Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 94. Kenapa Kau Pergi


__ADS_3

Ares melihat layar ponselnya, dan mencoba menghubungi Naya. Panggilan terhubung, tetapi panggilan telah diabaikan. Laki-laki itu menyimpan kembali ponselnya di saku kemejanya, lalu menoleh pada Dinda yang duduk tenang sambil memakan cemilan yang dibawanya.


Ia bertanya, "Din. Apa maksudmu tadi bilang aku bikin gara-gara. Apa ada masalah sama Naya?"


Dinda tidak menjawab pertanyaan kakaknya, Ia hanya mengedikkan bahu, dengan pandangan matanya terus fokus pada ponselnya, dan mulutnya mengunyah makanan, cuek.


"Apa kamu ketemu Naya?"


Mendengar pertanyaan kakaknya Dinda mengangguk pelan.


"Ya, ketemu, aku datang baru dia pergi," jawab Dinda tanpa ekspresi.


"Dia bilang apa sama kamu?"


"Nggak bilang apa-apa, cuma ngobrol biasa."


"ngobrolin apa?"


"Ngobrol biasa, tapi Naya banyak soal Caca."


"Dia tanya apa soal Caca?"


"Gak inget dia tanya apa saja. Tapi Kakak tenang aja aku udah jawab semuanya, dengan baik ... Tapi, kakak nggak suka sama Caca kan?"


"Ya kamu kan tahu sendiri gimana Kakak sama Caca."


"Kakak tanya sendiri deh, sama Naya. Aku cuma nebak saja kak, ada sesuatu yang diomongin Caca. Soalnya aku lihat, Naya jadi sedih."


"Ini juga mau ditanyakan, tapi teleponnya nggak diangkat."


Ares pun kembali menghubungi Naya sampai berapa kali panggilan, tapi kemudian ia hentikan, karena Yoni terbangun dan menangis. Sudah waktunya ia makan malam, dan minum obat.


Di rumah.


Naya melihat ponselnya yang tiba-tiba berdering, tapi ia mengabaikannya. Naya terlihat malas untuk menjawab panggilan itu, ketika ia melihat ID dalam layar ponselnya. Pak Ares.


Sepulang dari rumah sakit ia tidak melakukan aktivitas apapun, kecuali yang sekadar kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia hanya merebahkan diri di tempat tidur dan membiarkan lamunannya melayang menembus langit, memikirkan segala kemungkinan bila dirinya menikah dengan Ares. Ada wanita lain yang menyukainya, apakah ini akan menjadi sebuah dilema?


Seandainya, ia tidak menikah, dia akan tetap menjalani kehidupannya seperti ini, tidak akan ada masalah berarti yang harus ia hadapi. Tidak akan ada gelombang besar ujian, tidak akan ada badai kehidupan, yang harus ia terima sebagai seorang istri, sekaligus seorang ibu secara bersamaan.


Akan tetapi, ketika ia memilih untuk memasuki gerbang pernikahan, dengan membawa status mereka sebelumnya, maka ia seolah-olah membuka sebuah gerbang menuju samudra luas yang sedang di dilanda badai dan topan!


Naya tidak harus terlibat dengan keluarga Ares, tidak harus repot-repot menjaga anaknya, yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit, tidak ada yang memaksanya.


Tapi, Naya sendiri tidak mengerti, mengapa anak kecil itu seperti magnet yang menyedot dirinya untuk terus menempel padanya. Lagipula, setelah ia mengetahui bahwa Raya dan Yoni adalah anak dari Nindy, keponakan dari sahabatnya, cucu dari Rasti, wanita yang sudah sangat baik padanya. Membuatnya merasa tidak rela kalau ada orang lain yang akan menjadi ibunya.


Ia merasa terpanggil seolah-olah dialah yang harus merawat mereka berdua, mengantarkan kedua gadis itu hingga menjadi dewasa, dan memasuki gerbang rumah tangganya masing-masing. Terselip rasa bahagia, ketika ia berprasangka baik bahwa mungkin Allah, yang telah memilihnya untuk menggantikan ibu mereka, dan bisa menyayangi mereka seperti menyayangi anaknya sendiri.


Tidak terasa air mata mengalir di pipinya, keluar begitu saja, saat ia menunduk dan melihat perutnya yang rata. Kalau memang dirinya ditakdirkan tidak memiliki anak, mungkin maksud Allah adalah, memberikan kedua anak itu menjadi anaknya juga.


Masalahnya, saat ini ia tahu, bahwa ada wanita lain yang menyukai papa mereka.


'Haruskah aku kembali mengalah atau aku harus berjuang mempertahankan anak-anak?'


'Kalau memang anak-anak itu adalah anak yang dititipkan oleh Allah kepadaku, apakah aku harus mengalah hanya demi wanita yang aku tidak tega untuk menyakiti hatinya? Harus kah aku meminta maaf pada Caca, bila kelak aku menikahi laki-laki yang disukainya?'


Akhirnya Naya meraih ponsel yang terus-menerus berdering, ia sudah berpikir bahwa Ares akan mempertanyakan, mengapa ia meninggalkan rumah sakit tanpa memberitahunya, padahal Ia sudah berjanji akan mengantarkannya pulang.


Namun ketikan Naya baru saja menggeser layar ponselnya, panggilan itu sudah berhenti.


Ia berpikir mungkin saja Ares tengah mengurus Yoni, hingga Ia memutuskan panggilannya. Ia harus berhati-hati dalam bersikap, tidak boleh menunjukkan dengan jelas bahwa ia ingin menjadi istrinya.


Naya menghubungi ayahnya, setelah menunggu beberapa saat lamanya Arez tidak menghubunginya kembali.


"Halo, ayah. Assalamualaikum." kata Naya begitu telepon tersambung.


Naya menanyakan kabar, dan keadaan kedua orang tuanya dan juga menanyakan tentang Nuriya. Tidak biasanya Naya menelepon di waktu malam seperti ini, karena ia biasanya menelpon ayahnya saat pulang dari bekerja di antara waktu siang dan sore hari.


Budiman kemudian menanyakan hal yang tidak biasa ini kepada ada Naya.


"Ada apa kamu menelepon malam-malam begini, apa ada masalah, kamu baik-baik saja kan?" tanya Budiman dari balik ponsel, terdengar suaranya nya lembut dan penuh perhatian pada anaknya.

__ADS_1


"Aku baik, ayah ..., gimana kalau aku aku nikah. Apa ayah mengizinka?"


"Tergantung, siapa laki-laki yang akan menjadi suamimu? Aku tidak akan mengijinkan, kalau laki-laki itu seperti suamimu yang dulu. Atau ada wanita lain yang menyukainya juga, soalnya nanti akan menjadi masalah bagimu Naya."


'Aah, ayah, ada wanita lain yang menyukainya juga, tapi aku merasa harus memperjuangkannya. Ya Allah, tolong aku'


"Ayah, sebenarnya ... "


Naya menceritakan semua kepada ayahnya, tentang dirinya dan Ares, dari awal pertemuannya, bagaimana takdir yang seolah-olah terus menyeretnya, dalam untaian bait demi bait seperti syair dalam sebuah lagu. Hingg akhirnya ia memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman, lebih dari sekedar menamai pertemuannya dengan istilah kebetulan.


Ares dan dirinya sudah menyepakati akan memberitahukan pada Budiman setelah obrolan mereka tadi pagi.


"Ayah, apa aku terlalu terburu-buru atau aku harus mengenalnya lebih dalam lagi? Ayah, kadang aku masih sedih kalau ketemu sama dia, tapi kalau aku aku pisah sama dia juga aku lebih sedih lagi."


'Apa aku terlalu naif kalau berpikir bahwa, aku memang orang yang sengaja dipercaya oleh Allah, untuk menjaga anak itu sebagai anak-anakku juga, karena aku tidak akan mempunyai anak dari rahim ku sendiri?'


"Tidak," jawab Budiman dengan tenang dari balik telepon. "Kamu sudah cukup mengenalnya. Kamu hanya perlu meyakinkan dirimu sendiri apa kamu benar-benar sanggup untuk memasuki babak baru kehidupan mu bersama laki-laki yang sudah memiliki anak sebesar itu. Mungkin masalah yang kau hadapi tidak akan mudah kali ini."


Mendengar nasehat dari ayahnya, Naya kembali mengatakan maksud dari Ares yang ingin segera melakukan pernikahan dengannya secepatnya. Semua demi anaknya. Tapi bagaimana dengan Caca yang secara terbuka seolah memperingatkan Naya agar tidak mendekati Ares apalagi berharap untuk menjadi suaminya.


Budiman berpikir kalau anaknya memiliki trauma tentang hal seperti itu hingga kemudian ia tertawa kecil dan mengatakan bahwa Naya harus percaya dan menyerahkan semuanya pada Ares.


"Bilang dengan jujur apa yang kamu bicarakan dengan perempuan itu, dan biarkan calon suamimu yang memutuskannya, biarkan dia yang menghadapi perempuan itu. Naya, kamu hanya cukup percaya padanya." Suara diseberang telepon berhenti sejenak karena batuk.


"Sebab kalau ayah pikir dari ceritamu itu, ayah tahu kalau laki-laki itu tidak akan sembarangan, memberikan anaknya pada wanita yang tidak bisa beradaptasi dengan anaknyya. Percuma kalau hanya menikah untuk dirinya sendiri. Siapa namanya? E..." Kata Budiman terputus lagi.


"Ares, ayah." sahut Naya sambil tersenyum.


"Nah, iya. Ares, laki-laki itu memikirkan anaknya. Kalau dia memikirkan dirinya sendiri kemungkinan dia sudah nikah dari dulu juga coba kamu pikir lagi." Kembali terbatuk-batuk.


"Kenapa ayah batuk terus?" tanya Naya.


"Ayahmu habis minum kopi di tetangga tadi, jadi pulang-pulang begitu." sahut sebuah suara yang juga terdengar dari balik telepon.


"Hati-hati dong, ayah."


"Oh iya kamu harus banyak doa untuk adikmu, dia mau masuk universitas tahun ini, dia masih ikut ujian biar dapat beasiswa, bantu doa adikmu itu, biar ayah sama pamanmu, ringan membiayai kuliahnya."


"Kapan si Ares mau ke sini? Ayah tunggu. tapi kamu tahu kenapa namanya seperti itu, seperti nama orang bule, orang luar negri, gitu?"


Naya tertawa mendengar kata-kata ayahnya. Memang keluarga Ares, atau salah satu eyangnya memang keturunan sebuah negeri dari benua lain.


"Hehe, memang ayah, dia baru menjadi keluarga muslim setelah dia umur sepuluh tahun."


"Oh, jadi dia mualaf. Ya kalau gitu kamu harus baik-baik jaga dia, karena amanah Allah itu bukan cuman anaknya, tapi bapaknya juga." Budiman kembali tertawa kecil di akhir kalimat nya. Dan kembali melanjutkan setelah tawanya berhenti.


"Naya. Kalau kamu memang berpikir bahwa itu amanah dari Allah, orang seperti mereka itu, butuh bimbingan dari orang seperti kita."


"Tapi ayah, kadang-kadang mereka jauh lebih baik dari orang yang sudah memeluk agama Islam sejak lahir."


"Karena mereka mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh, tidak seperti orang yang mengenal Islam sejak lahir, yang cenderung menyepelekan ajaran agamanya sendiri."


Akhirnya obrolan antara ayah dan anak itu pun berakhir, setelah menyepakati bahwa ayahnya akan segera melakukan akad nikah, begitu Ares menyatakan kesediaannya untuk menjadi suami Naya.


Proses pernikahan mereka mungkin membutuhkan kesiapan dan waktu yang lebih banyak, mengingat jarak yang cukup jauh bagi mereka untuk mengadakan perjalanan bolak-balik secara berulang-ulang, untuk melakukan ta'aruf, lamaran, ataupun akad nikah.


-


Budiman saat itu berpikir bahwa akan lebih baik kalau dirinya saja yang pergi ke tempat Naya berada karena orang seperti Ares akan sibuk bekerja dan ia juga ingin lebih mengenal kehidupan keluarganya.


"Kenapa kok mendadak begini, Pak?" tanya Nuriya.


Budiman mengajak istrinya bersiap-siap, dan mereka akan berangkat keesokan harinya, menuju kota Batu di mana anaknya berada.


"Jadi bapak besok mau cuti berapa hari?"


"Cuti seminggu mungkin cukup bu."


"Bapak sudah ngomong sama Naya?"


"Ya, belum, biar jadi kejutan buat dia, kalau mau nunggu sampai anaknya sembuh, ya, lama. Kalau misalnya nanti sudah sembuh, gak mungkin dibawa ke sini, apa Nanya mau bolak-balik ke sini mending kita yang ke sana sekalian jalan-jalan Bu."

__ADS_1


"Ya sudah kalau maunya bapak seperti itu," sahut Nuriya menyadari pemikiran suaminya yang sedikit aneh tapi ada benarnya juga.


-


Naya hampir tertidur saat ponselnya kembali berdering. Kali ini ia menerima panggilannya. Terdengar suara yang mengucapkan salam, dengan sangat bersemangat dari balik ponsel, menandakan orang yang memiliki suara belum mengantuk.


"Naya, kamu sudah ngantuk sudah tidur? Maaf mengganggu," tanya Ares ketika ia mendengar suara Naya, yang sudah lemah karena mengantuk.


"Iya, jadi besok saja ngomongnya."


"Kamu besok ke sini kan?"


"Kalau saya masih dibutuhkan, saya ke sana. Tapi kalau Yoni ada yang jaga, ada Caca misalnya, ya saya akan kerja lagi, seperti biasanya."


Mendengar ucapan Naya Ares menjadi tidak enak, seandainya ia mengatakan membutuhkan Naya, maka Ia tidak memberikan apapun padanya, tapi kalau ia mengatakan tidak membutuhkan Naya, sebenarnya ia butuh untuk bicara. Atau mungkin ini lebih dari sekedar ingin bicara, melainkan rindu. Ares merindukan Naya. Bahkan ia ingin menemuinya saat ini juga. Hilangkan rasa lelah dan letih hanya untuk bertemu dengannya.


Bolehkah, lalu bagaimana dengan anaknya?


"Naya, terimakasih iya kemarin kamu sudah mau menjaga Yoni, sampai sore pasti kamu capek. Maaf sudah ganggu istirahat kamu." Ares berkata penuh dengan rasa bersalah.


"Gak apa, Pak, soalnya tidak ada yang memaksa saya, jadi tidak usah berterima kasih," jawab Naya datar.


"Saya juga minta maaf atas nama Caca kalau ada omkngan atau sikap Caca yang bikin kamu tersinggung, soalnya Caca orang yang manja."


Mendengar ungkapan Ares itu, Naya tersenyum simpul. Tapi tentu saja senyumnya itu tidak dapat dilihat oleh Ares.


"Wah, bapak pengertian sekali ya sama Caca. Gak masalah Pak, saya bisa maklum kok. Menurut saya sikap Caca itu wajar, apalagi untuk orang yang saling mencintai."


Dalam nada bicaranya, Naya menunjukkan kecemburuan, dan tertangkap jelas oleh Ares, tapi ia tidak menyangka kalau Naya akan cukup berani mengatakannya. Ia tahu Caca akan bersikap yang tidak pantas, pada Naya. Kalau tidak, mana mungkin Naya akan kembali menghindarinya.


Selama ini Caca memang memperlihatkan usahanya untuk menarik perhatian Ares, bahkan terus terang mengatakan bahwa, ia mencintai Ares dan ingin menggantikan Nindi di sisinya. Berbeda dengan Naya yang pernah berkata bahwa seorang ibu tidak akan pernah tergantikan posisinya di hati anak-anaknya. Dari kata-kata Naya itu menunjukkan, bahwa dirinya tidak berniat untuk merebut posisi Nindy di hati anak-anaknya. Akan tetapi justru dengan kerendahan hatinya inilah, yang membuat Ares semakin menyukainya. Hanya saja waktu itu, bahkan sampai saat ini, ia belum mengatakan tentang perasaannya secara terbuka, karena melihat sikap Naya yang dingin bahkan terkesan menjauhinya.


"Apa maksudmu bilang saling mencintai?" Tanya Ares kemudian.


"Gak ada maksud apa-apa. Wajar, sebagai keluarga saling mencintai." Kata Naya ketus.


'Mungkin Caca sudah bilang sama Naya soal perasaanya, ck! Anak itu'


"Naya, Caca memang Tantenya anak-anak, tapi kalau yang kamu maksud, aku sama Caca itu, saling mencintai seperti perasaan cinta antara laki-laki sama perempuan, itu salah." Tandas Ares tegas.


Ares kembali melanjutak ucapannya, "aku menghargai dia sebagai keluarga, tapi aku nggak pernah menyukai Caca sebagai laki-laki. Jadi, jangan salah faham, Nay!"


'Benarkah?'


"Apa karena itu kamu pulang sebelum aku datang, kamu mau menghindari aku lagi? Dulu kamu menghindari karena sedih dan sekarang karena Caca?"


Deg. Tiba-tiba gugup. Padahal orang yang ia ajak bicara tidak ada di sana.


"Iya." Kata Naya mencoba jujur dengan segala perasaan yang tertahan dalam benaknya, sebenarnya ia sedikit malu mengakuinya. Hatinya mulai berdebar. Pengakuan itu keluar begitu saja dari bibirnya.


"Ayo kita ketemu sekarang, aku ke sana ya?!"


"Eh, nggak usah Pak. Masa Yoni mau ditinggal sendirian, di sana enggak ada siapa-siapa kan?"


'Iya. Gak ada siapapun yang jaga Yoni, ini demi kamu, Nay!'


"Biar, gak apa cuma sebentar, Yoni masih tidur, dia nggak mungkin bangun. Aku titipin aja sama suster saja di sini," kata Ares.


"Jangan, mau apa bapak kesini? Besok saja saya ke sana, kalau bapak mau kerja, kecuali ada Caca atau ada yang orang lain yang jaga."


"Kamu nggak suka sama Caca, atau kamu cemburu?"


"Gak. Kenapa mesti cemburu? kita ini gak punya hubungan apa-apa, jadi saya gak berhak cemburu padanya."


"Aku mau ke sana biar kamu nggak sedih lagi."


"Gak usah, kita ini nggak punya hubungan apa-apa, jadi bapak nggak perlu ke sini."


"Gimana kalau kita memulai sebuah hubungan baik ini sekarang. Aku sudah pernah ngomong kan sama kamu? Naya ... Aku suka sama kamu, dan aku mau kamu yang jadi ibu buat anak-anakku."


Bum! Suara dari seberang telepon itu seperti suara yang meledak dihati Naya. Kata-kata dari Ares itu seperti baru saja di dengar oleh Naya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2