
"Kalau papa marah, umma tidur di sini saja!" kata Raya sebelum Naya mengangguk, lalu menutup pintu kamar Dinda.
Dinda senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Ia sedang chating dengan Danu, dan mengabarkan kepulangan Naya bersama kakaknya. Ia tampak sangat bahagia dengan kenyataan yang tidak ia duga, bahwa ia akan jatuh cinta dengan orang, yang tidak pernah ia lirik sebelumnya, walau mereka sering bertemu.
Danu sudah memendam mimpi dan harapannya, untuk bisa bertemu dengan Dinda, wanita yang dulu pernah disukainya saat masih remaja. Tapi siapa yang menyangka kalau kini mereka justru saling jatuh cinta.
Raya sudah tertidur, ketika Dinda selesai chatting dengan Danu. Masih ada sisa senyum diwajahnya ketika ia merebahkan diri, menyusul Raya yang sudah hanyut dalam mimpinya.
-
Pagi itu, setelah semua anggota keluarga selesai sarapan, Ares sibuk membereskan pakaian dan perlengkapan anak-anaknya, yang di gunakan selama menginap di rumah neneknya. Ia secara resmi memboyong keluarga kecilnya, kembali ke apartemen. Tempat itu berjarak cukup dekat dengan sekolah Raya dan kantor tempat Ares bekerja.
Mereka memulai menjalani kehidupan secara normal, sebagai sebuah keluarga yang lengkap, seperti pasangan lainnya.
Ares merasa lega bahwa kini, ia tidak perlu lagi bolak balik antara rumah, sekolah, kantor dan kediaman orang tuanya. Sudah ada Naya yang siap menjadi back up dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.
"Naya, hati-hati di jalan ya," pesan Rasti ketika mereka berpamitan.
"Mama, aku bukan sopirnya kok," Naya berkelakar.
"Iya, tapi kamu tetap harus mengungatkan suamimu agar ia tetap waspada, dan berada di jalur yang benar, tidak keliru mengambil keputusan."
Naya mengucapkan terima kasih atas nasehat ibu mertuanya dan mecium punggung tangannya khidmat, sebelum pergi.
"Asiik, sekarang ada yang bisa aku ajak ngobrol di rumah, jadi gak bosen," kata Raya ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Kendaraan pun melaju.
"Kamu harus banyak belajar, bukannya ngajak ngobrol," sahut Ares yang duduk di kursi kemudi, tatapannya lurus ke depan, fokus melihat jalanan, menuju sekolah Raya.
"Ciee ... papa cemburu ya, kalau uma ngobrol sama aku?"
"Gak. Papa cuma kasih tau, Kamu harus banyak belajar, bukannya banyak ngobrol!"
"Tapi gak ada salahnya ngobrol, iya, kan uma?"
"Iya, nanti kita ngobrol kalau papa belum pulang kerja," kata Naya mencoba mendinginkan suasana.
"Yah, kan papa pulangnya kadang bareng sama Raya, jadi ngapain kamu ngobrol sama umma?" Ares kembali menyahut dengan kesal.
"Papah ... Raya ... sudah, nanti kita bisa ngobrol bareng, sekarang mending baca do'a dalam perjalanan."
Seketika semua diam tidak lagi berdebat. Yoni yang masih terlihat mengantuk, hanya diam dengan bersandar di dada Naya.
__ADS_1
Sesampainya di depan sekolah, Raya tampak bahagia, senyum yang sumringah terlihat jelas di bibirnya. Ia berpamitan pada Naya dan Ares sambil mencium punggung tangan mereka, turun dari mobil, lalu melambaikan tangan.
"Belajar yang benar, dan jadi anak baik ... " pesan Naya.
Raya bahagia karena ia kini memiliki seorang ibu, sama seperti teman-temannya. Ia benar-benar menganggap Naya ibunya sendiri. Ia menyadari ketika ia melihat Naya dalam pakaian biasa, dan tidak memakai kerudungnya, terlihat sama seperti mama dalam ingatannya. Seorang wanita yang pernah hadir dalam hidupnya, namun pergi meninggalkannya untuk selamanya, bahkan sebelum ia mengerti dunia seperti apa.
Sementara itu di mobil, Naya menikmati perjalanan pulang ke rumah suaminya sambil mengusap-usap kepala Yoni dalam pangkuannya.
"Yoni, mau sekolah?" Naya bertanya dan Yoni mengangguk saja, ia terlihat malas untuk bicara.
"Pah, kita cari sekolah yang dekat dengan rumah. Ada gak?"
"Siapa, pah, pah?"
"Kak Fanan, aku panggil papah karena ada anak-anak."
"Ya, nanti kita cari. Sekarang pulang dulu."
"Pah, pulang ke rumah aku dulu yuk."
"Mau ngambil apa lagi di sana, apa masih ada yang lain?"
"Ares diam, membelokkan mobilnya kearah jalanan menuju rumah Naya.
"Kalau soal baju, gampang, kamu gak usah bawa bajumu juga gak apa-apa. Banyak baju di rumah yang cukup buat kamu."
"Bajunya siapa?"
"Raya."
"Hehe. Masa aku pakai baju Raya si, pah?"
"Iya, Raya selalu beli baju baru, setiap hari kelahiran Nindy, jadi pake saja. Kamu juga pernah dulu di kasih sama Raya."
'Oh, jadi begitu, pantas saja, tapi apa ukuran Nindy sama dengan ukuranku'
Naya ingat saat ia pernah ke rumah Ares karena kehujanan, atau saat terkena lemparan telur busuk, ia diberi pakaian dewasa yang ukurannya sangat pas dengan dirinya. Ternyata memang ukuran tubuhnya kurang lebih sama, dan baju yang ia pakai adalah koleksi baju Raya untuk mamanya.
Sesampainya di rumah, Naya melihat dan memeriksa keadaan rumah yang sudah beberapa hari ia tinggalkan tanpa ada yang merawat. Ia menghubungi bibinya untuk membicarakan tentang Rumah yang menjadi warisan bersama.
"Jadi kamu sudah menikah lagi, ya Nay?" Tanya bibinya di seberang telepon, setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
"Iya, alhamdulillah, bibi tau dari mana?"
"Ayahmu yang cerita, dia telepon bibi, ngasih tau kalau kamu sudah gak tinggal di sana lagi."
"Iya, bi, makanya sekarang aku mau nanya sama bibi, gimana rumahnya, mau dijual saja atau tetap dikontrakkan?"
"Kalau menurut bibi, lebih baik dikontrakkan saja, tapi kalau ada yang berminat ya silahkan beli."
"Baik, kalau seperti itu keinginan bibi. Jadi hasilnya.seperti biasa ya bi, kita bagi dua."
"Iya, jadi kita punya pemasukan rutin, Nay?"
"Betul, bi. Kalau begitu rumah tetap di kontarkkan dulu, sebelum ada yang beli, gitu ya bi?"
Naya mengakhiri panggilan, setelah mereka saling mendoakan dan juga mengucapkan salam. Naya kembali menelpon, kali ini ia menghubungi Ida, dan mengatakan kalau ia tidak perlu repot-repot untuk mencari kontrakan baru karena ia bisa tetap tinggal di sana, dan menikmati fasilitas yang ada.
Setelah selesai urusan rumah, mereka kembali mengendarai mobil untuk mencari sekolah atau play group untuk Yoni. Naya mencoba mencari melalui peta lokasi pencarian di internet dan menemukan tempat yang cocok dan cukup dekat dari apartemen.
Kalau waktunya sudah tepat, dan Yoni sudah pulih benar, ia hanya perlu mendaftar saja.
Saat di perjalanan, Naya menyempatkan diri, melihat isi rekeningnya, sejumlah uang yang ia kumpulkan dari mahar pernikahan, dari hasil penjualan rumah, dan hadiah beberapa kerabat, dan hasilnya membuat ia tercengang, ia belum pernah mendapatkan uang sebanyak itu dalam hidupnya.
Ia tersenyum sambil menatap laki-laki yang tengah mengemudi di sampingnya.
"Apa ... ?" Tanya Ares, melirik Naya sekilas dan kembali fokus ke jalanan.
"Aku mau beli motor, ya?"
"Buat, apa beli motor, aku bisa antar kamu kemana saja."
"Buat antar jemput Yoni sekolah."
"Oh, ya sudah nanti aku beliin, mau motor apa?"
"Aku mau beli sendiri, aku kan punya uang."
"Simpan saja uang kamu, kalau niat beli motor buat keperluan anakku. Ya aku saja yang beli."
"Ya, terus uangku mau dipake apa, dong. Nanti bulukan."
Bersambung
__ADS_1