
Naya menggelengkan kepalanya mendengar teguran dari Farah. Ia tersadar dari lamunan dan tersenyum seraya berkata,
"Ah, tidak aku masih mikir soal ucapanmu barusan. Kasihan sekali keluarga itu, ya?"
"Ah, mereka orang kaya. Mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mudah.'
"Tapi, kejadian seperti itu bukan sesuatu yang bisa dibeli. Bahkan nyawa istrinya tidak bisa dibeli dengan kekayaan yang mereka miliki"
"Ah, iya... ayo pulang, kita akan kesorean nanti."
"Sudah selesai membahas soal harta dan cinta?" sahut Naya sambil tertawa.
"Sudah, lagi pula mana ada harta dan cinta? Yang ada itu adalah lingkaran setan yang tidak pernah putus adalah harta, tahta dan wanita." kata Farah setelah menghentikan tawanya.
"Itu juga gak jauh-jauh deh dengan cinta. Manusia sering menggunakan kata itu sebagai alasannya."
'Iya, ya. Bagaimana mungkin Yola penuh kerelaan tanpa syarat jadi istri kedua, hanya karena cinta tanpa sedikitpun ada keinginan lainnya?'
Mereka berkemas dan kemudian pulang dengan kembali menaiki motor matick yang tadi mereka gunakan. Setelah sampai dirumah Farah, Naya mengucapkan terimakasih dan mengucapkan salam sambil memeluk erat sahabatnya itu. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang dengan taxi.
Naya melepaskan hijabnya begitu tiba dirumah, terasa sepi, karena malam ini Rudian tidak pulang, mereka sudah menyepakati akan merelakan pembagian malam secara bergantian.
Setelah malam, Naya merasa lapar. Ia tidak membuat makan malam karena tidak ada yang bisa dimasak. Ia sengaja tidak membeli bahan makanan, lumayan untuk menghemat uang, pikirannya. Biar bagaimanapun hidupnya harus tetap dilanjutkan.
Sebungkus mie instan sudah cukup membuatnya kenyang. Setelah menghabiskannya, Naya mencoba menghubungi suaminya. Tentu saja ia butuh perhatian. Ia ingin tahu, apakah ia masih bisa mendapatkan hal itu walau suaminya sekarang masih bersama istrinya yang lain.
Lama telpon tidak diangkat. Ia mulai gelisah, mungkin hak menghubungi suami sudah dihapus saat ini, atau memang mereka mungkin sedang melakukan sesuatu? Pikiran Naya mulai berkelana. Hei, para istri yang juga mengalami nasib yang sama dengan dirinya, apakah merasakan hal yang sama pula? Tidak bisa berprasangka baik. Ia terus memikirkan hal buruk pada dirinya sendiri.
'Apakah aku sudah tidak disayang lagi, tapi kenapa aku tidak diceraikan saja, seegois itukah laki-laki? Apakah wanita itu begitu membuat Rudian terlena hingga tidak mau mengangkat telpon dariku? Atau mereka sedang jalan-jalan atau belanja, atau makan direstoran, sampai tidak bisa menjawab panggilan? ya Allah... segundah ini ternyata rasa digilir suami...'
__ADS_1
Dalam kegelisahan, akhirnya Naya tertidur dan ia kembali tidur di sofa. Sampai tengah malam ia terbangun, terasa pegal diseluruh tubuh. Ia pindah menuju kamarnya, tak lupa ia membawanya ponselnya dan dilihatnya ada sebuah pesan dari Rudian.
"Maaf, tadi gak sempat angkat telepon. Aku masih dirumah sakit. Perut Yola sakit. Dan hp-ku ketinggalan dirumah."
Demikian bunyi pesan itu membuat Naya menarik nafas panjang, setidaknya Rudian masih menjawab walau hanya berupa pesan. Masih ada yang bisa membuat Naya bersyukur kalau ternyata perasaan buruknya tidak benar.
Sampai ditempat tidur Naya kembali berpikir tentang sesuatu yang belum terjadi dan itu bisa membuat Naya tidak bisa tidur kembali.
'Apakah akan selalu terjadi hal seperti ini dikemudian hari? Ahk...hanya sampai tiga bulan. Tunggu saja. Aku masih bisa sabar dan menunggu sampai hari itu tiba, kan? Apalagi tidak mungkin kalau karena hamil suami jadi punya alasan untuk berbuat tidak adil? Masa si aku harus terus menerus mengerti?'
-
Keesokan Harinya, Naya berangkat bekerja dengan wajah biasa tanpa sembab sisa air mata. Farah sudah berhasil menghiburnya, hingga ia bisa menghadapi hari dengan lebih lapang dada. Semua sudah terjadi dan ia tidak mungkin menuntut agar Rudian menceraikan Yola dan sebaliknya agar Rudian menceraikan dirinya, ia mencintai suaminya.
Bahkan Naya mengirim beberapa pesan yang mesra, juga pesan perhatian pada Rudian, pesan yang sudah lama tidak ia berikan sejak setahun tetakhir ini, pada suaminya.
Dengan cepat pesan dari Naya mendapatkan balasan, membuat Naya tersenyum. Walau pesan itu dibalas secara sepihak tanpa menanyakan kembali hal yang sama pada Naya, sudah cukup membuat Naya senang.
Kasih sayang Allah itu luas, bukan hanya terbatas pada aatu orang saja. Jangan putus asa dari rahmat-Nya, sebab dimanapun kita, pasti ada kebaikan di sana, selama kita juga berbuat baik.
Jangan takut kehilangan kasih sayang, karena Allah lebih sayang pada kita melebihi kasih sayang dari orang yang kita harapkan cinta dan kasih sayangnya. Bila kita kehilangan sesuatu pasti akan ada gantinya yang bisa jadi jauh lebih baik, dari sesuatu yang sudah hilang dari kita.
"Kamu sudah sehat, Nay?" tanya bu Nha.
"Alhamdulillah, bu. Gimana bu Nha, sehat?"
"Sehat. Harus sehat dong. Nanti restoranku siapa yang ngurus? Kamu?" kata bu Nha bercanda.
Setelah berbincang sejenak, Naya kembali melakukan aktifitas seperti biasanya. Libur selama dua hari sudah cukup baginya untuk merefrehs tenaga dan pikirkannya.
__ADS_1
"Tante!" kata sebuah suara mengejutkan Naya.
Naya menoleh kesumber suara dan mendapati Yoni berdiri didepan pintu dengan menggenggam tangan papanya.
"Yoni...! Apa kabar?" tanya Naya sambil menghampiri Yoni dan menggendongnya, seketika Ares melepaskan genggaman tangan dari Yoni. Laki-laki itu pergi memesan sesuatu untuk sarapan mereka hari itu.
"Tante kemana aja, kemarin gak kerja, ya?" kata Raya yang juga sudah ada di sana.
"Raya, gak sekolah?" tanya Naya.
"Kan libur, tante. Makanya kemarin kita ke Pantai. Ini buat tante." kata Raya sambil duduk di samping papanya.
Gadis remaja itu memberikan sebuah bungkusan kecil pada Naya. Naya menerima dengan sungkan.
Mereka duduk bersama dalam satu meja, menyusul Yoni yang baru saja turun dari gendongan Naya. Mereka mirip seperti sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang.
"Pantai, pantai mana?" tanya Raya lagi.
"Anyelir." jawab Yoni dan Raya bersamaan.
"Apakah kalian punya villa di sana?" tanya Naya begitu penasaran, ia teringat cerita Farah, hingga ia menanyakan hal itu pada mereka.
"Villa, villa apa?" tanya Raya kemudian, dan kata-kata Raya membuat Naya bernafas lega.
'Ah, berarti bukan dia...' batin Naya.
Dengan antusias Naya membuka hadiah yang diberikan oleh Raya, ia melihat sebuah cangkang kulit kerang warna putih yang sangat bagus, bisa digunakan untuk tempat menyimpan perhiasan kecil atau bros juga jarum pentul yang biasa digunakan pada kerudung.
"Cantik sekali. Terimakasih yaa..." kata Naya dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Mereka tidak memiliki hubungan apapun, tapi ia mendapatkan hadiah yang indah seperti itu.
"Tante juga cantik" kata Yoni. Anak kecil itu berkata dengan polos dan jujur membuat Naya sangat malu, ia melihat kedua orang di depannya dengan senyum manis.