Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 77. Kebiasaan Naya


__ADS_3

Naya heran melihat Raya menangis sambil memeluknya. Ia pun membalas pelukan Raya sambil menenangkannya. Ia menepuk lembut punggung Raya. Setelah Raya puas dengan tangisannya, Naya berkata sambil mengusap kepala Raya,


"Hei anak manis, ada apa kok nangis? kenapa kamu sedih?" ditanya seperti itu, Raya menggeleng, kemudian ia menarik tangan Naya agar duduk kembali bersebelahan dengannya.


"Umma..." kata Raya. Anak itu kini mulai membiasakan diri memanggil Naya sesuai kesepakatan mereka melalui chat beberapa hari yang lalu.


"Hmm.."


"Umma belum jawab pertanyaan aku."


Kebiasaan Naya sejak kecil Ia senang sekali menyimpan beberapa bunga kenanga dalam saku bajunya ataupun dalam tasnya, juga diantara lembaran-lembaran bukunya hingga bunga itu kering. Menurutnya bau bunga itu sangat enak, apalagi pohon bunga itu dirawat ibunya dengan baik di belakang rumahnya. Kebiasaan itu itu Muncul lagi sekarang, karena pohon bunga itu masih ada. Naya menyimpan bunga itu menjadi parfum alami bagi tubuhnya.


"Oh, soal bunga kenanga?" Naya balik bertanya dan Raya mengangguk. Naya kembali berkata sambil tersenyum, "Itu karena suka saja sama baunya. Itu kebiasaan ibu tante, eh, umma yang dulu suka menyelipkan bunga itu di saku baju, tas atau dompet. Aneh ya?"


Mendengar ucapan Naya, Raya menggeleng lalu menjawab, "Dulu mama juga suka menyimpan bunga ini di mana-mana sebagai pengharum ruangan. Kalau kata Raya, baunya gak enak. Mengandung mistis."


Mendengar ucapan Raya, Naya mengerutkan alis, ia hampir tak percaya. Lalu berkata,


"Mistis apa? Kalau umma suka karena gak punya parfum" tertawa, lalu berkata lagi, "kalau kita sebagai wanita muslim memakai parfum sampai membangkitkan perasaan suka dari lawan jenis, itu gak boleh. Intinya gak boleh berlebihan, kecuali di depan suami, bagi wanita yang sudah menikah."


"Tapi bunga kenanga gak wangi" kata Raya.


"Iya, wangi dari kenanga hanya tercium dari jarak yang sangat dekat atau kalau saling menempel. Jadi wangi bunga ini, alami dan aman." kata Naya. Pohon bunga kenanga tumbuh subur di belakang rumah nya.


Raya berkata "Umma tahu enggak, kalau kebiasaan uma itu seperti kebiasaan mama aku?" Naya tersenyum menanggapinya, kemudian mencubit kecil hidung Raya sambil berkata,


"Mungkin hanya kebetulan, sekarang umma pulang dulu, sudah hampir sore. Salam buat Yoni," kata Naya sambil menyelesaikan urusan membereskan tasnya.


Naya tidak menyadari kalau banyak dari Kebiasaannya yang sama dengan mama Raya, seperti menyukai bunga sedap malam, meyukai sayur bunga pepaya dan pisang goreng sebagai cemilan vaforitnya.


Maksud Naya akan segera pergi dari apartemen itu adalah untuk menghindari Ares. Ia bersyukur tidak harus kembali menemuinya. Apalagi cap pelakor sangat menakutkan, ia berada di rumah seorang Laki-laki yang tidak punya ikatan kekeluargaan dengannya, seolah-olah ia seperti perempuan murahan saja. Mana ada orang yang mudah percaya bahwa ia terpaksa.


Untunglah, ketika ia mandi tadi, laki-laki itu pergi karena memiliki keperluan yang lain dan membiarkan Naya berdua dengan Raya. Sebagai laki-laki yang menghargai Naya tentu Ares tahu bahwa Naya tidak akan mau tinggal di rumah itu hanya berdua dengannya. Naya pun bersyukur ketika di dalam rumah itu ternyata ada Raya yang bisa menemaninya.


Naya sudah selesai membereskan tasnya. Ia ingin segera pergi. Kemudian dia bertanya,


"Raya beranikan tinggal sendiri?" Raya melihat pada Naya sambil menipiskan bibir nya. Ia sedikit kecewa karena Naya berkeras untuk pergi.


"Aku berani sih, sudah biasa kok, tapi aku masih kangen sama umma." kata Raya.


Naya kembali menepuk-nepuk kepala Raya dengan lembut.


Ia berkata, "maaf nggak bisa, umma harus pergi, gak apa kan?" dan Raya mengangguk.


Mereka kembali berpelukan sebelum Naya benar-benar pergi, meninggalkan Raya yang masih termenung. Anak remaja itu berpikir, apakah mungkin karena kebiasaan Naya yang sama dengan mamanya sehingga membuat Yoni menjadi tidak phobia terhadapnya, anak remaja itu mengambil kesimpulan sendiri dan kembali dengan aktivitas bersama ponselnya di kamar sambil tersenyum.


Sedangkan Naya berhasil menemukan sebuah taksi yang membawanya kembali pulang. Setelah sampai di rumah, ia menyimpan barang-barangnya yang tadi dibawa dari pasar begitu saja. Ia mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah. Hari ini, hari yang panjang yang dilaluinya dengan penuh drama seperti di film saja.


-


Naya sedang sibuk di dapur membantu Bu Min, membersihkan sampah setelah membersihkan area kantin. Hari ini waktunya membuang sampah bagi masyarakat sekitar di Jalan Utama Kota Batu. Naya membereskan semua sampah yang harus ia buang, hari itu mobil pengangkut sampah dari pemerintah kota akan mengambil semua sampah di jalan. Kegiatan seperti ini berlangsung setiap dua kali dalam satu pekan.


Naya berdiri di sisi jalan, ia menunggu sampai semua sampah diangkut, sebab apabila tidak ditunggu seperti itu, maka petugas dari mobil pengangkut sampah tidak akan mengambilnya sampai bersih. Naya tidak sendiri ada beberapa orang dari pihak cleaning servis yang juga menunggu agar sampah mereka benar-benar terangkut semuanya.

__ADS_1


Saat Naya masih menunggu, ketika sebuah mobil memasuki halaman gedung perkantoran, dan mobil itu berhenti di dekat trotoar. Naya tidak memperhatikan mengapa mobil itu tidak segera memasuki tempat parkir. Bagi semua orang termasuk Naya keluar masuknya mobil dan kendaraan lainnya di tempat itu adalah hal yang biasa.


Beberapa saat lamanya, hingga semua sampah terangkut. Naya berjalan menuju toilet untuk mencuci tangannya sampai bersih sebelum ia kembali ke kantin. Saat ia berjalan,0 mobil warna hitam itu juga berjalan disampingnya, kebetulan letak toilet dan kantin nya berada di lokasi yang tidak berjauhan dengan lokasi parkir khusus para petinggi perusahaan


Naya merasa mobil itu membutuhkan ruang untuk berjalan sehingga dia berhenti namun mobil itu pun berhenti. Kemudian Naya mempercepat langkahnya, iya berpikir mungkin pengendaranya kesulitan untuk memarkirkan mobilnya. Tapi ketika Naya mempercepat langkahnya mobil itu pun berjalan lebih cepat sambil membunyikan klakson. Akhirnya Naya menoleh ke arah jendela mobil yang terbuka.


Ia melihat wajah Ares disana, tengah tersenyum sambil menaikan alisnya.


Naya langsung memejamkan mata dan menarik nafasnya dalam-dalam, ketika melihat siapa pengendara mobil yang membunyikan klaksonnya dengan keras sehingga mengagetkannya. Ia menepuk dadanya berulang kali untuk menenangkan diri.


'Maasyaallah. Astaghfirullah'


Naya selama ini selalu menghindari bertemu dengan Ares, tapi kebetulan seperti ini selalu terjadi. Terakhir kali mereka bertemu, saat kejadian Naya menolong seorang wanita yang disebut sebagai pelakor hingga pergi ke apartemennya dan sekarang mereka bertemu lagi di sini. Naya jadi ingat bahwa ia belum sempat berterima kasih pada Ares.


'Kenapa dia bisa ada di sini apa dia juga kerja di kantor ini? Tapi sudah beberapa bulan aku di sini belum pernah bertemu dengan pak Ares?'


Naya mencoba memutar ingatannya, ia pernah mendengar suara tangisan di halaman parkir ini, beberapa waktu yang lalu. Ia kira anak yang membutuhkan pertolongan dan Naya waktu itu sempat berpikir bahwa anak yang menangis itu adalah Yoni namun sekarang laki-laki ini benar-benar ada di hadapannya.


'Bisa jadi yang aku lihat dulu benar-benar Yoni?'


Ares turun dari mobilnya mendekati Naya Lalu bertanya, "jadi kamu bekerja disini?"


Kemudian Ares menelisik pakaian dan memperhatikan celemek yang melekat di tubuh Naya dan kembali bertanya,


"Kamu jadi pelayan lagi?" Naya tidak menjawab. Ia hendak melangkah meninggalkan Ares begitu saja. Ares menghalangi langkahnya dengan merentangkan tangannya, seperti yang pernah ia lakukan dulu, ketika Naya hebak meninggalkannya di pasar.


"Tunggu. Jawab dulu pertanyaanku." kata Ares.


Naya kembali tidak menjawab ia hanya menoleh pada Ares sesaat kemudian ia memejamkan matanya dengan menarik nafas dalam.


Tapi sejenak kemudian Naya menoleh dan berkata, "terimakasih, pak. Atas bantuan bapak waktu itu." segera memalingkan muka, karena ada air yang hampir keluar dari kelopak matanya.


Ares menangkap sesuatu yang tidak bisa ia fahami dari ekspresi raut wajah Naya, terakhir saat Naya bicara, ia melihat ada genangan air yang berkilau dimatanya. Sambil menatap kepergian Naya, ia kembali ke mobil untuk memarkirkannya dengan benar.


'Kenapa dia menangis, sebenci itukah dia padaku, hingga selalu menghindar setiap kali bertemu?'


Tanpa Ares ketahui Naya menangis di toilet. Itu air mata yang sudah ia tahan begitu ia melihat Ares berdiri di hadapannya. Ia benar-benar ingin menangis saat itu juga, tapi ia masih bisa menguasai emosi diri sepenuhnya, hingga bisa bersikap tenang seperti biasanya.


Melihat Ares bagi Naya sama saja melihat masa lalunya. Bertemu dengan Ares seolah-olah bertemu lagi dengan kejadian bersama suaminya. Kejadian dari masa lalu yang menyakitkan yang sangat ingin Ia lupakan.


Bertemu lagi dengan laki-laki yang berhubungan dengan masa lalunya secara tidak langsung, seperti kembali mengingatkannya ketika ia bertemu dengan Ares dalam keadaan yang menyedihkan. Dulu setiap kali ia mengalami gejolak emosi ataupun merasakan kesedihan yang amat sangat, Ia sering lupa diri, sehingga menangis di tempat-tempat umum. Saat itulah Ares datang membantunya.


Naya memang sudah mengikhlaskan, sudah memaafkan semua orang yang ia anggap bersalah pada dirinya di masa lalu. Tapi entah mengapa, setiap kali melihat wajah Ares, ia seolah-olah mengingatkan kembali bagaimana cara mereka bertemu. Itu adalah pertemuan yang sangat memalukan, bagimana Ares selalu melihat dirinya dalam keadaan berantakan.


Begitu Ares tahu Naya bekerja di kantin yang ada di gedung itu, Ares memutuskan untuk makan siang disana. Ia ingin melihat bagaimana Naya bekerja. Sebelumnya ketika Ares mengunjungi kantor itu untuk menjalankan tugas dari pimpinannya, Ares selalu melewatkan ajakan makan siang dari beberapa rekan kerjanya. Setiap kali rekannya mengajaknya bergabung bersama, Ares selalu menolak, ia lebih mementingkan menyelesaikan pekerjaannya di kantornya sendiri, agar ia bisa cepat pulang. Tetapi kali ini, ia menerima ajakan dari mitra dan rekan perusahaan yang kerjasama dengannya untuk makan siang disana.


Saat makan siang pun tiba, Ares dan rekan-rekan kerjanya duduk di ruangan VIP yang sudah disediakan untuk mereka, dan bisa langsung menikmati makanan sesuai pesanan tanpa harus mengantri seperti pegawai lainnya.


Naya juga yang membawa makanan pesanan mereka, tapi Naya bersikap biasa saja pada Ares dan tamu lainnya, bahkan seolah-olah semua orang yang ada di ruangan itu tak bernyawa.


"Silahkan.." hanya itu yang Naya katakan setelah semua pesanan tersaji di meja.


Dari ruangan itu, sambil menikmati makanannya, Ares bisa melihat dengan jelas bagaimana Naya bekerja, Ia melihatnya dengan mengerutkan alis, merasa bahwa ia kali ini tidak mungkin bisa membawa Yoni agar bisa diasuh oleh Naya sehingga bisa mendekatkan hubungan dengannya.

__ADS_1


Naya memang bekerja lebih ringan karena tidak harus membawa beberapa makanan kemeja para pelanggan. Tapi justru ia tidak bisa meninggalkan tempat itu, ia terus bekerja melayani, mengambilkan makanan para pegawai yang mengantri, hingga ratusan karyawan itu mendapatkan makanan pesanan mereka satu persatu hingga selesai.


"Nay, kamu ingat gak, pernah cerita tentang pak Rama, tetangga dekat rumah kita?" kata Rama ketika tiba gilirannya mengantri.


Naya mendongak, melihat Rama mengajaknya bicara di sela-sela mengambilkan makanan pesananya.


"Ingat, ada apa gitu?" Naya balik bertanya.


"Aku pernah beberapa kali lihat pak Rama ke rumahmu, dia jemput Ida kerja bareng mobilnya." mendengar kata-kata Rama, Naya mengerutkan kening.


" Wah, ini sinyal nggak bagus."


"Iya, kamu harus hati-hati deh, karena aku lihat tipe pak Rama itu memang pria penggoda." Naya tertawa mendengar ucapan Rama.


"Oh, ternyata yang jadi penggoda bukan cuman wanita ya?"


Rama tersenyum sinis, lalu berkata, "aku juga pria penggoda. Sayang wanitanya tidak tergoda."


Mereka terlihat akrab dan tentu saja yang terjadi antara Rama dan Naya, tidak lepas dari perhatian Ares yang melihat dengan tatapan mata tidak suka.


"Hmm... gimana ya buat menyelidiki tentang ini? Aku khawatir kalau nanti ada apa-apa. Atau terjadi sesuatu antara Ida dan pak Rama. Aku kan tidak bisa melihat mereka, aku berangkat sebelum Ida kerja." kata Naya sambil mengambilan teh es pesanan Rama.


"Udah jangan ikut campur sama urusan orang." kata Rama.


Mendengar ucapan Rama, Naya mengerutkan alis, ia protes, "ggak ikut campur gimana, kan Ida tinggal sama aku, aku tinggal satu rumah sama dia? Itu masalahnya."


"Ya udah nanti kita bicara lagi deh." kata Rama terkesan malas.


"Hmm, kapan bicaranya kamu sibuk terus!" sahut Naya.


Sebenarnya Rama sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, bahkan dengan antusias ia mengerjakan dan membantu teman-temannya. Semua ia lakukan hanya untuk mebiasakan diri jauh dari dan bisa melupakan Naya.


"Memangnya yang ngomong gak sibuk, gitu?kamu juga sibuk terus kan?" tanya Rama.


Naya kembali tersenyum dan berkata, "Iya si, ini minumannya, sudah makan sana."


Setelah makan siang selesai, semua pegawai kembali pada qubicle dan pekerjaan mereka masing-masing. Saat agak senggang, Rama menghampiri Naya yang masih merapikan beberapa makanan di etalasenya.


"Nay! Sini aku punya buktinya. Mau lihat, gak?" kata Rama sambil menunjukkan ponselnya pada Naya.


Wanita itu menoleh, meninggalkan pekerjaannya lalu mendekati Rama. Naya menerima ponsel Rama dan melihat video yang tengah diputar dalam ponsel. Dalam video itu terlihat kalau Pak Rama dengan sopan dan ramah berbincang dengan Ida, lalu pergi berdua dengannya.


Naya memperhatikan gambar yang diambil oleh Rama dengan sangat jelas. Ida memang wanita yang ramah, mengingat profesinya sebagai penyanyi cafe. Selama ia tinggal di rumah Naya, tidak ada kejadian yang buruk. Hanya beberapa kali saja teman-teman Ida begadang. Tapi Naya masih bisa memakluminya.


Tapi kejadian Ida dan pak Rama, membuat Naya waspada. Ia bersyukur ada Rama yang selalu menolongnya. Naya hanya harus mengambil langkah agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi.


"Kamu yakin, mereka punya hubungan lain?" tanya Naya.


"Gak, juga. Hanya yang aku lihat dari sikap pak Rama ini, ada yang aneh. Apalagi dia sudah punya istri."


"Iya. Kamu benar juga. Nanti deh aku pikirin lagi. Makasih banget kamu kasih tahu soal ini."


Rama hanya tersenyum menanggapi ucapan Naya, ia mengangguk dan mengucapkan salam, sebelum ia beranjak meninggalkan kantin berjalan menuju ruangannya sambil melihat ponselnya. Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang sengaja berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu akrab sama Naya?!"


"......??"


__ADS_2