
"Ibu, apa kabar?" tanya Yola menggamit tangan Sarita dan menciumnya. Lalu ia duduk di hadapan Sarita sambil membuka bungkus makanan yang dibawanya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku?" kata Sarita sambil melirik pada pria muda yang ikut duduk di samping Yola. Ia tidak menjawab pertanyaan Yola.
"Ibu, ini adikku. Ayo bu, makan mie ayam. Aku tadi lapar. Gak tau kalau ada ibu di sini." wajah Yola tidak menampakkan raut kecemasan sama sekali.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi pada Rudian?" tanya Sarita masih terlihat kesal.
"Gak." jawab Yola sambil menggeleng lalu berkata lagi, "Aku sudah nyoba nelpon bang Rudi. Tapi gak diangkat. Jadi ya, aku panggil adikku ini buat teman di sini. Aku takut sendirian, bu."
"Oh. Kamu sudah lapor pak Rt, kalau kamu mau bawa laki-laki lain kerumah ini?" sekali lagi Yola menggeleng mendengar ucapan Sarita.
"Memang kenapa, bu? Dia adik kandungku." jawab Yola.
"Kamu harus jaga sikap kamu, soalnya kamu sudah menikah dan suamimu tidak ada di rumah. Jangan sampai para tetangga menggosipkan keluarga kita karena adikmu ini. Yang dianggap simpanan atau apalah." kata Sarita membuat Yola diam. Lalu ia meneruskan untuk menikmati makanannya.
Yola sengaja membeli makanan dalam jumlah lebih karena ia berpikir tidak ada makanan apapun di rumah. Tentu saja ia malas masak karena sudah kebiasaannya sejak dulu ia selalu memenuhi kebutuhan sehari-harinya itu dengan cara yang praktis, makan di restoran atau take away.
Sarita juga lapar mereka baru pulang dari rumah sakit dan Naya belum selesai masak. Jadi ia ikut makan mie ayam dari Yola.
Sementara Naya sudah selesai menyapu teras, ia mulai membersihkan dapur dan mencuci piring, ia sama sekali tidak perduli dengan yang terjadi diruangan serbagunanya. ia melanjutkan pekerjaan demi pekerjaan di dapur, Rudian juga harus diurus. Ia harus banyak makan.
Naya mengolah beberapa makanan freezerfood yang ia beli kemarin. Ia menambahkannya kedalam sayuran. Setelah matang semua masakannya ia bawa ke kamar, untuk memberi suaminya makan.
Selintas ia mendengar Sarita menasehati Yola dengan baik, agar wanita itu tidak bersikap semaunya di rumah ini. Karena ada nama baik suaminya yang harus dijaga.
"Kamu gak coba telepon Naya gitu, buat nyari tahu dimana suamimu? Kok kamu seperti orang yang gak perduli?" kata Sarita setelah selesai menikmati mie ayamnnya.
"Aku gak tahu no ponsel Naya." jawab Yola tenang.
"Aku tanya sama temanku yang di pabrik, pada gak tahu. Terus aku pikir Naya juga gak pulang, jadi ya sudah paling juga sama Naya." kata Yola sambil celingak-celinguk mencari Naya, siapa tahu ada disekitar mereka.
"Kenapa, bu. Aku gak salah, kan. Kalau bang Rudi sudah sama Naya. Ya aku gak perlu kuatir." kata Yola.
"Kamu bisa telepon ibu, kan?"
"Ah, aku lupa."
"Ya, ya memang gak apa. Tapi apa kamu gak penasaran sama suamimu sekarang?" tanya Sarita lagi.
"Memang dimana bang Rudi?" Yola mulai penasaran, ia baru keluar dari zona ketidakperduliannya.
"Sakit. Kemarin Rudian pinsan." jawab Sarita ketus.
"Apa? Kenapa bisa pinsan?" kata Yola sambil beranjak menuju kamar Naya dan Rudian.
__ADS_1
Dikamar itu ia melihat Naya yang masih menyuapi Rudian dengan telaten. Ada rona kecemburuan terlukis diwajahnya. Tapi sejenak kemudian ia segera menepisnya mengingat Rudian sedang sakit.
'Sebenarnya bang Rudi kenapa?'
"Nanti kalau sudah sepuluh menit baru minum obatnya lagi ya, Nda. Obat yang ini harus diminum sehari empat kali." kata Naya sambil menunjukkan obat yang dimaksud, antidepresaant tertulis dalam kemasannya.
"Hmm..." jawab Rudian sambil merubah posisi duduknya yang bersandar dikepala ranjang. Ia menatap Yola sekilas lalu memejamkan mata.
"Bang...sakit apa si?" kata Yola manja dengan suara yang mendayu sambil mengambil posisi duduk disebelah Rudian. Ya tentu saja itu ranjang milik Naya.
"Sudah, jangan ganggu, Rudian. Biar istirahat." kata Naya melirik Yola sinis. Kesal, kan?
"Abang....ayo pindah ke kamar kita. Biar nanti Yola yang ngurusin abang..." kata Yola lagi tanpa memperdulikan Naya, ia memeluk dan mengusap wajah Rudian lembut. Cari gara-gara, ya. Apa dia gak mikirin perasaan orang, si
Rudian masih diam, sakit dikepalanya belum hilang, makan juga hanya bisa sedikit karena masih belum enak makan.
"Ada yang bilang abang makan enak direstoran... abang gak ngajak aku si. Jadi kan sakit begini."
"Kan kamu juga sakit, gak masuk kerja..." kata Rudian akhirnya bersuara, tidak rela dirinya disalahkan.
"Yola. Kalau ada masalah itu, segera atasi masalahnya, jangan menyalah-nyalahkan orang saja."
"Eh, Naya. Kamu bisa diem gak si. Aku ini masih ngomong sama suamiku. Ganggu saja."
"Justru kamu yang ganggu orang lagi sakit malah diganggu. Lagi pula ini kamarku." kata Naya ketus.
"Abang, kita gak bebas kalau di sini. Ayo pindah ke kamar kita!" kata Yola menyibakkan selimut Rudian.
"Apa si, kamu ini Yola! Kasian Kanda!"
"Sudah-sudah. Jangan bertengkar! Suami kalian itu sakit!" kata Sarita yang tampak sudah bersiap akan pulang. Pakaian sudah rapi dan sudah kembali membawa tas ditangannya.
Melihat ada ibu mertuanya, Yola dan Naya diam. Mereka menghntikan keegoisan mereka masing-masing. Yola turun dari tempat tidur karena melihat Rudian yang diam tak merespon sikap iatri-istrinya. Ia terlalu sakit.
"Ibu, sudah mau pulang? Nanti saja bu aku antar, tunggu sampai aku ambil motor dulu di rumah bu Nha." kata Naya.
"Oh, jadi motornya ada di sana?" tanya Yola seperti memastikan. Naya mengangguk.
"Apa kemarin bang Rudi pinsan di sana? Apa semua gara-gara kamu, Nay?" kata Yola lagi mencengkram tangan Naya dengan keras.
"Sembarangan. Ada saksi mata banyak. Gak mungkin aku mencelakai suami sendiri. Jangan asal menuduh!" bantah Naya.
"Ya, bisa jadi karena kamu marah dia nikah sama aku?!"
"Aku bukan orang yang sejahat itu."
__ADS_1
"Ya sudah aku saja yang ambil motornya biar bisa ngantar, Dero pulang." kata Yola. Dero adalah adiknya. Yola melangkah mendekati. Adik laki-lakinya, dan beekata.
"Dero, ayo pulang."
"Yola. Lebih baik kamu antar dulu ibu. Kasian ibu, kan?" kata Naya, seraya menghampiri Yola.
"Sudah, sudah. Ibu naik taxi saja. Sudah hampir sore."
Sarita mencoba menengahi, ia ingin pertengkaran ini tidak terus terjadi. Ia mengalah untuk pulang sendiri. Setelah melihat semua hari ini ia merasa sifat Yola sangat tidak pantas bagi seorang wanita yang sudah menikah. Terkesan belum dewasa dan semaunya. Bahkan tidak menghargai ibu mertuanya yang ada di sana, tapi justru mendahulukan adik laki-lakinya.
Naya membiarkan sikap Yola, memang apa yang bisa ia lakukan. Menasehati, ia rasa tidak mungkin. Ia hanya bisa menghadapi saja dengan baik. Seperti saat ini, ketika Yola baru saja pulang mengantarkan adiknya, menjelang maghrib.
Yola masuk rumah setelah memarkirkan motor Rudian di teras. Ia pergi ke dapur yang sudah rapi dan bersih untuk memgambil piring lalu makan makanan yang ada di meja. Tentu saja itu makasakan Naya dari uangnya sendiri.
"Kamu sudah pulang? Isi bensinnya biar kalau kanda mau bekerja, tankinya penuh." kata Naya yang baru selesai memberi obat buat Rudian.
"Kamu saja sana yang isi."
"Kan, kamu yang pakai barusan buat nganter adikmu. Rumahmu jauh kan dari sini." kata Naya mencoba menjelaskan.
Letak perusahaan tempat Rudian dan Yola bekerja letaknya berada ditengah diantara rumah Naya dan Yola. Kalau ditempuh dari rumah Naya maka akan lebih jauh tentunya.
"Iya. Besok aku kerja jadi aku mau pakai lagi motornya. Aku pasti isi lagi bensinnya! Gak usah ngurusin urusan orang."
"Kalau gitu, jangan makan masakan orang!" kata Naya membuat Yola diam. Ia terlihat geram.
Yola sangat lapar, dari pagi ia belum makan nasi. Dan ketika pulang ia melihat isi tudung sajinya penuh, ia makan tanpa pikir panjang. Walau ia kesal tapi rasa lapar mengalahkan rasa malunya. Apalagi ia menganggap Naya sangat mudah ditakhlukkan.
"Abang pasti marah kalau tahu kelakuanmu begini." kata Yola.
"Kanda juga pasti marah kalau tahu kamu bawa laki-laki kerumah ini tanpa izinnya."
"Itu, Dero. Abang juga tahu. Abang akrab sama dia. Suka ngasih dia uang. Soalnya Dero belum kerja lagi, habis dipecat."
Deg! Jantung Naya seperti berhenti berdetak. Ia merasa sudah ditipu lagi kali ini. Dulu ia pernah melihat Rudian memberikan sejumlah uang pada Yola sedang pada dirinya tidak. Dan sekarang ia mendengar dari mulut Yola kalau suaminya juga suka memberi adik Yola uang. Kejutan apalagi ini.
Naya teringat kembali soal percakapan yang pernah ia dengar di Toserba, kalau benar yang ia dengar itu adalah percakapan antara Yola dan adiknya, maka sebenarnya Rudian sudah terperangkap jaring Yola untuk dimanfaatkan sebagai mesin uang untuk adiknya.
"Kau, memanfaatkan Rudian untuk membiayai hidup adikmu?" tanya Naya mendekati Yola. Tatapan matanya sangat tajam.
"Tidak, aku hanya mengatakan hal yang sesungguhnya pada abang masalah Dero. Aku gak pernah minta, tapi abang yang ngasih sendiri." kata Yola sambil menghabiskan makanannya. Ia minum, lalu melanjutkan lagi kata-katanya. Sementara Naya masih diam, ia masih dengan rasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"He, Naya. Tau gak itu tandanya apa? Itu tanda cinta. Abang sangat mencintaiku jadi ia baik banget sama aku." kata Yola sambil tertawa kecil meremehkan Naya.
"Kamu pikir kanda gak sayang gitu, sama aku? Kalau menurut kamu Kanda gak sayang sama aku, kenapa masih mempertahankan aku, ha?"
__ADS_1
Mereka sama-sama diam lalu Naya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menunaikan sholat maghrib. Ia mengabaikan Yola. Sembilan puluh persen budi pekerti yang luhur itu adalah dengan bersikap mengabaikan kesalahan-kesalahan orang lain.
'Ya Allah. Haruskah aku bertahan sampai bulan ini berakhir?' kata Naya dalam do'anya.