Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 84. Ini Akhir Pekan


__ADS_3

Naya menoleh pada Ares sejenak ia tersenyum tapi senyumnya ia tujukan pada Yoni yang duduk dengan memanjangkan kakinya.


"Di sini saya tinggal berdua, ada satu orang yang kos, jadi teman saya. Tapi sekarang sedang pulang kampung. Kalau tempat kos Rama, jaraknya kira-kira cuma lima rumah dari sini. Bapak mau ke sana?" Kata Naya bertanya sekaligus menjawab pertanyaan Ares.


Ditanya seperti itu Ares menggeleng. Sementara Naya menyelesaikan menata gelas teh di antara mereka di ataa karpet.


"Apa kalian sering berangkat bareng?"


Naya mengerutkan alis, mencerna kemana arah pertanyaan Ares tentang Rama. Ia wanita dewasa yang pernah berumah tangga, tentu saja ia tahu gelagat dari lawan bicaranya yang mengandung kecemburuan atau rasa penasaran.


Sambil menghela nafas ia menjawab,


"Ya, enggak lah, saya berangkat pagi, sebelum jam 6 saya sudah harus ada di kantin."


"Kenapa harus pagi sekali?" tanya Ares lagi.


"Saya kan harus bantu koki, menyiapkan sarapan, tapi saya pulang lebih cepat."


"Iya, waktu Raya di sini juga berangkkat sekolah bareng sama Uma, makanya Raya gak terlambat. Padahal kan jauh sekolah Raya." Kali ini Raya menyahut. Dan Naya menepuk kepalanya lembut.


"Jadi kalau kamu janjian sama Rama, kamu harus nunggu Ramanya lama dong?"


'Maasyaallah, ternyata membahas Rama belum selesai rupanya'


"Oh, kalau soal itu, memang cukup lama juga, memang saya bisa pulang setelah membereskan sisa makan siang jadi saya bisa mengerjakan hal lain sementara nunggu dia," jawab Naya tenang.


Untuk menghindari pertanyaan Ares selanjutnya tentang Rama, Naya bergegas mengambil alat lukisnya, dan juga beberapa benda gerabah miliknya seperti kendi, cobek dan wadah yang masih polos, ia membawa semua itu di hadapan Yoni dan Raya.


Naya meletakkan semua benda itu, sambil berkata, "Kalian mau membantu umma, bikin lukisan yang bagus di sini kan?"


Anak-anak itu mengangguk, Naya tersenyum sambil mengatur chat dan wadah serta kuasnya. Ia menuangkan beberapa warna dengan sedikit air hingga menjadi campuran warna yang pekat. Yoni terlihat kegirangan dan segera mengambil sebuah kuas, sebuah cobek yang cukup besar, dan mengambil wadah cat. Naya mengajarkan bagaimana caranya melukiskan beberapa gambar di sana, Raya mengikutinya sedangkan Yoni menaburkan warna sesuka hatinya sambil berceloteh.


"Eh, iya. Kalian sudah makan belum?" tanya Naya ketika mereka sedang asyik menggambar. Anak-anak itu serentak menjawab, "sudah!"


"Alhamdulillah. Tapi umma nggak punya makanan apa-apa nih. Sebentar ya aku mau ke warung dulu."


Naya bergegas keluar setelah mengambil dompetnya, ia berniat membeli beberapa cemilan untuk anak-anak.


Namun ketika sampai di pintu, Ares berkata, "tunggu!"


Naya menoleh menunggu apa yang akan dikatakan oleh laki-laki, yang sedang melangkah kearahnya. Kemudian Ares berkata,


"tidak usah ah repot-repot beli makanan buat anak-anak. Biar aku saja." karena malas berdebat akhirnya Naya mengurungkan niatnya, dan hanya mengangguk seraya mengangkat bahunya.


'Ya sudah terserah'


Namun belum sempat Naya melangkah kembali ke dalam, Ares bertanya, "di mana warungnya?"


Naya menjawab sambil memberi isyarat dengan tangannya, "di situ, jalan sebelah kanan, ada toko makanan, tinggal jalan kaki aja, dekat kok."


Ares terlihat enggan dan bingung, hingga Naya berjalan ke arahnya dan berniat menunjukkan jalannya. Ketika Naya berjalan, Ares mengikutinya.


Laki-laki itu bertanya, "kamu nggak repot kan, ada anak-anak di sini?"


"Oh enggak. Saya senang jadi ada temen, kebetukan saya tadi sendiri," jawab Naya datar.


"Kamu pernah kenal sama Nindi?" Tanya Ares tiba-tiba menanyakan topik yang aneh bagi Naya.


"Nindi siapa?"


"Dia mamanya anak-anak."


Deg! Jantung Naya berdegup lebih cepat.


Ia heran dengan pertanyaan Ares tentang istrinya.


Tentu saja Naya tidak mengenalnya. Ares menikah sebelum persahabatan antara Naya dan Dinda terjalin, ketika Dinda menjadi sahabat Naya waktu itu, Ares sudah sibuk dengan pekerjaannya yang berpindah-pindah tempat. Oleh karena itu mereka tidak pernah saling kenal sebelumnya, walau dulu Naya sering bertandang ke rumah Dinda, bahkan menginap di sana.


'Memangnya siapa dia?'

__ADS_1


"Kamu tahu, kamu punya kebiasaan yang sama sama Nindy." kata Ares sambil mengamati wajah Naya dari samping.


Ia tahu sekarang, bahwa keramahan dan senyuman Naya hanya muncul dihadapan anak-anaknya, tapi ketika mereka bersama seperti ini, maka Naya akan kembali berwajah dingin.


"Kebiasaan seperti apa maksudnya?" Naya bertanya heran.


"Kata Raya, kamu senang dengan wangi bunga kenanga, dan juga senang memelihara bunga sedap malam."


"Ah, Iya, memang saya suka, tapi apa hubungannya dengan Nindi, saya tidak kenal. Nindi siapa?" tanya Naya tanpa sedikitpun melihat Ares.


Sementara toko yang mereka tuju sudah dekat.


"Mungkin memang kalian tidak punya hubungan apa-apa, bahkan kamu gak kenal. Tapi menurut saya karena itulah Yoni bisa dekat begitu saja sama kamu."


Mendengar pernyataan dari Ares, Naya tertawa kecil, lalu menyahut, "itu belum tentu, mungkin hanya kebetulan saja."


Ketika sudah berada di depan toko, Naya membiarkan Ares untuk memilih sendiri makanan yang disukai anak-anaknya. Setelah Ares mengambil beberapa makanan dan merasa makanan itu sudah cukup, pria itu menoleh pada Naya dan berkata,


"Kamu mau beli makanan apa? Ambil sendiri kalau ada yang kamu suka. Sekalian bayarnya sama makanan anak-anak."


Naya melirik sejumlah makanan yang sudah menumpuk di meja pembayaran toko, lalu ia mengambil dua buah roti isi untuk dirinya sebagai bentuk penghargaan atas kebaikan Ares. Apalagi ada sebuah nasehat, agar sebaiknya tidak menolak pemberian dari orang yang berniat berbuat baik pada sesama. Bukan soal tidak baik bila menolak rezeki, tapi pada intinya adalah bahwa tidak seharusnya, seseorang menolak pemberian sesamanya, karena sama saja ia menghalangi orang lain mendapatkan pahala dari Allah melalui sesuatu yang akan diberikannya. Karena itulah Naya menerima kebaikan Ares itu kemudian mendo'akan kebaikan untuknya.


"Itu saja?" tanya Ares ketika melihat makanan yang Naya pilih untuk dirinya sendiri.


"Ini juga cukup, Alhamdulillah. Jazakallah, pak." kata Naya sambil berjalan terburu-buru mendahului Ares agar lebih dahulu sampai di rumah.


Betapa terkejutnya Naya ketika ia sampai di dalam rumahnya. Ia melihat keadaan rumah yang berantakan dan terlihat Yoni, yang wajah dan bajunya dipenuhi dengan cat warna membuat ia tertawa, karena lucu.


"Maasyaallaah...Yoni, kok bisa belepotan begini, si?" kata Naya sambil mengusap wajah anak kecil itu dengan tissu. Tapi hanya sesikit yang hilang, karena cat yang sudah kering jadi sulit dihapus.


"Iya, tuh. Dasar anak manja nggak bisa malah diberantakin semuanya." kata Raya sambil melanjutkan lukisannya.


"Kan kakak yang colet-colet pipi Yoyo. Kan kakak yang nakal!"


"Bohong, kamu. Awas kalo bilang kakak lagi yang nakal. Nanti kakak coret lagi mukanya!"


"Kakak mah nakal...! kakak colet gambal Yoyo, jadi delek tuh kan punya Yoyo delek!"


Naya merengkuh tubuh kecil itu dalam pangkuannya, lalu membimbingnya melukis, dengan memegang tangan kecilnya dan menggerakkan tangan itu, dengan tangannya sendiri. Ia membuat beberapa gambar pada sebuah Kendi wadah air, yang masih polos. Ia terus bercerita, tentang gambar yang sedang dibuatnya, bahwa digambar itu adalah bunga dan burung yang sedang berada di alam bebas yang indah dan dituangkan dalam lukisan batik.


Yoni mengikuti semua gerakan yang dilakukan oleh Naya, dengan tangannya dan mendengarkan semua yang dikatakan Naya, dengan seksama seolah ia tersihir olehnya. Semua itu di lihat oleh Ares yang sejak tadi, sudah duduk tak jauh dari mereka bertiga.


Laki-laki itu sesekali melihat layar ponselnya, ia terlihat menulis beberapa pesan, dan mengirimkannya kepada seseorang. Tak lama terdengar notifikasi tanda pesan masuk di ponsel Naya. Kemudian ia pun melihat isi ponselnya yang ternyata ada pesan dari Ares


Naya melihat pada laki-laki itu sambil mengerutkan keningnya.


'Mengapa harus kirim pesan. Kenapa gak bicara langsung saja?'


Naya membaca pesan Ares, yang isinya membuat Naya menghela nafas berat. Ia hampir menitikkan air mata.


Ares


"Kamu belum menjawab pertanyaanku waktu itu. Apa kamu masih ingat aku tanya apa sama kamu?"


Naya


"Maaf saya lupa" padahal ia hanya tak mau membahasnya saja.


Ares:


"Apa kamu masih belum bisa lupa sama suami kamu. Apa kamu benci sama aku? Kenapa kamu selalu menghindari kalau ketemu?"


Naya tidak lagi membalas pesan dari Ares. Ia memasukkan ponselnya ke saku bajunya kembali membuat Ares tersenyum kecut melihatnya, dan menghela nafas sambil membuka salah satu snack yang ia beli, dan memakannya sendiri. Ia menikmati secangkir teh yang dibuatkan oleh Naya tanpa berkomentar apa-apa.


"Eh, kalian ke sini sengaja kan, apa kalian nggak ada acara pergi jalan-jalan ke tempat lain, di akhir pekan ini?" tanya Naya mencoba mengalihkan perhatian Ares dari ponselnya.


"Yaa ini rencana kami, ketemu sama uma, pergi ke rumah uma. Papa sudah janji mau ke sini lagi pekan depan. Iya kan, Pah?" jawab Raya masih asik melukis.


"Hmm..." jawab Ares dengan bergumam.

__ADS_1


" Oh gitu, jadi ayo nikmati waktu kalian. Jangan dihabiskan untuk chatting di HP ya?"


"Siapa yang pegang ponsel? Papa tuh! Papa nggak suka melukis? Padahal papa suka gambar, merancang bangunan punya orang. Masa papa gak bisa?" kata Raya. "Ayo umma, ajari papa juga!"


Gleg. Naya menelan salivanya kasar. Sebenarnya Naya enggan menuruti keinginan Raya, tapi karena ingin menghargai anak itu, Naya pun membawa beberapa peralatan lukisnya dihadapan Ares dan menyerahkannya agar ia melukis sesuka hatinya. Melihat hal itu, Raya tersenyum, anak itu berpikir berbeda, ada harapan lain yang berpendar di hatinya. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang sedang melakukan aktivitas bersama.


"Yoyo, Kamu tahu enggak kalau mama kita dulu, suka sama bunga ini, nih!" kata Raya sambil menunjukkan sebuah wadah kecil yang berisi irisan bunga kenanga di tengah-tengah karpet.


Yoni melihat apa yang ditunjukkan Raya sekilas, lalu ia mengeluarkan sebuah kalung yang tergantung di lehernya dan terlihatlah sebuah liontin yang terselip di balik pakaiannya.


Anak itu itu membuka liontin yang ada di tangannya sambil berkata, "Ini mama." Lalu menutup liontin itu kembali sebelum Naya sempat melihat foto yang ada di dalamnya.


"Iya. Uma juga sama suka sama bunga ini." kata Raya lagi.


Yoni menatap Naya, lalu menghampirinya sambil melingkarkan kedua tangannya dileher Naya, dan berkata, "Yoyo juga suka, Yoyo juga suka."


"Iya, jadi kita semua suka ya? Tapi tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan mama kalian sampai kapanpun. Mama kalian adalah orang yang sudah melahirkan kalian, tidak ada orang yang akan sama seperti mama kalian."


Naya berkata sesuai dengan prinsip dirinya sendiri, yang mengakui bahwa sampai kapanpun posisi seorang ibu tidak akan pernah, tergantikan di hati anaknya. Walaupun Ibunya sudah meninggal dan digantikan orang lain yang lebih baik darinya. Seorang ibu adalah seorang yang melahirkan anaknya, yang tidak akan bisa digantikan oleh orang lain yang tidak melahirkannya.


Kalau pun ajaran agama mengajarkan untuk berbakti kepada orang tua, siapapun orang tua yang telah membesarkannya, maka kebaikan yang dilakukan orang tua itu adalah untuk orang tua itu sendiri. Demikian bagi anak yang sudah berbakti pada orang tuanya walau bukan orang tua kandungnya. Kebaikan dan pahalanya akan berada pada masing-masing orang. Tapi tetap saja hubungan darah antara ibu dan anak tidak akan pernah terputus itulah yang membedakannya.


Mendengar ucapan Naya, Raya mengangguk sedangkan Ares hanya mengusap wajah dengan telapak tangannya. Ia tampak kembali mengetik sebuah pesan, yang ia kirimkan kan kembali kepada Naya.


Ares


"Apa maksud ucapanmu?"


Naya


"tidak ada maksud apa-apa"


Ares


"Kapan kita bisa bicara?"


Naya


"Saya akan mengabari bapak kapan-kapan"


Naya menutup ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku bajunya. Menunjukkan bahwa, ia enggan kembali berbalas pesan dengannya.


Ketika sudah mendekati waktu makan siang, Ares mengajak semua anak-anaknya untuk pulang, karena tidak ingin merepotkan Naya yang tidak menyiapkan makan siang untuk mereka. Walaupun Naya tidak keberatan untuk memasak, tetapi Ares tetap bersikukuh untuk pulang.


" Jaga dirimu baik-baik." pesan Ares ketika ia sudah menutup pintu mobil untuk anak-anaknya.


Naya hanya mengangguk menanggapi ucapannya, dari dalam mobil anak-anak melambai padanya sambil mengucapkan salam.


-


Beberapa hari kemudian.


Naya terlihat begitu gundah, karena ia merasa tidak enak dengan Ares yang selalu menunjukkan perhatian padanya melalui beberapa pesan singkat, yang ia kirimkan hampir setiap pagi atau malam kepadanya. Walaupun Naya sering tidak menanggapinya, tapi laki-laki itu tidak bosan melakukannya, hingga hari itu Naya berniat menghubungi Ares melalui ponselnya.


Begitu ponsel tersambung, panggilan Naya langsung mendapatkan kan sambutan.Terdengar suara Ares menjawab salam Naya dari balik telepon.


Setelah itu Naya berkata, "Pak, kita bisa bicara hari ini sekarang juga. Sebelum saya berubah pikiran, saya akan tunggu Bapak di cafe."


"Apa kamu sudah selesai bekerja?" kata suara Ares diseberang telepon.


"Iya, sudah. Terima kasih sebelumnya." kata Naya singkat. Dan sambungan telepon pun ditutup membuat Ares yang berada di tempat lain, memundurkan lehernya dengan kening berkerut.


'Apa ia menguji kesungguhaamku?' Ares.


'Ayo lihat, seberapa besar rasa penasaranmu, pak. Apa bapak sungguh-sungguh. Aku tidak mengambil kesimpulan begitu saja, atau perempuan yang mudah terbawa hanyut oleh sikap orang lain, hanya saja sikapnya menunjukkan seperti orang yang menyukaiku. Apakah benar begitu? Aku tidak berharap padamu, pak'


Harapan yang terlalu besar dan tidak pada tempatnya seringkali menyesatkan. Kalau Ares memang datang hari ini, padahal Naya memberitahukannya secara mendadak, maka ia bisa memastikan memang Ares benar-benar menyukainya atau mengharapkannya menjadi Ibu pengganti bagi anak-anaknya, tapi perasaannya sendiri masih gamang apakah ia akan memberi harapan pada Ares atau memutuskan saat ini juga agar laki-laki itu tidak terus berharap padanya.


Naya sudah duduk di salah satu kursi menunggu Ares di cafe yang mereka janjikan. Letaknya tidak jauh dari tempat Naya bekerja, tapi Cafe itu cukup jauh dari kantor Ares berada.

__ADS_1


"Kamu sudah lama di sini?" kata sebuah suara dari belakang Naya, mengejutkannya.


__ADS_2