
Naya menoleh melihat siapa yang sudah menegurnya dan menawarkan bantuan padanya. Padahal saat itu ia benar-benar sudah selesai dengan pekerjaan membereskan rumahnya. Dan Naya melihat Rama sedang berdiri dengan melipat kedua tangan diatas perutnya. Ia memakai kaos biasa dan celana pendek, penampilannya kali ini terlihat sangat berbeda dengan ketika mereka bertemu di kereta beberapa hari yang lalu. Waktu itu Rama terlihat sangat rapi dan terkesan fashionable, tapi sekarang ia terlihat seperti orang yang belum mandi.
"Eh, kamu...Rama kan? ya kan, Rama?" kata Naya tersenyum lebar.
Rama mendengus pelan menyadari dirinya di lupakan. Dia menyahut,
"Iya, aku Rama." kemudian ia mengutip sebuah lagu sambil berkata,
"Aku ingin amnesia...Jadi kau pura-pura Amnesia ya? Emang enak di lupain? Aku saja ingat nama kamu Nayana."
Deg! jantung Naya berdegup lebih keras kata-kata 'Emang enak di lupain' yang keluar dari mulut Rama sedikit menyinggung hatinya, karena memang ia pernah dilupakan oleh seseorang, dilupakan dengan cara yang menyakitkan, bahkan dihadapannya sendiri.
Sebelum pergi, Naya melihat kamarnya, meraba tempat tidurnya, tempat diri dan suaminya berbagi peluh bersama, mengelilingi rumahnya, bahkan berjalan-jalan di tempat - tempat yang pernah dilaluinya bersama Rudian, hingga akhirnya ia benar-benar mengikhlaskan. Kini mendengar orang mengatakan kata dilupakan, seperti mencungkil kenangan yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan.
"Ak, iya. Dilupakan memang tidak enak," kata Naya, sambil duduk dikursi tua yang sudah usang di teras rumahnya.
Lalu ia bertanya, "Rumahmu yang sebelah mana?"
"Masa nggak tahu sih? Perasaan aku turun duluan deh, sebelum kamu," kata Rama kembali mengungkit saat pertemuan pertamanya di kereta.
"Oh ya?" jawabnya Naya, "Maaf aku lupa."
"Sebenarnya kau ini masih muda, tapi sudah jadi pelupa ya? sayang sekali," kata Raama sambil menggelengkan kepalanya.
Naya Jengah dengan ucapkan laki-laki ini. Ia menganggap dirinya akrab dan dekat dengan Naya. Padahal menurut Naya usia laki-laki ini sedikit lebih muda dari dirinya, lagipula mereka baru bertemu dua kali ini.
"Aku tinggal di sana," kata Rama sambil menunjuk ke suatu tempat yang tak jauh dari rumah Naya.
" Oh ," hanya itu tanggapan Naya,
"Apa kau sendirian di sana?" tanya Naya lagi.
Rama terlihat mengangkat kedua alisnya, ia menyimpulkan bahwa sekarang Naya seperti mulai tertarik dengan dirinya terlihat dari pertanyaannya yang mulai menanyakan tentang hal pribadinya.
"Kalau aku sendiri, Kamu mau temanku kan? Kamu juga sendiri...?" kata Rama sambil tersenyum lebar.
Naya mengerutkan alisnya Ia tidak menyangka mendapatkan pertanyaan yang seperti itu. Di sini adalah tempat yang baru baginya dan ia harus benar-benar menjaga dirinya, pasti banyak orang yang menyangka bahwa wanita seusianya bukanlah wanita yang belum pernah menikah. Ia sedikit ragu apabila harus mengatakan hal-hal pribadinya. Semakin sedikit orang yang tahu tentang dirinya, semakin baik.
Seperti halnya poligamj yang bukan aib, menjadi seorang janda juga bukan aib, tapi ia malu untuk mengungkapkannya.
"Oh, iya. Kamu tadi bilang mau membantuku, kan?" Naya mengalihkan perhatian. Ia berdiri dari duduknya dan hendak masuk kembali ke rumah.
"Iya," jawab Rama sambil menguar rambutnya dan tersenyum. Ia kini duduk di kursi yang di duduki Naya.
"Tapi sepertinya sepertinya kamu gak.butuh bantuan, jadi kita ngobrol saja di sini. Kita sama-sama orang baru, kan?"
'Haha ini gak lucu'
"Tapi, maaf. Aku mau istirahat dulu. Aku cape, baru selesai bersih-bersih," sahut Naya.
"Dari kemarin aku lihat kamu sibuk bersih-bersih,"
"Ck! kamu kan lihat sendiri aku mau kamar di rumah ini ada yang menyewa. Lumayan, kan buat teman sekaligus dapat penghasilan. Jadi rumah harus benar-benar bersih dan kalau ada orang yang menyewa maka mereka tidak akan kecewa karena rumahnya kotor dan gak rapi," kata Naya menjelaskan.
"Oh seperti itu.." sahut Rama. Melihat Naya yang berdiri saja di pintu masuk.
"Kamu mau nggak, kalau aku bantu biar kamar kos kamu cepat ada yang nyewa," kata Rama lagi.
"Eum boleh, gimana caranya?"
__ADS_1
"Kamu jadi tamu di videoku ya, nanti deh aku siapin dulu." kata Rama seperti hendak pergi, ia beranjak dari tempat duduknya.
"Eh tunggu, maksud kamu mau ngomong lewat video lalu di sahre di akun kamu, gitu?" tanya Naya, ia terlihat tidak suka.
"Iya." tandas Rama, "nanti kita tampil berdua, ngomongin soal tempat kos kamu, gitu." kata Rama. Ia kembali menghadapkan tubuhnya pada Naya.
"Aku gak mau. Aku gak suka tampil seperti itu," kata Naya.
"Eh, apa salahnya? Sekarang sudah jamannya seperti itu, semua lewat online." jawab Rama.
Kemudian Naya menggeleng ia menundukkan kepala sambil berkata, "Gak, aku gak mau, aku gak mau jadi tamu di blog kamu. Aku nggak suka diekspos kayak gitu,"
Rama diam dan ia mengambil nafas dalam kemudian dia berkata, "Ya sudah kalau kamu gak mau, nanti aku cuma ngomong aja kalau tempat ini disewakan gitu, oke?
" Nah kalo gitu, iya boleh," jawab Naya.
Rama mempunyai hobi menjadi incluencer, sehingga beberapa akun media sosialnya mendapatkan pengikut yang sangat banyak dan Ia mendapatkan penghasilan juga dari hobinya itu.
Siapa yang menyangka di dunia yang serba canggih sekarang ini, hanya dengan berbicara seperti itu saja, bisa mendapatkan penghasilan yang begitu banyak. Bahkan menjadi incluencer cukup diminati oleh kalangan anak muda beberapa orang menjadikankan influencer ini sebagai pekerjaannya.
-
Keesokan harinya, Naya bersiap untuk pengambilan gambar yang dilakukan oleh Rama. Pria itu sudah berpakaian layaknya aktor yang siap memerankan sebuah adegan dalam film. Ia menyiapkan sebuah ponsel dengan kamera beresolusi tinggi, ponsel keluaran terbaru yang dimilikinya. Ia mengambil beberapa gambar kamar, halaman, juga beberapa ruang dalam rumah yang sudah dihias oleh Naya dengan barang atau bunga alakadarnya.
Kemudian, beberapa foto itu, dijadikannya sebagai background dalam videonya itu. Ia mulai berbicara seolah-olah ada orang lain di depannya dengan bahasa dan gaya anak muda. Ini cara pembuatan video terbaru. Rama tanpa malu, tanpa dibuat skenarionya, berkata di depan layar kamera ponselnya,
" Hai guys selamat sore. Apa kabar semuanya aku aku disini punya kenalan baru, dia punya kamar yang bisa disewakan pokoknya di sini tempatnya nyaman, kamu bisa tinggal di sini, selain tempat yang strategis dekat dengan perkantoran dan juga perkuliahan, tempat ini juga cukup luas. Pokoknya enak banget deh. Soal harga bisa nego ya, sama yang punya." kata Rama, ia menjeda sejenak untuk mengarahkan kamera pada Naya yang tampak membelakanginya.
"Tapi disini nggak banyak kamar loh, cuman ada dua kamar yang disewakan, satu kamarnya bisa ditempati dua orang, kalau misalnya kalian mau menyewa di tempat ini kalian harus bawa barang-barang keperluan kalian sendiri, karena di sini hanya tersedia single bed saja, Ok guys cukup ya untuk videoku kali ini semoga kalian senang, aku bikin video ini untuk menolong teman aku loh. Dah...sampai jumpa lagi,"
Berapa lama video itu diupload beragam komentar pun muncul, dari mulai menanyakan harga, menanyakan lokasi dan tempat tinggal, menanyakan siapa pemiliknua dan juga menanyakan fasilitas-fasilitas lainnya. Ada juga yang menanyakan apakah disana banyak wanita-wanita cantik ataupun laki-laki tampan. Pertanyaan-pertanyaan yang aneh dan juga sedikit lucu bermunculan begitu saja.
Rama tidak menanggapi semua komentar-komentar yang muncul, dia hanya menanggapi beberapa pertanyaan yang memang bertujuan untuk mengetahui lokasi ataupun fasilitas yang ada di rumah Naya. Setelah itu ia memberikan no kontak ponsel Naya, kepada beberapa orang yang berminat dengan kamar kosnya.
Hingga pagi menjelang, Naya melihat tukang sayur langganannya yang sering berhenti di depan rumah tetangganya. Naya membeli beberapa keperluan dapur nya. Karena ia hanya tinggal sendiri ia tidak memerlukan banyak makanan, hanya secukupnya saja karena ia juga harus berhemat.
Saat ia sedang memilih sayuran ada seorang ibu yang berkata,
"Jeng, tau nggak mamahnya Den Rama?" kata ibu itu, kepada tetangga sebelah Naya. Naya tidak mengenalinya, karena ia jarang melihatnya.
"Ada apa dengan bu Haji Tina?" jawab tetangganya.
Obrolan ibu-ibupun terus berlangsung.
"Semalam dibawa ke rumah sakit, tapi Den Ramanya tidak ada."
"Wah apa Iya, kasihan sekali ya bu haji Tina. Terus sekarang gimana Rama?"
"Katanya sih Rama sudah menyusul ke rumah sakit, tau nggak jeng. Rama tuh sekarang suka pergi ke tempat janda yang baru itu loh, dimana-mana janda itu jadi pelakor!"
Dsg. jantung saya seakan berhenti sejenak seolah-olah detakan jantungnya akan membunuhnya.
'Siapa Rama yang dimaksud oleh tetanggaku ini ya? Dia bukan Rama yang sering ke rumahku, kan? Astagfirullah'
Maya mengerutkan alis, tapi ia tidak mau bertanya sesuatu yang bisa memancing pembicaraan lebih jauh lagi. Ia pun meninggalkan kerumunan ibu-ibu itu setelah membayar pada penjaja sayur.
Tiba-tiba saja Naya gelisah, ia merasa dirinya bukanlah seorang pelakor, yang ia tahu Rama yang ia kenal adalah laki-laki yang belum memiliki pasangan. Apalagi Rama memperkenalkan dirinya sebagai pria yang tinggal sendiri.
Siang harinya Rama kembali muncul di kediaman Naya, ia kemudian menunjukkan hasil dari video yang mereka buat kemarin. Selain video, Rama juga membuat beberapa foto tentang rumah dan kamar kos Naya. Ia memberi caption yang macam-macam dan dan terkesan lucu. Dari foto-foto yang diupload oleh Rama semuanya menuai like yang sangat banyak.
__ADS_1
Naya tersenyum melihat apa yang sudah di tunjukkan Rama padanya. Karena rasa penasarannya ia berkata,
"Hei, Rama. Kamu sebenarnya udah punya istri apa belum sih?"
Mereka saat itu sedang mengobrol di teras rumah. Naya duduk di atas kursi tua dan Rama duduk di lantai. Rama menatap Naya dengan mengerutkan alisnya.
"Ada apa, kalau aku masih sendiri, kamu mau jadi istri aku?" kata Rama.
Deg! jantung Naya berdetak tidak beraturan. Ia belum siap membina sebuah hubungan. bahkan mungkin tidak akan pernah siap.
Akhirnya Naya menceritakan apa yang didengarnya di pagi hari, ketika ia sedang berbelanja sayur bersama ibu-ibu tetangganya. Setelah Naya selesai berbicara Rama tertawa terbahak-bahak. Ia berhenti setelah tertawa cukup lama.
Dia berkata, "Kenapa? Kamu takut dibilang pelakor? Kalau aku aku punya istri, aku senang kamu yang jadi pelakornya!" kata Rama masih dengan sisa tawanya.
Menurut Naya, laki-laki ini begitu kocak. Ia geli dengan kata-katanya, tetapi itu sesuatu yang memalukan bagi Naua, menjadi pelakor bukan sesuatu yang bisa dijadikan lelucon. Kalau seandainya ia benar-benar menjadi pelakor dari Rama dan istrinya, maka lebih baik ia dilenyapkan saat itu juga.
Melihat kekhawatiran Naya, Rama kemudian melambaikan tangannya untuk mengalihkan perhatian Naya.
"Sudah. Jangan kuatir, aku beneran kok belum nikah." kata Rama.
Naya mengangkat alis tanda tak percaya.
"Apa? di usiamu sekarang, belum menikah? Menikah itu sunnah, apalagi kau terlihat sudah mapan," kata Naya.
"Memangnya salah, kalau laki-laki memutuskan melajang seumur hidup? menikah itu merepotkan," kata Rama.
"Kalau menurut kamu menikah merepotkan, Kenapa kamu tadi bilang kamu senang kalau nikah sama aku bahkan bilang kalau kamu senang aku yang menjadi pelakor istrimu, berarti itu kamu mau nikah dong?" kata Naya dengan penuh penekanan.
"Iya, aku mau nikah asal kamu yang jadi istriku!" kembali Rama tertawa dan Naya cemberut mendengarnya.
Sesuatu yang tidak lucu menurut Naya, karena ia sama sekali tidak berniat untuk menikah lagi, Ia benar-benar takut untuk memulai hubungan seperti ini.
"Jangan bercanda, ssbenarnya aku sudah pernah menikah, jadi jangan bicara yang macam-macam. Tidak akan ada apapun diantara kita. Kita cuma saling kenal dan kita hanya tetangga, tu saja," kata Naya dengan menyipitkan matanya.
Mendengar apa yang diucapkan Naya, Rama mengangkat sedikit dagunya seperti berpikir, menurutnya Naya wanita yang baik, karena dia tidak menggunakan kata janda sebagai statusnya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya sudah pernah menikah.
" Apa, kau sudah pernah menikah? Kenapa yang aku lihat kamu seperti anak ABG yang baru lulus sekolah." kata Rama.
Mendengar ucapan Rama, Naya kembali tertawa kecil, dan berkata, "benar, aku sudah pernah menikah, mungkin usia kita hanya terpaut berapa tahun saja," Rama terdiam sejenak kemudian memutar bola matanya. Dia berkata,
"Aku sudah dua puluh delapan tahun, kamu?"
"Aku dua puluh tujuh tahun," Naya tersenyum dan menarik nafas dalam.
Usia diatas puluh la tahun bagi seorang wanita adalah usia yang sangat dewasa, bukan anak-anak ABG lagi, atau anak yang baru lulus sekolah seperti yang dikatakan Rama. Usia adalah keniscayaan bagi setiap manusia hanya saja beberapa orang ada yang terlalu takut dengan bertambahnya usia, karena menjadi tua adalah sesuatu yang sangat tidak mereka harapkan.
Banyak orang yang begitu takut menjadi tua Sehingga menggunakan berbagai cara agar menghambat prosesnya, seperti menggunakan berbagai obat-obatan, melakukan terapi atau operasi. Hal yang terakhir yang kebanyakan dilakukan oleh kalangan atas yang memiliki kekayaan lebih.
"Kita sudah sama-sama dewasa kan? jadi kita nggak pantas ngomong seperti ini. Aku memang tidak punya niat untuk menikah lagi," kata Naya.
"Kenapa?" tanya Rama.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin saja."
Menikah memang menjadi salah satu sunah rasul, bahkan Rasul pernah mengatakan bahwa apabila segolongan umatnya yang tidak mau melakukan pernikahan, maka tidak dianggap sebagai bagian dari umatnya. Tetapi salahkah orang seperti Naya yang mempunyai trauma dengan pernikahannya. Ia trauma dsngan luka yang teramat dalam, hingga Ia juga sulit untuk memulai.
Rama mengangguk, tanda mengerti. Walau ia sedikit heran dengan Naya yang tidak mau menikah kembali. Ia sempat ingin menanyakan tentang sebab dari Naya berpisah dengan suaminya, tapi ia mengurungkan niatnya.
Banyak perempuan di sekitar lingkungan tempat kerjanya yang sangat tidak sabar untuk mendapatkan pendamping. Padahal mereka adalah para wanita yang sudah pernah menikah. Apalagi melihat dirinya di tempat kerjanya, karena Rama adalah salah satu pria yang diidolakan oleh karyawan kantornya.
__ADS_1
Rama hanyalah seorang pekerja kontrak saja yang hanya bekerja di sana tidak akan lama, namun beberapa wanita memang menganggap pekerja kontrak seperti ini tidak masalah, karena yang penting adalah laki-laki ini bisa menjadi jaminan dan bisa diandalkan dalam hidupnya.
"Naya, apa kamu mau bekerja?"