
Rama terdiam menatap laki-laki yang ada di depannya. Ia melihat Ares berdiri tepat di jalannya. Rama, tentu saja ia mengenal Ares, sebagai salah satu senior yang menjadi mitra dalam kerjasama di perusahaannya. Ares menjadi kepala tim kreatif dari proyek yang mereka kerjakan bersama. Proyek besar dari perusahaan mereka berdua.
Rama membenarkan posisi berdirinya, lalu menyimpan ponsel dalam saku kemejanya, lalu menunduk hormat.
Ia berkata, " Maaf Pak, saya tidak melihat jalan tadi." sebagai anak buah harus bersikap sopan walau tidak sepenuhnya salah.
Ares tidak menjawab, matanya tetap menatap Rama dengan seksama. Lalu mengulangi pertanyaannyanya semula, "sejak kapan kamu akrab dengan Naya?"
Rama mengerutkan keningnya, dan ia balik bertanya, "Pak Ares kenal Naya?"
Ditanya seperti itu, Ares mengangguk menjawab pertanyaan Rama dengan tersenyum.
Tadi, setelah makan siang, Ares berniat untuk mengajak Naya ngobrol lebih santai setelah tidak sibuk. Tapi tidak disangka ternyata Rama justru lebih dahulu mendekati Naya dan mengajaknya bicara bahkan mereka terkesan sangat akrab menurut Ares. Laki-laki itu sedikit kecewa dan ia memutuskan untuk menemui Rama.secara jantan untuk menyelesaikan masalah perasaannya.
Rama kemudian menoleh ke kantin perusahaan di mana Naya bekerja, lalu berkata, "saya sudah lama kenal sama Naya. Dia orangnya baik, enak diajak bicara, ramah, cantik lagi."
Ares mengerutkan alisnya, tiba-tiba merasa jengah mendengar ucapan Rama ini. Aries menjadi gerah dan memalingkan wajahnya sambil tersenyum miring.
"Apa kamu suka sama dia?" tanya Ares penuh selidik.
Pertanyaan dan sikap Ares, membuat Rama menangkap sesuatu yang tidak biasa, Ares lebih mirip laki-laki yang tengah cemburu. Mereka sudah beberapa kali bertemu, tidak biasanya Aries seperti itu, dia adalah laki-laki yang baik, sopan dan lembut tapi yang ada di hadapannya ini terkesan kaku dan dingin.
Rama berniat mengakui perasaannya pada Naya, dihadapan Ares, karena ia menyimpulkan bahwa Ares juga menyukai Naya.
Ramamemasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, sambil berkata, "sebenarnya saya sudah lama suka sama Naya, Pak. Sayang sama Naya sejak pertama ketemu Naya di kereta."
Ares mempertajam tatapan matanya pada Rama, dan kembali bertanya, "Oh, jadi begitu. Kalian bertemu di kereta dan saling jatuh cinta? tanya Ares lagi maaih berdiri diposisi yang sama.
"Apa Naya juga suka sama kamu?" tanya Ares yang membuat Rama tersenyum.
Pertanyaan Ares itu sebenarnya riskan untuk dibicarakan dengan cara seperti ini, tanpa duduk di sofa atau sambil makan malam. Tapi bagi Rama, menghadapai atasannya yang cemburu, sangat menarik. Ia memang menyukai Naya, dan sekarang ia tahu kalau ternyata ada laki-laki lain, yang lebih senior dan lebih layak menyukai Naya. Ahk, mereka menyukai wanita yang sama!
"Kalau menurut saya, sebenarnya Naya juga suka sama saya, Pak. Tapi, dia banyak alasan untuk menerima saya sebagai suaminya. Saya curiga kalau ada laki-laki lain yang dia sukai." kata Rama sambil mencibir dirinya sendiri.
"Apa selama ini ada laki-laki lain yang sering datang ke rumahnya?"
Lagi-lagi pertanyaan Ares membuat Rama kembali menilainya cemburu.
'Apa pak Ares menyukai Naya?'
"Tunggu, pak. Tunggu. Sebenarnya ada apa ini. Kenapa pa Ares tanya terus soal Naya. Kenapa bapak tidak tanyakan langsung dengan orangnya, saja?"
"Oh, iya. Maaf. Saya jadi mengganggu anda," kata Ares kemudian mengusap tengkuknya sendiri.
"Maaf juga pak, saya harus kerja. Kalau bapak mau bicara soal Naya lagi, lain kali saja." kata Rama sambil berlalu pergi.
Ares juga tidak habis pikir bagaimana bisa ia bersikap kekanakan seperti tadi hanya karena Naya. Ia sadar kalau hal itu di picu oleh rasa cemburu. Mungkin lain waktu ia akan malu bila bertemu dengan Rama. Tapi akan bertanya langsung pada Naya juga tidak mungkin, jangankan bicara, bertemu saja Naya menolaknya.
Ares menghela nafas dalam, ia sedikit lega. Ia tahu, setidak-tidaknya bahwa antara Naya dan Rama tidak ada hubungan apa-apa, dan sesuatu yang dikhawatirkannya tidak ada, karena mereka hanya dekat sebagai teman saja. Mungkin yang harus Ares ketahui adalah jawaban dari rasa penasarannya, mengapa Naya takut atau menghindarinya.
Sementara, Rama kembali ke ruang kerjanya dengan wajah bingung. Masalah pak Rama dan Ida yang tinggal di rumah Naya baru muncul, sekarang muncul lagi masalah dengan pak Ares.
Naya smpat melihat Rama dan Ares bertemu, di dekat kantor mereka. Tepatnya di teras halaman samping di depan kantin. pemandangan di sana dapat dilihat dengan jelas dari tempat Naya berada, tampak mereka saling bicara. Ia tidak menyangka kalau Ares dan Rama saling mengenal. Apa yang mereka bicarakan tidak dapat ia dengar, meski demikian ia tetap saja gusar, ia mengawasi mereka dari jauh. Setelah ketegangan yang terjadi antara Ares dan Rama usai, Naya pun menjadi tenang. Dari balik kaca kantin, Naya melihat Ares pergi dengan mobilnya dan Rama pergi ke ruangannya.
Tadi, selama Ares makan di sana, Naya merasakan kalau laki-laki itu selalu memperhatikannya, tapi apa yang bisa ia lakukan, selain diam dan tidak memperdulikannya.
-
Setelah semua pekerjaan selesai, Naya pulang dengan angkutan umum seperti biasanya. Dan ketika sampai di rumah, ia melihat seorang laki-laki yang duduk di teras rumahnya. Naya mengenali laki-laki ini adalah pak Rama. Laki-laki itu berpakaian rapi dan terlihat segar dalam penampilannya, padahal usianya sudah hampir lima puluhan tahun.
__ADS_1
'Dia pak Rama, kan. Kenapa dia ada di sini?'
Pak Rama adalah orang yang pernah digunjingkan para tetangganya, sebagai anak yang tidak berbakti pada ibunya, orang yang menggoda janda di desa tetangga, dan meninggalkan istri dan anaknya. Naya hampir salah sangka waktu itu bahwa pak Rama yang di maksud tetangganya adalah Rama yang dikenalnya.
Pak Rama adalah tetangganya, yang bernama Surama dan teman Naya adalah Ramadhan. Laki-laki itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Naya begitu Naya berjalan masuk ke teras rumahnya.
"Pak.Rama?" tanya Naya. Dan pak Rama mengacungkan jempolnya. Ini gaya sambutan yang aneh untuk orang seusianya.
Naya membalas senyumnya sekilas sambil melihat pintu rumahnya yang terbuka. Biasanya ia lah yang lebih dahulu datang dan membuka pintu rumah yg selalu terkunci. Naya dan Ida memiliki duplikat pintu utama.
"Ada apa ya, pak?" tanya Naya bertanya dengan hati-hati.
"Oh, saya jagain dik Ida. Kasihan, dia sakit." jawab Pak Rama.
"Mbak Ida, sakit. Kok mbak Ida gak ngomong? Jadi sekarang gak kerja dong?" kata Naya sambil membuka pintu rumah lebih lebar.
"Iya. Tadi pagi saya jemput seperti biasa, tapi ternyata dik Ida sakit." Pak Rama menjelaskan, dengan memainkan kunci mobilnya.
"Jadi, pak Rama nunggu mbak Ida dari tadi di sini?" Naya mulai mengeluarkan jurus penasarannya.
Ia benar-benar harus tahu, tentang hubungan seperti apa, yang terjadi antara mereka berdua. Ia adalah ibu kost yang bertanggung jawab pada anak kos-nya, agar semua baik-baik saja.
"Gak. Saya kan harus kerja, mbak. Tadi saya baru pulang, saya cuma bawa makan siang sama obat buat dik Ida." kata Pak Rama seraya melirik ke dalam.
"Oh. Jadi Pak Rama sudah ketemu mbak Ida, kan?"
"Sudah. Tadi juga makan sama ngobrol berdua sama saya di sini. Kan gak boleh masuk rumah. Sekarang dik Ida masih ke kamar kecil."
"Oh, terimakasih Pak." kata Naya sedikit memahami bahwa Pak Rama dan Ida menghargai peraturannya.
"Gai usah berterimakasih sama saya, mbak. Sudah kewajiban kita sebagai sesama muslim harus tolong menolong."
"Ah. Begitu ya Pak _ _" kata-katanya terputus.
"Mbak Ida, katanya sakit, kok gak bilang sama saya. Justfu di urusi Pa.Rama...?" kata Naya.
"Semalam.sudah kerasa gak enak badan. Saya gak.mungkin ganggu, mbak Naya kan lagi istirahat. Harus berangkat kerja setelah subuh."
"Ya gak apa, bangunin saja lain kali. Kita lan sudah jadi saudara." kata Naya sambil menepuk lembut bahu Ida.
"Iya. Tapi Alhamdulillah ada mas Rama yang sudah baik setiap hari jemput aku kerja. Hari ini beli nasi bungkus saka obat. Makasih ya mas. Kapan-kapan kalau mampir ke cafe kasih sawerannya yang gede lagi," kata Ida sambil tersenyum.
Begitu Naya mendengar ucapan Ida, ia mengambil kesmpulan bahwa mereka berdua hanya sekedar teman, namun tanpa Ida sadari sebenarnya pak Rama ini sedang mencari perhatian atau pendekatan. Atau memang pak Rama memang menyukai Ida. Tapi, biar bagaimanapun juga, hubungan seperti ini tetap tidak baik bila terus dilanjutkan.
Naya juga tidak mengerti, kenapa Ida menanggapinya seperti wanita yang maaih polos? Apa memang Ida sepolos itu? Naya berusaha berprasangka baik.
Mereka duduk bertiga, berbincang dengan santai. Ketika tiba-tiba datang seorang ibu-ibu bertubuh gemuk datang dengan berlari membawa sebuah sapu dan juga kemoceng, Ia berteriak.sangat keras, hingga mengagetkan mereka bertiga. Teriakan itu sangat memekakkan telinga. Wanita itu mendekati Naya, dan. Bukk!!
Sebuah pukulan keras tepat mengenai bahu Naya. Seketika Naya meringis. Sakiit!
"Bapaaak...!!" pekik wanita itu.
"Ternyata, bapak di sini ya? Jadi dia pelakornya! Dasar janda gila..!! pekiknya lagi.
Seketika itu juga Naya, Ida dan pak Rama berdiri karena kaget. Wanita itu mendekat sambil mengarahkan sapu kepada Naya dan Ida lagi. Ia terus mengeluarkan kata-kata umpatan dengan keras. Pak Rama segera menenangkan wanita itu sambil menyebut-nyebut namanya.
"Tenang Bu. Tenang Bu!!" kata Pak Rama berulang-ualang sambil memegangi tangan istrinya yang marah, memergoki suaminya masih besama dengan wanita lain.
"Bapak belain wanita ini!?! Kenapa Pak!! Bapak suka ya sama janda ini!! ingat, Pak! Ingat, anakmu banyak!!" kata wanita itu emosi.
__ADS_1
Naya mengerutkan alis kemudian ia berkata, "Bu! Ibu kenapa marah sama saya. Salah saya aoa, salah apa saya sama ibu?! Kenapa saya dipukul?!" kata Naya
"Oo..!! jadi kamu yang selama ini sudah menggoda suamiku, ya!!" kata wanita itu sambil melepaskan diri dari Pak Rama dan bersiap memukul Naya dan Ida lagi, tapi kemudian. Haapp!!
Sapu dan tangan istri pak Rama dipegang kuat oleh seseorang.
"Rama!!" kata Naya dan Ida yang masih trauma dan ketakutan menghadapi kemarahan wanita ini.
'Alhamdulillah, Alhamdulillah'
"Ada apa ini, kenapa ibu mukul teman saya, teman saya tidak bersalah," kata Rama.
"Kamu nggak usah ikut campur, ini bukan urusan kamu, lepasin!!" kata ibu bertubuh gemuk itu, sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Rama.
"Ibu harus janji dulu, tidak akan memukul teman saya lagi, baru saya lepaskan tangan ibu!" sahut Rama.
Ibu gendut itu menghela nafas, lalu melemaskan tangannya, hingga Rama pun melepaskan cekalannya.
"Ayo. Ayo bu, kita pulang. Malu!" kata pak Rama sambil menggamit tangan istrinya, tapi wanita itu melotot pada pak Rama.
Ia berkata, "aku gak mau, aku harus menjelaskan semuanya, kalau mereka berdua tidak bisa menggoda suamiku lagi!!"
Ida dan Naya maju satu langkah mendekati wanita itu. Mereka ingin membela diri, gak rela disebut penggoda, rasanya pahit. Apalagi Naya yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Naya memulai bicara lebih dulu,
"Bu, siapa yang menggoda suami ibu? kami bukan penggoda, kami bukan pelakor, kami bukan janda yang dikatakan Ibu sudah menggoda suami ibu! Kami tidak sama!!"
Kemudian Rama merentangkan tangannya, menghalangi agar wanita itu diam. Ia berkata, "Bu, saya yakin teman saya ini tidak bersalah. Ibu mau bukti?"
Rama punya rekaman video tentang Pak Rama, yang suka menggoda wanita.
Ia berkata, "lihat bu, ini buktinya, tapi bukan teman saya ini." Rama sambil mengeluarkan sebuah ponsel.
Rupanya Rama sudah menyelidiki sikap dari pak Rama, ketika ia pertama kali curiga melihat pak Rama menjemput Ida bekerja. Beberapa hari setelahnya Rama mengikuti pak Rama pergi, dan ternyata bukan hanya Ida, yang mendapatkan perlakuan seperti itu. Dalam beberapa video Rama memperlihatkan bahwa pak Rama juga mengantar dan menjemput wanita lain.
Rama sudah memikirkan bagaimana caranya menunjukkan video itu, sehingga video Ida dan Pak Rama tidak terlihat, sebab apabila vodeo Ida terlihat, maka akan melibatkan Naya juga.
Setelah istri pak Rama melihat semua rekaman itu, maka wanita itu segera meminta maaf pada Naya dan Ida. Ini salah faham. Lalu wanita itu pergi sambil menarik tangan pak Rama dengan keras untuk di bawa pulang. Urusan mereka berdua harus menyelesaikannya sendiri di rumah.
"Makasih, ya Rama. Kamu sudah bantuin aku," kata Ida dan Naya secara bersamaan, ketika pak Rama sudah pergi bersama istrinya.
Rama tersenyum lebar, "nggak apa-apa. Kita kan teman," katanya sambil menyimpan kembali ponsel ke dalam saku bajunya.
Naya menatap Rama sambil mengerutkan alis dan bertanya, " kamu nggak menunjukkan foto Ida kan?"
Dengan cepat Rama menjawab, "eggak, biar aman."
Ida jadi penasaran hingga dia mencolek bahu Rama, sambil berkata, "Foto apa? kamu foto aku juga? terlalu kamu Rama!"
Rama dan Naya tersenyum. Lalu Rama menjelaskan, bagaimana awal kisahnya bisa mendapatkan beberapa video itu. Semua berawal dari rasa curiga, ketika laki-laki itu menjemput Ida pergi bekerja, hingga ia memperoleh beberapa video, dan kemudian memberikan rekaman itu pada Naya, agar Naya lebih waspada.
Jadi ketika Rama menyimpulkan bahwa pak Rama adalah seorang pria penggoda, karena ia sudah memiliki buktinya. Akhirnya ketiga orang itu itu sama-sama mengerti dan memahami, bahwa mulai saat ini mereka harus lebih hati-hati. Apalagi profesi Ida sebagai penyanyi Cafe, walaupun Ida tahu menjaga harga dirinya, tetapi dari kejadian ini ia mulai berpikir, bahwa lebih baik ia tidak lagi menerima kebaikan laki-laki yang tidak ia kenal dengan baik.
Ketika mereka bertiga masih mengobrol, ada seorang gadis remaja yang mendekati mereka, kemudian memanggil Naya. Mereka bertiga menoleh, yang membuat Naya terkejut adalah, Raya ada di sana,
"Raya? Kamu sendirian ke sini, kamu sama siapa, kenapa kamu ke sini, kamu nggak sama papa kan? Pasti kamu baru pulang sekolah." kata Naya dengan pertanyaan beruntun.
Raya mengerutkan alis, ia ingat dulu ia sering bertanya secara beruntun kepada Naya dan dan Naya tidak menyukai pertanyaan yang beruntun seperti itu. Dan sekarang Raya mendengar sendiri Naya bertanya dengan pertanyaan beruntun.
Raya tersenyum dan menyahut, "kalau bertanya satu satu dong, Uma!"
__ADS_1
"Eh, iya. Sini. Ayo duduk," kata Naya sambil merengkuh bahu Naya mengajaknya duduk bersama dengan Ida dan Rama di teras rumahnya.
"Kamu sendirian kan ke sini?" tanya Naya penasaran sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.