
Melihat apa yang dilakukan Naya, sepasang suami istri itu melebarkan mata secara sempurna.
"Naya. Apa kamu sedang menggoda suamimu, padahal malam ini adalah giliranku?" kata Yola terlihat geram.
Naya melihat Yola sekilas. Lalu tersenyum sambil menyesap teh dari cangkirnya.
"Aku Tidak akan mengambil waktu giliranmu." jawab Naya tenang, lalu melirik Rudian yang juga menatap dirinya.
Ia kembali fokus menonton acara Motogp yang sekarang sedang berlangsung. Dilayar televisi sedang memperlihatkan Fabio Quartararo, pembalap yang tahun ini menjadi pembalap andalan dari brand motor terkenal di duna.
Seru sekali rasanya balapan seperti itu, tidak ada beban mungkin yang harus mereka pikul selain menang dan menang lomba. Toh walau mereka tidak menangpun tetap mendapatkan bayaran.
Ahk, seandainya hidup sumudah itu. Mungkin manusia bisa langsung menuju surga bila mati kelak, tanpa harus bersusah payah ibadah untuk mencari pahala. Ya, pahala, sebagai alat tukar mutlak yang harus dimiliki setiap insan beriman demi kenyamanan kekekalan nan abadi yang nikmat disurga.
Tanpa pahala, bisa apa manusia di akherat selain disiksa? Semakin banyak pahala, semakin nikmat dan tinggi pula jenjang dan kedudukan kehidupannya kelak di surga. Samakah dengan di dunia? Entahlah. Tapi sebuah kenyataan bila .semakin banyak uang dan harta maka semakin tinggi pula strata kehidupan sosialnya di dunia.
"Bukan. Aku bukan menggodanya. Aku hanya mau nyantai malam ini. Gak bisa tidur. Apa aku salah?" kata Naya sambil menyilangkan kakinya secara bertumpuk, hingga paha mulusnya terekspost.
Sisi lain Naya yang sudah lama tidak lagi di perlihatkan. Sebenarnya ia adalah wanita yang anggun dan sangat manis. Rambut yang selalu ia tutup dengan jilbab itu indah dan tebal. Pertama kali Rudian melihat Naya saat malam pertamanya, laki-laki itu begitu terpesona.
Tapi karena kesibukannya dan juga kelelahan yang sering mendera serta kejenuhan yang berlangsung cukup lama, membuat Naya tidak lagi melakukan hal-hal manis.
Rudian juga terlihat canggung, ada dua wanita yang menurutnya sama-sama ingin mendapatkan perhatian. Tapi baginya Naya akan lebih bisa mengalah. Seperti biasanya. Entah kebetulan atau bukan, bahwa kebanyakan wanita-wanita yang mau dipoligami adalah wanita yang rata-rata berkarakter mudah mengalah.
"Kau bilang tidak menggoda, tapi itu apa. Pamer badan bagus?"
"Alhamdulillah, badanku bagus karena Allah yang memciptakan. Dan aku juga tidak salah karena aku memamerkan aurotku hanya pada siamiku. Tidak seperti kamu." balaa Naya.
"Apa kamu merasa lebih baik dari aku? Kamu sombong!"
"Aku bicara begitu bukan berarti aku lebih baik. Kita harus saling mengingatkan. Katamu begitu, kan?"
"Mengingat soal apa, ini cuma soal penampilan. Gak penting."
"Kalau kamu memang sayang sama Kanda, maka pakailah jilbabmu, sayangi dirimu sendiri. Sebab nanti suamiku itu akan ditanya, kenapa kamu sebagai istrinya tidak menutup aurotnya dan membiarkan banyak mata laki-laki menatapnya."
"Sudah, sudah. Ayo Yola. Tidur. Besok kan harus kerja." kata Rudian memengahi kembali perselisihan istri-istrinyan.
"Kanda, aku besok ship pagi. Jadi kita cari sarapan diluar saja."
'Kamu kan bisa masak dulu sebelum berangkat?"
"Kanda, kalau seperti itu, aku jadi terlalu cape. Makanya aku gak bisa hamil. Bisa jadi itu alasannya."
__ADS_1
'Aku juga malas kalau harus masak buat wanita itu.'
"Wah, kan membantah lagi. Gak nurut ya kamu jadi istri." Yola menimpali dengan senyum smirk dibibirnya.
"Kamu juga kan istrinya. Ya sudah, kamu saja yang masak. Kalau memang kamu istri penurut. Maaf, aku harus kerja pagi-pagi."
"Ah, kerja gajinya kecil saja bangga." jawab Yola sambil melangkah hendak ke kamarnya.
"Gak apa kecil juga, tapi bisa bermanfaat. Bisa bayar listrik dan bayar air juga bisa buat beli semua kebutuhan sehari-hari juga kebutuhan suami. Itu bernilai sedekah. Dari pada gaji gede dimakan sendiri. Gak berkah."
Deg. Jantung Rudian berdebar lebih kencang, mendengar ucapan Naya, seperti disetrum. Kaget, ia teradar kesalahannya selama ini. Mengabaikan Naya bahkan sekarang menduakan cintanya.
'Maafkan aku, Naya.'
"Sudah. Yola. Tidur sana! Sudah malam!" Rudian kembali mengingatkan Yola agar pertengkaran mereka segera berakhir. Ya sudah sewajarnya begitu.
"Kok, abang jadi marah si, sama aku?" kata Yola lalu menghentakkan kakinya dan masuk ke kamarnya, kesal. Merasa dirinya tidak dibela.
Naya juga bangkit dari duduknya, pakaian transparan yang dipakainya memperlihatkan bentuk tubuh indah yang tidak berubah. Bahkan makanan herbal penyubur kandungan yang diminumnya selama ini memberi efek melembutkan kulit juga.
"Naya." kata Rudian sambil memegang pergelangan tangan Naya yang hendak menuju dapur menyinpan gelas tehnya yang sudah habis.
Naya menoleh, lalu berkata datar tanpa ekspresi,
"Maafkan aku." kata Rudian sambil menarik tubuh istrinya dalam pelukan.
Naya diam tidak merespon. punggungnya seolah kaku karena satu tangan memegang gelas. Sunghuh, memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan butuh keihlasan juga agar benar-benar bisa melupakan.
'Hmm..." gumam Naya kemudian, sambil mengangguk.
'Terimakasih juga, sudah mau mengerti aku."
"He em.' jawab Naya kembali mengangguk.
Setelah beberapa saat mereka dalam keadaan seperti itu, Rudian mulai menciumi wajah dan bibir Naya. Suasana panaspun tercipta, Naya mulai membalas ciuman Rudian dengan lembut. Hingga beberapa detik kemudian,
"Hoeek! Hoeek!" suara Yola dari dalam kamar dan kemudian berlari menuju kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga.
-
Naya masih berdiri dijajaran rak yang memajang barang-barang kebutuhan rumah tangga disalah satu minimarket dekat rumahnya. Saat itu waktu ashar sudah lewat, dan Naya sudah melaksanakan kewajibannya sholat, baru kemudian menyelesaikan belanjanya.
Ia memilih-milih beberapa barang kebutuhan rumah tangga itu dengan serius dan menimbang-nimbang mana yang lebih bagus tapi harganya lebih murah. Tanpa sengaja ia mendengar suara seseorang sedang berbincang dibarisan rak-rak disebelahnya.
__ADS_1
Naya tidak tahu yang bicara karena ia tidak bisa melihat tapi ia seperti kenal dengan pemilik suara ini. Mereka berdua wanita dan pria itu berbicara dengan sangat serius.
Sungguh Naya tidak bermaksud menguping, tapi suara ini sangat jelas dan Naya juga membutuhkan barang-barang yang ada di sana.
"Berapa besar uang yang kamu butuhkan?" kata suara wanita.
"Limaratus ribu saja kali ini. Aku akan menemuimu kalau aku butuh uang lagi, nanti." kata suara laki-laki.
"Kamu gak usah kuatir, aku akan memenuhi kebutuhanmu, selama kamu di sini. Jangan pindah tempat kos. Tempati saja rumah kosku yang dulu. Jadi kamu bebas disana." kata wanita itu lagi.
"Ya, aku tahu. Jadi sekarang kau punya rumah baru." kata si lelaki.
"Iya, aku harap begitu, kalau perempuan itu nantinya pergi dari sana. Kau juga bisa pindah kesana, jadi kita bisa punya uang jajan lebih banyak." kata si wanita.
"Berapa uang sewa di kostan itu?" kata si lelaki.
"Tidak usah dipikirkan, aku yang akan membayarnya." kata si wanita.
"Apa tidak memberatkan suamimu?" kata si lelaki.
"Tidak, dia akan memberikan berapa pun uang yang aku minta." kata si wanita.
"Lalu bagaimana dengan uang untuk kebutuhan sehari-harimu?" tanya si lelaki.
"Ada wanita itu yang sudah membeli semuanya. Aku tidak perlu repot membeli banyak barang kebutuhan." kata si wanita.
'Kau pintar sekali." puji si lelaki.
"Harus, selagi masih ada kesempatan bagus. Lagipula, anak ini adalah senjata ampuh bagiku." kata si wanita sambil tertawa.
"Baiklah. Aku terima uang ini. Kau bisa menelponku kalau punya bonus lagi dari kantor." kata si lelaki.
"Baiklah. Kamu juga carilah pekerjaan lagi." kata si wanita.
Lalu terlihat seorang lelaki muda dengan pakaian model trandi tahun ini berlalu keluar dari jajaran rak barang dengan membawa minuman soda kaleng, lalu membayarnya di kasir.
Naya menyipitkan matanya, sekeras apapun usahanya untuk mengenali sosoknya, ia tak berhasil.
'Siapa sebenarnya laki-laki itu.'
Beberapa menit setelah itu, suara dering ponsel terdengar dari barisan rak sebelah Naya, suara seorang perempuan menerima panggilan itu dia berkata,
"Halo, bang. Aku masih belanja. Oke. Aku tunggu."
__ADS_1