Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 7. Ibu Juga Wanita


__ADS_3

Naya melangkah masuk ke dalam rumah, dilihatnya Sarita tengah duduk di sofa kecil di ruang yang biasa digunakan sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan, sambil mengulik ponselnya.


Naya menghampiri ibu mertuanya, setelah mengucapkan Salam.


"Wa'alaikumussalam," jawab Sarita datar.


Naya tersenyum sambil mencium tangan Sarita, disusul Rudian dibelakangnya, yang langsung duduk di sebelah ibunya.


"Apa kabar, bu? Maaf ibu harus menunggu." kata Naya, sambil menaruh makanan di meja.


"Baik, Alhamdulillah." jawab Sarita.


"Tumben ibu ke sini, biasanya juga kami silaturahmi ke sana." kata Naya.


"Gak ada apa-apa, cuma kangen sama cucu," sshut Sarita ketus.


Deg. Hati Naya berdegup lebih kencang. Soal seperti ini yang sejak setahun terakhir selalu disinggung oleh Sarita dihadapan Naya.


'Ya Allah ... apa ibu mau membahas poligami, dan anak lagi? Yanga benar saja? Bolehkah aku kabur saat ini juga?' Naya.


"Sebentar, bu. Saya ambil piring dulu. Apa ibu sudah makan?" tanya Naya berlalu mengambil beberapa piring di dapur.


"Sudah. Kamu gak perlu repot masak. Aku gak lapar," kata Sarita setengah berteriak.


Rudian duduk di samping Sarita, wanita itu menoleh padanya sambil mengusap kepalanya, seperti mengusap kepala anak kecil.


"Ibu, tumben mau ke sini, ada perlu apa datang kesini sore-sore? Jangan bahas soal poligami lagi sama Naya. Aku malas bilangnya," kata Rudian.


Sementara Naya diam dibalik pintu penghubung antara dapur dan ruangan itu. ia sengaja melakukan itu, Ia ingin mendengar apa yang akan mereka bahas kalau dirinya tidak ada di sana bersama mereka berdua.


"Apa kamu gak berani bilang sama Naya? Kalau gitu, biar ibu saja yang bilang." Sarita berkata dengan suara agak di keraskan, seolah sengaja memancing pembicaraan dengan Naya.


"Poligami ini, buat kebaikan kamu sendiri. Mau kan, kamu nikah lagi sama anak teman ibu, dia itu baik dan cantik, ibu sudah beberapa kali ketemu sama dia," kata Sarita.

__ADS_1


Naya mendengar semuanya, ia ingin sekali menangis saat itu juga. Rasa sesak sudah sangat menekan dadanya.


'Ya Allah, apakah menjadi sholehah harus menerima cobaan sebesar ini? Seandainya menjadi bidadari surga tidak harus menerima dan menjalani hidup dengan suami yang menikah lagi? Haruskah?' Naya.


Sambil menahan gejolak dihatinya, Naya mendekat seraya menata makanan di meja. Ekspresi wajah Naya biasa saja, seolah tidak pernah mendengar apapun dari mereka berdua.


"Naya tidak masak kok, bu. Ini sengaja beli buat ibu. Kita ngobrol sambil ngemil ya, bu. Tadi saya beli kwitiau komplit," kata Naya.


Sarita hanya menatap makanan yang ada di meja dengan tatapan dingin, ia hanya ingin membicarakan soal poligami anaknya. Dan tidak berselera makan.


"Ayo, bu silahkan di makan," kata Naya lagi demi melihat Sarita yang hanya meliriknya.


"Ini enak lho, bu," kata Naya sambil menyodorkan sepiring makanan di hadapan ibu mertua nya.


Ia sendiri mengambil makanan bagiannya dan menyuap makanan ke dalam mulutnya, tanpa melihat pada suaminya, yang terlihat cuek juga.


Tak lama terdiam, Rudian ikut menikmati makanan yang terhidang di atas meja, setelah mengambil bagian di piring nya.


"Kamu, sudah memikirkan kata-kata ibu sebulan yang lalu?" Kata Sarita. Ia akhirnya menerima makanan dari Naya dan berkata sambil menikmati makanannya.


"Soal, anak. Soal Rudian, ibu akan menjodohkannya dengan wanita lain. Biiar ibu punya cucu lagi. Dulu ibu itu susah mau punya anak. Makanya sekarang ibu mau punya banyak cucu."


'Jadi kemungkinan, keturunan mandul bukan dari aku' Naya.


"Ibu. Apa ibu ini bukan wanita juga. Kenapa ibu tega sekali bilang seperti itu? Naya tidak mau dipoligami, bu. Naya gak bakal kuat. Jujur, Naya bukan wanita suci yang bisa hidup seperti itu." Naya mulai menangis, air mata dan perasaannya yang tadi ia pendam kini tak bisa lagi ia tahan.


Sarita diam, seperti tak ada reaksi apapun, ia terus menghabiskan makanan di piringnya. Lalu melihat Naya menangis, sambil mengusap-usap pundaknya.


"Jangan nangis. Ibu juga wanita, ibu ngerti perasaan kamu. Tapi ini untuk kebaikan anakku juga."


"Naya, kamu mencintaiku, bukan?" tanya Rudian akhirnya membuka mulutnya untuk bicara setelah dari tadi hanya diam.


"Apa maksudnya Kanda tanya soal itu. Aku ini istrimu, nda. Istri mana yang tidak mencintai suaminy" jawab Naya masih dengan berurai air mata.

__ADS_1


"Bukankah dengan alasan itu saja sudah cukup? Bukankah mengijinkan suaminya menikah lagi adalah karena bukti seorang istri mencintai suaminya?" Tanya Sarita mencoba mencari pembenaran atas keinginannya.


Naya menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Naif sekali, pikirnya. Kalau cinta istri disalah artikan seperti ini. Haruskah dengan alasan cinta kemudian seseorang boleh memaksakan kehendaknya? Tentu saja tidak, kan?


Naya menatap Rudian lekat, mengusap air matanya kasar.


"Kanda, tahu? Kitab agama kita mengatur poligami seperti apa? Kanda harus tahu dulu ilmunya, poligami seperti apa, ayat-ayatnya, baru bicara hak, dan menuntut keridho'an istri dipoligami atas dasar cinta. Tapi kalau tau-tau menikah, itu tidak masuk akal" kata Naya ketus.


Begitulah bagi kebanyakan wanita memahami tentang hak suami yang satu ini. Bahwa dalam keadilan menjalani poligami itu sulit. Bahkan dalam Al Qur'an, Allah menjadikan kemampuan dan berlaku adil menjadi syarat utama dalam melakukannya. Sedangkan kalau tidak mampu tapi tetap melakukannya maka termasuk sebuah kedzaliman.


Ayat itu mejelaskan, bila tidak mampu maka diperintahkan untuk menikahi satu wanita saja. Hal ini menunjukkan bahwa untuk berlaku adil itu sulit, hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya dengan baik, tanpa merusak citra ajaran agama yang satu ini. Orang yang mampu berbuat adil pada istrinya adalah orang yang mendekati sempurna ketaqwaannya.


Rudian menatap Naya dengan marah. Ia merasa tersinggung. Haknya sebagai suami seolah ternodai. Bahkan harga dirinya seperti di cabik.


"Kamu berani bicara soal, hak? Bukankah semua hakmu sebagai iatri juga sudah terpenuhi. Kamu seharusnya bersyukur!" kata Rudian dengan nada tinggi.


'Apa iya semua hak-ku sebagai istrimu sudah kau penuhi? Belum!'


"Sudah, nda! Tidak usah membahas ini lagi. Malu didengar tetangga. Rumah kita ini cuma disekat dinding saja." Naya tidak ingin bertengkar, ia berusaha meredam kemarahan Rudian.


"Naya, kamu yang seharusnya diam. Dengrkan suamimu bicara!" sahut Sarita.


"Ibu ... Kanda... Keadaan kami ini belum disebut mampu untuk bisa berpoligami. Rumah ini belum lunas. Gaji kami masih kurang, bahkan aku harus banyak berhemat. Mana bisa beristri dua dan punya anak. Aku sudah sering bicara seperti ini"


"Makanya, cari perempuan lain yang bekerja dan punya uang banyak," kata Sarita. Wanita itu tersenyum tipis.


"Ibu.. Itu namanya memanfaatkan harta orang lain. Apa kita ini miskin sampai berbuat seperti itu. Memalukan, sekali," kata Naya, sambil beranjak meninggalkan pasangan ibu dan anak itu.


"Hei. Mau kemana kamu. Aku belum selesai bicara. Naya!" Sarita berteriak memanggil Naya.


"Tidak perlu, bu. Keputusanku tetap sama, aku tak akan mau suamiku menikah lagi. Aku tidak mau kasih sayang dan cinta Kanda dibagi!"


Naya melangkah masuk ke kamarnya dan menangis.

__ADS_1


'Haruskah kuakhiri saja pernikahan ini?' Naya dalam tangisnya.


Bersambung


__ADS_2