
Melihat keadaan rumah yang terlihat tidak sama seperti saat ditinggalkannya, membuat Naya curiga ada orang lain yang masuk ke dalam rumah selain suaminya.
Menyimpan gelas bekas minum seperti ini bukan kebiasaan Rudian. Laki-laki itu tidak mau minum dari gelas yang lain. Ada gelas khusus dirinya yang selalu ia gunakan, seandainya pecahpun ia akan membeli gelas keramik yang model dan bentuknya sama.
Naya tertegun sejenak dan mulai meraih ponselnya untuk menghubungi Rudian kembali. Setelah beberapa saat telepon menyambungkan panggilan, barulah telponnya dijawab,
"Iya, ada apa telepon?" Kata Rudian terdengar dari balik telepon.
"Assalamu'alaikum, kanda... Ih, salam dulu dong," kata Naya.
"Ya, wa'alaikumussalam. Ada apa?"
"Kanda, masih di pabrik atau sudah mau pulang?"
"Masih kerja. Masih di pabrik lah, kan sudah biasanya, begitu."
"Jam berapa kanda pulang. Aku Kangen. dari kemarin sore belum ketemu lagi, hehe" kata Naya seperti merengek, namun sebenarnya ia menahan gejolak dalam hati, karena rasa penasaran yang membuncah.
"Oh, memang kita masih pacaran, bilang kangen. Kita ini sudah lama jadi suami istri, jadi gak perlu berlebihan begitu. Manja amat" jawab Rudian masih dari balik telepon yang terdengar kesal. Mungkin Naya sudah mengusiknya.
"Ih, gak apalah. Anggap saja pengantin baru. Oh iya, tadi Kanda pulang kerumah dulu gak?"
Lama tak ada suara, lalu Rudian menjawab.
"Gak. Kan tadi aku sudah bilang kalau mau langsung kerja dari rumah ibu. Ada apa memangnya?"
"Gak ada apa-apa si. Cuma aneh saja, ada gelas bekas air teh diatas meja. Soalnya sebelum berangkat ke restoran tadi rumah sudah rapi dan bersih. Aku pikir kanda mungkin pulang"
"Oh, itu. Iya, aku lupa. Tadi ada Tio datang." jawab Rudian. Tio adalah teman dekatnya.
"Kanda ini akrab banget ya sama Tio. Malem udah ketemu sampai begadang. Eh, siangnya masih ketemu lagi, memangnya Kanda punya bisnis baru?"
"Ketemu sama teman sendiri, memangnya harus izin dulu sama kamu?"
__ADS_1
"Oh, gak. Gak apa. Ya sudah... Aku tunggu di rumah. Cepat pulang ya?"
Teleponpun ditutup. Tapi rasa penasaran masih menyelimuti hatinya. Salah ia kalau timbul berprasangka buruk, seandainya ia menduga kalau yang berkunjung kerumah bukanlah Tio, pasti orang lain. Tapi siapa? Seingat Naya, Tio suka minum kopi, bukannya teh.
'Ah, paatyi dia bukan siapa-siapa. Ya memang mungkin sekarang Tio sedah berubah seleranya' Naya.
Naya menjalani aktifitas seperti biasanya, membuat makan malam, membersihkan diri dan melakukan ibadah serta zdikir sore sambil menunggu suaminya pulang.
Tapi baru saja ia selesai membersihkan bekas masaknya di dapur, Rudian sudah pulang. Naya menyambutnya dengan senyum manis di bibir. Sikap yang selalu ia tunjukkan pada suami tercintanya.
Tentu saja Rudian adalah laki-laki yang ia cintai selama ini. Tak ada laki-laki lain sebagai kekasih dalam hatinya selain Rudian. Cinta inilah mungkin yang membuat Naya memutuskan untuk tetap bertahan, walau sudah berulang kali ia diminta untuk mengijinkannya menikah lagi.
Siapa wanita yang tahan hidup membagi cinta kecuali para wanita pilihan. Ia mengakui, ia tak sanggup, karena ia hanyalah wanita biasa yang hidup seadanya. Gelar wanita bidadari syurga memang sangat mulia, tapi hatinya belum mencapai titik dimana ia sanggup menjalani hal yang paling menyakiti hati ini.
"Kanda, sudah pulang" kata Naya mencium tangan suaminya.
Tanpa diduga, Rudian memeluknya, lalu mencium bibirnya cukup lama. Ciuman yang dalam dan menggairahkan. Entahlah, hal seperti ini sudah sangat jarang mereka lakukan, bermesraan sepulang kerja.
"Kamu masak apa?" tanya Rudian lembut. Apakah ia berusaha mengalihkan perhatian Naya? Bisa jadi kan?
"Masak ikan asam padeh," jawab Naya masih dengan senyum, sambil menyebutkan makanan ikan berbumbu khas daerah rumah Gadang.
"Oh, ayo makan. Aku sudah lapar, nih."
"Ayo. Tapi, kanda mau mandi dulu gak?"
"Nanti ajalah, makan dulu, lapar."
Mendengar jawaban suaminya, Naya menyiapkan makanan di meja dengan segera. Setelah Rudian duduk di sofa yang biasa mereka gunakan untuk makan dan menerima tamu, Naya mengambilkan beberapa makanan ke piringnya.
Merekapun makan bersama, tanpa ada suara selain suara dentingan sendok dan piring. Setelah hampir selesai, Naya mencoba membuka percakapan.
"Tadi, waktu aku pulang. Aku lihat orang yang mirip banget sama kanda di toserba Cahaya, aku hampir saja manggil, Kanda."
__ADS_1
Rudian menatap Naya lekat, menghentikan makanannya secara tiba-tiba. Sejenak kemudian ia menjawab santai.
"Ah, mungkin salah lihat. Jam berapa tadi pulang?"
"Hampir jam tiga. Aku naik ojek tadi, jadi jelas banget lihat orang yang mirip Kanda itu, terus aku suruh ojeknya berhenti, waktu aku mau manggil kanda, tapi kanda sudah pergi."
"Ta, tapi aku gak kesana. Buat apa? Lagipula aku masih kerja jam segitu," jawab Rudian gugup.
"Iya si. Tapi aneh aja. Apa kanda punya kembaran?"
"Mana mungkin," jawab Rudian.
Kedua manusia berbeda jenis itu saling pandang. Naya ingin mencari kejujuran lewat tatapan mata Rudian, sedang Rudian berusaha meyakinkan Naya, bahwa apa yang ia lihat itu bukanlah dirinya.
Tatapan mata ibarat sebuah jendela tempat segala rasa bermuara, dan disaat kita terperangkap di dalamnya, maka kita tak akan mampu menyelaminya.
"Apa kanda yakin hari ini tidak pulang, lalu kanda tidak ke toserba itu?" tanya Naya lagi. Mereka sama-sama sudah menyelesaikan makan malamnya.
"iya. Aku gak kesana, sudah ya. Tidak usah membahas yang gak jelas seperti ini pagi," kata Rudian sambil menggamit tangan Naya dan membawa istrinya itu ke kamar.
Sesampainya mereka di kamar, Rudian melancarkan serengan libidonya, ia seperti ingin melampiaskan sesuatu pada Naya. Beberapa hari ini Naya merasa diabaikan, tapi setelah melayani keinginan suaminya dan menyalurkan hasrat mereka, ia melepaskan semua prasangka buruk yang mengganggunya.
Malam itu ia dengan mudahnya memaafkan beberapa kesalahan Rudian yang ia anggap sudah menyakiti hatinya.
Begitu lah wanita, ia mudah sekali memaafkan kesalahan orang, yang dicintainya. Hati wanita memang diciptakan sedemikian rupa, penuh welas asih, dan mudah luluh oleh hal yang membuatnya bahagia.
Walau memaafkan bukan berarti melupakan. Wanita disebut sebagai mahkluk yang ahli sejarah. Ia mudah sekali mengingat hal-hal yang menyakiti hatinya, walau ia memaafkan tapi ia paling tau kapan waktu yang tepat untuk mengungkit semuanya kembali.
Mereka pun tertidur dengan membawa perasaan masing-masing kedalam peraduan malam. Dimana kegelapan menyembunyikan semuanya, menutupi hal yang tidak terlihat dan melenyapkan kelelahan manusia dengan istirahatnya. Setiap kegelapan malam selalu membawa kantuk pada manusia, hingga malam benar-benar beefungsi untuk menghilangkan segala lelah yang ada.
*terimakasih atas dukungannya, mohon like, vote dan komennya 'n_n'
Bersambung
__ADS_1