
Naya keluar kamar, setelah selesai merenung, instrospeksi diri, dan puas menangis, ia harus mengabaikan perasaan dan dirinya sendiri karena ada orang tua yang harus ia urus. Menyiapkan tempat tidur, membereskan barang-barang dan membersihkan diri. Semua itu ia lakukan dengan diam. Budiman dan Nuriya juga tidak menegur, atau mengatakan apapun, karena menganggap bahwa Naya masih enggan diajak bicara.
Naya melihat keluar, masih ada mobil Ares di sana, tapi dimana laki-laki itu? Naya melangkah keteras setelah memakai jaket dan tidak menemukan siapa-siapa. Saat itu Ida datang, berarti sekarang sudah antara jam sepuluh atau sebelas malam. Naya melihat ke dalam mobil melalui jendela kacanya dan ia melihat laki-laki itu tertidur di sana, rupanya, Ares sedang menunggu, sampai hati Naya terbuka untuk menerima pernikahannya.
'Ya Allah, pantas saja aku kirim pesan tapi gak ada satupun yang dibalas'
Naya kembali masuk rumah, dan ia memperkenalkan Ida kepada kedua orangtuanya. Malam itu, Ida tidak diantar oleh teman-temannya, mungkin karena melihat suasana di rumah yang berbeda serta ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah, sehingga Ida tidak mengajak teman-teman yang mengantarnya, untuk mampir seperti biasanya.
Mereka berempat duduk di karpet, saat Naya menjelaskan keadaan dirinya, keadaan Yoni, rencana pernikahannya, juga tentang kegagalan rencananya untuk memperbesar toko gerabah miliknya. Setelah mendengar semua penjelasan Naya, kemudian Ida tampak bingung.
Perempuan itu berkata, "kalau nanti Mbak Naya pergi sesudah menikah, terus saya gimana, saya belum dapat tempat kost yang dekat dengan cafe, selain di sini."
Naya tersenyum Ia pun mengusap punggung Ida dengan lembut.
Ia berkata, "Mbak Ida tinggal dulu di sini, sebelum dapat tempat kost yang baru, atau mbak Ida bisa minta tolong Rama, cari tempat kos di sekitar sini."
"Oh ya, Mbak Naya, gimana Rama kalau mbak Naya nikah, kan Rama suka sama Mbak Naya? sakit hati ini dia."
"Mbak Ida aku gak mau menyakiti siapapun, Rama tahu kok aku orangnya gimana."
"Tapi Mbak ... Rahma pernah bilang, kalau dia itu punya perasaan khusus sama Mbak Naya. Dia jarang dekat sama perempuan, kecuali para fansnya. Sejak ketemu Mbak Naya, dia bilang langsung suka, kasian dia sekarang ditinggal nikah. Mbak Naya, kasihan banget kan Rama."
"Ya deh, nanti aku ngomong baik-baik sama Rama. Eh, kenapa bukan mbak Ida saja, yang nikah sama Rama?"
"Nggak ah, aku mau nikah sama ustad aja, yang bisa bimbing aku masuk surga."
"Subhanallah, alhamdulillah, kalau gitu ayo awali dari pakai jilbab dulu, mbak ... Jangan pakai baju seksi seksi begini." Naya Berkata sambil memegang baju Ida di bagian lengan.
"Mbak Naya, seandainya sekarang ada ustad yang ganteng, dan masih muda, pasti aku langsung pakai kerudung deh!"
"Mbak Ida ini, kenapa harus nunggu ada ustadz ganteng yang ngomong? Ya udah deh, istirahat saja mbak, maaf sudah ganggu, baru pulang keeja, tapi diajak ngobrol."
Ida pun beranjak ke kamarnya, begitu juga Budiman dan Nuriua, yang sudah beristirahat di kamar yang sudah disiapkan oleh Naya.
Naya pergi keluar, dan mengetuk kaca mobil Ares, hingga beberapa kali ketukan. Setelah cukup lama kaca diketuk, laki-laki itu pun terbangun, ia menoleh pada jendela mobilnya, sambil mengusap wajah. Lalu membuka pintu mobil dan keluar menemui Naya, yang tengah berdiri di dekat mobilnya.
"Naya ..."
"Sudah malam Pak, mending pulang, tidur di rumah." kata Naya datar.
Ares sedikit mendekat, ia berkata, "Naya, maaf ... Maaf aku nggak bermaksud maksa kamu. Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Semua ini kemauan Ayah, bukan kemauanku, sendiri." Kata Ares dengan suara rendah seperti memohon untuk dimengerti.
"Ya, kalau memang kemauan Ayah, kenapa bapak minta maaf? Jadi, pulang pak, sudah malam."
"Sebentar ... Jadi, gimana rencana ayah besok, tetap mau lanjut atau gak?"
"Terserah bapak sama Ayah saja, semua demi anak-anak kan, kalau begitu saya terima. Tapi Pak, saya mau akad nikahnya Siang atau sore saja."
"Iya ya, terserah kamu."
"Pak, enggak baca pesan saya?"
"Eh, nggak, eh belum. Hp-nya di tas, ada apa? Kamu mau tanya apa, sekarang saja, ngomongnya."
"Saya, mau tanya soal Caca."
"Memangnya Caca kenapa?"
"Pak, waktu saya ketemu Caca di rumah sakit, dia bilang terus terang, kalau dia mau nikah sama bapak, istilahnya turun ranjang, ya itu orang yang menikahi adiknya kalau kakaknya meninggal. Caca juga bilang terus terang, kalau dia itu suka sama bapak, siap jadi istri bapak kapan aja..."
"Oh, begitu. Terus, kamu mau saya gimana? Saya sudah tahu, Caca begitu. Tapi kan kamu sendiri tahu, Yoni itu nggak bisa deket sama dia. Dia juga bilang kalau nanti nikah, dia tetap mau bekerja dan tidak bisa mengurus anak-anak, jadi biat apa?"
"Jadi, kalau Yoni bisa dekat sama Caca, bapak mau nikah sama dia? Dia lebih cantik, lebih muda, gadis lagi, bukan janda seperti saya."
"Memangnya kenapa kalau janda ...? Janda lebih baik, daripada perawan yang tidak bisa menjaga harga dirinya."
"Jadi bapak nggak suka sama Caca?"
"Gak. Walaupun ada Yoni atau tidak ada Yoni, aku tetap gak suka sama Caca. Dan walaupun Yoni itu mau atau tidak sama kamu, tapi aku tetap mau nikah sama kamu."
Mendengar ucapan Ares, Naya menyembunyikan senyumnya, ia pun berbalik, sambil berkata, "ya sudah Pak, pulang saja dulu. Istirahat di rumah, besok akad nikahnya sore, ya kan, Pak?"
"Apa ayah belum ngomong, kapan mau nikah, dimana?"
Naya kembali menghadap Ares dan berkata,
__ADS_1
"Belum, Ayah sudah tidur, memang kenapa, ayah bilang maunya di mana?"
"Ayah maunya di rumah sakit, ayah bilang, kasian Yoni gak ada yang jaga, tapi ibu nggak mau jadi ya, di rumah ... Besok."
Naya senang ibu tirinya itu pengertian sekali padanya, karena seandainya benar mereka harus melakukan akad nikah di rumah sakit, itu akan sangat memalukan baginya.
Setelah kepergian Ares Naya kembali ke kamar merebahkan dirinya dan ia menyadari kalau tidak ada pakaian yang layak yang akan ia kenakan sehingga pantas untuk menjalani acara ijab qobul. Akh...
Tiba-tiba Naya ingat sebuah kisah, tentang pernikahan Fatimah, putri rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Saat itu, beliau dipinang oleh Ali bin Abi Thalib, dengan mahar yang sangat sederhana, berupa baju besi yang biasa digunakan untuk perang olehnya. Pemberian mahar ini bukan tanpa alasan, karena memang hanya itulah, yang dimiliki oleh sahabat Ali bin Abi Tholib, pada masanya.
Mahar yang diberikan pada Fatimah, untuk pernikahannya itu memang terlihat sederhana, tetapi apabila baju besi itu dijual dengan harga yang sesuai sejumlah dinar atau dirham, kemudian nilai dinar dan dirham yang dihargakan pada baju besi itu diuangkan, dengan nilai mata uang rupiah pada masa sekarang, ternyata harga baju besi itu mencapai puluhan juta rupiah. Ternyata mahar yang terlihat sepele, tidak bisa disepelekan.
Menjelang akad nikahnya, Fatimah menangis menghadap ayahandanya, dan mengeluh kalau ia tidak memiliki pakaian, yang layak dan pantas untuk dikenakan menjadi baju pengantinnya, pada saat ijab kabulnya waktu itu. Sebagai seorang ayah, Rasulullah menenangkan anaknya dengan memeluk Fatimah penuh kasih sayang, dan mengusap air matanya. Lalu beliau pergi menuju lemari, tempat penyimpanan barang-barang Khadijah istrinya, yang sudah lama. Beliau membuka sebuah kotak dan ia memberikan sebuah baju yang bagus tapi sederhana, kepada Fatimah.
Beliau berkata, "pakailah, ini adalah baju ibumu, yang ia gunakan ketika dia menikah denganku."
Dengan wajah ceria, dan mata yang bersinar, Fatimah menyambut baju dari tangan ayahnya, dan kemudian mencobanya.
Fatimah tersenyum sambil berkata, "terima kasih Ayah, baju ini sangat indah."
Rasulullah pun menyahut,
"Kau sangat mirip dengan ibumu. Kau sangat cantik memakai baju apapun. Walau kau memakai pakaian seadanya, bahkan baju yang compang-camping sekalipun, kau tetaplah seorang putri dari Rasulullah."
Kata-kata yang meluncur dari mulut beliau, adalah kalimat sederhana, bukan kata-kata yang mewah dan indah seperti yang diucapkan para motivator terkemuka. Kata-kata sederhana itu, bukan kata-kata yang menjatuhkan. Apalagi kata-kata yang meminta orang lain untuk memaklumi kekurangan dan ketidak mampuannya. Tetapi kata-kata sederhana ini, justru membuat pendengarnya memiliki semangat dan motivasi yang luar biasa.
Rasulullah adalah teladan seluruh manusia, sampai akhir zaman. Tentu saja semua tindakan dan ucapan beliau adalah hal, yang patut diteladani. Apa yang beliau ucapkan pada putrinya adalah sebuah kata motivasi yang luar biasa. Bagaimana kata yang sangat sederhana itu, mampu membuat Fatimah yang semula putus asa, merasa begitu berharga, hanya dengan pakaian sederhana yang dimilikinya.
"Rasulullah adalah motivator terbaik sepanjang masa, dan satu-satunya di dunia. Semua kata-katanya selalu memberi semangat, dan menjadi pelajaran untuk setiap manusia sampai akhir zaman.
Naya tersenyum pada dirinya sendiri mengingat hal ini, apalagi ini adalah pernikahan keduanya, tentu tidak masalah kalaupun ia harus memakai pakaian seadanya.
-
Hari yang cerah menyapa manusia dengan keramahannya. Pagi hari, selalu memberi isyarat pada manusia, untuk bersiap-siap dengan sinarnya yang hangat. Sebelum manusia bersiap menghadapi matahari yang berada di singgasananya, dan saat itulah manusia diuji dengan kepanasan sinarnya. Hari yang berputar dari pagi, siang, hingga sore, merupakan isyarat perjalanan waktu. Seperti perjalanan hidup manusia, dari seorang bayi yang lemah, menjadi kuat, sehingga kemudian menjadi ltua dan lemah kembali.
Ini semua sudah kehendak-Nya dan manusia hanya menjalani saja sebagaimana mestinya, sesuai aturan dan hukum-Nya.
Setelah selesai membersihkan dan membereskan rumah seadanya, Naya pun duduk, ia tidak tahu harus menyiapkan apa. Akhirnya ia berinisiatif untuk pergi ke kantin, tempatnya biasa bekerja. Ia ingin menghormati bu Min, sebagai pemilik kantin, memberitahunya, dan meminta restunya.
"Naya, apa kabar?" Sapa bu Min setelah menjawab salam, ketika melihat Naya berada di pintu kantin yang belum ramai, karena belum saatnya makan siang.
Mereka duduk di dapur sambil memasak masakan yang sebentar lagi matang. Naya berbincang sambil membantu pekerjaan bu Min dan seorang kokinya.
"Oh, kalau gitu kamu memang jodoh, Nay. Aku maklum kalau mendadak begini." kata Bu Min ketika Naya selesai menceritakan sedikit kisah pertemuannya dengan Ares dan Yoni, anaknya.
Naya tersenyum menanggapi pendapat Bu Min, yang mendukung pernikahan mendadaknya.
"Maaf, bu. Saya cuma ngasih kabar saja, minta do'a buat saya. Jangan marah, saya berhenti kerja, padahal belum ada pengganti saya."
'Gak apa ... Hidupmu lebih penting, karena tidak ada yang mengurus hidupmu kecuali dirimu sendiri. Hidup sendiri saja sudah sulit, buat apa mempersulit orang lain, takut kalau justru hidupku lebih susah, gara-gara membuat susah hidup orang lain. Jadi menikahlah, aku do'akan yang terbaik buat kamu."
"Bu Min ini bilang apa, si...?"
"Hehe, kalau gitu ini hari terakhir kali kamu kerja ya, nanti aku kasih bonus!"
"Saya bantu, bu. Tapi gak usah kasih bonus juga gak apa."
Naya tidak bisa menolak, ketika Bu Min memintanya membantunya untuk terakhir kali. Sehingga Naya mengirimkan pesan pada Ares, memberitahu bahwa ia akan pergi untuk sebuah keperluan. Tapi ia berjanji akan pulang tepat waktu ketika akad nikah akan dilangsungkan di sore hari nanti.
"Naya?!" pekik Rama ketika ia ke kantin untuk makan siang. Sudah beberapa hari ia tidak melihat Naya baik di rumah, maupun di kantin.
"iya ... Ini aku, kenapa?" tanya Naya. Datar.
Rama tersenyum dan berkata, "nggak apa-apa. cuman ada kabar burung soal kamu."
"Burung bisa kasih kabar, gitu?"
Saat mereka bercakap-cakap, Rama sedang mengantri untuk mengambil makanannya dan Naya meladeni pesanannya.
"Ada yang bilang katanya kamu mau nikah hari ini?"
Deg? Jantung Naya berdegup lebih kencang.
'Pak Aris sengaja bilang pada Rama, apa maksudnya, sih?'
__ADS_1
"Siapa yang bilang?" Naya bertanya
"Pak Ares. Nay, bener nggak?"
"Iya, insya Allah."
"Kapan?" Rama penasaran.
"Nanti sore"
"Mendadak banget." Rama menyahut dengan ketus.
"Iya, mendadak. Ayahku yang maunya begitu, soalnya jauh, jadi biar nggak repot bolak-balik, langsung saja lamaran disambung sama nikah."
"Oh gitu. Makasih ..."
Saat Rama berkata, pesanannya sudah selesai dan ia langsung menikmati makanannya di meja yang ada di kantin.
Tanpa diduga, Ares muncul di sana, mungkin laki-laki itu sudah menerima pesan dari Naya. Lalu ia secara tepat menduga Naya ada di kantin tempatnya bekerja.
'Kenapa dia ada di sini, apa dia tahu aku di sini?'
Disaat yang bersamaan, Rama melangkah keluar dari kantin, meninggalkan makanan yang ia pesan dan masih tersisa setengahnya.
Dan tak lama, ia kembali dengan membawa sebuah gitar, ia berdiri sambil menenteng sebuah gitar dengan tali yang menggantung di pundaknya. Ia berada di tengah-tengah kantin sambil memetik senar gitar.
Rama berkata,
"Maaf, bila mengganggu ketentraman anda, dan saya juga minta maaf, sudah mengganggu istirahat makan siang anda. Tapi izinkan saya mempersembahkan sebuah lagu untuk seseorang yang akan menempuh hidup baru, hari ini."
Terdengar suara riuh dari teman-temannya satu divisi, bersorak dan bertepuk tangan memberi semangat padanya.
Setelah beberapa saat gitar dipetik, terdengarlah suara Rama yang cukup bagus, menyanyikan sebuah lagu.
Aku Bukan Jodohnya (Nabila/Aji Suaka)
Ini salahku. Terlalu memikirkan egoku. Tak mampu membuatmu bersanding nyaman denganku. Hingga kau pergi tinggalkan aku.
Terlambat sudah. Kini kau telah menemukan dia. Seseorang yang mampu membuatmu bahagia. Ku ikhlas kau bersanding dengannya.
Aku titipkan dia. Lanjutkan perjuanganku untuknya. Bahagiakan dia. Kau sayangi dia. Seperti kumenyayanginya.
Aku ikhlaskan dia. Tak pantas ku bersanding dengannya. Kan kuterima dengan lapang dada. Aku bukan jodohnya.
Aku titipkan dia. Lanjutkan perjuanganku untuknya. Bahagiakan dia. Kau sayangi dia. Seperti ku menyayanginya.
Kan ku ikhlaskan dia. Tak pantas ku bersanding dengannya. Kan kuterima dengan lapang dada. Aku bukan jodohnya.
Setelah Rama selesai menyanyikan lagu itu, ia menyimpan gitarnya dan kembali ke mejanya untuk menghabiskan makanannya.
'Patah hati itu butuh tenaga besar'
"Kamu patah hati, ya bro?" kata temannya sambil menepuk bahu Rama.
"Patah hati tidak ada dalam kamusku." Rama menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Kamu nyanyi buat janda itu, kan?" Teman Rama kembali bertanya.
Rama diam, ia melirik Naya dan juga Ares yang sedang makan di ruangan VIP di sebelahnya.
"Sudah jujur saja. Aku lihat kamu melototin dia terus, memangnya dia nikah sama siapa, Ram?'
"Sama Pak Ares, kalah saingan aku."
"Apa. Pak Ares, benaran mau nikah sama dia?"
"Iya." Rama menjawab dengan malas. Uh!
"Wah jangan-jangan janda itu cocok sama anaknya. Kamu tahu kan gimana anak Pak Ares? Dia nggak bisa deket sama orang baru. Kalau dia berani nikah sama perempuan itu, berarti perempuan itu memang benar cocok sama anaknya. Kamu nggak usah sedih ... Walaupun janda itu nenek-nenek, pasti Pak Ares kan nikah sama dia." kata teman Rama.
"Dasar sok tahu!" Rama menyahut cepat.
"Jangan marah, teman ..." kembali menepuk bahu Rama.
"Buat apa marah, aku sudah rela dia nikah kok. Kan sama aku sama lagu tadi, kamu dengar nggak sih? Jadi inti dari mencintai itu bukan memiliki, tapi membahagiakan, ngerti nggak?"
__ADS_1
bersambung