Diujung Harapan

Diujung Harapan
Eps 72. Modus


__ADS_3

Memiliki sebuah pekerjaan, adalah harapannya, hingga ia bisa mengurus dirinya sendiri tanpa harus merepotkan orang lain. Tapi diusianya yang sudah hampir tiga puluh tahun, perusahaan mana yang akan menerimanya? Naya juga hanya lulusan sekolah tingkat atas, tidak ada gelar strata pada namanya, lalu ia akan bekerja sebagai apa? Ahk...


"Apa mungkin aku masih bisa kerja? Aku kesini niatnya mau wirausaha saja. Tapi masih bingung juga mau usaha apa?" kata Naya.


"Usaha kan butuh modal. Kalau kamu siap ya silahkan. Tempat ini stratrgis. Bisa mulai jualan sesuatu." kata Rama.


"Hmm.." Naya mengangguk. Lalu ia bertanya, "kerja apa yang cocok buat aku kalau aku mau kerja?"


"Haha. Kerja apa ya..aku itu bukan bos yang punya perusahaan bisa ngasih kamu kerja kantoran."


"Ck! Siapa juga yang mau kerja kantoran? Dulu aku pernah jadi buruh pabrik biasa, pernah jadi pelayan restoran, pernah juga jadi petugas cleaning service. Ya, maklum aku cuma lulusan SLA"


"Serius?"


"iya.."


"Jadi, gini. Tadi itu ibu kantin di kantor gak ada yang bantu, terus aku bilang gimana kalau aku cari orang yang bisa bantuin dia. Eh, dia seneng banget. Maaf yaa, yang aku pikirkan itu kamu."


"Ahk, jadi seperti itu... kalau aku mau kerja disana aku gak harus buat cv kan?"


"Gak. Kasih aja foto kopi identitas kamu, itu aja cukup ko."


"Hmm.." Naya mengangguk, "jadi kapan aku bisa mulai kerja di sana?"


"Serius, kamu mau? Aku bakal makan terus di kantin, kalau ada pelayan yang secantik kamu."


Naya diam. untuk pujian seperti ini ia tidak perlu menanggapi. Selain karena menjaga hati dari riya dan ujub, pujian seperti ini bisa membuat manusia melupakan bahwa penyebab segala pujian yang ada pada manusia adalah karena Allah semata.


"Ya sudah, aku masuk dulu, terima kasih kamu sudah mau bantuin aku buat bikin iklan kamar kos aku. terimakasih sudah ngasih kerjaan aku." kata Naya sambil tersenyum ia berdiri dari duduknya.


"Ahh itu bukan apa-apa, kan cuman jadi pelayan," jawab Rama sambil mengendikkan bahunya.


"Itu juga udah bagus. Alhamdulillah, yang penting aku punya penghasilan, punya uang buat bertahan hidup itu aja cukup," kata Naya.


"Semua orang yang cari kerja juga untuk cari uang untuk bertahan hidup, kecuali orang yang sudah kaya enggak butuh uang, enggak mau cari kerja," kata Rama.


"Seandainya bisa kita bisa dapat uang tanpa harus kerja," jawab Naya berkelakar.


"Itu namanya orang males," tandas rama


"Tapi ada manusia yang nggak mau kaya dia justru inhin miskin," kata Naya


"Ah masa sih, Mana ada orang yang mau jadi miskin?" tanya Rama dengan nada penuh keheranan.


"Ada, kamu ingat gak cerita di zaman rasul tentang Abdurrahman bin Auf r.a satu-satunya manusia yang pengen miskin?"


Mendengar kata-kata Naya Rama, tertawa keras "Ah iya, ada orang yang seperti itu? Setahuku, sahabat rosul itu orang kaya deh."


Dalam satu riwayat yang mengisahkan tentang sahabat rasul yang bernama Abdurrahman bin Auf, beliau sangat ingin menjadi orang yang miskin karena mendengar Aisyah, salah satu istri Rasulullah mengatakan bahwa Abdurrahman bin Auf akan masuk surga secara perlahan-lahan disebabkan karena harta kekayaan dan perniagaannya yang melimpah ruah, yang dimilikinya. Kata yang terucap dari Aisyah r.a bukan karena penilaiannya sendiri melainkan berasal dari perkataan Rasulullah SAW. Karena mendengar ucapan dari Rasul melalui istrinya itu, Abdurrahman bin Auf membagikan semua hasil perniagaannya saat itu juga kepada seluruh kaum muslimin yang ada di Madinah.


Pada kisah lainnya, saat kaum muslimin yang yang baru saja pulang dari sebuah pertempuran di medan jihad, memanen buah kurma dari kebun mereka. Karena ditinggal berjihad dalam waktu yang lama, menyebabkan buah-buah kurma mereka membusuk. Para sahabat yang mengetahui bahwa kurma mereka semuanya membusuk, tetap memanen buah-buah kurma itu dengan sabar.


Melihat hal itu, Abdurrahman bin Auf yang berniat menjadi miskin, membeli semua kurma busuk dari para sahabat yang mengikuti perang, dan mengumpulkan kurma kurma busuk itu kemudian dikumpulkan nya menjadi satu. Para sahabat yang panen kurma busuk, sangat bersyukur karena kurma busuk mereka tetap terjual dengan harga semestinya.


Tak lama kemudian datanglah seorang utusan pemimpin dari Yaman yang mencari buah kurma busuk dari Madinah. Utusan ini mengatakan bahwa di Yaman sedang ditimpa wabah penyakit yang menimpa rakyat nya dan obat untuk menghilangkan penyakitp itu adalah dengan menggunakan kurma busuk. Utusan dari Yaman itu mendengar di Madinah banyak terdapat kurma busuk, tetapi semua kurma itu sudah diborong semua oleh sahabat Abdurrahman bin Auf, maka utusan pemimpin Yaman itu membeli semua kurma kurma busuk dari beliau, dengan harga yang sangat baik atau sama dengan harga kurma yang bagus.


Akhirnya maksud dari Abdurrahman bin Auf r.a ingin menjadi miskin dengan membeli kurma busuk tidak terjadi, beliau justru mendapatkan keuntungaan dari kurma-kurmanya. Pada saat itu, Abdurrahman mengatakan bahwa kurma ini tidak dijual, dan utusan itu boleh membawa nya begitu saja, tetapi utusan itu menolak karena tujuannya adalah membelinya dan bukan meminta bantuan darinya.


"Jadi jelas ya, bedanya sahabat Rosul sama kata kita?"Naya.


"Keimanan mereka saja beda jauh." sahut Rama.


"Baik, kalau gitu. Besok aku mau langsung kerja di sana."


"Besok, kita pergi bareng. Tapi selanjutnya kamu harus berangkat lebih pagi. Ok?"


"Iyaa."


Keesokan harinya, Naya mulai melakukan aktifitasnya sebagai pelayan di kantin perusahaan dimana Rama bekerja. Ia diperkenalkan oleh Rama kepada pengelola kantin sebagai temannya. Waktu itu, bu Min menganggap Rama orang yang ramah dan sangat serasi kalau bersanding dengan Naya. Tapi mereka berdua sama-sama menanggapi nya dengan bercanda. Karena mereka sama-sama ingin melajang disisa hidupnya.


Naya memanggil pengelola kantin dengan panggilan bude, karena ia berpikir wanita itu seusia dengan bu Nha. Apalagi ia sudah terbiasa bekerja menjadi pelayan juga dalam waktu yang cukup lama, sehingga pekerjaan seperti ini mudah baginya.

__ADS_1


Bekerja di kantin itu jauh lebih mudah dalam hal melayani, sebab Naya hanya perlu mengambilkan makanan pesanan dari balik etalase saja, ia tidak perlu mengantarkan pesanan dari meja ke meja seperti di restoran. Karena para pembeli di kantin akan menunggu dan mengambil pesanannya sendiri. Kecuali bila yang memesan adalah pihak VIP yang biasanya para atasan kantor atau tamu penting yang ingin makan disana. Meja dan ruangan mereka pun terpisah.


Naya sangat bersyukur diberi kemudahan seperti saat ini oleh Allah, juga berterima kasih pada Rama, karena atas bantuannya, Naya bisa mendapatkan penghasilan dari pekerjaan nya. Naya berkata, ketika Rama makan siang di sana,


"Kalau aku nanti sudah terima gaji, aku traktir kamu sebagai ucapan terimakasih."


"Benar ya. Awas kalo bohong," jawab Rama. Naya mengangguk-angguk.


Rama tidak menolak, bahkan ia menunggu saat itu tiba hingga ia bisa menghemat uang makan siangnya. Ia bekerja di sana sebagai arsitek yang hasil rancangannya menjadi pemenang, di saat ada perekrutan pegawai melalui hasil karya buatannya. Karena Itu ia hanya akan bekerja sampai hasil karyanya terealisasi dalam bangunan yang sebenarnya dan selesai pada waktunya. Sebagai karyawan biasa akan sangat senang kalau bisa menghemat pengeluarannya tapi tetap bisa makan enak.


-


Tak terasa waktu terus berlalu dengan cepat. Naya melakukan aktifitasnya bekerja setiap hari dengan rajin dan semangat. Ia harus berangkat lebih pagi sama seperti ketika ia bekerja di restoran bu Nha. Awal bulan ini adalah waktu yang dijanjikan oleh Naya untuk bisa mentraktir Rama makan gratis di mana saja dia mau.


"Ke rumah makan Duadudu, ya? Gak apa kan?" kata Rama ketika ia sudah keluar dari kantor.


Rama pulang lebih cepat karena ia ingin mengajak Naya makan di tempat yang agak jauh. Sebenarnya ini waktu tanggung untuk makan, tapi Rama sengaja tidak makan siang sehingga perutnya sudah sangat lapar.


Naya sengaja menunggu Rama karena ia sudah berjanji, padahal ia sudah bisa pulang dari tadi. Waktu kerja Naya hanya pagi setelah subuh dan sampai menjelang sore. Kantin hanya menyediakan menu sarapan dan makan siang saja. Karena semua pengawal akan pulang setelah jam empat sore, kecuali yang lembur.


"Iya. gak apa," kata Naya.


"Cepat, aku sudah lapar banget. Tadi gak makan siang," kata Rama sambil memanggil sebuah angkutan umum.


"Kenapa memaksakan diri? Padahal kita bisa makan malam di lesehan pecel lele pinggir jalan" kata Naya, yang menanggapi ekspresi kelaparan di wajah Rama.


"Eh, ini kan namanya memanfaatkan kesempatan ada yang mau traktir. Sekali-kali dong makan di tempat yang beda." kata Rama setelah mereka berada di dalam angkutan umum.


"Memangnya, apa bedanya?"


"Banyak teman yang bilang makanan di sana enak."


"Hmm...jauh gak?"


"Agak jauh si, tapi sekalian jalan-jalan. Kan susah cari alasan bisa jalan sama kamu, kalau gak sekarang kapan lagi?"


"Dasar modus!"


Sampai di restoran yang dimaksud oleh Rama, mereka turun bersama. Rama yang membayar ongkosnya karena ia merasa sebagai laki-laki, gak akan mempertaruhkan harga dirinya dengan memanfaatkan perempuan yang sudah baik padanya.


Mereka memesan beberapa makanan dan menikmati semua dengan penuh rasa syukur. Obrolan yang mengalir akrab diantara mereka telah membuat mereka semakin dekat tanpa mereka sadari.


Hingga mereka membicarakan hal pribadi. Padahal sebelumnya Naya selalu menghindarinya tapi karena suasana yang hangat di restoran saat itu membuat ia sedikit berterus terang.


"Kenapa kamu pisah sama suami kamu?" tanya Rama dengan hati-hati.


"Meninggal," jawab Naya enteng.


Rama tidak menyangka Naya akan menjawab jadi ia bertanya lagi.


"Meninggal kanapa?"


"Sakit." jawab Naya sambil menghabiskan makananya. Lalu Naya bertanya,


"Terus, Kenapa kamu gak mau nikah?"


"Kerjaanku kan gak menetap, pindah-pindah terus kecuali aku punya firma sendiri jadi bisa punya anak buah, nah, nanti anak buahku yang kerjanya pindah-pindah sesuai keinginanku," jawab Rama.


'Apa hubungannya sama nikah, si?'


"Kalau aku punya istri, kasian. Ditinggalin terus. Jadi itu mah soal nanti deh. Urusan belakangan. Aku juga baru mikir nikah pas ketemu sama kamu," kata Rama diiringi tawa.


"Semoga kamu dapat jodoh yang lebih baik dari aku."


"Aamiin."


'Aku mah apa atuh?'


"Jadi kamu ngontrak berapa tahun di sini?" tanya Naya lagi.


"Cuma sebentar si, setahun. Kenapa. Mau ikut?"

__ADS_1


"Gak. Aku sudah punya rumah di sini." kata Naya, entah mengapa profesi Rama ini mengingatkan Naya pada Ares yang mempunyai pekerjaan seperti ini. Ia sering berpindah-pindah lokasi pekerjaan. Entah bagaimana kabar Yoni sekarang. Ia tiba-tiba mengingat anak itu juga.


"Oh, iya ya. Kamu sudah punya rumah."


"Itu rumah warisan, harus dijual."


"Tapi maaih bisa ditempati, kan?"


"Iya, Alhamdulillah."


Mereka pun beranjak pergi setelah melakukan pembayaran dan keluar restoran guna mencari angkutan umum yang akan membawa mereka pulang.


Ketika mereka berdua berdiri ditrotoar jalan, mereka dikejutkan oleh mobil sedan putih yang berhenti mendadak tepat dihadapan mereka. Setelah itu, kaca jendela mobil terbuka secara perlahan, tampak seraut wajah yang tersenyum manis dari balik jendela mobil itu.


"Naya!" kata seorang wanita yang menatap Naya dengan lekat.


"Suamiku!!" kata Naya hampir meloncat dari posisinya berdiri. Rama mengerutkan alisnya begitu dalam melihat dan mendengar Naya dan temannya.


"Kamu, di sini?" kata Dinda, sahabat Naya ketika masih sekolah dulu.


Gadis itu turun dari mobilnya dan menghamburkan diri memeluk Naya erat.


"Iyaa aku di sini sudah sebukan lebih," kata Naya sambil membalas pelukan Dinda.


'Suamiku? Apa mereka punya hubungan sejenis? Ahk..tidak, tidak'


"Rama, dia temanku. Ayo kenalan!" kata Naya sambil melepaskan pelukan Dinda, menyadarkan lamunan Rama.


Dinda dan Rama saling mengulurkan tangan dan saling mengucapkan nama mereka masing-masing. Setelah itu Dinda menawarkan untuk mengantarkan mereka berdua ke rumah mereka masing-masing.


Naya menceritakan kejadian bagaima ia bisa sampai di tempat ini, bagaimana ia bertemu dengan Rama dan bekerja di kantin, pada Dinda. Kecuali bagian saat ia harus bercerai dan merawat suaminya. Bagian itu akan ia simpan dalam hati sebagai kenangan yang tidak enak untuk di dengar orang lain.


"Jadi, ini rumahmu." kata Dinda ketika mereka sudah sampai dan mereka turun bersama.


"Iya," kata Naya.


"Jadi dekat ya sama Rama. Kalian sering ketemuan dong?" tanya Dinda.


'Apa maksudnya?' Naya.


'Apa maksudnya?' Rama.


"Iya. Tapi gak sering kalau di rumah. Cuma di kantin saja." jawab Rama.


"Oh gitu," kata Dinda, lalu menghadap Rama dan berkata, "Boleh, gak minta no telepon kamu?"


"Boleh," kata Rama. Ia memberikan no ponselnya hampir pada semua wanita yang memintanya. Ia memaklumi hal ini mengingat ia juga seorang yang banyak dikenal karena akun media sosialnya dan juga konten video-videonya.


Tapi Naya menangkap hal berbeda, ia seolah-olah mengerti kalau Dinda menyukai Rama. Ia tersenyum, mengingat Dinda sangat susah jatuh cinta dan punya prinsip yang sama dengan Rama, menikah itu merepotkan. Tapi kalau dua orang itu saling jatuh cinta lalu menikah, alangkah baiknya.


"Dinda. Kapan-kapan mampir lagi ya," kata Naya ketika Dinda berpamitan. Sedangkan Rama sudah lebih dulu pulang.


"Pasti. Aku mau cerita sama mama, sekarang kamu di sini." kata Dinda masih berdiri di samping mobilnya.


"Apa tante masih ingat aku?" Naya bertanya dengan ragu. Dulu, mama Dinda adalah seorang wanita yang sabar dengan kanakalan Dinda dan teman-temannya.


"Kalo aku cerita pasti ingat. Jangan-jangan kamu yang lupa?"


Naya tertawa, memang ia sudah hampir lupa wajah dan nama dari mamanya Dinda ini.


"Maaf, aku memang lupa namanya." kata Naya setelah berhenti tertawa, ia malu karena melupakan orang yang baik seperti mamanya Dinda.


"Kamu ini. Kapan-kapan deh, aku jemput kamu ketemu mama, mau kan?"


"Baik. Aku tunggu. Oh iya, ngomong-ngomong mama sudah gak ada di kota Hujan lagi?"


"Gak. Semua kumpul di sini sekarang. Kakakku juga sudah menetap kerjaannya. Papa yang paksa kakak. Soalnya kasian mama kalau harus kesana kesini ikut kakak."


"Oh, iya. Pasti mama cape kan kalau harus pindah terus."


"Iya, kalau bukan karena anak kakakku, mama gak mau ikut kakakku pindah-pindah kerja." kata Dinda mengakhiri obrolan mereka

__ADS_1


__ADS_2