
Naya terkejut melihat siapa yang ada di sampingnya. Ia sampai mundur dua langkah kebelakang untuk memastikan ia tidak salah lihat. Anak ini baru saja dibicarakan dan sekarang anak ini ada di hadapannya.
"Tante, Naya? Iya.tante Naya kan?!" kata anak remaja dengan jilbab putih polos yang tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Iya." Naya agak ragu, Raya terlihat sedikit berbeda, terlihat lebih anggun, "kamu Raya. Apa kabar?"
Raya menghamburka diri kepelukan Naya. Dan Naya membalasnya. Wanita yang ia inginkan ada di hadapannya. Ini pertemuan yang tidak terduga. Ia sangat bahagia. Dipertemukan oleh takdir menyenangkan seperti ini.
Berbeda dengan Naya, ia hanya cemas kalau ia akan bertemu lagi dengan Ares. Hal yang sangat memalukan baginya kalau akhirnya mereka dipertemukan dalam keadaannya yang sekarang ini. Terakhir mereka bertemu, Naya bersikap seolah akan bersama dengan suaminya sampai tua, ia bersikap acuh dan mengabaikan laki-laki itu. Kalau anaknya ada di sini, pasti papanya juga ada di sini, pikir Naya.
Raya jadi murid baru di Sekolah lanjutan atas, sekarang adalah semester pertamanya, umurnya sudah enam belas tahun. Ia membutuhkan teman dan juga seorang ibu yang sangat mengerti dirinya, pertemuannya dengan Naya sangat membekas dihatinya. Hingga membuatnya berharap mereka di satukan dalam sebuah ikatan keluarga.
Sangat jarang seorang anak remaja yang mengharapkan kehadiran seorang ibu tiri dalam hidupnya, tapi pengalaman yang tidak enak selama kematian mamanya, membuat Raya menginginkan wanita seperti Naya bisa menjadi ibu sambung bagi adiknya.
"Aku baik, tante..." Raya menjawab dengan senang. Tapi Naya sempat menitikkan air mata.
"Wah, kamu tambah cantik. Tante sampai pangling,"
"Ih, Raya kan ngikuti tante."
"Eh, jangan ikuti tante dong. Pakai jilbab kan memang kewajiban yang harus diikuti semua wanita muslim"
"Hehe. Iya."
"Oh iya. Kamu tadi mau yang ini? Ambil saja." kata Naya sambil mengasongkan satu set cat air dan kuasnya pada Raya.
Gadis remaja itu tidak bergeming, ia melirik barang yang diberikan padanya sekilas lalu kembali menatap Naya. Ada segunung peryanyaan yang ada di kepalanya dan ia butuh jawaban saat ini juga.
"Tante, Kenapa bisa ada di sini. Tante tinggal dimana, siapa orang yang buat video bareng tante, apa dia saudara tante? Tante masih ingat sama Yoni, kan?"
"Hei hei, tanya satu-satu dong. Tante bingung jawabnya." kata Naya sambil tertawa.
Disaat yang sama, ada yang memanggil Raya, dia seorang wanita.
"Raya, sudah? Kalo sudah, ayo pulang." kata wanita itu
Naya mengerutkan alisnya melihat wanita cantik yang berjalan dengan seorang lelaki di sampingnya. Dia Ares. Laki-laki itu menatap Naya lekat, bibirnya tersenyum simpul. Tapi kemana Yoni? anak kecil itu tidak bersama dengan mereka. Sedang Naya diam, ia seperti dipaku ditempatnya hingga tidak bergerak. Orang yang ia hindari ada di sana, ia seperti kelinci kecil yang tertangkap seekor harimau lapar. Tak berdaya, ingin lari tapi kaki tak kuat membawa tubuhnya pergi.
'Oh, Alhamdulillah pak Ares sudah menikah'
"Papa masih ingat tante Naya kan?" tanya Raya pada Ares. Dan pria berkemeja abu-abu itu mengangguk.
"Papa juga pernah lihat, gak nyangka ketemu di sini."
"Tante, ayo kita ke cafe cari minuman biar bisa ngobrol. Tate belum menjawab pertanyaan Raya yang tadi,"
Tiba-tiba Ida datang dengan kantong belanjaan yang cukup banyak. Ia menggamit tangan Naya begitu saja, tanpa melihat sekeliling Naya yang dipenuhi dengan suasana tegang. Ida menganggap orang-orang yang tadi disekitar Naya hanyalah orang yang hanya sekedar bertemu karena sama-sama berbelanja.
"Nay! Udah belum? Ayo pulang," kata Ida. Mereka berdua beranjak meninggalkan Ares dan keluarganya.
'Syukurlah, Ida menyelamatkanku'
Raya mengikutinya dari belakang. Naya dan Ida menemui Rama yang juga sudah selesai. Mereka hendak mencari angkutan umum. Ketika Raya berteriak,
"Tunggu!"
Serentak ketiga orang itu menoleh kebelakang. Rama dan Ida melihat Raya.
"Eh. Gak usah gitu lihatnya, biasa saja. Dia Raya, temanku dulu waktu di Kota Hujan," Naya menjelaskan. Terasa aneh kalau Naya punya teman anak sekolahan.
"Ooh.." jawah Ida dan Rama bersamaan.
Belum sempat mereka berbincang lebih jauh, Naya sudah melihat Ares dan wanita itu berjalan mendekati mereka. Naya gelisah, ia dengan cepat berkata pada Raya sambil mengeluarkan sebuah kartu nama buatannya sendiri dengan lukisan batik disebelahnya.
"Raya, ini nomor tante. Kita ngobrol lain waktu, oke?" kata Naya sambil menyerahkan kartu nama itu ketangan Raya.
"Ayo, kita pulang!" kata Naya sambil melangkah menuju angkot yang sudah berhenti di depan mereka, sebelum Ares berhasil menemuinya. Setelah mereka berada di angkot, Naya pun meneritakan siapa Raya, kepada Ida dan Rama seperlunya saja, bagaimana pertemuan dan keakraban mereka dulu.
Rama sedikit kecewa karena ia tidak banyak menghabiskan waktu bersama Naya. Ida selalu menempel padanya dan tidak memberi kesempatan mendekati Naya. Tapi ia cukup senang bisa mendapatkan barang kebutuhannya secara gratis.
Sampai di rumah, Ida membongkar barang belanjaannya sambil berkata, "Mbak Naya gak jadi beli dua set cat dan kuasnya? Perasaan tadi mau ngambil satu lagi, mumpung aku bayarin."
"Gak jadi, itu juga cukup ko. Terimakasih yaa.."
Naya membatalkan mengambil barang yang diinginkan karena pertemuan dengan Raya membuat Naya lupa. Padahal mereka berdua mengimginkan barang yang sama.
"Sama-sama mbak. Kapan-kapan aku beliin lagi deh."
"Mudah-mudahan kita masih punya waktu dan rezeki yang banyak."
"Aamiin..." jawab Ida sambil masuk ke kamarnya dan membersihkan diri, lalu keluar dengan pakaian yang sudah rapi dan terkesan seksi.
"Mbak Ida mau ke cafe?"
"Iya, biasa kalai akhir pekan sering rame banyak bonus, jadi harus berangkat lebih sore."
"Jadi, nunggu jemputan dong?" tanya Naya, biasanya Ida akan dijemput oleh teman-temannya.
"Iya."
"Hati-hati mbak, jaga diri baik-baik. Jangan lupa sholat."
"Nah itu yang susahnya, sholat. Tapi kalau soal godaan, siapa saja bisa kena godaan walaupun ibu-ibu yang sehari-harinya hanya di rumah."
"Iya sih. Namanya setan gak pandang bulu. Apalagi kalau gak sholat." mendengar kata-kata Naya, Ida mengangguk.
"Bayangin saja deh mbak kalau kuas ini adalah islam. Lalu kelima jari kita adalah rukun islam yang membuat agama kita tegak." kata Naya.
"Maksudnya?"
Naya menggenggam sebuah kuas dengan kelima jari ditangannya. Naya mengibaratkan rukun Islam dengan lima jarinya. Ia memulai dari jari kelingking, diibaratakan ibadah haji, yang boleh ditinggalkan bila tidak mampu. Bila seorang muslim tidak mampu, maka lepaslah kewajibannya, sambil membuka jari kelingkingnya.
Lalu ia mengibaratkan jari manis sebagai zakat satu ibadah yang boleh ditinggalkan bila tidak mampu. Dan bila seorang muslim tidak mampu membayar zakat, maka lepaslah kewajibannya, sambil membuka jari manisnya.
Lalu ia mengibaratkan jari tengah sebagai puasa satu ibadah yang juga boleh diringgalkan bila tidak mampu. Apabila seorang muslim tidak mampu berpuasa, maka lepaslah satu kewajibannya, sambil membuka jari tengahnya.
Terakhir, Naya mengibaratkan jari telunjuk sebagai sholat dan jempol ssbagai sahadat. Dua ibadah yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak boleh ditinggalkan dalam kedaan apapun juga. Karena hanya dengan dua ibadah inilah islam bisa tetap tegak.
__ADS_1
"Sebab bila ibadah ini ditinggalkan, maka yang lepas bukan kewajiban kita sebagai muslim tapi yang lepas adalah Islamnya." kata Naya sambil membuka dua jari yang tersisa dan kuas yang ia jepit dengan dua jari tadi terlepas seketika dan jatuh.
Ida mendengar dan menyimak Naya dengan diam. Lalu tersenyum malu-malu. Seperti menyadari kesalahannya.
Di tempat lain.
Ada rasa kecewa di hati Raya, ia melirik kesal pada wanita yang duduk disebelah papanya di ruang tamu apartmen mereka. Dua manusia itu tengah menyelesaikan proyek mereka.
"Papa gak tahu rumah tante Naya di sini di mana?" tanya Raya mencoba mengalihkan perhatian Ares..
Ares hanya menggelengkan kepalanya, ia masih sibuk dengan urusan proyek, maka Ares mengabaikan Raya. Ia merasa harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan Caca. Bahkan karenanya Yoni sering ia titipkan pada neneknya. Akhir-akhir ini Yoni sering rewel, karena itu akan sangat mengganggu bila tetap di apartemen. Raya dan Ares sebenarnya kasihan dengan nenek tapi tidak ada jalan lainnya.
Raya meremas kertas yang diberikan Naya padanya, ia membuka ponsel, menyimpan nomor ponsel Naya dan mulai mengirim pesan padanya.
Raya
Tante lagi apa, masih sibuk gak?
Pesan terkirim. Saat itu Naya masih menyelesaikan satu lukiisan gerabahnya. Suasana sepi karena ia sendiri. Ia melihat nomor asing dan membaca isi pesannya, Naya tersenyum, sambil menyimpan kuas dan cat ditangannya. Lalu menarik nafas dalam lalu mulai membalas pesan Raya. Ia harus berlapang dada dengan segala pertanyaan.
Naya
Gak. Lagi sendirian saja.
Raya
Kasian sendirian, coba main ke sini, pasti gak kesepian lagi.
Naya
Gak bisa janji deh.
Raya
Tante tinggal sendiri, kenapa gak sama suami tante?
".........."
Naya
Suami tante sudah gak ada, sayang. Pergi dipanggil Allah.
Raya
Innalillaahii...kapan?
"........."
Naya
Sekitar lima bulan yang lalu.
Raya
Oh, sudah lama ya. Tante tinggal dirumah siapa? Terus siapa youtuber Ramadhan itu, pacaf tante?
Naya
Raya
Memangnya tante dibantu apa saja sama dia. Kalai ada Raya sama papa, pasti tante gak butuh orang itu kan?
Naya
Itu juga gak disengaja. Bersyukur kita sekarang sudah ketemu.
Raya
Dimana rumah tante, Raya mau ke sana.
Naya
Boleh. Tapi kalo mau ke sini, jangan sama papa ya?
Raya
Kenapa? Raya pasti antar jemput terus sama papa. Papa norak orangnya, sok protektif banget.
Naya
Itu karena papa sayang sama Raya. Biar Raya baik-baik saja.
Raya
Tante sayang gak sama Raya?
".........'
Naya.
Sayanglah. Kita kan teman.
Raya
Tante, kalo jadi teman ketuaan. Kalo jadi mama kemudaan.
'Bukannya kamu sudah punya mama baru?'
Naya.
Makanya panggil tante saja.
Raya
Raya sama Yoni mau oanggil umma. Boleh? katanya tante gak suka di panggil ajumma, padahal itu keren loh.
Naya
__ADS_1
Boleh, panggil umma saja.
'Itukan sama saja sama ibu atau mama atau ummi'
Raya
Alamat rumah, tante..mana?
Naya
Kalau kamu followers-nya Ramadhanshow, pasti tau alamat tante. Soalnya dulu pernah juga bikin video soal kamar kos sama dia.
Raya
O...jadi itu tante.
Lama tak ada pesan baru lagi. Naya pun menyelesaikan melukisnya hingga beberapa waktu. Dan akhirnya ada pesan lagi. Saat itu Raya sedang mengecek isi beberapa video yang ada di akun Rama, ia memeriksa alamat rumah Naya.
Raya
Oke tante. Kapan-kapan aku mampir ke sana.
Naya
Baik, tante tunggu. Kamu harus hati-hati dan rajin belajar ya.
Raya
Siap, tante.
"Raya. Cepat tidur! Jangan main hape terus. Besok harus sekolah pagi-pagi!" teriak Ares dari ruang tamu.
"Iya, sebentar! Lagi chat sama tante Naya!" sahut Raya dari kamarnya. Tak lama Ares muncul di pintu. Mendekati Raya, lalu berkata,
"Cepat tidur! sudah malam. Jangan ganggu orang lain."
"Bukan orang lain. Ini tante Naya."
"Sama saja dia bukan keluarga kita. Dari mana kamu dapat nomor ponelnya?"
"Tante sendiri yang ngasih." menyodorkan kartu nama yang sudah kusut. Ares mengambilnya dan melihat nomor yang tertera di sana.
'Ini nomor yang sama? Jadi selama ini dia gak mengganti no ponselnya? Ahk..
Ares merasa sia-sia, dengan membiarkan nomor Naya yang tidak ia hapus, ia biarkan nomor itu sebagai kenangan, menganggap Naya sudah mengganti nomornya karena ia pernah mencoba menghubungi namun tidak aktif. Ares membuka ponselnya, bahkan isi pesan lamanyapun masih ada. Ternyata...
"Ya sudah, tidur sana." kata Ares sambil mengambil ponsel Raya, lalu pergi setelah memastikan Raya berada dikamarnya.
Ares membaca semua isi chat antara Raya dan Naya. Ia mencoba menulis sesuatu seolah -olah dirinya adalah Raya. Ares berfikir kalau ia yang mengirim pesan, maka Naya belum tentu mau membalasnya. Ia ingat dulu pernah merasakan hal seperti itu.
Ares
Tante sudah tidur?
Naya
Belum ngantuk
'Tadi bilangnya mau panggil umma'
Ares
Masih ngapain sudah malam begini?
Naya
Lagi chating sama kamu
'n_n'
Ares
Besok tante harus kerja kan, nanti tante cape, loh. Kalo tante cape, terus sakit, siapa yang ngurusin tante. Aku pasti sedih kalo tante sakit.
Naya
Ya sudah, kamu juga tidur sana. Besok kamu kan harus sekolah pagi. Biar gak ngantuk di sekolah. Kalo kamu juga sakit nanti bukan cuma papa yang sedih, kasian kan papamu, tante juga ikut sedih.
Ares
Tapi tante. Aku gak ngantuk. Gak bisa tidur. Aku masih kangen sama tante. Kapan ya kita bisa ketemu lagi?
Naya
Tante juga kangen. Nanti kalo tante ada waktu kita ketemuan lagi. Ingaat ya, jangan bilang sama papa kalau mau ketemu tante.
Ares
Memangnya kenapa tante gak mau ketemu sama papa? Papa jelek, galak, bau?
Naya
Papamu baik. Gak jelek lah, anaknya saja cantik seperti kamu, masa papa nya jelek.
Ares
Kalo gitu. Aku ajak papa saja.
Naya
Jangan, tante malu. Pokoknya tante gak mau ketemu papa dulu. Oke? Tidur ya, anak baik. Tante sayang sama Raya tapi sekarang tante sudah ngantuk.
Ares
Iya, tante.Tante sehat-sehat selalu ya. Mudah-mudahan semua urusan kita dimudahkan Allah.
Naya
__ADS_1
Aamiin.