Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 49. Batas Kesabaran


__ADS_3

Naya melanjutkan menikmati makanannya tanpa memperdulikan apa yang sudah dilihatnya. Ia berprasangka baik saja bahwa yang ia lihat hanya orang lain yang kebetulan mirip. Kalau pun memang itu suami dan juga istri barunya, maka mungkin mereka sedang ditraktir orang lain.


"Naya, ayo nambah lagi biar kamu gemuk seperti bude ini." kata bu Nha membuat Naya tersenyum.


"Alhamdulillah bude, sudah kenyang." jawab Naya lalu menghabiskan air mineral dalam botolnya.


"Mau pesan dibawa pulang?" tanya bu Nha.


"Saya belum punya anak jadi gak perlu. Diajak kesini saja aku sudah bersyukur banget. Ada hiburan."


"Ya sudah, Ayo pulang."


Setelah makan dan kembali ke mobil, Naya dikejutkan oleh panggilan bu Nha. Naya saat itu duduk di kursi penumpang belakang dan tengah asyik dengan ponselnya.


"Naya!" panggil bu Nha keras sambil menunjuk pada pemandangan dihadapan mobil mereka.


"Itu, Rudian, kan?" kata bu Nha dengan nada tidak percaya. Tangannya menunjuk kearah depan.


Naya mengikuti arah yang ditunjuk oleh bu Nha dan Naya memastikan kali ini penglihatannya tidak salah.


"Iya, bude."


"Apa tadi yang kamu lihat itu mereka?" bu Nha mencoba menebak.


"Iya, aku pikir salah lihat, gak taunya benar." jawab Naya.


"Kamu gak cemburu atau marah gitu?" bu Nha penasaran.


"Ya udah biarin saja, bude. Mereka sudah halal kan. Jadi pergi berdua seperti itu gak masalah karena perempuan itu istrinya juga." kata Naya.


'Walau aku juga istrinya tapi tidak mendapatkan hal yang sama. Aku juga kan kerja. Jadi kanda mungkin gak sempat. sudah cape kalau malam harus ngajak aku ke tempat yang sama'


Kadang, untuk bisa membuat seseoang bisa mendapatkan haknya dibutuhkan juga pengertian dari orang lainnya, tanpa orang lain bisa saling mengerti, maka akan sulit bagi sebagian manusia untuk bisa melakukan hak dan kewajibannya.


"Wah, kamu baik ya Nay. Gak mau ngelabrak atau ngomel gitu sekarang?" kata bu Nha.


"Kok ngajak bikin rusuh gitu, bune?" kata suami bu Nha menimpali. Pria yang sudah lanjut usia itu terdengar bijak.


"Iya, nanti jadi rame." sahut Naya sambil tertawa. Mengusir perih dihatinya.


Tidak ada gunanya juga menunjukkan kemarahan pada orang lain. Sebab yang akan mengalami kerugian atas tindakan ceroboh adalah dirinya sendiri.


Sementara mobil terus melaju, melewati mereka tapi mereka tidak melihat Naya yang duduk dalam mobil dan saat itu bisa melihat sekilas Rudian memberikan Dero uang dari dompetnya.


'Sebenarnya dimana kanda menyimpan dompetnya selama ini. Sejak menikah dengan Yola, aku tidak pernah melihat dompetnya. Apa dalam jok motornya?'


Beberapa menit sudah berlalu ketika mobil yang membawa Naya sudah kembali tiba di halaman parkir restoran. Dan setelah menyimpan semua barang belanjaan mereka, Naya kembali bekerja melakukan tugasnya.


Hingga menjelang sore, ship kerja di restoran sudah berganti. Seperti biasanya Naya tidak pulang walau ia tidak harus bekerja lagi. Itu keinginan Naya sendiri agar ia tidak harus pulang cepat. Naya akan lebih lelah tapi ia jadi punya alasan untuk tidak masak di rumah.


"Kamu mau pulang, Nay?" tanya bu Nha ketika melihat Naya membereskan tasnya.


"Iya, bude." jawab Naya datar.


"Tumben?"


"Lagi mau pulang cepat terus tidur." jawab Naya sambil terkekeh. "Gak apa kan?"


"Ya, gak apa. Bawa makanan buat makan malam." kata bu Nha.


'Aku punya rencana'


"Terimakasih, bude. Tapi gak usah." kata Naya sambil pamit dan pulang dengan angkutan umum yang biasa ia tumpangi kalau pulang sore.

__ADS_1


Naya sampai di rumah yang masih sepi. Rudian dan Yola belum pulang rupanya. Naya sengaja mengunci kembali rumahnya, ia ingin tahu bagaimana kebiasaan suami istri itu ketika mereka baru pulang.


Naya merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah membersihkan diri dan menunaikan sholat ashar. Ia gunakan untuk bersantai sambil melihat-lihat media sosial yang jarang ia kunjungi karena kesibukannya. Lagi pula ia cukup malas aktif dalam hal seperti itu, karena ia tidak pandai membuat postingan atau cerita juga foto dalam berbagai gaya, seperti yang sering dilakukan banyak orang.


Ceklek! Terdengar suara pintu terbuka dari luar. Hari sudah menjelang maghrib ketika Rudian masuk dengan Yola dalam pelukannya. Mereka masuk secara beriringan.


"Nanti habis maghrib kita makan pecel lele yang di alun-alun ya, bang." kata Yola sambil bergelyut manja dilengan Rudian.


"Iya. Yang penting kamu suka." kata Rudian sambil mencubit kecil dagu Yola.


"Jangan lupa ajak Dero juga. Biar dia gak usah beli makan malam. Kasian dia kan?"


"Iya. Kamu telepon saja dia sekarang." kata Rudian sambil melempar kunci motornya ke atas sofa dan tangannya memeluk pinggang Yola erat, ia membuat tubuh dan kepala mereka saling menempel, mereka mulai berciuman.


"Oke." kata Yola sambil melepaskan pegangan tangannya dari lengan Rudian berganti melingkarkannya keleher Rudian dan menerima ciuman suaminya dengan antusias.


Mereka melakukan semua didepan Naya, tanpa mereka ketahui. Mereka saling memuaskan ciuman mereka. Bahkan sudah bersiap dengan gerakan tubuh yang seperti cacing kepanasan.


Semua kelakuan juga obrolan Rudian dan Yola itu tentu saja didengar oleh Naya yang kini sedang bersandar di sisi pintu kamar.


"Ekhem!" Naya berdehem cukup keras hingga membuat Rudian dan Yola terkejut. Naya menahan perasaan panas dan cemburunya.


Ada kan, sebuah riwayat yang mengisahkan seorang istri nabi yang cemburu, karena menahan panasanya api cemburu itu kemudian ia pergi untuk memeluk pohon pisang, hingga pohon pisang itu mengering akibat panas yang mengalir dari tubuhnya.


Dan juga ada dalam kisah yang lain, istri nabi yang melubangi atau menindik telinganya untuk dipasangi giwang, karena cemburu dan ingin terlihat lebih cantik. Dari sanalah riwayat mengapa perempuan suka memakai anting-anting ditelinganya.


"Naya!" kata Rudian dan Yola bersamaan. Mareka melepaskan pelukan mereka dengan gugup.


"Iya, aku. Kenapa, kaget? Punya rencana makan malam berdua diluar kalau aku gak afa, gitu?"


"Ya iyalah. Soalnya dirumah gak ada yang masak." jawab Rudian.


"Kan bisa Yola masak seklian buat kita semua. Jadi lebih hemat. Iya kan?" kata Naya lagi.


"Aku gak bisa masak kalau pulang kerja. Kan aku gak boleh kecapean." jawab Yola sambil masuk kamar dan menyimpan tasnya.


"Naya, kamu kan sudah pulang dari tadi, harusnya kamu yang masak." Rudian heran.


Pertengkaran mereka masih soal urusan pekerjaan rumah tangga. Membuat Naya jengah. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan suaminya itu.


"Kalau aku gak masak memangnya kenapa? Katanya mau makan pecel lele. Apa bedanya anggap saja aku gak bisa mask juga karena cape."


"Kalau masak kata kamu lebih hemat. Kenapa sekarang kamu mau makan malam diluar?" bantah Yola.


"Soalnya aku dengar kalian mau makan disana" tandas Naya.


"Ya sudah. Sekarang kamu masak saja gak jadi makan pecel lelenya." kata Rudian sambil melpas baju kerjanya pergi ke kamar mandi.


"Oh, gitu." kata Naya. Ia tidak pergi ke dapur tapi kembali merebahkan diri di tempat tidur. Ia sibuk melihat layar ponselnya.


'Asyik juga lama-lama scroll dimedsos begini, apa mereka gak punya beban hidup ya. Update status terus'


Hingga beberapa saat kemudian, Naya tidak memperhatikan ketika Rudian sudah masuk kedalam kamar dan berkata.


"Kamu sudah masak, Nay?"


"Belum" kata Naya santai.


"Apa bahan-bahan makanan di dapur sudah habis?" tanya Rudian sambil mengganti pakaian dengan baju santainya.


"Hmm. Bisa jadi."


"Kalau habis kenapa gak belanja?"

__ADS_1


"Habis, uangnya gak ada. Kanda saja yang belanja. Nanti aku tinggal masak. Gimana?"


"Masa si. Sudah habis? Biasanya kamu gak pernah minta sampai akhir bulan." kata Rudian kini duduk di samping Naya ditempat tidur.


"Itu dulu sebelum ada Yola ikut makan di sini. Jadi pengeluaranku bertambah. Wajar kan uangku jadi cepat habis?" kata Naya masih melihat layar ponselnya.


Rudian diam ia tampak berfikir. Kemudian ia beranjak meninggalkan Naya dan pergi ke kamar Yola. Tak lama terdengar suara Yola menjerit dan berlalu ke kamar mandi sambil menahan mual, tak lama terdengar suara orang yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.


'Akting' ucap Naya dalam hati.


"Naya, lihat. Yola muntah-muntah lagi, masa si, kamu tega nyuruh dia masak?" kata Rudian kembali ke kamar Naya.


"Aku gak nyuruh dia masak. Aku ngajak kanda makan pecel lele di alun-alun seperti yang tadi aku dengar. Apa aku salah...? Apa rencana itu hanya berlaku kalau aku tidak ada, termasuk makan siang di Foodcourt Mall Kota tadi siang. Iya?" kata Naya dengan suara keras.


'Kok Naya bisa tahu' hati Rudian.


"Apa bagi Kanda, aku gak berhak makan bareng Kanda di restoran atau di alun-alun?" kata Naya dengan kesal.


Sekuat hati menahan tangis, tidak ingin dinilai lemah. Rudian sedikit terkejut karena Naya tahu kalau ia memang makan disana. Ia agak tidak enak dengan Naya. Sementara suara adzan maghrib sudah terdengar. Naya pergi untuk menunaikan sholat maghrib.


Dalam shalatnya Naya kembali bersimpuh, mengadukan semua yang ia rasakan. Ia menghadirkan Allah dihadapannya dan mulai bicara, seolah sebagai teman yang sangat dekat dengan dirinya.


Ia menumpahkan keluh dan kesalnya, mengungkapkan perasaannya sambil menangis. Hanya dihadapan Allah saja manusia bisa jujur sejujur-jujurnya tentang siapa diri sesungguhnya. Tidak ada yang bisa manusia tutupi dihadapan Allah. Dia mahatahu tanpa diberi tau.


"Bang, aku lapar." kata Yola merengek pada Rudian yang baru pulang dari masjid.


Tentu saja ia lapar, selain karena kehamilan, juga karena aktifitas pekerjaan yang membuat energi wanita itu seperti terkuras dan membuatnya sering lapar.


Rudian tampak berpikir. Kalau saja ia mengajak Yola dan Naya secara bersamaan ke alun-alun kota, itu hal yang mustahil. Kalau hendak menyuruh Naya masak juga tidk mungkin, karena ia juga malas pergi ke Toserba bersama Naya untuk belanja kebutuhan dapur. Itu akan mengurangi uangnya lebih banyak.


Apalagi tadi Rudian tau, bahwa Naya tahu, ia makan siang dengan Yola dan Dero di mall. Kalau Naya tidak meminta untuk diajak makan ditempat yang sama itu sudah cukup. Ia bimbang. Hingga akhirnya Rudian menghampiri Naya yang sudah membereskan alat sholatnya.


"Nay. Kamu benaran mau makan pecel lele?" kata Rudian berdiri di samping Naya. Dan Naya mengangguk.


"Apa saja si sebenarnya kalau makan. Asal enak. Kita mau makan disana, berdua?"


"Gak bisa berdua. Gimana Yola."


'Ahk, karena dia lagi'


"Nanti kita bungkusin buat dia." kata Naya dengan suara gembira.


"Bang! Aku jangan ditinggal...!" pekik Yola dari arah luar pintu. Dia sepertinya menguping.


'Ahk, yang benar saja'


"Ya sudah, dari pada gak makan, biar aku saja yang beli. Sini uangnya." kata Naya sambil mengulurkan tangan pada Rudian.


Mereka berdua melangkah keruang tamu. Naya merapikan pakaian dan memakai jaketnya.


"Mana kunci motornya, Nda!" kata Naya sambil memakai jilbab dan kaus kakinya.


"Ini. Tadi ada di sofa." jawab Rudian sambil mengacungkan kunci motor yang ada ditangannya. Ia membuka jok motor dan mengambil dompet serta mengambil uang yang akan ia berikan pada Naya.


'Kan, disana dia simpan dompetnya. Pantas saja aku jarang lihat'


"Beli tiga porsi. Jangan beli yang macam-macam." kata Rudian mengasongkan selembar uang lima puluh ribuan pada Naya.


Naya menelan ludahnya dengan susah, ia menerima uang itu dengan berat hati, sebab ia sempat melihat sekilas isi dari dompet Rudian itu tidak cuma selembar ini.


"Gak sekalian mampir ke Toserba atau warung sayur buat beli bahan-bahan makanan yang sudah habis?" kata Naya memancing agar ia diberi uang lebih banyak.


"Itu saja dulu. Belanjanya besok lagi. Aku cari uang seseran dulu. Kalau gak dapet bisa pakai uang kamu dulu, kan?" kata Rudian.

__ADS_1


Bersambung


*jangan lupa like, vote, komen dan rate*


__ADS_2