
Setelah Dinda selesai makan siang, ia merasa hatinya begitu tergerak untuk menceritakan kisah kematian Nindy kepada Naya. Sahabatnya itu memang tidak pernah ingin tahu atau mengusik keadaan masa lalu keluarganya, kecuali yang ia tahu saja. Tapi, saat Naya kemarin secara terus terang mengakui, bahwa ia sanggup menjadi ibu dari dua keponakannya, membuat Dinda ingin sekali menceritakan kejadian itu, walaupun Naya tidak memintanya. Ia tertegun sejenak kemudian ia mengambil ponsel untuk menghubungi Naya.
Naya menerima panggilan dari Dinda, setelah pekerjaannya melayani antrian para pelanggan yang mengular, sudah selesai. Naya meminta izin pada bu Mimin untuk menerima panggilan pada ponselnya. Dan ia keluar dari kantin agar lebih leluasa bicara.
"Halo, Dinda. Apa ada yang penting Bukankah kemarin kita baru saja ketemu,?" tanya Naya setelah mengucapkan salam.
"Hai, Apa aku menelpon kalau hanya ada perlu?" balas suara Dinda di seberang telepon, Naya mendengar sambil tertawa kecil.
"Hehe, gak, ada apa?" tanya Naya kemudian.
"Aku cuma pengen kamu dengar cerita aku."
"Cerita apa?"
"Aku nggak tahu kenapa, tapi aku pengen kamu dengar cerita tentang kematian kakak iparku, Nindi. Aku pikir kamu perlu tahu."
Dinda merasa bahwa Naya harus tahu tentang hal ini, dan Naya mendengar cerita Dinda sampai selesai.
Setelah Dinda berhenti bercerita, Naya bertanya, "di mana makamnya jauh gak dari tempatku kerja?"
"Oh, kamu mau kesana? Tidak jauh, mungkin sekitar perjalanan tiga puluh menit dari sana. Tapi kamu harus pesan taksi biar lebih cepat, tidak ada kendaraan umum yang lewat di PBB sana."
"Baiklah, aku akan kesana."
"Naya, terima kasih ya, aku cuma ingin kamu tahu semua kejadiannya."
"Iya, aku tahu. Aku juga berterima kasih, sudah menceritakan semuanya." sahut Naya dengan perasaan yang tidak menentu.
Setidaknya ada hal yang sama antara dirinya juga Ares, mereka sama-sama menyimpan luka dan kesedihan pada masalalunya.
"Sama-sama, maaf, aku menceritakannya lewat telepon, seharusnya kita ketemu sambil makan malam."
"Tidak perlu ... membicarakan hal penting tidak harus selalu dengan cara seperti itu. Itulah gunanya telepon."
Percakapan mereka pun berakhir dan Naya kembali melakukan aktivitasnya.
-
Di rumah sakit.
Yang ada dalam ingatan Ares saat itu adalah tubuh Nindy, yang berlumuran darah, dan ia tergolek lemah tak berdaya di tempat tidur rumah sakit, seperti yang ia lihat pada Yoni hari ini. Ia memeluk tubuh Yoni, sambil berusaha mengenyahkan bayangan saat ia sedang memeluk tubuh Nindy yang sudah tidak bernyawa.
Saat itu sudah dilakukan operasi pada istrinya, dokter sudah berhasil mengeluarkan janin dalam perutnya, menyelamatkan satu-satunya nyawa yang bisa mereka pertahankan. Sungguh saat itu harta dan uang yang ia miliki benar-benar tidak berguna untuk mempertahankan, bahkan menahan sebuah nyawa. Rasa sesal yang ada di hatinya adalah mengapa ia tidak datang lebih cepat, atau mengirim seseorang untuk menjaga istrinya, padahal ia mengetahui keadaan preeklamsia yang diderita istrinya pada kehamilannya.
Terlepas dari rasa sesal dan rasa bersalah yang menggelayuti jiwanya, kecelakaan tragis itu yang harus ia terima sebagai takdir yang memisahkan hubungan antara dirinya disaat itu juga.
Ia memegang tangan Yoni yang kini masih tertidur dengan beberapa perban yang ada di bahu, kaki, tangan dan kepalanya, ia masih bersyukur karena anaknya sekarang masih bertahan.
"Bertahan sayang, papa bilang kau jangan pergi seperti mamamu, dalam keadaan seperti ini meninggalkanku, jangan hukum aku lagi karena kelalaianku menjaga kalian. Sudah cukup mamamu saja yang pergi dengan luka dan bersimbah darah seperti waktu itu'
__ADS_1
Dinda datang ke bangsal tempat Yoni dirawat. Ia segera pergi kesana setelah diberi kabar oleh Rasti tentang keadaan yang dialami kakaknya. Ia melihat kakaknya memakai kaos biasa dan keponakannya yang tertidur di tempat tidur dengan selang infus di tangannya.
Ares menyeka keringat di wajahnya, ia masih bersimpuh di lantai setelah selesai melaksanakan salat zuhur di samping tempat tidur Yoni. Di saat yang bersamaan anak itu terbangun dan merengek menangis merasakan sakit di sekujur tubuhnya, mungkin anastesi yang diberikan oleh dokter saat melakukan tindakan, berangsur-angsur mulai berkurang. Tapi suhu tubuh Yoni sangat tinggi.
Dinda mengompres kening Yoni, setelah itu, tidak ada yang bisa dilakukan mereka berdua selain menenangkan, menghiburnya dan menawarinya untuk makan, atau sesuatu yang menyenangkannya, tetapi karena sedang sakit tentu saja semua anak akan mengungkapkan rasa sakitnya dengan tangis dan rewel yang luar biasa. Seperti itulah menahan sakit, orang dewasa saja kadang mengeluh apalagi anak sekecil Yoni.
"Kakak besok akan cuti kerja untuk berapa hari?" tanya Dinda memecah kesunyian, setelah Yoni agak sedikit tenang.
"Aku belum mengajukan cuti."
"Kalau belum siapa yang akan menunggu Yoni besok?"
"Gimana kabar ibu hari ini apa ibu bisa menunggu Yoni untuk besok?"
"Ck! Kakak bercanda ya, memang Kakak tega maksa Mama jaga Yoni. Mama sakit Yoni juga sakit, masa orang sakit jagain orang sakit?"
Ares berdiri sambil menguar rambutnya berulang kali, ia berjalan mondar-mandir tampak berpikir untuk memecahkan masalahnya kali ini. Ia tidak bisa untuk libur kerja selama beberapa hari atau meminta Raya untuk menjaga Yoni juga tidak mungkin, bisa bergantian dengan Dinda untuk sementara tapi tidak tahu sampai kapan Yoni membutuhkan perawatan.
"Kau jaga Yoni untuk hari ini, sampai nanti malam. Aku pulang yang dulu sebentar," kata Ares pada Dinda.
Ia ingin pergi ke suatu tempat, ia merasa perlu untuk menumpahkan isi hatinya. Setelah itu ia akan pulang mengambil beberapa keperluan, yang akan ia butuhkan ketika ia harus menunggu Yoni, selama berada di ruang perawatan. Soal masalah ia akan terkena sanksi atau tidak dari perusahaan, itu urusan belakangan ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, dengan mengabaikan anaknya hanya untuk pekerjaannya.
Ares berjalan keluar rumah sakit, dengan gontai menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan. Ia pergi menuju sebuah pemakaman yang ada di tengah kota, ia jarang pergi ke tempat itu, tempat dimana istrinya dikuburkan.
Karena perasaan yang ia rasa kali ini, dan masalah pelik yang harus ia hadapi, menarik langkahnya untuk pergi ke sana sekedar ingin mengatakan bahwa, "anak kita jatuh, Yoni sekarang sedang sakit ..."
Setelah menepikan mobilnya, Ares berjalan mendekati makam Nindy berada. Dari jauh ia melihat sesosok seorang wanita, sedang berdiri di sisi makam Nindy. Ia menatap sosok perempuan itu dengan mengerutkan keningnya.
'Naya, kenapa dia ada di sini apa dia kenal dengan Nindy? Tapi waktu itu dia bilang tidak kenal Nindy'
Ares mendekat dengan perlahan, seolah-olah, tidak ingin mengganggu apa yang dilakukan dan dikatakankan perempuan itu di samping makam isterinya. Tapi ia tidak mendengar apapun, dan hanya menangkap tetesan air mata, yang berlinang di pipi Naya dan bibirnya terlihat bergerak-gerak melantunkan doa.
Mmemang hanya seperti itu lah yang bisa dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang meninggal. Memohonkan ampun untuknya, dan mendoakan kebaikan bagi orang yang meninggal itu, di sisi Robbnya yang menguasai nyawa manusia dalam genggaman-Nya. Sebab ketika daun seseorang itu gugur, maka terputuslah semua yang berhubungan dengan dirinya, kecuali tiga perkara yaitu, amal kebajikannya ilmu, yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang selalu mendoakannya.
Setelah berdiri di belakang Naya beberapa saat lamanya, Arez melangkah perlahan ke hadapan Naya, di sisi makam Nindi yang lain. Ia menatap Naya sekilas lalu melihat pada nisan Nindi, dengan tetap berdiri sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya.
Ia tampak berkata-kata hanya dalam hatinya, tanpa Naya tahu apa yang dikatakan laki-laki itu pada makam istrinya.
"Assalamualaikum ya ahlil kubur. Nindy kamu kenal siapa dia? Wanita ini sudah membuat anak-anak kita jatuh cinta padanya. Tapi dia menahan diri dari menjadi ibu bagi anak-anak kita. Kamu tahu, susahnya Yoni seperti apa? Anak itu berhasil memaksaku untuk menahan diriku sepenuhnya dari segala godaan wanita dan berhasil membuatku menjadi laki-laki yang setia, setelah kamu tiada? Tapi wanita yang ada di hadapanku sekarang, sudah menghancurkannya, bahkan ketika aku mengharapkannya, dia seperti fatamorgana'
Fatamorgana, bisa dilihat tidak bisa disentuh, bisa dipandang tidak bisa dibawa, seperti ada padahal tiada.
Begitu Naya melihat Ares, yang berdiri di hadapannya, ia ingin sekali menanyakan tentang jawaban dari pesannya. Tapi demi melihat reaksi dan ekspresi wajah Ares, Naya menyimpulkan bahwa laki-laki ini belum membaca pesan darinya.
'Ya Allah, apa memangnya yang bisa aku harapkan selain dari kasih sayang-Mu. Sungguh engkau lebih menyayangiku dari siapapun di muka bumi ini, ya Rohman ya Rohim. Apa memang pesanku tidak terkirim atau memang dia sengaja tidak membacanya nya?'
Naya melihat pada makam Nindy sekilas, "Nindy, kamu tahu sepertinya suamimu ini tidak membaca sesuatu di hp-nya,"
Kemudian Naya pergi setelah mengatakan itu, tanpa melihat pada Ares sedikitpun, berjalan dengan cepat meninggalkan area makam. Lalu mendapatkan panggilan setelah sampai di sisi jalan.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Dinda ada apa menelponku lagi? Kamu cepat banget ya rindu?"
Mendengar kelakar Naya, Dinda tertawa di seberang telepon. Setelah menjawab salam, ia menceritakan keadaan Yoni saat ini dan juga mengatakan keadaan keluarganya yang tidak bisa terus-menerus menjaga Yoni hanya Ares sendiri. Secara terus terang Dinda meminta bantuan pada Naya, untuk bergantian menjaga Yoni selama berada di rumah sakit dengan Aries sementara ia pergi bekerja. Dinda merasa tidak ada yang bisa menolong mereka kecuali Naya, satu-satunya orang yang tidak menjadi kan phobia Yoni kambuh.
"Maasyaa Allah, kalau begitu aku ke sana sekarang." jawab Naya ketika sudah berada dalam taksi pesanannya.
Ia langsung pergi ke rumah sakit, tempat Yoni dirawat, tanpa berpikir panjang. Apalagi memikirkan pakaian gantinya, bila ia terpaksa harus menginap, karena seperti biasa ia sudah membawa pakaian ganti untuk dirinya.
Di tempat lain.
Laki-laki itu masih berdiri di sisi makam istrinya, ia sudah menyimpan, semua kenangan yang bisa mengingatkan dirinya pada istrinya. Karena semua kenangan di akhir hubungan mereka sangat menyakitkan untuk diingat. Seperti itulah kenangan, kadang terlalu indah untuk dilupakan tapi terlalu sakit bila untuk dikenang.
Itu juga sebaiknya yang dilakukan oleh orang masih hidup, ketika ada anggota keluarganya pergi meninggal dunia, yaitu dengan menyingkirkan atau menyimpan semua yang berhubungan dengannya, memberikan barang-barang miliknya untuk dihibahkan pada orang lain yang membutuhkan, atau mengubah letak tata ruang rumahnya, di mana biasanya orang yang meninggal itu sering berada. Semua itu berguna untuk mempercepat proses agar mereka bisa merelakan orang yang sudah tiada. Menyingkirkan, menyimpan, apa yang berhubungan dengan orang yang meninggal, bukan berarti tidak menyayangi dan melupakan mereka, tetapi setidak-tidaknya hal itu bisa menenangkan orang yang masih hidup setelah kepergian nya. Kalau memang menyayanginya, maka berdo'alah untuk mereka.
Ares mengerutkan alisnya mencoba mencerna kembali apa yang dikatakan Naya sebelum ia pergi tadi. Naya berkata tentang pesan di ponselnya, Ia baru tersadar kalau ia dari kemarin belum melihat dan memeriksa isi ponselnya.
Ia pun bergegas pergi meninggalkan makam setelah mendoakan arwah istrinya, berharap Naya masih ada di sana untuk mencari angkutan umum dan ia siap memberi tumpangan padanya. Namun ternyata nihil, gadis itu sudah pergi dari sana.
Ares memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah orang tuanya, yang cukup jauh dari sana. Setelah sampai di rumah, Ia pun mendapatkan teguran, dan omelan dari Rasti, yang kecewa dengan Ares, karena membuat cucunya jadi masuk rumah sakit. Segala pertanyaan ras diluncurkan pada ares seperti wartawan yang sedang mengorek berita pada sumbernya. Sedangkan Ares hanya menjawab seperlunya saja.
Laki-laki itu lelah mendengar ocehan mamanya, hingga Ia memutuskan untuk membersihkan diri, menyiapkan beberapa pakaian yang ada di rumahnya dan melakukan ibadah salat magrib, karena memang sudah waktunya tiba. Setelah itu ia makan malam sambil menyempatkan diri memeriksa ponselnya.
Banyak sekali pesan yang masuk ke dalamnya juga beberapa panggilan tak terjawab yang tercatat diponselnya, sehingga Ares pun mendahulukan dengan menjawab beberapa panggilan dan pesan chat yang sangat penting yang berhubungan dengan pekerjaannya, ia menyelesaikannya satu persatu.
Hingga tak terasa waktu berjalan tanpa menunggu dan ia beranjak memasuki malam dalam peraduan langit gelap dan bintang-bintang.
"Ares! Mau sampai kapan kamu bersantai di sini, belum tentu Dinda bisa makan malam, sana cepat pergi ke rumah sakit bawakan makan malam untuk adikmu!" kata Rasti dengan ketus. Ssbenarnya ia masih lemah, tapi karena melihat anaknya yang seperti ini, ia menguatkan tenaganya, hanya untuk sekedar berteriak.
Ares belum menyelesaikan semua isi chatting dalam ponselnya, ketika Rasti terus mengoceh. Ia pun segera mengambil bekal makanan untuk Dinda, dan pergi ke rumah sakit.
Sesampai di mobil, ia menyempatkan diri memeriksa semua pesan, dan saat semua pesan sudah dibuka masih ada sisa satu notifikasi pesan, yang belum terbuka, ketika ia membukanya ternyata itu adalah pesan dari Naya, dan matanya terbelalak sempurna begitu ia membacanya. Seketika ia terpikir untuk pergi menemui Naya saat itu juga.
'Aaakh... jadi ini maksudnya bicara dengan Nindi dimakan tadi. Jadi ini maksudnya?'
"Ya Allah, Naya! Kenapa kamu gak bilang terus terang, kenapa? kenapa Naya?! aahk...!"
Ares menginjak pedal gas mobilnya, bergegas menuju rumah Naya tapi sesampai disana, ia tidak menemuinya bahkan rumah itu kosong. ia ya menunggunya hingga beberapa lama, menelepon nya pun tidak juga diangkat, ia gelisah, hingga ke panggilan yang entah ke berapa kali, tetap tidak diangkat.
Selama di rumah sakit Naya membuat ponselnya dalam mode silent, sehingga ia tidak dapat mendengar panggilan Ares diponselnya.
"Kamu belum makan malam, Nay?" tanya Dinda.
"Kamu juga." sahut Naya.
"Aku telpon kakak dulu ya, biar kita bisa makan malam berdua dan dia yang jaga."
"Boleh. Aku sudah lapar."
Bersambung
__ADS_1