian bercerai? Sayang sekali." kata bibinya lagi terdengar sangat kecewa.


"Ya, begitulah..." jawab Naya sambil yertawa kecil.


" Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu, kapan kau akan datang?" tanya bibi


"Sekitar sepekan, mungkin. Sampai aku selesai mengurus surat perceraian,"


"Baik, kamu yang sabar ya, Nay. Aku tunggu, Bibi senang kalau ada yang membantu,"


Naya berjanji akan membantu membereskan barang-barangnya sebelum bibinya itu pindah ke tempat dimana mereka akan menetap bersama suaminya. Setelah semua pembicaraan berakhir, Naya kembali termenung dan pikirkan kalau ia harus mengurus semua surat identitas dengan status barunya di kantor catatan sipil. Ia membutuhka surat keterangan bahwa dirinya sudah tidak bersuami, dan ia harus mengurusnya sendiri di Kantor Catatan Sipil itu.


Ia setidak-tidaknya membutuhkan waktu selama 1 pekan, dan kemungkinan besar ia akan menemui mantan suaminya Rudian, untuk bisa menandatangani surat legal bahwa hubungan mereka sudah berakhir. Memikirkan bahwa ia harus mengurus surat cerainya sendiri, ia merasa sedih.


Saat awal ketika mereka mulai sering bertengkar dalam rumah tangga. Naya berpikir kalau ia tidak akan membutuhkan surat seperti itu kecuali Rudian yang menginginkan perceraian lalu mengurus surat-suratnya agar Naya menandatanganinya, sebagai syarat kalau dia akan menjalani hubungan dengan wanita lain. Tetapi saat ini justru dirinya yang melakukan dan kemungkinan besar ia akan mengurus ini dengan Rudian.


Naya menarik nafas dalam memikirkan hal ini sesuatu yang tidak bisa diduga. Takdir kadang terlihat aneh. Apakah memang ini nasibnya? Perbedaan takdir dan Nasib itu sangat tipis. Apabila engkau berjalan dari tempatmu berdiri menuju keluar rumah engkau harus melalui sebuah pintu, maka itu adalah nasibmu. Tetapi apabila disaat berjalan menuju pintu itu engkau terjatuh, maka itulah takdirmu. Itu contoh kecil Perbedaan nasib dan takdir.


-


Hari-hari berjalan seperti kereta panjang yang membawa semua kejadian dsmi kejadian yang dilaluinya. Naya melalui hari-hari seperti biasanya, ia masih membantu di restoran dan mengurus keperluan kepindahan disela-sela pekerjaannya.


Naya beberapa kali bertemu dengan Aries ia seolah-olah tidak dekat dengannya, walaupun laki-laki itu berusaha untuk menyapa atau mendekatinya Naya hanya menjawab pertanyaan Ares seperlunya saja. Naya tidak mengatakan apapun padanyabahkan seolah-olah tidak ada yang terjadi pada dirinya.


Waktu masa tenggang yang diberikan oleh pihak berwajib kepada para penghuni tempat kos hampir berakhir dan Naya sudah berhasil mengurus beberapa surat yang diperlukan untuk kepindahan dirinya dan juga untuk identitas barunya.


Naya bertemu dengan Ares ketika dalam perjalanan menuju ke rumah Rudian, laki-laki itu menghentikan mobilnya dan turun ketika melihat Naya tengah berdiri di trotoar, menunggu angkutan umum yang akan mengantarkannya ke rumah yang dulu pernah ia tempati bersama Rudian. Namun rumah itu kini ditempati oleh Rudian dan istri barunya.


Ketika sudah ada di hadapan Naya, Ares bertanya, "Kamu mau ke mana?" sepertinya ia penasaran, ini adalah jalan kearah menuju rumah Rudian. Ares bersikap seperti biasa memasukkan kedua telapak tangan di saku celana.


"Eh, Pak Ares. Apa kabar?" tanya Naya dengan gugup.


"Aku baik."


"Bagaimana Yoni? Apa dia sehat?"


"Ya, dia sehat semuanya baik-baik saja," jawab Ares tenang.


"Alhamdulillah," sahut Naya bersyukur.


Dan sejenak setelah itu mereka diam tidak ada percakapan lagi. Naya berulang kali melihat ke jalanan, tak ada niat memberitahu Ares kemana tujuannya pergi. Kemudian Ares mengulangi pertanyaannya,


"kamu mau ke mana?"

__ADS_1


Kemudian Naya hanya tersenyum sambil menjawab, "saya ada perlu sebentar."


"Kalau begitu ayo bareng saya antar." kata Ares. Naya berpikir akan sangat memalukan kalau meminta ares untuk mengantarkannya ke rumah Rudian, pasti dia akan banyak bertanya dan kemudian akan membuat sesuatu yang lebih memalukan lagi bagi Naya.


Akhirnya Naya menghindarinya dan ia menjawab, "tidak perlu. Ini urusan yang biasa saja, jadi saya tidak bapak tidak usah mengantar saya."


"Kamu mau naik apa, angkot?" di tanya demikian, Naya mengangguk.


"Aku kan sudah aku bilang kalau kamu naik mobil Aku juga naik mobil, kalau alasanmu adalah aku bukan muhrim sopir angkot juga bukan muhrim, Apa bedanya?" sanggah Ares.


Naya kesal karena laki-laki itu selalu mengulang kata-kata yang sama setiap kali dia menolak untuk diantar. Akhirnya Naya berkata terus terang demi menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan, ia juga merasa bahwa kejujurannya justru mungkin bisa melunakkan hati Ares.


"Pak saya mau ke tempat mantan suami saya. Saya tidak mau kesalahpahaman terjadi lebih jauh. Jadi saya tidak mau diantar oleh Bapak, saya akan pergi sendiri."


Benar saja, Ares tidak lagi memaksa untuk mengantar Naya, tapi muncul rasa penasaran, Ares bertanya,


"Ke rumah Rudian, ngapain lagi kamu sana, apa kamu mau dimarahin lagi sama dia?"


Naya memejamkan matanya dengan menahan kesal di hatinya. Biar bagaimanapun laki-laki ini sudah tahu semua permasalahannya.


"Pak, saya akan mengurus surat perceraian saya. Jadi jangan ikut campur lagi. Saya mohon." kata Naya memelas. Ia sudah lelah.


"Oh.." nanya seperti itu jawaban yang keluar dari mulut Ares.


Naya pergi menjauh. Ares pun memandang Naya dengan tatapan yang susah diartikan tak lama setelah itu Naya mendapatkan angkutan umum yang ia butuhkan dan ia meninggalkan Ares begitu saja. Ares juga melihatnya Naya meninggalkannya sampai angkutan umum itu tak nampak lagi dihadapan dirinya.


Naya akhirnya berhenti di depan rumahnya, rumah yang dulu pernah ia tempati. Rasanya baru kemarin dia meninggalkannya, padahal tanpa terasa ia sudah tidak tinggal di rumah itu, lebih dari bulan lamanya. Melihat rumah yang masih sama keadaannya meskipun tidak ada dirinya yang mengurusnya, ada sedikit haru dalam hatinya.


Naya mendekat, ketika ia mendengar suara berisik seperti suara ribut orang yang menyanyi ataupun bercanda bahkan suara tertawa terbahak-bahak terdengar dsngan jelas dari luar. Sangat berisik dan mengganggu. Ini tidak baik, mengganggu kenyamanan orang lain atau tetangganya, tidak boleh.


'Apakah mereka begitu bahagia atau mereka sedang berpesta merayakan 4 bulanan kehamilan Yola?'


Naya berjalan semakin mendekat dan sebelum Iya mengetuk pintunya, pintu sudah dibuka terlebih dahulu dari dalam dan muncullah wajah Dero adik dari Yola di hadapannya. Ia tersenyum menyeringai sambil berkata,


" Akhirnya Mbak Naya, muncul juga." kata Dero.


Ternyata bukan hanya dero yang keluar ada beberapa laki-laki lain yang juga melihatnya, melongokkan kepala keluar pintu mereka sambil saling bertatapan tatapan. Mereka seolah-olah bertanya, siapa ini?


Tanpa menunggu dipersilahkan, kemudian Naya berjalan ke pintu, ia bertanya,


"Kamu Dero, kan? kamu adiknya Yola kan?" Mendengar pertanyaan Naya, Dero mengangguk sopan.


"Kenapa kamu di sini Dero?"


Dero tersenyum sambil menjawab, "sejak Mbak Naya pergi saya tinggal di sin, dani ini teman-teman saya semuanya."


Maya heran mengapa banyak orang ada di situ ke mana suaminya ke mana Yola? Naya masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam dan semua laki-laki yang ada di situ menjawab secara bersamaan.


"Masuk saja, mbak Naya, ini juga rumah mbak Naya. Saya cuma memanfaatkan suasana, mumpung gak ada orang." kata Dero.


Naya tidak menggubris ucapan Dero, ia masuk dan melihat isi laci dan lemari nya di mana barang-barang yang pernah dimilikinya, ia simpan, barang-barang itu masih utuh masih sama seperti dulu, saat ia tinggalkan tidak ada yang menyentuhnya.Tentu saja tidak ada, siapa yang membutuhkan barang seperti itu, kalau yang tinggal di dalam rumah ini orang seperti Yola dan Dero.


Naya membuka lemari-lemari itu dan kemudian memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas besar yang sengaja ia bawa. Naya merasa harus membawanya, karena ia akan pindah.


"Mbak Naya pulang cuman mau ngambil barang-barang itu?"


"Kalau iya, memangnya kenapa?" Jawab Nanya.


"Mbak Naya gak ingin ketemu sama Bang Rudi?" mendengar ucapan Dero, Naya mengerutkan alis dan ia balik bertanya,


"Memangnya kemana Rudi sekarang? seharusnya dia sudah pulang kan? Aku ada perlu sedikit, biasanya sudah pulang jam segini." kata Naya sambil mengancingkan tas besarnya. Ia sudah selesai memasukkan semua barang-barangnya.


Kemudian Dero menjawab, "Bang Rudi ada di rumah sakit, mbak. Sudah hampir sepekan dirawat." seketika Naya terkejut.

__ADS_1


"Rudi sakit apa?" tanya Naya.


__ADS_2