Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 59. Masih Ada Harapan


__ADS_3

Bagaimana dia akan bertahan di sana atau di sini, ini hanyalah misteri. Hal yang paling misterius di dunia ini adalah masa depan. Naya tidak berpikir logis, ia hanya berpikir yang penting bisa bertahan hidup, itu sudah cukup.


Baginya, tidak merepotkan orang lain apalagi orang yang dicintai, adalah kewajiban. Kalau memang ia tidak memiliki kemampuan untuk membahagiakan mereka, setidaknya ia tidak harus merepotkan mereka juga.


Sebuah hadis mengatakan, kalau perbuatan menyingkirkan duri atau kayu atau apapun yang akan mengganggu orang lain dijalanan, adalah sedekah.


Bila merujuk pada hadis itu, yang mengatakan walaupun, hanya menyingkirkan duri di jalan saja akan mendapat pahala sedekah, apalagi seperti menolong orang lain, tentu pahala sedekah yang akan didapatkan akan lebih besar pula.


Naya memikirkan hal itu hingga ia kemudian menjawab,


"Aku akan tetap di sini, ayah. Mudah-mudahan aku betah di tempat kosku yang sekarang."


"Naya, kamu yang sabar, ya?" kata Nuriya sambil memeluk Naya.


Nuriya, ketika menikah dengan Budiman statusnya adalah seorang janda. Suaminya meninggal saat anaknya masih kecil. Dan ia menjalani masa-masa membesarkan anaknya seorang diri. Melihat hal ini, Naya masih sangat bersyukur ia tidak harus dibebani dengan adanya seorang anak.


Kini dari pernikahannya dengan ayah Naya, sudah memberi mereka seorang anak perempuan yang manis. Naya sangat senang menggendongnya kesana dan kemari. Kalau saja tidak ada Hasan, adik tirinya itu, ia pasti akan sangat betah tinggal dirumah itu dalam waktu lama.


"Naya..." panggil Nuriya ketika Naya tengah beristirahat di kamar malam itu. Ada seorang anak kecil dalam pangkuannya.


"Ada apa, tante?" tanya Naya. Ia duduk di tempat tidur.


"Kamu yakin akan tetap berada di kota yang sama dengan mantan suamimu?" tanya wanita berwajah manis itu dengan lembut. Ia duduk di samping Naya.


Naya melihat sejurus pada wanita itu, ia mencerna kemana arah pembicaraannya.


'"Maaf sebelumnya kalau aku sedikit mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi aku hanya memberi sebuah saran saja, Itupun kalau kamu mau menerima," kata Nuria sambil menarik nafas dalam.


"Menurut tante, aku harus gimana?"


"Naya, menjadi seorang wanita yang sudah pernah menikah itu tidak mudah. Kalau kamu masih tinggal dalam saku kota dengan mantan suamimu, besar kemungkinan kamu akan sering bertemu atau bisa melihat dan mendengar kisah tentangnya. Biasanya hal seperti ini akan membuat hati kita tidak tenang. Apalagi kalau suatu saat kamu menikah lagi dengan laki-laki lain," Nuria menghentikan ucapannya dan membenahi posisi duduknya.


"Tante, aku gak akan menikah lagi dengan laki-laki lain," kata Naya, tegas.


Julukan perempuan mandul yang sudah tersebar dikalangan komplek juga rekan-rekan kerjanya membuat Naya mengubur keinginan menikah untuk yang kedua kalinya.


Bila ia menikah lagi maka ia khawatir akan mengecewakan suaminya kelak. Karena ia tidak bisa memberikan seorang anak. Kehadiran seorang anak memang bukan satu-satunya tujuan dalam pernikahan, tapi kehadiran anak dalam rumah tangga adalah anugrah yang luar biasa. Anak-anak memang sering membuat ulah, sering membuat masalah, tapi tanpa kehadiran mereka, dunia terasa tanpa warna.


Selain itu, Naya juga bertekad tidak akan menikah lagi, adalah karena ia trauma dengan semua masalah yang berhubungan dengan hati, dengan orang ketiga atau masalah poligami. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kali. Ia sudah lelah walau yang ia jalani sangat sebentar.


Lalu bagaimana dengan kabarnya para wanita diluar sana yang menjalani poligami sampai bertahun-tahun, alangkah besarnya keikhlasan dan kesabaran yang mereka miliki.


"Nay, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari, kau memang berhak mengambil keputusan seperti itu tapi bukankah lebih baik kalau kita berserah diri?" kata Nuria dengan senyum lembutnya.


Nuria menceritakan bahwa ia begitu banyak melakukan berbagai hal untuk bisa melupakan. Ia memang dipisahkan oleh kematian, itu juga sakit. Tapi akan lebih menyakitkan lagi bila, seseorang yang masih saling mencintai berpisah, kemudian salah satu dari pasangan itu sudah lebih dahulu memiliki kekasih yang lain.


"Kalau memang kamu siap menjalani keputusanmu, maka kamu harus lebih banyak memiliki persediaan sabar dan ikhlas. Ikahlaskan suamimu bahagia dengan wanita lain dan kau juga harus lebih lapang dada kalau kau mendengar sesuatu tentang mereka, banyak kan, kejadian rumah tangga ribut hanya soal bekas istri atau bekas suami?" kata Nuriya lagi. Membuat Naya tersenyum.


"Tante, saya berpisah karena memang saya sadar diri saya tidak bisa membahagiakannya, jadi saya sudah siap dengan semua ini karena sejak awal juga saya tau dia menikahi wanita lain, pada hal saya ada mendampinginya tanpa kekurangan fisik, bahkan bisa memuaskannya?Tidak memiliki anak bukan kesalahan saya, kan?" kata Naya.


'Inilah saatnya aku harus mundur, melepaskan semua yang sudah aku perjuangkan, ini bukan soal putus asa tapi soal aku tahu diri. Bukankah hidup hanya persinggahan? Kadang terasa tidak enak kalau dikaitkan dengan takdir'


'Hidup bukan hanya tentang apa yang enak dan tidak enak, tapi tergantung manusia mau membuat hidupnya enak atau tidak. Apalagi kalau bicara soal kelebihan dan kekurangan. Maka kekuranganki jauh lebih banyak. Karena ia aku merasa tidak perlu ngotot mempertahankan semuanya. Bukankah semua hanya titipan? Ia akan diambil bila waktunya tiba. Baik suka atau tidak suka, baik cepat atau lambat'


"Apa yang tante lakukan waktu itu, biar mudah melupakan?" tanya Naya.


"Mencoba melupakan orang yang tiada, bukan berarti tidak sayang pada mereka. Tapi kita lebih baik memikirkan diri kita sendiri. Sebab akan sulit melanglah kalau kita masih dibayang-bayangi wajah orang yang gak mungkin kembali. Untuk apa? Bahkan amalan mereka sudah terputus," jawab Nuriya.


"Ia tante, Lebih baik berbuat kebaikan yang bisa memberi cahaya di alam kubur mereka. Terus?"


"Waktu itu, tante merubah keadaan rumah, mengubah posisi perabot, tempat dimana dia sering berada, memindahkan semua barang-barang yang sering dia gunakan, kedalam sebuah tempat, menyimpan semua foto, kecuali satu saja yang sengaja digantung ditempat yang jarang dilihat. Tapi akhirnya karena suatu hal, aku pindah ke sini, dari tempat tante setelah beberapa lama, hingga akhirnya bertemu ayahmu," Nuriya bercerita sambil tersenyum tersenyum simpul.


"Alhamdulillah sekarang ayah sudah bahagia ada tante disini, dan ada yang ngurusin ayah," kata Naya membalas senyum Nuriya.

__ADS_1


"Kamu sudah ziarah ke makam ibumu, Nay?" tanya Nuriya sambil beranjak ketika ia melihat anak kecil dalam pangkuannya sidah tertidur.


"Sudah tante, besok saya kesana lagi sebelum pulang." jawab Naya sambil merebahkan diri.


'Maaih ada harapan, dan hanya harapanlah yang membuat manusia bisa terus bertahan untuk tetap melanjutkan hidupnya'


Keesokan harinya, Naya pergi ke makam ibunya menziarahinya sambil berdo'a. Memang mendo'akan orang yang sudah meninggal tidak harus dilakukan di dekat kuburannya, karena Allah maha mendengar, bahkan lebih baik kalau mendo'akan orang lain dalam sholat. Tapi bila berziarah seperti ini seolah kehadiran mereka sangat terasa.


"Bu. Lihat anakmu sekarang, aku sudah dimadu. Dan sekarang aku bercerai dari suamiku. Bu, harus lebih kuat kan? Lalu aku akan menjalani hidupku sendiri. Aku tidak akan menikah lagi dengan siapapun, bu. Aku lelah," Naya mengadu, seolah ibunya bisa mendengar."


Naya berpamitan pada ayah dan Nuriya, kedua orang itu memberikan sejumlah uang untuk bekalnya. Naya menolak, karena ia tidak Ingin merepotkan, tapi Nuriya bilang,


"Naya, tolong diterima, aku selama hidup dengan ayahmu, belum pernah memberimu apa-apa, karena aku memang gak punya apa-apa. Jadi ini hanya hiburan saja, buat beli apa kamu suka."


"Terima saja, mbak. Gak baik nolak rezeki." kata Hasan, anak laki-laki remaja itu terdengar bijak di usianya yang masih remaja. Naya tersenyum mendengarnya. Anak itu cukup baik, bahkan menganggap ayah Naya adalah ayahnya juga. Rupanya Nuriya sudah berhasil mendidik Hasan jadi anak yang sholeh. Naya sangat bersyukur atas semua ini.


"Ya, kalau gak mau. Sini buat ayah saja," kata Bidiman berkelakar, membuat Nuriya melotot dan ia berkata,


"Menolak rezeki itu hanya istilah yang mudah dikatakan, tapi intinya, kalau seseorang menolak sesuatu pemberian dari orang lain itu, berarti dia sudah menghalangi pahala dari Allah untuk orang yang memberi, gitu..."


"Ya, saya terima ya uang dari tante sama ayah. Semoga kalian mendapatkan balasan yang lebih baik dari yang sudah kalian berikan buat saya," kata Naya sambil memasukkan sejumlah uang kedalam dompetnya.


"Aamiin," jawab Budiman, Nuriya dan Hasan.


-


Naya sampai di rumah kos nya ketika hari sudah hampir gelap, saat itu ia melihat suasana tempat kos yang ia tempati terlihat agak ramai, ada beberapa orang yang berpakaian rapi seperti orang pekerja kantoran berada diluar salah satu kamar.


Merasa tidak ada hubungannya dengan dirinya, juga ia memang tidak tahu ada masalah apa, Naya tidak ingin tahu juga tidak berusaha untuk mencari tahu.


Biasanya jika seseorang yang merasa tidak perlu tahu tentang sesuatu dan bersikap tidak perduli dengan yang terjadi disekitar mereka, selain karena hak pribadi, juga dikarenakan seseorang itu sudah sangat repot dengan urusannya sendiri.


Naya berjalan begitu saja melewati mereka dengan cuek, menuju ke tempatnya sendiri. Namun baru saja ia akan membuka kunci pintu rumahnya, seseorang memanggil namanya dengan sangat jelas. Naya menoleh, ia melihat seorang pria dengan pakaian yang kusut, kotor juga...darah! Noda itu terlihat jelas dari cahaya lampu dan juga suasana senja yang masih temaram.


"Pak Ares, ada apa pak?" tanya Naya heran.


"Jangan kuatir," kata Ares sambil tersenyum, "ini bukan darahku."


Ada beberapa rekan kerjanya yang juga ada di sana melihat interaksi antara Naya dan Ares. Mereka terlihat akrab, sementara selama ini para rekan kerja Ares tahu, dia laki-laki yang tidak suka dekat-dekat dengan lawan jenis.


'Siapa yang kuatir sama bapak, si? Cuma mau tahu saja kalau boleh'


"Ada apa, pak?" Naya mengulangi pertanyaannya.


"Kamu kenal, Ria?" tanya Ares pada Naya soal seorang wanita tetangga Naya ditempat kosnya. Naya menggeleng karena memang ia belum mengenal orang-orang yang menjadi tetangganya.


"Saya masih baru di sini, pak. Jadi belum kenalan," jawab Naya jujur, "memangnya siapa Ria?"


"Dia...tetangga sebelahmu, dia..karyawan baru dikantorku," kata Ares terpatah-patah seperti menenangkan diri.


'Yang jelas kalau ngomong, biasanya juga tidak begini. Apa hubungannya dengan saya?'


"Terus..?" Naya bertanya sambil mengerutkan alis.


"Dia kerja dibagian asistant umum, dibawah divisiku," kata Ares lagi.


"Oh," kata Naya hendak masuk ke dalam, ia sudah membuka pintunya.


"Naya, bisa gak bantu kami?" Ares bertanya dengan wajah yang serius.


"Hemm...??"


Ares mendekat lalu bicara dengan serius, menatap Naya tepat di bola matanya, membuat Naya salah tingkah. Ia tampak gugup dilihat seperti itu. Ia memasukkan beberapa barang yang ia bawa dari kampung ayahnya.

__ADS_1


"Begini, ada kecelakaan dikantorku, ada insiden kecil. Ada beberapa beberapa orang terluka, termasuk Ria. Kami sudah membayar kompensasi kecelakaan kerja. Dia patah tulang di kaki. Dia sekarang sendiri. Sebagai tanggung jawab kami harus memastikan kalau dia ada yang mendampinginya. Tapi keluarganya, jauh kemungkinan besok atau lusa baru bisa datang."


"Maasyaallah. Terus gimana dia sekarang, pak?"


"Dia baru saja pulang dari rumah sakit. Nah, jadi maksud saya adalah..." bicaranya berhenti. Ia terlihat menarik nafas dalam. Naya masih diam mendengar kelanjutan dari ucapannya.


"Bisa gak kamu bantu jaga dia sementara, sebelum keluarganya datang?"


Naya menatap Ares sekilas, kerutan di alisnya semakin dalam. Kalau ia membantu Ria, walau sementara, itu artinya ia harus libur kerja lagi untuk kesekian kalinya. Lalu bagaimana dengan bu Nha yang sudah menelpon agar ia cepat kembali bekerja? Apalagi ia baru saja pulang dan ia masih sangat lelah.


"Kami sudah mencoba mencari beberapa orang disekitar yang mau menolong juga teman-teman Ria. tapi Ria masih baru, jadi dia belum punya teman dekat, apa kamu bisa?"


'Pak, anda ini bukan bos saya'


"Tapi, pak. Saya itu baru saja libur karena nengok ayah saya sakit. Masa saya harus libur lagi si?"


"Kalau soal Bu Nha., saya bisa ngomong lah sama dia," kata Ares sudah berubah ekspresi wajah tidak sekaku tadi.


"Tapi saya gak enak, pak..."


'Lagipula saya gak mau kalau harus potong gaji'


Sejenak mereka diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan sejenak kemudian Naya bicara,


"Apa benar hanya untuk satu atau dua hari kan, pak?"


Ares mengangguk semangat dan ia seolah sudah baru mendapatkan air minum setelah perjalanan selama berhari-hari. Ia tersenyum sambil berkata,


"Jadi, kamu mau kan, Nay? Soalnya gak mungkin kami yang harus menunggui dan mengurusnya, Ria juga pasti akan merasa tidak enak."


"Iya, insyaallah, pak."


Ares berjalan menghampiri rekan-rekan kerjanya dan mereka semua tampak bernafas lega. Mereka, beberapa orang laki-laki itu berbincang sambil melirik Naya. Tak lama setelah itu mereka pergi, hanya Ares yang masih disana menunggu Naya selesai dengan urusannya.


Setelah bicara dengan Ares, Naya masuk ke tempatnya ia membereskan barang-barangnya dan membersihkan diri. Lalu ia makan makanan yang ia bawa dari Nuriya, bekal makanan yang cukup mengenyangkan. Masakan Nuriya cukup enak, apalagi makanan ini bisa disimpan sampai beberapa lama, abon ayam, yang bisa dimakan dengan nasi.


Setelah kenyang, Naya merapikan pakaian dan bersiap pergi ke tempat Ria, seperti yang diminta Ares. Ia keluar rumahnya sambil menelpon bu Nha.


Naya terkejut ketika bu Nha bilang kalau ia sudah tahu dari Ares dan bu Nha sudah mengijinkan Naya untuk libur lagi karena Ares sudah mwmberikan sejumlah kompensasi.


'Lho, bukannya seharusnya aku yang dapat kompensasi. Ini kok aneh, si. Apa dia bayar ke bude, nyogok bude biar aku dibolehkan libur kerja, gitu? Sebenarnya yang jadi bosku itu pak Ares atau bude?'


Naya masih melihat Ares duduk di depan rumah Ria sambil melihat layar ponselnya. Ares bukan bos, jadi mau saja nunggu karyawan kecil seperti Ria. Apalagi kejadian ini menimpa divisinya, tentu ia harus bertanggung jawab dan memastikan kalau karyawan itu bisa dirawat dengan baik oleh keluarganya.


Kecelakaan itu terjadi saat sejumlah crain hendak diangkat karena sudah tidak dibutuhkan lagi, beton dan semen sudah kering secara sempurna. Tapi siapa yang menyangka kalau tali baja yang digunakan sebagai pengait sejumalh crain penyangga itu bisa lepas dan sejumlah potongan crain yang terbuat dari campuran besi itu menggelinding kemana-mana. Lalu menimpa sejumlah tumpukan kayu juga sehingga suasana proyek saat itu sangat kacau. Beberapa pekerja terluka, mereka segera dilarikan kerumah sakit dan beberapa kepala divisi juga pegawai lain, harus bertanggung jawab, termasuk Ares.


"Kamu sudah beres?" kata Ares ketika melihat Naya sudah ada di dekatnya dan hendak masuk ketempat Ria. Naya mengangguk.


Kemudian Ares masuk ke dalam sambil berkata,


"Ria, ini Naya. Dia yang mau jaga kamu sampai keluargamu datang dan ada yang mengurusmu. Kamu bisa tandatangani surat kompensasinya besok, jadi tanggung jawab perusahaan sudah selesai. Tinggal nanti lihat perkembangan dari cidera di kakimu. Apa masih perlu mendapatkan perawatan atau tidak."


Ria, gadis berkulit eksotis dengan rambut lurus sebahu, berwajah manis dengan hidung yang mancung. Tubuhnya yang kurus tampak terbaring lemah di tempat tidurnya yang kecil, mirip yang ada di kamar kos Naya. Kakinya dibungkus perban yang membuatnya. membutuhkan orang lain untuk mengurusnya.


Ria mengangguk dan menatap Naya dengan tatapan mata tidak suka.


"Iya, pak..." kata Ria, suaranya sangat lembut.


"Naya ini tetanggamu, dia teman saya juga, dia mau nunggu kamu di sini sampai ibu kamu datang. Oke, Naya?" kata Ares lagi.


Naya mengangguk dan tersenyum pada Ria yang masih menatapnya dengan pandangan yang sama. Akhirnya Ares pergi. Setelah berpamitan pada mereka berdua.


"Sudah lama kenal sama pak Ares?" tanya Ria pada Naya ketus.

__ADS_1


"Hmm..??"


__ADS_2