Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 66. Kemanusiaan Saja


__ADS_3

"Naya, kalau kamu mau jaga Bang Rudi, kamu gak usah kuatir soal makan dan yang lainnya. Biar aku yang urus," kalimat yang diucapkan Yola membuat Naya ingin sekali memukul kepalanya.


Memangnya, siapa dia sudah mengatur orang semaunya? Memang ia dulu selalu mengalah, karena mencoba bertahan dalam hubungan keluarga. Tapi sekarang Ia sudah mulai bisa mengkondisikan suasana hatinya, ketika ia harus melepaskan semua yang sudah ia perjuangkan. Ia tidak ingin lagi terlihat dengan Rudian.


"Yola. Sebenarnya, yang jadi istrinya itu aku atau kamu, si?"


"Aku. Kamu kan, sudah dicerai" tandas Yola.


'Maasyaallah. Ya seharusnya kamu yang urus suami dong'


"Naya...." kini Sarita mendekat, memegang tangan Naya lembut, "aku akui, memang aku banyak salah sama kamu, ibu sudah gak adil sama kamu. Tapi kamu rujuklah sama Rudian. Ibu mohon," wanita itu meeajuk dan bicara dengan suara yang memelas.


"Ibu, saya ke rumah tadi Sebenarnya mau minta tanda tangan surat cerai dari Rudian," kata Naya, seraya melepaskan genggaman tangan Sarita dan mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya.


"Naya, ibu mohon.. Gak ada yang jaga Rudian, ibu masih sakit, tadi waktu kamu datang, ibu lagi ke dokter juga. Abangnya gak bisa jaga, Yola juga harus kerja. Ibu minta tolong sama kamu. Tolong ibu, tolong Rudian, ya?" kata Sarita kembali menggenggam tangan Naya dengan berurai air mata.


'Ya Allah. Haruskah aku kembali pada suamiku karena ia sakit? Bolehkah aku berniat menolongnya hanya alasan kemanusiaan saja? Sebenarnya siapa di sini yang tengah digerakkan hatinya oleh Allah. Apakah ibu yang sudah menyadari kesalahannya, dan meminta maaf? Ataukah aku yang entah kenapa datang sendiri ke rumah, padahal surat ini bisa aku titipkan lewat jasa pengiriman? Astagfirullah'


Kalau Naya tidak datang ke rumahnya, ia tidak perlu tahu akan kejadian ini, bahkan tidak perlu bertemu dengan ibu dan juga Yola. Tapi sekali lagi takdir yang telah menunnya hingga ke tempat itu dan harus melihat kenyataan bahwa ia dibutuhkan.


'Harus kah aku kembali mengalah, hanya karena aku berpikir bahwa mengalah bukan berarti kalah?'


"Naya..?" tanya Sarita sambil mwngguncangkan bahu Naya.


"Baik, bu," Naya terhenyak dengan kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Seolah bibir itu bergerak sendiri. Apakah ini benar, hanya karena kemanusiaan saja hingga naluri kemanusiaan Naya yang memang baik itu terpanggil dengan sendirinya.


"Alhamdulillah, Terimakasih Naya..." kata Sarita sambil memeluk erat Naya. Sementara Naya tubuhnya seolah beku. Diam tak bereaksi apa-apa.


"Memang ibu sakit apa?" tanya Naya.


"Ibu, darah tingginya kambuh mikirin abang, jadi gitu, sakit kepala terus. Kan aku juga yang repot. Harus hati-hati kalau gak mau jadi stroke. Ibu gak boleh stress lagi. Ada Naya yang mau ngurusin abang" kata Yola. Naya melirik jengah dengan perempuan yang duduk di samping Sarita itu.


'Astagfirullah, perempuan ini menyebalkan sekali. Apa dia gak bisa menghargai orang sama sekali?'


"Ya, sudah. Ibu tenang saja sekarang. Naya mau jaga Rudian sekarang di sini. Ibu jaga diri saja baik-baik," kata Naya tak berdaya.


Sarita memeluk Naya sekali lagi, lalu tersenyum sambil membelai pipinya.


"Kamu memang baik dari dulu, Naya..Sekali lagi terimakasih ya?"


Naya membalas senyuman Sarita dan mengangguk. Kemudian kedua wanita itu pergi setelah mereka memberekan tas milik mereka. Yola membawa pulang pakaian kotor Rudian, menyimpan beberapa makanan dan air mineral di meja. Mereka pulang dengan mengendarai motor Rudian.


Naya tertegun, duduk sendiri sambil menatap tubuh Rudian yang tergolek lemah tak berdaya. Ia terus menggenggam surat cerai yang sudah ditandatanganinya. Menyandarkan tubuh dengan berurai air mata. Ia menangis karena pria dihadapannya. Selalu karena dia, itulah cinta yang sakit. Cintai yang harus kandas karena keegoisan. Tapi sekarang lihat siap yang lebih egois? penyakitnyakah?


Sakitnya Rudian yang memaksanya kembali. Sepertinya roda takdir yang sudah menarik siapapun untuk berjalan dibelakangnya tanpa bisa protes. Apakah seluruhnya kesalahan takdir? Tidak. Mana bisa takdir disalahkan. Ia menjalani keputusannya sekarang karena kemauannya sendiri.


Ada Sarita yang memohon sambil menangis, ada Rudian yang tergolek lemah, kalau mau menuruti keinginannya sendiri, lalu siapa yang egois? Hatinya yang berpikir disaat seperti ini, bukan otak.


Tengah malam, Rudian terbangun, samar-samar ia bisa melihat kembali. Dan yang ia lihat untuk pertama kali adalah wajah Naya yang tidur di kursi dengan kepala di sisi ranjangnya. Tangannya tergerak untuk mengusap kepala istrinya itu lembut. Ia meneteskan air mata. Rasa sesal itu tidak ada gunanya. Ia sudah tidak berdaya sekarang. Bahkan tidak mungkin bisa membahagiakannya. Terlambat? Pasti. Kesadaran selalu muncul ketika semua sudah terjadi.


Ia terus mwnatap Naya, kalau bukan karena musibah yang dialaminya, mungkin sekarang Ia bisa memeluk atau menciumnya. Tapi jangan kan untuk mencium, untuk memeluk saja mungkin Naya enggan, begitu pikir Rudian. Rasa rindu itu ada, banyak sekali bahkan. Tapi ia tak beedaya, Naya tak akan percaya kalau ia merindukannya setengah mati. Laki-laki lebih egois dalam mencintai, mereka bahkan tak rela mantan istri menikah lagi.


"Naya, maafkan aku. Aku menyesal. Bisakah kesalahanku termaafkan?" gumam Rudian lirih, tak ada yang bisa mendengar.


Penyesalan terbaik adalah penyesalan yang bisa membangkitkan kesadaran diri terdalam.


Naya bergerak pelan, membuka mata perlahan dan melihat tangan Rudian Rudian yang ada di atas kepala nya. Ia melihat wajah Rudian menatap kearahnya dengan mata terbuka dan ia menangis.


"Rudi, kamu bangun? Mau sesuatu?" tanya Naya sambil menegakkan badannya. Ia berdiri untuk bersiap bila Rudian membutuhkan sesuatu. Tapi Rudian menggeleng.


"Kamu bisa lihat aku, sekarang?" tanya Naya dan Rudian mengangguk. Naya tersenyum dan duduk kembali. Meraih ponselnya dan melihat jam di sana, sudah lewat tengah malam. Pantas saja suasana sepi mencekam. Hanya sesekali terdengar suara perawat atau susuter jaga yang berjalan.


"Kenapa kamu di sini? Mana Yola?" tanya Rudian dengan suara lemah.


"Sudah, tidur lagi sana. Biar besok bisa pulang. Kalau kamu sehat. Semua pasti senang. Apalagi Yola."

__ADS_1


"Naya, maafkan aku. Aku banyak salah sama kamu. Aku takut kalau aku mati kamu belum maafin aku."


"Kamu ini ngomong apa si..gak boleh putus asa bilang mati."


"Ya memang, gak ada harapan lagi. Kesalahanku sama ibu, sebagai anak, ada banyak. Dan kesalahanku sama kamu sebgai suamimu lebih banyak lagi"


"Kesalahan sebagai suami di masa lalu." kata Naya sambil tersenyum kecut.


"Iya..." suara Rudian melemah. Lalu ia memejamkan matanya lagi. Ia seperti tertidur tapi seperti mati. Naya tidak tahu bahwa efek dari penyakitnya seperti itu. Ia hanya menganggap Rudian tidur.


'Ahk, sudah tidur lagi kan?'


Naya kembali meletakkan kepalanya di sisi ranjang bertumpu pada kedua tangannya. Ia mencoba untuk tidur lagi. Tapi tidak bisa, akhirnya berdiri dan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat sunnah malam itu.


-


Dokter laki-laki itu menatap Naya saat menjelaskan semua yang harus Naya lakukan sebagai istrinya.


"Kami bersyukur, punggung pa Rudian bisa membaik, tapi ia tidak bisa berdiri atau duuk tegak, ia hanya bisa bersandar saja. Tidak boleh banyak bergerak, semua harus dibantu. Ibu sebagai istrinya harus sabar." kata dokter itu menjelaskan penyakit Rudian.


"Baik, dok. Terimakasih."


Naya kembali ke bangsal Rudian setelah puas dengan informasi yang sudah ia dapatkan dari dokter yang menangani Rudian. Ia melihat Rudian yang sudah duduk di kursi rodanya di bantu oleh Bastian, kakak Rudian itu yang sudah menyelesaikan administrasinya.


"Naya, sudah selesai, dokternya ada?" tanya Sarita dengan antusias. Ia membereskan beberapa barang.


"Ada, bu."


"Kamu, nanya apa memangnya?" tanya Bastian.


"Tanya soal apa saja, kak. Yang aku pengin tau."


"Sekarang sudah tau?" tanya Bastian lagi.l


"Alhamdulillah, sudah."


"Enggak, cuman ngomongin soal penyakit aja, nggak ngomongin orangnya," kata Naya sambil membantu Sarita membereskan barang.


Sedangkan Bastian mendorong kursi roda Rudian, keluar dari rumah sakit mereka menuju rumah Rudian dengan mengendarai mobil milik Bastian. Sampai di rumah sudah ada Sania yang menunggu dan sudah menyiapkan beberapa makanan. Mereka menikmati makanan itu sambil beristirahat duduk di sofa.


Setelah kepulangan mereka dari rumah sakit, Bastian, Naya dan ibu bekerja sama untuk menurunkan Rudian dari kursi roda ke tempat tidur. Ia masih harus banyak beristirahat. Karena obat yang sudah dikonsumsinya, Rudian pun dengan cepat bisa tertidur.


Setelah melihat Radian kembali tertidur Naya menghampiri Shania dan anaknya, mereka tampak sedang bercanda. Sarita dan Bastian sibuk dengan ponselnya. Naya meraih anak Sania dalam gendongan Naya. Kini mereka tengah terlibat obrolan. Sannya mendekati Naya dan menepuk-nepuk pundaknya, sambil berkata,


"Kamu akhirnya pulang, aku nggak bisa bayangin, kalau aku ada di posisi kamu Naya."


"Ya jangan dibayangin, kak," sahut Naya. Dan Sania menyenggol lengan Naya.


"Kallau aku mungkin sudah enggak kuat, atau aku sudah pergi. Rasanya sakit kan, harus mengurus suami yang sakit, padahal punya istri lain. Tapi dia gak mau ngurus suaminya," kata Sania lagi.


"Dia kan harus kerja," Naya menanggapi.


"Ya, kan bisa gantian. Kamu sudah ngurusin dari kemarin,"


Naya diam sejenak ia sebenarnya berpikir hal yang sama, lalu dia berkata,


"Dia masih ngidam kaka Sania, gak tahan bau-bauan." kata-kata Naya membuat Sania tertawa dan mengangguk.


"Iya, bisa jadi. Mudah-mudahan bukan cuma alasan saja," kata Sania.


Setelah semalaman Naya merenungkannya, ia juga heran, kenapa Ia merasa bahwa ia digerakkan untuk datang ke rumah Rudian dan menjadi solusi bagi masalah yang mereka hadapi soal Rudian.


Kemudian Naya tersenyum dan berkata, "Kak. Aku mengerjakan semua ini karena alasan kemanusiaan saja, sebagai sesama muslim harus saling tolong-menolong, aku sudah menghilangkan perasaan kesal, marah cemburu pada Yola, karena aku berniat menolong Rudian hanya sebatas persaudaraan sesama muslim, juga sebagai ladang amal dan ibadah saya, mudah-mudahan menjadi pahala kebaikan dan menjadi bekal saya untuk ke surga."


Sania memeluk Naya kemudian tersenyum mengambil nafas dalam ia berkata, "Naya aku nggak nyangka, bisa ketemu orang seperti kamu, kamu itu bisa dijadiin contoh, untuk orang-orang yang sabar dipoligami."

__ADS_1


Sania diam sebentar, memandang lekat Naya berkata lagi, "Kamu yang sabar ya, harus mengurus suami yang sakit, padahal dulu dia sudah tidak perduli atau tidak adil padamu,"


"Dari mana Kak Sania tahu kalau Rudian sudah tidak adil padaku?"


"Oh, aku dulu pernah lihat. waktu ibu buat syukuran buat Yola. Menurutku itu tidak adil," kata Sania.


"Pernah juga aku pernah ketemu sama bude, terus Bude cerita banyak cerita soal kamu. Jadi aku aku tahu kalau Rudian itu sudah berbuat seperti itu sama kamu," obrolan mereka terhenti karena Bastian datang.


"Naya, kamu yang sabar ya, Rudian memang butuh orang seperti kamu. Aku sama ibu bersyukur juga berterimakasih sama kamu, mau kembali ke sini,"


"Iya, kak. Sama-sama. Kakak mau pulang?"


"Iya. Kita pulang, besok kita nengok lagi. Ibu juga pulang sekalian."


"Oh,"


"Naya, kalau Yola macam-macam lagi sama kamu, telpon saja aku, ya?" kata Bastian.


"Ah, iya iya. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa," jawab Naya.


-


Naya duduk di sofa sendiri sambil menikmati acara televisi, ia mengecilkan folumenya agar bila Rudian bangun atau memanggilnya akan terdengat. Hingga ia lamat-lamat mendengar suara Rudian bergumam, Naya mendekat dan berkata,


"Kamu manggil aku, Rudi?" ia melihat Rudian membuka matanya dan tersenyum penuh arti pada Naya. Ia duduk disisi tempat tidur dan Rudian memegang tangannya.


"Naya, maafkan aku."


"Sudah lah, istirahat saja."


"Apa itu artinya kesalahanku padamu tidak akan termaafkan?"


"Nabi kita manusia pemaaf, Allah juga maha pengampun. Kenapa aku gak bisa memaafkan?"


"Mungkin karena kesalahan yang sudah aku lakukan sangat menyakitkan. Kalau kamu belum maafin aku, aku gak bisa pergi dengan tenang."


"Kamu bicara apa, kamu cepat sembuh dan panjang umur."


"Kamu pikir aku gak tau soal penyakitku?"


Naya diam, ia tidak tahu harus berkata apa karena memang penyakitnya yang akan mempercepat usianya. Semua memang sudah digariskan, bahwa bagi semua yang lahir dan hidup di dunia sudah ditentukan oleh Allah tentang segalanya, kemudian ketika manusia itu sanggup, ia akan menjalani nya sesuai ketentuan yang sudah disepakati sebelumnya.


"Jangan berpikir buruk, lakukan ibadah sebanyak yang kamu mampu, itu lebih baik daripada menyesali kesalahan. Berpikirlah untuk hal baik apa yang bisa kamu lakukan untuk menggantinya," kata Naya sambil membenarkan letak selimut Rudian.


"Sayangnya kesempatan seperti itu sudah tidak ada."


"Apa kamu begitu merasa bersalah padaku?"


"Iya. Seandainya aku masih punya kemampuan untuk membalas kebaikanmu"


"Do'akan aku."


Rudia tersenyum kecut. Ia berpikir bahwa dirinya sendiri saja butuh do'a dari orang lain Kenapa ia harus mendo'akannya.


"Ayo, saling mendo'akan. Kau sudah menyadari kesalahanmu. Jadi perbanyak saja istigfar." kata Naya melihat keputus asaan diwajah Rudian.


Rudian menitikkan air mata sambil mengangguk. Ia menepuk-nepuk punggung tangan Naya. Lalu kembali bergumam,


"Maafkan aku." mendengar itu Naya mengangguk.


"Iya, tidurlah. Kalau kamu mau tidur lagi. Sebentar lagi waktunya minum obat dan makan malam."


"Tidurlah denganku, di sini." kata Rudian sambil menepuk tempat kosong disebelahnya.


Naya mengernyit, apa yang akan ia lakukan dengan tidur disisi Rudian sebagai istrinya kah? Lalu bagaimana dengan Yola dan apa yang akan ia katakan nanti, sungguh ia tidak bisa menerima perkataan buruk dari perempuan itu lagi. Entah apa yang bisa ia lakukan kalau Yola memancing kemarahannya lagi. Naya sudah tidak seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Rujuklah dengan ku. Jadilah istriku lagi. agar usahamu lebih berarti sampai aku mati."


__ADS_2